
Nasib pengantin saat keluar kamar selalu mengundang perhatian, hal itulah yang Hara rasakan saat mereka berdua bangun kesiangan, saat turun tatapan seisi rumah membuat Hara merasa insecure.
Padahal mereka berdua tidak melakukan apa-apa malam itu, tetapi karena bangun kesiangan, jadilah mereka berdua bagai maling yang ketangkap basa sama hansip, di tatap dengan tatapan menuduh dan tatapan menyelidiki.
Dalam meja makan Leon dan Hara duduk dengan diam, saat Leon santai, tetapi tidak untuk Hara, ia terlihat sangat malu saat bangun kesiangan .
“Hara makan yang banyak agar tenagamu cepat pulih,” ucap Bi Ina dengan tulus.
“Bos, juga silahkan banyak makan agar tenaganya cepat pulih,” celetuk Ken menyodorkan sate kambing.
“Kalian berdua pasti lelah tadi malam, kan?’ ujar Piter dibalas tawa dari Hilda.
‘Om kurang asem …. padahal kami tidak ngapain-ngapain tadi malam gimana kalau kami melakukannya. oh.. no..oh... Yes. bisa tamba repot '
Hara terbatuk kecil mendengar hal itu.
Saat Hara terbatuk, dengan tenang Leon menyodorkan gelas ke tangan Hara.
“Makannya pelan-pelan saja Nyonya,” ucap Leon dengan santai, hanya Hara yang terlihat malu pada keluarganya, Leon terlihat santai ia sudah terbiasa menghadapi ledekan seperti itu.
Selesai makan apa yang dipikirkan Hara benar terjadi, kedua omnya akan mengerjai Leon
“Begini, kata tetua adat kan kamu akan di sini selama dua hari"
“Iya,” jawab Leon dengan wajah tenang.
“Jadi begini sebagai ayah mertuamu pengganti abang saya . Aku ingin kamu mengikuti adat yang biasa kami lakukan. Tradisi di keluarga kami, saat menantu lelaki yang ke rumah pihak mertua ada namanya minum arak bersama dan di sini kamu diminta menuangkan arak untuk orang tua, artinya buat aku dan Piter dan paman kitalah di sini yang jadi keluarga Hara,”ujar Vikky memulai aksinya.
“Baik,” jawab Leon wajahnya tenang datar dan misterius.
Bram dan Ken sudah menahan tawa dari mulai bos turun.
“Tapi itu untuk ntar malam ... untuk saat ini, menantu lelaki dituntun untuk bisa memasak untuk di sajikan sama mertua,” ujar Vikki lagi.
“Om, itu memang ada?” Tanya Hara protes, ia tidak ingin suaminya di kerjai oleh kedua omnya.
“Saya harus memasak ?” Tanya Leon.
“Iya, tetapi kamu harus memilih sendiri.”
Leon menggosok-gosok hidungnya dengan punggung tangannya, Hara tahu itu ekspresi tidak nyaman atau bingung dari Leon, setiap kali ia melakukan hal itu, itu artinya lelaki itu merasa tidak nyaman, Hara sudah tahu kebiasaan Leon, maka ia cepat-cepat mengambil tindakan.
“Biar saya bantu,” ujar Hara.
“Haara …. kamu tidak bisa, kamu putri yang punya rumah ini',’ ujar Vikky.
“Om. Leon itu tidak bisa masak, kalau Om minta dia memegang pistol dan pisau dia ahlinya, apa om mau dia menghancurkan dapur Bibi?”ujar Hara.
__ADS_1
“Baiklah bantuin suamimu untuk menyiapkan makan siang untuk kita,” ujarnya lagi.
“Baik.”
Hara membawa Leon ke dapur.
“Benarkan apa yang aku bilang? mereka akan mengerjai mu.”
“Tidak apa-apa, ayo kita mulai masakan apa biar aku bantuin.” Leon terima.
“Kita masak simpel saja, mereka berdua suka makan soto ayam, kita sajikan itu saja,” ujar Hara.
Dengan cekatan Hara menyiapkan semua bahan-bahannya dari kulkas. Melihat Hara bekerja cekatan Leon hanya menatap dan tersenyum melihat sang istri pintar memasak tentu itu satu nilai plus untuk seorang istri.
“Kenapa hanya melihatku Bos … Cepat,” ujar Hara.
Leon hanya tersenyum kecil saat mendengar Hara memanggilnya dengan sebutan Bos.
“Aku senang sekali karena istriku pintar masak,” ujar Leon memeluk Hara dari belakang.
“Leon, kalau om vikky melihat kamu seperti ini nanti kamu makin dikerhjain,” ujar Hara, ia tidak terpengaruh dengan pelukan Leon dari belakang.
“Kamu kan istriku kenapa dia jadi marah.”
