
Leon meminta Rudi datang ke ruangannya, lelaki bertubuh gemuk itu kepala keamanan yang baru, tadinya ia bertugas di Medan karena di Jakarta pekerjaan dalam keadaan genting, Leon memintanya menjadi kepala keamanan di rumahnya. Tetapi apa daya, bukan lebih aman, malah membuat semakin hancur.
“Apa yang terjadi ? Kapan Jovita keluar dari rumah ini?”
“Dua hari yang lalu Pak”
“Siapa yang memberi ijin, Pak Rudi? Siapa?” Leon sangat marah.
“Saya sudah menelepon bapak dan mengirim pesan sama Bapak, tetapi saat itu Bapak mabuk dan … tidak menjawab”
“Lalu dia pergi sama siapa?”
“Non Hara, malam itu, meminjam motor saya Pak”
“Malam-malam? Motor?” Tanya Leon dengan mata melotot.
“Iya Pak, Non Hara bilang dia sakit perut , terus … ia memohon- mohon padaku, jadi saya tidak tahan melihatnya, dia kesakitan, jadi saya memberi Izin. Kasihan wanita secantik dia kesakitan”
Melihat gerakan tubuh Rudi, Leon bisa tahu, kalau pria itu berbohong dan dia tidak suka, saat Rudi menyanjung kecantikan Jovita.
‘Saya sudah puluhan tahun jadi penjahat, bodoh! Jangan coba-coba membohongiku’ Leon berucap dalam hati dan menatap tajam, Lalu ia berkata;
“ Kamu saya pecat. Keluar dari rumah saya!”
Leon benar- benar sangat marah saat ia tahu kalau Jovita keluar dari rumah menggunakan motor besar malam-malam.
Membayangkannya saja membuat tangannya gemetar, saat ia matian-matian menjaga wanita itu, ternyata Rudi membiarkannya pergi dengan alasan tidak tega melihat wajah cantik Jovita, saat memohon-mohon karena kesakitan, membuatnya semakin marah, karena Rudi tidak meminta anak buahnya untuk mengawal Jovita, saat keluar malam itu.
Jika itu Iwan sudah pasti melakukannya dengan baik, saat ini Leon dan Toni menjaga bawahan lelaki gondrong itu dirumah sakit. Karena itulah ia meminta Rudi di over ke Jakarta.
Lelaki berambut ketinting itu keluar dari kamar Leon, ia dipecat karena ulah Jovita.
Leon mencengkram kuat sisi meja saat melihat cctv di mana malam itu Jovita keluar dari rumah, mengendarai motor ninja besar milik Rudi.
“Gila. Saya tidak pernah merasa sebodoh ini.” Leon memukul meja dengan keras.
Rikko yang berdiri di belakang hanya bisa diam matanya menatap kaget, tidak percaya kalau Jovita nekat malam-malam mengendarai motor.
__ADS_1
“Bos apa yang kita lakukan sekarang?” Rikko masih menatap layar monitor.
“Awasi dia dua puluh empat jam, jangan biarkan dia keluar dari rumah ini,” ujar Leon geram.
“Apa yang Non Hara cari Bos?”
“Dia ingin mencari pelaku pembunuhan keluarganya”
“Bukankah itu berbahaya Bos, dia sendiri diincar para bajingan itu”
“Makanya saya bilang, wanita ini bodoh dan keras kepala,” ujar Leon .
Melihat rekaman Leon tidak memperbolehkan Jovita bekerja di kantornya.
“Bilang padanya saya menolak lamaran kerjanya .... Untuk bekerja di kantorku. Gadis bodoh!”
Leon berpikir kalau Jovita akan datang lagi ke ruangannya, memaksa untuk tetap diperbolehkan bekerja karena Leon menolaknya bekerja, tetapi kali ini, ia bersikap biasa, Leon tidak tahu, kalau Jovita sudah melewati hal yang sangat buruk beberapa hari ini.
Mungkin pengalaman itu, akan mengubah pola pikirnya juga, dan mungkin .... akan mengubah wanita cantik itu untuk lebih berani.
*
Rikko mengabarinya kalau Leon menolak lamaran kerjanya, tetapi Jovita hanya tersenyum kecil. Namun, senyuman itu, terlihat aneh di mata Rikko.
