Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Bersamamu Malam Ini


__ADS_3

Hara masih  di kamar Leon.


Leon sering sekali  mengalami sakit kepala, apa lagi saat memikirkan Hara, maka stok obat sakit kepala ada banyak tersimpan di dalam lacinya. Hara mengambil satu tablet.


“Baguslah, setelah minum obat ini, aku baru pulang nanti” ucap Hara menuangkan segelas air dan meminum obat pereda sakit kepala, ia melirik jam di dinding. Jam sudah bertengger di angka pukul 22: 00 wiB


“Kenapa jam cepat sekali berputar, mudah-mudahan hujannya cepat redah, agar aku bisa pulang, bibi pasti sudah khawatir denganku,”


 gumam Hara, ia menyalakan telivisi di ruangan Leon, untuk mengisi kesunyian, sembari menunggu Leon keluar dari kamar mandi.


Awalnya ia tersenyum, saat menonton  siaran televisi, acara show yang bertabur kelucuan yang sering sering sekali  si tokohnya yang meniru  orang lain.


Ia meletakkan gelas dan obat di nakas di samping sofa. Hara duduk  menarik bantal sofa,lalu meletakkannya di pangkuannya, untuk menutup bagian yang terbuka, membuat posisi tubuhnya nyaman.


Tapi efek obat  itu ternyata membuatnya mengantuk, setelah menguap beberapa kali, akhirnya ia tidak kuat menahan rasa kantuk dan tertidur di sofa dan handuk masih melekat di kepalanya.


Leon keluar dari kamar mandi,  ia sengaja menggunakan dua handuk, untuk menutup bagian bawahnya dan menggunakan satu handuk lagi untuk menutup bagian dadanya yang ia gantungkan di lehernya, ia tidak ingin Hara berpikir buruk padanya yang  ada malah kabur, menganggap lelaki mesum lagi,  seperti yang ia pikirkan kemarin-kemarin padanya.


Mendengar suara Televisi dan melihat Hara duduk di sofa membelakanginya,  Leon dengan langkah hati-hati membuka lemari pakaian di belakang Hara, memakai baju santai, kaos dan celana pendek.


Setelah rapi, ia berdiri di belakang Hara.


“Apa Hara suka menonton acara debat politik sekarang? dulu ia bilang tidak tidak suka menonton acara politik tanah air, karena banyak dramanya,” Ujar Leon  melirik Hara.


“Apa sekarang kamu suka debat?” Leon berjalan mendekati sofa dan duduk. Saat melihat kearah Hara ternyata ia sudah tertidur, terdengar dengkuran halus dari mulutnya.


“Kamu tertidur? Apa kehujanan membuatmu mengantuk?” Leon melihatnya tanpa  berkedip, ia mendekatkan tubuhnya, melihat wajah wanita itu lebih dekat, ia merasa sesak di dalam dada, Hara tidak berubah sedikitpun dari dua tahun yang lalu, hampir tiga tahun, Leon menatapnya dari alis yang tertata rapi, bulu mata yang panjang lentik selaras dengan mata bulat indah,  sebagai ciri khas Hara, mata bulat dengan bulu mata panjang lentik.


 Leon turun ke bibirnya. Bagian paling menarik darinya  dan Leon tidak pernah lupakan itu, bibir atas yang kecil berwarna merah alami dan Hara  punya kebiasaan unik dari dulu,  sering sekali membasahi bibirnya dengan lidahnya, membuatnya tetap terlihat segar.

__ADS_1


 Mata Leon menatapnya dari atas sampai kebawah, banyak hal yang ia pikirkan, berpikir Hara sudah menjadi milik orang lain.


“Kamu membuatku menderita Hara, menderita sendirian, apa ini adil untukku? Saat aku setengah mati menahan perasaan untukmu, kamu bahkan menganggap ku orang lain, bahkan saat ini juga,  tidak seharusnya kamu tertidur di tempatku Hara, aku tidak akan bisa mengendalikan diriku” ucap Leon, ia menoleh kesamping menemukan obat yang diminum Hara. Apa kamu sakit?” tanya Leon matanya menatap Hara dengan sendu.


“Apa yang  harus aku lakukan, dia akan dapat masalah,  kalau dia tertidur di sini malam ini, Leon  mengeluarkan ponsel Hara dari sakunya yang ia sembunyikan tadi,  tapi sayang ia memakai pola untuk mengamankan ponselnya. Leon tidak bisa membuka kuncinya, tadinya ia ingin mencari informasi banyak tentang Hara. Ingin mengabari Bi Ina, kalau Hara tidak bisa pulang.


Leon juga merasa kepalanya semakin berdenyut, ia juga merasa kurang enak badan karena terkena  hujan deras tadi.


“Aku juga harus minum obat dan tidur” Leon meminum satu tablet obat, tapi obat yang berbeda dari Hara, yang di minum Hara, dosisnya lebih tinggi membuat Hara tidur seperti orang pingsan.


