
Sekeras apapun Leon ingin melupakan masa lalu sepertinya akan sulit , mereka selalu datang menganggu kehidupannya, baik kali ini ada tiga orang yang datang berpura-pura jadi tamu undangan.
Tamu undangan semua sudah pulang dan pesta sudah selesai.
Saat sedang mengobrol tiba-tiba Leon mendekat Hara.
“Hara … sini bentar” Leon membawanya keluar.
“Ada?”
“Sayang .... kamu pulang iya sama Ibu."
“Kenapa?” Tanya Hara dengan mata membesar.
“Tidak apa-apa, aku tidak mau kamu kecapean berdiri terus,” ujar Leon.
“Baiklah, aku duluan." Sampai ketemu di rumah,” ujar Hara ia tahu kalau Leon menyembunyikan rasa khawatir padanya.
Sebelum terjadi hal yang tidak dinginkan, Piter juga menyadari, ia membawa istrinya keluar dari ruangan aula, membawanya ke toilet.
“Kok kita ke sini Bang, aku tidak minta ke toilet ‘kan.” Hilda protes.
“Temani aku sebentar, aku tidak ingin meninggalkan mu sendirian.”
“Oh ada apa denganmu?” Hilda menatap dengan bingung.
Ting….
Notif pesan dari Leon.
[Bawa Hilda keluar dari sini, ada orang yang mengawasi kita, aku menunggu di luar]
Piter bersikap tenang , seakan-akan tidak ada masalah , Hilda juga bersikap santai karena memang tidak tahu apa yang terjadi.
Saat ia keluar, sebuah mobil berwarna putih sudah di siapkan Leon, untuk membawa mereka pergi meninggalkan hotel, untungnya pestanya berjalan lancar.
Saat semua sudah keluar dari aula, atas perintah Leon pintunya di tutup, Clara ternyata masih di sana, ia baru keluar dari kamar mandi, ia kehilangan sebelah anting berlian miliknya, maka itu ia dari tadi mencari bolak balik.
Ia menatap bingung saat ada pertunjukan yang mengejutkan, tiga orang pria berjas mengacuhkan pistol pada Ken, Leon, Zidan.
Sementara pintu aula sudah ditutup agar tidak menimbulkan kepanikan di dalam hotel.
"Apa yang terjadi?" tany Clara panik.
“Clara ….?" Mata mereka semua menatap wanita cantik tersebut.
Merasa terpojok karena mereka tertangkap basah olah Leon, lalu salah seorang dari mereka menangkap Clara menjadikannya sebagai sandera.
Clara ketakutan, tubuhnya bergetar
“Apa yang dia lakukan di sini? "ujar Leon mendesis.
Clara menatap Zidan dengan wajah sendu, ia memohon pada Zidan untuk di selamatkan.
“Baiklah apa yang kalian inginkan,” ujar Leon meletakkan pistolnya di lantai di ikuti Ken dan Zidan.
“Tentu saja kematian mu,” ujar mereka bertiga.
Wajah mereka bertiga sangat ketakutan, mereka sadar yang mereka gertak saat ini adalah bos mafia.
“Biarkan dia pergi, dia tidak ada hubungannya semua ini, dia hanya tamu,” ujar Leon tenang.
“Tidak, buka pintu dan biarkan kami pergi.”
__ADS_1
“Baiklah, saya tidak tidak suka membuat penawaran dua kali dengan penjahat.” Leon mengangkat tangannya.
Door …!
Dok …!
Dor ….!
Tiga tembakan mengenai kaki ketiga penjahat tersebut. Vincin dan Bram, ternyata bersembunyi di panggung pengantin yang belum bongkar, tubuh mereka bertiga ambruk dan Clara terlempar ke depan, dengan sigap Zidan menangkap tubuhnya.
‘Melihat keadaan seperti ini Clara pasti akan semakin membenciku’ ucap Zidan.
"Zidan bawa dia dari sini ..."Pinta Leon.
" Baik Bos. "Zidan membawa Clara. Ternyata lengan Zidan terkena sayatan pisau saat menangkap tubuh Clara.
“Bawa mereka ke gudang, saya akan menemui mereka nanti”
“Baik Bos,” ujar Bram
Mereka diikat dan mata ditutup kain, tidak berapa lama Leon tiba, ia tidak memakai setelan jas lagi, kali ini mengunakan kemeja berwarna putih, ia menggulung lengan bajunya, memperlihatkan gambar seni di lengannya mengintip dari balik lengan kemeja yang digulung, ia melakukan interogasi.
Leon merentangkan lengannya menyuruh membuka penutup kepalanya.
“Baiklah, aku akan bertanya , siapa yang memerintahkan kalian?” suara itu terdengar tegas.
Ketiga orang itu hanya diam, tidak mau membuka mulut,
“Bos serahkan sama saya, biarkan saya yang membuat para bajingan ini membuka mulut,” ucap Ken.
Ia khawatir bosnya tidak bisa mengendalikan diri, karena beberapa kali Leon terlihat meremas kepalan tangannya.
