
Kedatangan Clara dan Kikan ke Jakarta, mereka bertiga menjadi teman yang akrab saling curhat satu sama lain. Clara mengeluh sifat dingin Zidan yang tidak pernah berubah padahal dia sudah selalu tampil cantik di depan suami.
Tetapi Clara menyebut Zidan tidak pernah mengomentari penampilannya, sementara Kikan menyebut Toni protes tentang penampilannya yang semakin gemuk setelah punya anak.
Hara mengajak mereka berdua rajin senam, agar para suami tidak melirik wanita lain, Hara mengajari keduanya cara melakukan olah raga untuk menjaga penampilan tetap segar dan tubuh tetap kencang walau sudah punya anak.
Mereka berdua setuju dan mengikuti saran Hara, Kikan dan Clara sering datang ke rumah Hara.
Malam itu sebelum tidur, Hara melakukan olah raga ringan untuk mengencangkan bagian tubuhnya.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Leon saat melihat tubuh istrinya melakukan gerakan meliuk-liuk.
“Senam,” jawa Hara.
“Aku bisa bantu kamu, itu gampang,” ujar Leon, ia mengangkat tubuh Hara menemaninya olah raga, Hara awalnya sudah menolak, tetapi Leon berpikir gerakan itu mudah.
Saat mengangkat tubuh Hara dan melakukan gerakan memutar karena bukan keahliannya Leon bukannya membantunya olah raga ia membuat tubuh Hara terjatuh dan terkilir. Wanita cantik itu terkilir dan meringis kesakitan.
“Aku sudah bilang …. gerakanmu salah pak Leon Wardana,” ujar Hara memegang pundaknya dan meringis kesakitan. Leon merasa bersalah.
Saat berangkat ke kantor dia merasa tidak tenang.
Saat Hara lagi tidur-tiduran, ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Leon.
“Lagi ngapain?”
“Tidur.”
“Haaa? Masih tidur jam segini? Ini sudah jam berapa Jovita Hara …,” ucap Leon di ujung telepon.
“Badanku sakit semua karena ulahmu Pak Leon Wardana …!” Balas Hara membela diri.
Mendengar hal itu, Leon terkekeh, ia mengalihkan panggilan teleponnya ke panggilan video call.
Leon terlihat duduk di ruang kerjanya, melepaskan jasnya dan menggantung di sandaran kursi kebesarannya, sementara Hara istrinya, masih tergolek manja di ranjang empuk berukuran king size tersebut.
“Apa masih sakit?” tanya Leon degan senyum yang merekah di bibirnya.
“Ah, masih sakit” ucap Hara memincingkan bibirnya sebagai ungkapan kesal.
“Apa aku pulang saja ke rumah dan mengurut?”
“Memang kamu bisa mengurut?”
“Aku pintar mengurut, tapi yang bagian bawah saja.” Ujar Leon.
__ADS_1
“Itu bukan mengurut, tetapi minta jatah.”
“Tapi, seriusan masih sakit? Aku akan membawa tukang urut ke rumah.”
“Kamu tahu sendirikan aku tidak suka diurut, aku geli,” ujar Hara ia masih kesal, karena ulah Leon.
“Tenang sayang, kamu akan merasa enakan nanti, ini terapis yang sudah lama aku gunakan,”ucap Leon dengan wajah serius.
“Tidak usa-“
“Jangan menolak, ini bagus untuk kamu, aku juga ingin mengurut sekalian, aku mau rapat dulu, aku tutup teleponnya, Iya, nanti aku pulang.”
Leon mematikan sambungan telepon, lalu ia menghadiri rapat bulanan para pegawai, setelah selesai rapat,
Rencananya ia akan pulang untuk menemani istrinya diurut.
**
Sebuah mobil berwarna putih masuk ke halaman rumah Leon, tulisan di badan mobil terapis’ Mawar cempaka’ dan seorang wanita berpose telungkup dengan mata terpejam dan sedang di urut.
Saat Hara bilang pada Leon badanya sakit, ia langsung memboking jasa terapis sama peralatannya, membawanya ke rumah Leon, seperti kebiasaanya yang sebuah serba privat.
Dua orang perempuan mengunakan seragam safari di padukan dengan batik. Dua orang lelaki sibuk mengangkat peralatan yang akan digunakan nantinya, sepasang ranjang yang akan mereka gunakan.
Saat mobil berwarna putih itu tiba, tidak berapa lama mobil milik Leon juga datang.
“Tadi malam, aku tidak sengaja menjatuhkan badan Hara saat menemaninya, senam. dia ingin diurut, anak-anak sudah pulang sekolah, Bu?” Tanya Leon.