“Baiklah Hara, aku tidak tahu apa yang terjadi  mala mini, maaf, kita harus tidur bersama lagi malam ini.”Leon menyingkirkan bantal sofa dari pangkuan Hara ingin mengangkat tubuhnya ke  ranjang.


“Oh gila. Aku bisa mati tersiksa malam ini, bagaimana aku mengatasi diriku, kalau kamu seperti ini Hara … aku ini lelaki normal,” ucap Leon bicara sendiri, mengutukki dirinya saat merasakan ada sesuatu yang bergejolak  bagian tubuhnya.


“Gila mati aku,” ucap Leon   ia berdecak kesal pada dirinya, masih berdiri menatap Hara, kali ini ia merasa kepala Hara sakit,  karena di bungkus handuk, ia mengambil handuk yang membungkus kepala Hara dan menjemurnya, saat ia menoleh Hara lagi.


Saat ini rambut itu menutupi wajahnya, Leon sangat suka pada wanita yang memiliki rambut panjang, apa lagi kalau warna rambutnya hitam.


“Kamu sangat cantik Hara,” ucap Leon mendekatkan bibirnya ke  bibir mungil Hara yang  sering ia sentuh dulu,  menempelkannya dengan lembut,  ia merasakan napas Hara menyapu wajahnya, membuatnya semakin bersemangat, Leon memperlakukan bibir mungil itu dengan begitu lembut.


 Hara tidak bereaksi,  obat  itu membuatnya tertidur dengan pulas, Leon semakin menguasai  bibir Hara,  gerakannya sangat lembut menyusuri setiap inci dari bibirnya,  lidahnya bergerak dengan bebas di dalam, ia masih tertidur tenang tidak terusik dengan apa yang terjadi,  Leon semakin tidak terkontrol dan tidak bisa menguasai dirinya.


Ia mengangkat tubuh Hara di ranjang, menidurkan dengan hati-hati.” Maaf Hara aku ingkar janji, kamu boleh melenyapkanku besok karena aku mencuri sesuatu dari bibirmu” ucap leon mengigit bibir berwarna merah itu, dengan  lembut.  Namun saat ia menikmati bibir Hara, beberapa lama sampai bibir Hara semakin merona. Namun, dengan dada naik turun Leon menghentikannya aktivitasnya.


“Walau aku ingin sekali melakukanya saat ini, tapi aku tidak akan melakukanya lebih dari bibir Hara …. Aku tidak akan mencuri lebih dari itu apalagi   saat kamu tidur seperti ini, aku bukan pengecut, lebih baik aku memaksamu,  saat kamu bangun, dari pada melakukannya saat kamu tertidur, aku tidak akan serakus itu, mungkin aku akan menderita malam ini karena kamu, tapi tidak mengapa, aku akan menahannya,” ucap Leon menempelkan bibirnya di kening Hara. Menahan dirinya untuk melakukan hal yang lebih.


Leon  dari dulu memang punya prinsip kuat, ia tidak akan melenyapkan nyawa orang saat tertidur,  tidak akan pernah meniduri wanita manapun, apalagi saat tidur.


Leon menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ia juga menyisihkan rambut panjangnya dari wajahnya,  menyisihkannya dari lehernya,  tapi saat ia  menyisihkan rambutnya dari lehernya, matanya menatap tajam, m melihat leher ada sesuatu yang membuat matanya melotot, tangannya perlahan memegang benda yang melingkar di leher Hara.

__ADS_1


Sebuah kalung , dengan  gantungan cincin, cincin yang pernah ia berikan pada Hara, saat Leon melamarnya di Villa Hara di Puncak, sebelum ia kecelakaan. Leon melihatnya,  dadanya terasa sesak,  tiba-tiba saja sungai kecil mengalir dari pipi Leon.


Mengingatkannya pada  calon bayinya yang meninggal pada saat hari naas itu,  kebakaran itu membuatnya kehilangan calon anak yang sangat ia inginkan, membuatnya kecewa pada Tuhannya,  karena mengambil semua orang-orang yang ia cintai, dan orang terdekatnya.


Dua tahun yang lalu mengalami guncangan mental menghabiskan waktunya dalam minuman membuatnya hampir meninggal karena mengalami masalah dalam jantung. Dokter memasang sebuah pen ukuran kecil di jantungnya, dokter juga memberinya peringatan kalau jantung Leon berdetak  kuat lagi akan ada masalah. Itulah alasan Leon menolak Hara saat itu agar ia tetap hidup dan dr. Billy yang memaksanya melakukan hal seperti itu.


 Saat melihat Hara  bernyanyi malam itu,  jantungnya kembali membuat Leon hampir mati di kamar mandi untung Bram menemukannya menyelamatkan hidupnya.


“Kamu masih menyimpannya? Apa yang terjadi Hara? Kenapa kamu masih menyimpan cincin lamaranku,  jika kamu sudah milik orang lain.


Tolong jangan menyiksaku  lebih dalam lagi, aku mohon,” ucap Leon  dengan rongga dada seperti terbakar dan bahunya, terguncang-guncang tangannya masih memegang gantungan kalung Hara.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2