Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Berpura-pura


__ADS_3

Sesuai  rencana Hara sudah berangkat ke Kalimantan.


Saat matahari membumbung tinggi di tengah langit Hara terlihat duduk  jongkok mengelilingi gundukan tanah yang  penuhi daun kering,  tetapi tetap terawat ia dan kedua anaknya ke kuburan anak pertamanya Ichiro.


“Maaf sayang Ibu dan kedua adikmu baru bisa datang menjenguk abang, ayah tidak bisa karena dia lagi banyak urusan” ujar Hara menaburkan bunga-bunga itu di atas gundukan tanah kecil itu.


“Ibu kasihan abang ini kalau di tinggal sendirian di sini, kenapa kita tidak membawanya ke  rumah kita,” ujar Chelia bibir kecilnya terlihat berkedut maju ke depan.


“Tidak apa apa sayang,  kita akan sering-sering nanti untuk menjenguknya ke  sini,  abang akan lebih merasa tenang di sini karena alamnya masih sejuk.”


Hara benar-benar  melakukan apa yang di inginkan setelah pamit  pada Leon,  Hara  memboyong kedua anaknya ke Kalimantan,  ia hanya ingin mencari ketenangan,  tadinya niatnya hanya ingin menunjukkan pada kedua anaknya kalau mereka punya saudara  yang sudah  meninggal.


Setelah  membersihkan kuburan kecil  milik putranya, Hara dan si kembar juga  membagikan bingkisan pada anak-anak  panti asuhan.


Ia membawa anak-anaknya  melihat hamparan rumput luas  di samping panti dan beberapa kuda  sengaja di lepas bebas di hamparan rumput.


Ada kuda dan bisa di tunggangi Okan sangat bersemangat.


Disisi lain,


Leon tiba di rumah,  setelah ia bertemu dengan dr, Shena lagi, ia tidak terkejutnya saat tiba di rumah dapat kabar kalau Hara dan kedua anaknya pergi ke Kalimantan .


Karena ia sudah membicarakan sebelumnya dengan Hara, mereka berdua akan berpura-pura bertengkar agar ia bisa tahu siapa  penghianat  yang  bersembunyi di rumahnya.


 Saat tiba di rumah Bu Atin melapor pada Leon.


“Kapan mereka pergi Bu?” tanya Leon dengan wajah lemah.


“Tadi pagi saat kamu pergi dia pamit sama ibu, tetapi Hara bilang sudah pamit sama kamu.”


“Ya, tapi aku belum menyetujuinya, tetapi kenapa Hara sudah langsung pergi?”


   “Apa terjadi masalah  antara kamu dengan Hara?  Dia sangat berubah belakangan ini, dia banyak diam, tolong jangan bertengkar lagi Nak,  mengalah lah  pada istrimu, apapun yang dia minta demi kebaikan keluargamu dan demi kedua anakmu.


Nak, dalam rumah  tangga itu yang penting di butuhkan bukanya hanya harta semata,  tetapi ada yang lebih besar dari harta; Kejujuran  paling utama,  dari segalanya.”


“Baik Bu. Aku akan  berusaha.” Leon mengusap wajahnya dengan lelah.


“Besok waktu keputusan akhir persidangan,  tidak seharusnya dia  pergi?”


“Bu, apa Hara pernah cerita pada Ibu tentang apa yang terjadi?”


“Tidak Nak,” ujar Bu Atin.


“Ya, masalahnya  Hara meminta  obat penggugur kandungan dari dokter.”


“A-apaa? kenapa? Apa yang salah? Tapi,  tidak mungkin Hara melakukan itu” wanita itu memegang jantungnya  mendengar hal buruk di rumah tangga Leon belakangan ini  membuatnya selalu sport jantung.

__ADS_1


 Setelah makan malam Leon kembali ke kamar mereka.


Leon merasa sangat sunyi di rumah besarnya, tidak ada suara  tawa dan bercanda anak-anaknya, ia   merasa kehilangan,  Leon menyadari betapa beruntungnya ia memiliki anak-anaknya.


Tidak tahan dengan kesunyian Leon masuk ke kamar mandi ,Leon menelepon Hara.


“ Ada apa, sayang?” suara itu terdengar lembut seperti biasanya.


“Hara … kenapa kamu pergi begitu saja padahal aku belum  memberimu Izin?”


“Sayang, aku pergi menjauh itu lebih baik, dengan begitu kamu fokus untuk mengurus mereka.”


“Tapi aku kesepian  di rumah tampa kalian.”


“Singkirkan para penghianat itu secepatnya agar kami bisa cepat pulang,” ujar Hara.


“Aku merindukan  mereka berdua Hara, bisa aku bicara?”


“Oh, Kak Toni mengajak mereka berdua naik kuda.”


“Apa Toni juga ada di sana?  Naik kuda malam-malam?”


“Sayang ada Kikan juga di sini,” ujar Hara saat nada suara Leon panik.


“Iya, aku hanya khawatir pada anak-anakku,” ujar Leon.



“Hara sejak kapan kamu tidak mau bilang  padaku biasanya juga kamu melapor?”


“Leon, apa kamu cemburu?” Tanya Hara setengah berbisik.


“Tidak Toni sudah seperti adikku,” ujar Leon.


“Leon , aku kesini ingin mencari ketenangan.”


“ Hara, kenapa Toni ada di sana?” suara Leon  mengecil.


“Pak Leon Wardana! Toni saat ini lagi membuka peternakan kuda  di sini, aku datang ke sini bukan untuknya, aku, kesini karena merindukan putraku. Jadi buang  rasa curiga  itu,” ujar Hara tertawa.


“Aku wajar  bertanya karena kamu istriku,” ujar Leon.


Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang lagi  terpisah laut dan pulau, Leon dan sama-sama sembunyi-sembunyi saat menelepon.


“Baiklah suamiku baik-baik  di sana jangan macam-macam dan jangan lupa pedangmu di mandikan pakai kembang tujuh rupa,” ujar Hara  bercanda.


“Ais jangan bahas itu lagi itu sangat menjijikkan,” ujar Leon merasa malu.

__ADS_1


“Baiklah, kamu baik-baik saja di sana, kalau kamu cari lubang di sana maka aku ju-”


“Hara …  jangan pikirkan yang aneh-aneh, tunggu aku akan datang kesana."


“Tidak usah, urus saja persidangannya."


“Hara kamu yakin?"


“Aku, yakin, kalau kamu macam-macam di sana, akan aku sentil junior mu."


“Aku pikir kamu mau bilang mau cari  penggantiku, kalau kamu bilang seperti itu , malam ini juga aku akan terbang ke sana,” ujar Leon, walau Hara bilang bersama Toni dan istrinya ternyata rasa takut dalam hati Leon, setiap ada kesempatan ia akan sembunyi - akan cari kesempatan menelepon Hara.


"Jangan sering - sering meneleponku sayang, kita akan tetap berpura-pura bertengkar dengan begitulah kamu bisa menangkap Par penghianat itu," ujar Hara.


"Baiklah." Leon menutup telepon.


Hara mengungsi ke Kalimantan ia ingin mencari ketenangan batin di tanah kelahiran suaminya, kota yang pernah menorehkan trauma yang begitu dalam di hatinya.


Banyak kenangan yang ia lalui di kota itu, di sana ia lahir di sana juga  Leon pernah mengurungnya, di sini juga terkubur putra pertamanya.


Tetapi di balik rasa sakit yang ia terima  saat itu, ia juga merasakan banyak kenangan indah di sana.


Okan dan Chelia  sangat bergembira saat bisa  naik kuda dan berlari sepuasnya di hamparan rumput luas. Toni dan Kikan memperlakukan mereka berdua dengan baik mengajak naik kuda berkebun, berpetualang di alam,  hal-hal yang tidak mereka dapatkan di ibukota.


Anak Toni sangat senang karena ia punya teman. Sementara Leon akan mengurus masalah dengan fokus.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2