
Setelah beberapa menit duduk di saling diam. Leon masih terlihat santai dan tenang tetapi tidak untuk Jovita, ia terlihat gelisah ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia takut.
“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?”
“Apa Boleh?”
“Tentu Saja Jovita Hara. Saya tidak pernah Melarang mu bicara, hanya, ingat batasannya”
“Baiklah. Apa Bapak memegang ponsel saya?”
“Iya”
“Kembalikan pada saya”
“Untuk?”
“Untuk saya pakai”
“Leon menatapnya dengan tatapan seperti biasa, jika sedang kesal, maka akan acuh dan datar.
“Apa kamu sadar, kalau kamu sudah menjadi seorang pencuri? Kamu mencuri uang anak buah ku”
Jovita Hara langsung menunduk,
“Baiklah, tidak usah.” Jovita berdiri.
“Lalu apakah kamu berpikir masalah yang kamu timbulkan akan selesai begitu saja?”
Jovita merasa dadanya ingin meledak.
“Lalu. Anda ingin apa? Apa Anda ingin saya membayar dengan tubuh saya? Akan saya lakukan”
Leon berdiri dengan marah mendengar jawaban dari Jovita bukan jawaban itu yang ia inginkan.
Ia menghunusnya wajah Jovita dengan tatapan tajam, setajam samurai.
“Apa sekarang kamu menawarkan tubuhmu pada saya?” Tanya Leon dengan suara meninggi.
Tiba-tiba nyali Jovita langsung ciut, saat ia membayangkan Leon melakukanya dengan marah, tangannya bergetar, lalu ia menunduk merasa bersalah.
“Maaf”
“Maaf untuk apa?”
“Maaf untuk semuanya.” Ia berbalik
ingin pergi. Leon menarik tangannya dengan gerakan tiba-tiba, alhasil tubuh Jovita berbalik dan menabrak dada Leon, satu telapak tangan, ia jadikan menahan dada Leon dari tubuhnya dengan pundak naik turun menahan perasaan panik bercampur takut lalu ia berkata;
"Seorang lelaki harus menepati janji dan Bapak sudah berjanji padaku tidak melakukannya dan saya juga tidak ingin Bapak melakukan itu," ujar Jovita ngegas.
"Singkirkan pikiran mesum itu dari dari otak kecilmu. Saya juga tidak akan melakukannya karena saya masih waras"
"Lalu"
"Lalu .... Jangan memancingku marah, kamu selalu memancingku marah Jovita Hara"
Lalu ia melepaskan tangan Jovita dengan kasar, Leon masuk ke kamar.
Ia menyandarkan tubuh di belakang pintu.
"Dasar ...! Gadis keras kepala" Leon menutup mata meredakan kemarahannya.
Jovita masih berdiri bagai patung.
"Aku juga tidak akan bicara seperti itu, jika kamu memberitahuku dengan cara baik- baik," ujar Jovita membela diri.
__ADS_1
Ia duduk diam dalam kamar, ia ingin keluar dari kamar tetapi kata-kata Leon yang menyebut pencuri, membuatnya enggan bertemu Rikko dan Zidan.
Melihat anak buah Leon Zidan dan Rikko sedang duduk santai setelah gantian shif, tetapi ia mundur lagi, karena perasaan bersalah.
Ia hanya duduk menyandarkan kepalanya di dinding kamarnya menatap kosong ke arah lautan.
“Kak Damian, apakah kamu sudah bertemu kekasihmu? Apakah kamu juga bertemu ibuku atau ayahku di sana? Tolong sampaikan pada mereka aku sakit, aku lelah. Aku iri dengan kak Damian yang bisa bertemu orang yang dicintai, tinggal bersama orang yang dikasihi.
Haruskah aku mati seperti kakak agar bisa menemui keluargaku? Aku tidak tahan lagi”
Ia terlihat sangat kesepian duduk kembali si sofa diluar, angin sepoi-sepoi itu membuatnya semakin larut dalam pikiran hampa.
Leon hanya menarik napas melihat apa yang ia lakukan Jovita, ia keluar.
"Saya mau keluar, awasi baik- baik jangan sampai lengang"
"Baik Bos" Leon dan Rikko keluar
Bu Atin seolah-olah tahu kalau Jovita tidak ingin keluar dari kamar, ia kembali membawa makan siang untuknya.
“Apa Bibi meletakkan di kamar apa di Luar Non?’
“Eh, bibi saya tidak lapar”
Bu Atin membawanya ke balkon.
“Makanlah bersama bibi, aku juga belum makan,” ucapnya berbohong.
Ia sudah makan, ia melakukan hal itu agar ia mau makan.
“Non untuk bisa kuat harus makan”
“Aku tidak tahu harus bagaimana Bi. Leon selalu marah padaku dan aku tidak tahu harus bersikap bagaimana di depannya”
“Aku ingin dia bersikap normal seperti lelaki pada umumnya.Kalau dia tidak mencintai aku, ya sudah aku terima. Lalu kenapa mengaggap ku seperti musuh”
“Non, kita tidak bisa mengubah seorang lelaki untuk seperti yang kita inginkan. Tetapi lelaki akan berubah demi wanita yang di cintai nya”
“Dia hanya selalu menganggap ku musuh, itu yang membuatku jadi terbebani. Dia menganggap ku musuh dan aku tahu dia membenciku. Tetapi di satu sisi, dia ingin melindungi ku karena permintaan Damian.
Sekaran, aku merasa bersalah karena menyebabkan kematian seseorang, Bi"
“Mungkin yang Kuasa ingin membuat rencana indah dalam hidupmu Nak. Tetapi mungkin ingin melalui proses yang panjang dan berliku dan mungkin menyelamatkan Leon juga”
“Bi, bagaimana mungkin kematian seseorang bisa menukar kebahagian orang lain?"
“Bibi berharap dendam di hati Leon akan hilang disaat Damian sudah meminta maaf”
Bu atin selalu memberi semangat untuknya di saat ia membutuhkan teman untuk berbagi cerita, .
“Non Hara, bibi berharap kamu bisa bertahan dan bersabar.
Luka terberat bagi Leon disebabkan karena luka batin, mustahil jika ia berubah dengan waktu yang singkat. Semua ada prosesnya Nak. Bibi berharap kamu, akan membantunya menjalani proses itu.
" Aku tida tahu, bisa apa tidak Bi"
"Intinya bersabar Nak, ayo jalan-jalan di taman"
" Tapi Bi aku senang sama Rikko"
"Tidak apa-apa"
Melihat Jovita tidak mau keluar kamar, Bu Atin membantu.
*
__ADS_1
Saat Zidan dan Toni, Iwan duduk Jovita datang di antar Bu Atin, tetapi tingkahnya mengundang tawa ketiga lelaki tampan tersebut.
"Ada apa Bu?" Tanya Toni saat wanita paruh baya itu berdiri di depan mereka.
"Bang Zidan ... Maaf aku iya, karena aku membohongi Bang Zidan," tutur Jovita dari balik belakang Bu Atin.
"Eh, siapa?" Zidan melirik.
Jovita keluar dari belakang Bi Atin dengan bersikap malu- malu.
Toni dan Iwan, tertawa geli melihat tingkahnya.
Ia berdiri di depan ketiga orang itu dengan perasaan bersalah.
"Oh, Non tidak apa - apa asal jangan disuruh lagi mengajari menembak, bos bisa menembak ku sampai mati," ujar Zidan.
"Jadi Bang Zidan tidak marah lagi?" Jovita tertawa bahagia. Ia kembali pada Jovita yang biasa. Tidak ada Leon ketiga orang itu berani bercanda pada Jovita.
Tenyata ada sepasang mata yang menatap kebersamaan mereka dengan sinis.
Salsa, menatap Jovita dengan tatapan benci.
"Kenapa semua orang begitu peduli padamu, padahal kamu sudah hampir membuat Toni dan Bos kehilangan nyawa. Namun mereka semua masih berpihak padamu. Aku benci kamu jovita. Aku ingin kamu mati"
Maka hati yang terbakar api cemburu itu melakukan tindakan nekat.
Jovita berdiri tepat di bawah taman yang di lantai dua, sebuah taman untuk Leon biasa bersantai dan membaca buku.
Tepat di atas kepala Jovita ada vot bunga dari tanah liat.
Salsa berjalan pelan tanpa pikir panjang ia menjatuhkan vot.
Traaang ...
Jovita terjatuh, ujung meja melukai keningnya, darah segar mengucur sampai kewajahnya mengotori pakaian.
"Auuhhh Sakit ...."
Sementara Zidan meringis memegang pundaknya yang timpa vot.
Saat Vot jatuh, Zidan yang duduk di kursi, sekilas melihat bayangan benda jatuh, insting sebagai pengawal bekerja, ia mendorong tubuh Jovita ke depan. Tetapi siapa sangka, wanita cantik itu ,ikut terluka juga.
Keningnya bocor dan mengeluarkan banyak darah, Toni membuka pakaiannya dan menekan kuat, Iwan berlari mengambil kotak obat.
Kepanikan terjadi di rumah, saat Leon tidak ada.
Apa yang dilakukan Leon pada si ****** Salsa,saat wanita yang dilanda api cemburu itu ingin melukai Jovita. Wanita yang mati-matian ia lindungi.
Bersambung ...
ANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA000
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1