‘Bagaimana kamu melakukannya Nona?’ Ia bertanya dalam hati.
Rikko memikirkan bagaimana Jovita memasuki kantor Leon, dan masuk ke ruangan Leon tanpa terekam semua cctv yang ada di kantor baru Leon. Padahal Leon sudah memasang alat keamanan yang sangat bagus di kantor baru tersebut. Namun, Jovita bisa lolos.
“Tidak apa-apa Kak, baiklah saya akan kembali ke kamar dulu.” Jovita meninggalkan Rikko yang masih memandanginya dari belakang.
“Non Hara, hal buruk apapun yang kamu alami, aku, berharap kamu jangan berubah, tetaplah jadi orang baik dan pribadi yang ceria,” ucap Rikko pelan. Ia memikirkan siapa pembunuh Beny, mantan tunangan Jovita.
Jovita duduk di sisi ranjang menyandarkan kepalanya , bayangan malam itu terlintas lagi di benak, setelah dua hari berlalu baru hari ini, ia berani keluar dari kamar.
Flasback.
Dua hari yang lalu, saat Leon lagi pergi ke luar kota urusan bisnis lebih tepatnya ingin menghindari Jovita. Awalnya Jovita benar-benar marah, niat ia ingin melarikan diri, tetapi saat ingin keluar ia melihat ada ponsel yang lagi ci charger di ruang tamu, ponsel milik anak buah Leon yang sedang tidur siang.
Jovita mengambil ponselnya iseng-iseng menelepon Piter, ternyata nomor aktif dan lagi berada di Jakarta utara, tidak jauh dari rumah Leon, ia meminta tetap di rumah Leon.
__ADS_1
Piter meminta Jovita mengambil kunci bekas kantor ayahnya, karena berniat ingin mengambil data penting milik sang ayah dari saba. Maka niat melarikan urung dilakukan.
Jovita melakukan misi baru, yakni mengambil kunci kantor, bagaimanapun caranya. Ternyata kunci kantor itu di pegang Rudi kepala keamanan di rumah Leon, ia datang ke pos dan mengajak lelaki itu mengobrol panjang lebar, Jovita baru menggodanya sebentar Rudi langsung kelepak-klepak.
Ini satu bukti, kalau wanita itu, mahluk ciptaan Tuhan yang paling cerdik, walau Rudi ketakutan karena ia tahu wanita cantik itu milik sang Bos, bahkan semua bawahan Leon sudah mengingatkannya. Namun, saat di sodorkan yang indah seperti itu, napsu mengalahkan semuanya. Ia mau, bahkan bersedia menghapus isi rekaman cctv yang merekam Jovita. Wanita itu keluar meminjam motor Rudi.
Saat bertemu Piter di tempat tersembunyi. Piter kaget karena Jovita mengendari motor ninja.
“Hara, biar om yang melakukannya, kamu pulang saja,” ujar Piter.
“Om, saya yang tahu tentang bangunan itu. Saya punya jalan rahasia menuju kantor, ayah”
Tidak ingin berdebat dengan Hara Piter akhirnya mengalah walau ia sangat khawatir. Namun, ia mengendarai motor menuju kantor. Saat tiba Piter di menunggu di luar mengawasi Jovita masuk melalui ruang rahasia di belakang kantor, sebelum masuk keruangan, ia terlebih dulu mematikan cctv di semua bangunan.
Bahkan Leon tidak tahu kalau bangunan itu punya ruang khusus sebagai ruang kendali. Itu ruangan favorit sang ayah dulu, di mana dalam ruangan itu, ayahnya bisa melihat semua karyawan yang sedang bekerja.
Anehnya ruangan rahasia itu karya Jovita untuk sang ayah, seolah-olah takdir sudah menuliskan semua yang terjadi dalam hidupnya, saat ia masuk, ia melihat foto ayahnya merangkul pundaknya tertawa lebar.
Jovita mengingat momen saat itu, di mana ia memenangkan sebuah tender proyek besar.
“Ayah. Aku rindu.” Jovita menangis memeluk foto ayahnya, tiba-tiba matanya tertuju pada foto Beny bersamanya.
“Brengsek …!Aku akan membunuhmu penghianat, kamu yang menyebabkan aku yatim piatu,” ucap Jovita tiba-tiba berubah seperti iblis yang sedang marah.
Bersambung ….
jANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)