“Hari ini ada kegiatan tambahan pulangnya, nanti sore.”Bu Atin belum mengalihkan matanya pada mobil terapis yang dipesan Leon untuk mengurut istri tercinta.
“Oh, baiklah, aku ganti pakaian dulu, Bu.”
Leon naik ke lantai atas, ia berpikir kalau Hara sudah bangun karena jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Namun, saat ia tiba di kamar, Hara masih tidur.
‘Apa yang terjadi? apa badannya sesakit itu, kenapa dia tidur sampai se-siang ini?’
Melihat Hara tertidur dengan pulas, Leon duduk di sisi ranjang menempelkan tangannya di kening istrinya.
“Tidak demam,” ujar leon menempel juga tangannya di keningnya sendiri , ia ingin membandingkan suhu tubuh istrinya dengan suhu tubuhnya sendiri.
Saat ada yang menyentuh keningnya ternyata Hara terbangun dengan mata memerah, menatap setengah sadar pada suaminya.
“Oh sudah pulang?”
“Ayo, tukang urutnya sudah datang,” ucap Leon dengan sabar dan suara lembut.
__ADS_1
“Ah? Jadi ternyata, tapi aku, kan, tidak suka diurut,” ujar Hara masih ingin menghindar.
“Tidak apa-apa coba saja dulu, nanti kalau kamu tidak suka kita bisa berhenti.”
Tidak ingin mengecewakan suaminya yang sudah susah-susah membawa terapis untuknya, ia menurut.
“Baiklah.” Hara akhirnya setuju untuk diurut.
Setelah membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi, Leon mengajaknya turun, ke salah satu ruangan di mana ia akan mendapatkan pijatan.
Saat tiba di salah satu kamar, Hara di suruh berganti pakaian lalu berbaring di ranjan terapis yang di bawa, tidak hanya Hara Leon juga ikut melakukan pijatan.
Tadinya Hara akan berpikir akan merasa tidak nyaman, saat mendapat pijatan, tetapi saat berbaring dan mendapat pijatan-pijatan Hara tidak merasa geli, justru ia merasa sangat nyaman mendapat pijatan, tubuhnya yang terkilir karena ulah Leon berangsur pulih.
“Bagaimana? Enak tidak?” tanya leon saat ia di minta telungkup.
“Enak, aku merasa sangat nyaman,” ucap Hara, bersendawa,
“Iya, karena aku memilih yang terbaik, untuk istriku,” ucap Leon berbisik.
“Gombal, ada maunya pasti,” rutuk Hara.
“Kenapa? Kamu malu sama mbak ini? Mereka sudah dewasa, pasti sudah tahu.”
“Pak Leon … walau dewasa, terkadang orang tidak nyaman mendengar pembahasan tentang ranjang, apa lagi saat mendapat pijatan seperti ini,” ucap Hara.
Leon hanya acuh mendengar nasehat istrinya,
“Aku membahasnya dengan istriku bukan wanita selingkuhan,” mengerakkan lehernya kanan –kiri masih dengan posisi telungkup.
Kedua wanita yang memijat mereka terlihat sangat professional tidak terusik dengan pembahasan customernya, mereka berdua melakukan pekerjaannya dengan baik.
Seperti yang sudah diingatkan atasannya sebelum berangkat ke rumah Leon, atasannya berpesan agar hati-hati dan selalu bekerja professional, karena yang mereka layani Leon Wardana. Sudah lama mengunakan jasa mereka. Leon kalau sudah nyaman dengan pelayanan yang biasa ia gunakan maka, ia enggan untuk mengganti.
Untuk bayaran ia akan selalu membayar dua kali lipat kalau ia merasa nyaman.
Leon tertidur pulas, saat mendapat pijatan, sepertinya; bukan hanya Hara yang sakit badan Leon juga, buktinya baru sebentar saja tubuh bagian belakangnya diurut, ia sudah tertidur pulas
Dagunya yang terukir tegas, diletakkan di atas punggung tangannya yang terlipat di bawah dagu, memperlihatkan otot kekar dari kedua lengannya.
Berbalik hal dengan Hara, mungkin karena efek terlalu lama bangun, ia tidak merasa mengantuk, ia menikmati setiap pijitan di bagian tubuhnya.
Bersambung …..
Maaf iya kakak semua karena sekarang ini tidak bisa rutin update tiga kali satu hari, karena masih kurang vit, nanti kalau sudah pulih kita akan update banyak sampai tamat. Terimakasih.
__ADS_1
Jangan lupa bantu like dan vote iya dan kasih komentar juga.