“Apa maksudmu? apa kamu pikir aku akan mendengar bualanmu?” ucap Ken marah, memberi satu bogem di wajah mereka.
Namun, Leon mengerti apa yang di maksud, ia tahu kalau tidak mudah lepas dari bayang-bayang Boyko, Lelaki itu mempunyai banyak anak buah dan semuanya menginginkan harta yang miliki bos mereka, mereka semakin dendam karena bos besar itu memberikan semua hartanya untuk Leon
"Aku sudah berjanji pada diri sendiri, akan meninggalkan dunia gelap itu, apakah aku bisa keluar dari sini?’ Leon membatin.
“Katakan padaku, apa yang kamu inginkan?” Leon menatapnya dengan tatapan tajam, ia mengungkapkan kemarahannya lewat tatapan matanya.
“Kematian mu,” jawab seorang dari mereka bertiga.
Mendengar kalimat itu Leon terlihat santai, ia sudah terbiasa mendengar hal itu dari dulu. Namun, tidak bagi Ken dan Bram.
Paaak …. !
Ia memberi bogem mentah tepat di wajahnya. “ Lu udah ingin mati iya!? Bos apa yang saya lakukan pada ketiga badut ini, kebetulan tangan saya lagi gatal ini,” ucap Bram mengepal tangannya siap membuat ketiga orang itu babak belur.
“Tunggu Bram, kita akan lihat apa mereka bertiga akan memilih setia dan mengorbankan nyawanya atau akan memberitahukan siapa yang menginginkan kematian ku.”
Leon dengan santai menarik kursi dan duduk, di atas duduk kursi di jadikan jadi tumpuan dagunya, ia duduk dengan santai melihat kearah tiga orang yang terikat itu, orang yang menginginkan kematiannya.
“Baiklah” Leon mengeluarkan pistol dari balik pinggangnya. “ Sekarang katakan siapa orang yang menyuruhmu untuk menghabisi ku? aku akan memberi kalian kesempatan, jika kalian memberitahukan ku aku akan melepaskan mu.”
“Tidak akan.”
“Baik.”
Dooor….
“AAA!” Teriakan terdengar dari mulutnya, untung ruangan itu kedap suara jadi teriakan penjahat tidak terdengar ke luar.
__ADS_1
Satu tembakan lagi ia arahkan ke kaki, mereka berpikir kalau Leon hanya menggertak tidak menarik menembak, tetapi melihat temanya tertembak seorang dari mereka akhirnya mengaku.
“Baiklah, jika dia menginginkannya, suruh ia menemui ku, kamu pulanglah temui bos mu, dan suruh juga bos untuk melepaskan kedua temanmu,” ucap Leon menatap dengan kasihan lelaki bertubuh kurus itu.
Leon tahu seperti apa bos mereka, dengan mereka tertangkap saja itu sudah sebuah kematian, apa lagi dengan mengaku semua tentang bos, bisa-bisa lelaki itu akan dicincang dijadikan makanan ikan.
Leon membebaskan salah seorang dari mereka, ia agar Bunox tahu kalau ia sudah mengetahui rencana busuknya.
“Bos, kenapa membiarkannya pergi, kenapa kita tidak menghabisinya,” ucap Bram kaget.
“Tidak perlu kita mengotori tangan untuk hal itu, begitu ia selesai buka bulut, menit kemudian dia tidak akan melihat matahari lagi,” ucap Leon.
Ia tahu Bunox akan menghabisinya, gaya kepimpinan Bunox menurun dari Boyko, kejam dan tidak punya rasa kemanusiaan. Namun, pekerja keras, apa yang dia inginkan akan berusaha mendapatkannya. Tidak perduli walau dia harus menghilangkan banyak nyawa demi ambisi dan keinginannya.
“Kurung mereka di gudang,” pinta Leon dengan nada tegas.
“Baik Bos.”
Bram menyeret kedua lelaki yang terluka itu ke dalam gudang.
“Apa yang saya harus kita lakukan Bos? Apa aku haru menghabisi mereka?” tanya Bram
“Apa menghabisi nyawa orang lain akan membuatmu merasa senang?”
“Bukan begitu Bos, maaf.”
“Menghilangkan nyawa orang lain, akan satu beban hidup bagimu, sama seperti yang aku sesali sampai saat ini, Bram … jika ada pilihan selain itu, saya akan memilihnya, apa yang kamu tabur itu juga akan kamu tuai, hidup tidak akan selamanya sama di atas,” ucap Leon dengan wajah datar.
Menikah dengan Jovita Hara mengajarkan banyak hal untuknya.
“Baik Bos, aku mengerti.”
“Satu hal lagi, jangan sampai kejadian ini sampai pada Hara, dan Ibu Aku tidak mau mereka khawatir,” ucap Leon menepuk pundak lelaki bertubuh kekar itu
“Baik Bos.”
“Obati luka mereka.”
“Baik bos.”
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing