
Damian memang berniat membalas Leon menggunakan Jovita malam itu.
Ia sudah lama menunggu saat ini, ia selalu ingin melihat Leon memiliki wanita Yang ia cintai, lalu ia akan merebutnya agar Leon semakin gila.
Dendam Damian pada Leon masih dangat dalam, karena ia membunuh wanita yang ia cintai dan calon anaknya di depan matanya.
Leon memang salah, karena melepaskan wanita itu di depan Damian, tetapi Damian lebih salah lagi, karena selingkuh dengan kekasih bosnya.
Damian duduk melamun.
Kejadian di masa lalu terlintas lagi di benaknya.
“Akan ku ku buat kamu gila lagi Bos Naga, aku tahu bagaimana perasaanmu pada gadis muda yang cantik ini,” ujar Damian melirik Jovita yang duduk membelakanginya yang sedang memainkan ponselnya.
**
Malam itu, Damian membawa Jovita bersembunyi di salah satu rumah jauh dari kota, rumah milik temannya di Jogja, ia berpikir kalau Leon tidak akan menemukannya.
Beberapa lama kemudian, Damian tidak tahu, Leon sudah datang ke rumah itu dan melumpuhkan orang-orangnya yeng berjaga di luar.
"Katakan di mana dia?" Leon menekan tubuh anak buah Damian ke tanah sementara Rikko mengarahkan ujung pistol tepat di keningnya.
"A-a-ada di dalam," ujar anak buah Damian gemetaran
Leon berjalan tegas menuju rumah, sementara anak buahnya melumpuhkan orang- orang Damian.
Sementara Damian mengajak Jovita mengobrol duduk di sampingnya.
“Bagaimana kalau kita akan melakukan hal yang seru-seru sembari kita nunggu sepupuku datang,” ujar Damian.
Jovita mau diajak ke rumah itu, karena Damian berjanji akan mempertemukannya dengan Piter.
“Apa misalnya,” tanya Jovita.
Ia akhirnya mengingat tentang Damian, mantan anak buah Leon yang pernah di ceritakan Bi Atin padanya. Bi Atin juga pernah mengingatkannya kalau Damian ingin membalas dendam pada Leon.
‘Aku harus hati-hati dan aku bersikap berpura-pura tidak tahu hubungan dia dan Leon, agar aku bisa selamat’ ucap Jovita dalam hati.
Ia takut pada Damian awalnya.
“Katakan apa ingin kamu lakukan saat bersamaku?” Tanya Damian.
“Aku ingin masuk ke tempat hiburan malam Club Sinar”
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Tanya Damian menyengitkan alisnya.” Kalau aku, jadi kamu, aku tidak akan masuk ke sarang macan itu,” ujar Damian.
“Aku tahu, itu mungkin kandang Singa, tapi aku hanya ingin lihat siapa yang membunuh keluargaku, aku melihat lelaki bertato kepala harimau itu, keluar masuk dari sana”
“Di sana sangat berbahaya, sebaiknya jangan lakukan, sering sekali orang masuk ke sana tetapi tidak pernah keluar lagi”
“Mereka diapain?” Tanya Jovita, dunia kejahatan itu masih terlalu dangkal di otaknya, apa yang ia lihat di rumah Leon, baru hal kecilnya saja.
“Creek.” Damian mengarahkan jari telunjuk di lehernya
__ADS_1
“Di gorok?” Tanya Jovita dengan mata melotot.
“Dibunuh Nona manis”
“Laporkan saja ke polisi”
“Polisi tidak akan menyelidiki dia, jangankan dia … pada Leon saja, polisi tidak berkutik,” ujar Damian sinis.
“Iya kamu benar mahluk kejam itu me …” Jovita seakan-akan sadar.
‘Apa yang kamu lakukan Jovita jangan katakan apapun tentang Leon pada pria penghianat ini’ bisik nya dalam hati.
“Kenapa …?” Damian tertawa kecil
“Membunuh orang? Jangan khawatir itu, sudah hal biasa Nona Hara, nyawa orang sudah jadi mainan untuknya, entah berapa nyawa yang sudah ia lenyap kan, profesinya sebagai pembunuh bayaran membuatnya menjadi mesin pembunuh di abad ini,” ujar Damian.
“Pembunuh bayaran?” Tanya Jovita kaget, ia tidak tahu Leon seorang pembubuh bayaran juga.
“Apa kamu tidak tahu Nona Hara?” tanya Damian tersenyum kecil.
“Tidak." Jovita merasa terkejut.. “Aku hanya sekali pernah melihatnya menembak anak buahnya yang berkhianat, aku tidak tahu. Apa itu mati atau tidak,” ucap Jovita ia tidak mau memberitahukan banyak tentang Leon pada Damian, ia tahu lelaki itu mencoba mengkorek informasi darinya memanfaatkan kepolosannya.
“Dia mesin pembunuh yang kejam, aku sempat berpikir kalau dia yang membunuh keluargamu, karena dia sudah sangat lama mengincar keluargamu,” ujar Damian membuat Hara terkejut.
“Mengincar?” Mata Jovita membesar.
Damian memprofokasi pikiran Hara, ia mengungkapkan rahasia besar Leon pada Hara, yang membuat wanita cantik itu menjadi takut dan benci pada Leon.
“Apa kamu tidak tahu kalau dia sudah lama mengincar mu Hara, dari kamu masih muda. Gadis berpita merah, itu julukan yang diberikan kepadamu"
Mata Jovita membesar, mendengar semua cerita Damian, membuat air matanya mengalir deras.
“Apa Piter tidak memberitahu kamu kalau Leon sudah lama mengincar mu. Ayahmu merasa kalau ada seseorang yang mengawasi mu, maka itulah ia menjadikan Piter jadi bodyguard mu.
Karena itulah Piter selalu lengket denganmu bak permen karet, mengawasi mu seperti menjaga telur”
“Aku tidak tahu .... Om Piter tidak pernah sekalipun memberitahukan hal itu padaku. Kenapa mereka memperlakukanku seperti anak kecil.” Jovita menangis sesenggukan, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Saat itu juga …
Praaak …
Mereka berdua kaget dan berdiri.
Leon masuk menenteng pistol.
Setelah pintu didobrak, ia menemukan tempat persembunyiannya. Damian terkejut ia tidak tahu kalau Leon bisa menemukan tempat persembunyiannya, padahal ia sudah membuat albi-alibi palsu untuk membuat Leon susah menemukannya.
Bahkan ia sudah memberikan ponsel yang ia pakai menelepon Leon, pada anak buahnya membawanya jauh, agar signal di ponsel itu tidak terdeteksi.
‘Bagaimana mungkin Leon bisa menemukanku di sini’ ujar Damian panik, ia sudah berpikir kalau ia akan mati, wajahnya benar-benar pucat.
Ia tidak bisa berkutik bersama semua anak buahnya, melihat leon membawa ketiga anak buahnya Toni, Rikko dan Iwan mereka bertiga. Kaki, mata, dan tangan untuk Leon.
Jika ketiga lelaki ini ada, itu artinya Bos Naga ini dalam kemarahan yang sangat besar, ia yakin Zidan si penembak jitu sudah membidiknya dari tempat tersembunyi.
__ADS_1
Mata Damian melirik kaca jendela rumah, ia yakin sekali kalau ia bergerak timah panas itu akan menembus jantungnya. Ia yakin Zidan sudah mengarahkan senjata laras panjang itu kearahnya dan matanya menempel di teropong senjata.
‘Apa yang harus lakukan, aku tidak ingin mati sia-sia seperti ini, ini tidak adil untukku’ bisik Damian dalam hati.
“Kemari lah Nona Hara,” ujar Leon menatapnya sangat marah.
Tetapi reaksi Jovita diluar dugaan, ia mundur. Lalu .... Mencabut pistol Damian dari pinggangnya dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri.
“Tidak, aku tidak mau kembali padamu ....! Lebih baik aku pada Pak Damian” Lalu ia memegang tangan Damian, aku ingin pergi dengan Pak Damian dari sini, kalau kalian maju sedikit saja, aku akan menembak kepalaku.
Mata mereka semua melotot.
"Gadis bodoh ....! Jangan main-main!" Teriak Leon marah
"Tidak Aku tidak main-main"
Leon terlihat dangat marah , saat Jovita memilih lelaki yang sudah merebut tunangannya dan lelaki yang sudah mengkhianatinya.
‘Jangan lakukan ini lagi padaku …’ ujar Leon dalam hati, saat berdiri Leon merasa ingin tumbang. Rikko mendekat dari belakang ia mencengkram lengan Leon dengan kuat, ia tidak ingin bosnya malu. Jika Leon pingsan saat itu, ia pasti merasa malu sebagai seorang Bos.
Merasakan tangannya dipegang kuat oleh Rikko, Leon bertahan.
“Jovita, aku hanya ingin membantumu,’ ujar Leon, wajahnya tampak sangat kecewa.
“Aku tidak butuh bantuan mu Pak Leon, kamu hanya ingin mengurungku karena kemarahan mu pada keluarga ku, aku tidak mau jadi tawanan mu selamanya, aku akan membuktikan padamu suatu saat nanti, kalau aku dan ayahku tidak pernah menyakiti keluargamu”
“Jovita dengar ….!”
“Jangan mendekat menjauh lah dariku dan jangan urusi aku lagi,” ujar Jovita.
Wajah Leon ingin meledak, Ia membiarkan Jovita dan Damian pergi. Wajahnya benar-benar hancur. Damian berhasil menyakiti perasaanya untuk kedua kalinya.
Apakah ia akan menyerah dan membiarkan Jovita selamanya setelah penolakan ini?
Bersambung ….
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1