“Karena saat ini kedua lelaki perjaka tua itu sedang mengerjaimu, yakinlah kalau sampai besok kamu di sini mereka berdua akan terus membalasmu dengan alasan kamu adalah menantu. Ayo buruan kerjakan,” ujar Hara
“Baiklah.”
*
Tidak lama kemudian masakan keduanya selesai juga, Leon memaki clemek ber motif bunga - bunga berwarna cerah, saat ia membantu Hara menyajikan masakan itu ke atas meja, melihat sang Bos memakai celemek bermotif bunga-bunga. Ken tertawa melihat Leon menyajikan menu makan diatas meja.
"Ada mbak Inem itu," Ujar Ken menahan tawa, mereka berdua sedang berjaga di sana.
Ken mengarahkan camera ponselnya mengambil gambar Leon, lalu ia membuat status dengan caption #Unduh mantu. Status Ken dilihat semua karyawan Leon.
Melihat sang Bos mereka memakai clemek dan menjadi pelayan di rumah Hara membuat gempar pegawai di hotel Leon.
Bos yang selalu terlihat berwibawa, tegas, coll itu membuat semua karyawannya tersenyum melihat Leon memakai clemek dan handuk kecil di letakkan di pundaknya.
Setelah di minta memasak makan siang, tidak cukup sampai di situ, malamnya Leon diminta menuangkan arak ke kegelas kedua paman Hara, kalau acara ini di keluarga Hara memegang ada.
Malam itu Leon ditantang Vikky balap minum lebih banyak, Bos Mafia ditantang minum alkohol sudah pasti Leon menang karena minuman keras sudah hal biasa untuknya. Kedua paman Hara kalah.
Tetapi saat mereka kalah keduanya semakin kesal, mereka berdua merencanakan rencana kedua, Leon tersisa satu hari lagi di rumah Hara sebagai mantu. Saat Hara ingin turun, tidak sengaja Hara mendengar rencana kedua omnya untuk mengerjai Leon.
Hara balik lagi ke dalam kamar.
__ADS_1
Leon baru mau merebahkan tubuhnya.
“Besok kita harus pergi dari sini!” Ujar Hara dengan wajah serius.
“Kenapa?” Tanya Leon mengangkat kedua alisnya melihat wajah Hara yang mendadak sangat serius.
“Om ingin megerjaimu lagi.”
“Tidak apa-apa memang apa lagi yang bisa merela lakukan.”
“Ini beda sayang …. ini beda! Kamu pasti tidak akan mau”
“Memang apa?” Tanya Leon meraih gelas dan minum.
“Pakai Koteka.”
Buuur ….!
Air dari mulut Leon menyembur saat mendengar benda tersebut, alat pengaman pria pakaian khas Papua.
“Kok ….?” Leon menatap Hara.
“Om Piter itu orang Flores tapi ibunya orang Papua, mereka sering mengikuti acara adat dari Ibunya, seperti Bakar batu”
“Lalu ….?” Tanya Leon dengan wajah serius.
“Aku mendengar mereka akan mengadakan adat bakar batu dan kamu pakai itu ….” ujar Hara tertawa.
“Kenapa tertawa?” Tanya Leon.
“Aku membayangkan kamu seorang Leon Wardana pakai Koteka, terus aku berpikir …. apa ada yang muat iya ... ukuran kotekanya ha …ha …ha …” Hara tertawa terpingkal-pingkal saat membayangkan Leon pakai koteka dalam acara bakar batu yang di rencanakan ke dua Omnya.
“Hei ….! Berhenti tertawa , bantu aku cari solusinya,” ujar Leon akhirnya ia menyerah saat kedua om Hara ingin mengerjainya memakai koteka.
“Aku … aku … tidak bisa membayangkan seorang Leon wardana diminta memakai benda itu.” Hara kembali tertawa terpingkal- pingkal.
“Hai Nona Hara .... Berhenti tertawa. Apa kamu senang melihatku setengah telanjang,” ujar Leon wajahnya datar melihat Hara yang terus tertawa terpingkal pingkal sampai memegang perut.
“Baiklah kita pulang sekarang saja, jangan sampai menunggu besok pagi, mereka dua itu licik. Minta bantuan ibu saja bilang saja ibu kurang sehat dan kita ingin membawa ke dokter,” ujar Hara wajahnya masih memerah karena habis tertawa keras.
Leon melakukan apa yang dikatakan Hara mereka berdua pamit malam itu juga.
“Kok kita pulang Bos, kan masih ada satu hari lagi,’ ujar Ken, ternyata ia juga tahu rencana Piter sama Vikky.
“Besok kamu saya minta pakai Koteka iya, Ken,” ujar Leon saat mereka dalam mobil.
“Kok jadi aku Bos yang unduh mantu kan, Bos,” ujar Ken.
__ADS_1
Hara kembali tertawa lepas saat mereka di dalam mobil untung dia mendengar pembicaraan kedua omnya malam itu, kalau tidak Leon akan malu.
Bersambung ….