
Besok pagi, saat Leon turun, Maxell menatapnya dengan tatapan menantang, tidak lama kemudian Piter datang melakukan hal yang sama.
‘Ah, dasar pria-pria brengsek’ Leon membatin.
Leon benar-benar merasa jengkel dengan sikap Maxell yang menganggapnya sepele, di tambah lagi dengan Piter pagi itu, ia masuk ke ruangannya, tidak lagi memikirkan tentang pekerjaan, bahkan kebiasaanya yang dicap sebagai pekerja keras, tidak untuk saat ini, belakangan ini pekerjaan Leon sangat berantakan, beruntung ada Hilda yan bisa menangani semua masalah.
‘Lelaki muda itu tidak akan aku biarkan memiliki Hara, tapi apa yang bisa aku lalukan.” Ia mondar-mandir seperti setrika.
Tok...Tok….
“Masuk”
“Pak, ini berkas yang ingin bapak tanda tangani,” ucap Kaila menyerahkan beberapa dokumen yang ingin ditanda tangani.
“Letakkan saja di atas meja,” ucap Leon , ia membelakangi sekretaris berwajah ayu itu.
“Tapi … Pak, berkasnya akan saya kirimkan nanti”
“Kaila, kalau saya bilang letakkan, iya sudah letakkan,” ucap Leon dengan tatapan mata tegas, ia berbalik badan menatap Kaila, saat melihat matan Bos galak itu nyali Kaila seperti biasa langsung menciut bagai balon kempes.
“Ba-baik pak Leon” ucapnya kemudian dan pamit keluar. “Ah, ada apa lagi dengannya kali ini, apa ia Pms belakangan ini, sering sekali bersikap seperti bunglon suka berubah-ubah” Kaila meninggalkan ruangan itu dengan mulut mengoceh kesal.
Saat ia keluar Leon juga ikut keluar dan berjalan dengan sikap buru-buru, mengabaikan kertas yang diberikan Kaila padanya.
“Hadeh … apa salahnya sih menandatangani sebentar dan meyerahkannya padaku, kan, kerjaanku tidak keteter seperti ini,” ucap Kaila, menatap punggung Leon yang berjalan kearah Lift.
*
Leon masuk keruangan Nina, kalau biasanya ia yang menghubungi untuk datang ke ruangannya, kali ini ia yang datang sendiri ke ruangan wanita bertubuh gemuk itu.
“Iya pak Leon, ada apa?” tanya wanita itu terlihat panik.
“Saya butuh bantuan Bu Nina”
“Iya pak, katakan saja”
“Periksa perlengkapan dan persediaan kebutuhan Hotel, saya ingin mengajak Hara belanja perlengkapan Hotel ke Bandung”
“Ta-ta-tapi kenapa harus ke Bandung Pak, semua kebutuhan Hotel kita sudah ada yang menyuplai dan harga dan kualitasnya bagus, Pak”
“Jangan membantah Bu Nina, saya yang tahu barang-barang yang bagus untuk Hotel saya, barang kerajinan dari Bandung biar juga buatan lokal, tapi kualitasnya bagus.”
“Baik pak, saya akan urus surat perjalan bapak dengan Hara”
“Usahakan sampai Hara yang benar-benar ikut saya”
“Baik pak”
“Bu Nina. SATU HAL LAGI… jangan sampai ada gosip di sekitar Hotel,”ucap Leon sengaja menekan kata-kata katanya sebagai peringatan.
__ADS_1
“Ba-ba-baik Pak Leon,” ucap Nina ia merasa lehernya sangat tercekik karena menjaga berita itu agar tidak sampai bocor di lingkungan kantor, sama saja halnya menjaga sebutir telur agar tidak pecah,
Karena saat Maxell datang dan menginap di Hotel, perhatian semua orang tidak pernah lepas dari Hara dan Maxell dan gosip tentang Leon yang mengejar-ngejar Hara, akhirnya menguap di lingkungan Hotel, terlihat dari sikap Leon yang tidak suka melihat Maxell.
Baru saja Nina mendengar gosipnya membahas mereka tadi saat makan siang, group bergosip ria di pantry.
Bergosip kalau Leonlah yang menyukai Hara, dan ingin mengusir kekasihnya Maxell, gosip itu semakin kuat, karena Leon tadi terlihat bersitegang dengan Maxell saat bertemu di loby, itulah gosip dari bibir ke bibir dan semakin membesar.
“Kenapa bengong Bu Nina, apa ada yang salah?” tanya Leon saat melihat Nina terdiam.
“Ta-tapi pak Leon… nanti-“ ia terlihat sangat ragu mengatakannya.
“Ada apa?”
“Kalau ada gosip beredar tentang bapak Leon dan Hara, itu bukan saya karena sebelumnya juga sudah ada gosip-gosip tentang Hara dan bapak.”
“Gosip apa?” wajah Leon terlihat lebih tenang kali ini, sangat berbeda saat ada gosip antara ia dan Bianca, ia sangat marah saat ada gosip itu, gosip ia dan Bianca beredar di lingkungan Hotel, bahkan Leon sempat memberi SP pada seorang staf Hotel yang menggosipkan dirinya, karena itu jugalah, Nina sangat takut , ia takut akan di tuduh mengedarkan gosip.
“Gosip tentang bapak dan Hara, banyak yang bilang kalau bapaklah orang ketiga diantara Hara dan Maxell”
“Siapa yang menyebarkan gosip Hoax itu”
“Sa-sa-saya tidak tahu pak, tapi bukan saya pak,” ucap Nina sangat ketakutan, ia seperti pencuri yang tertangkap basah,Leon tahu ia ikut bergosip karena itu juga kenapa ia langsung menemui Nina.
“Baiklah jangan di teruskan lagi bergosipnya cukup sampai di sini. Itu artinya hanya Nina yang tahu, saya yang akan pergi dengan Hara, kalau sampai orang lain tahu kamu saya pecat.”
“Baik pak Leon”
Hara diminta masuk ke ruangan Nina, wajah wanita benar-benar sangat tidak suka melihat Hara, karena leon selalu membela Hara dan mengancam akan memecatnya.
“Ini… ambil” Nina dengan wajah bengis memberikan kertas ke tangan Hara.
“Apa ini Bu,” tanya Hara dengan tulus karena memang tidak tahu apa yang terjadi.
“Kamu tidak bisa baca”
“Saya bisa bu, tapi saya belanja ke Bandung saat ini?”
“Iya kamu berangkat sama Pak Doni, cepat sana! ini surat tugas kamu, segala barang rinciannya sudah ada di situ, sudah tidak usah baca-baca, kamu tinggal pergi dan periksa barangnya sebelum di bawa ke Jakarta itu saja” Nina menatapnya dengan kesal, ia tidak bisa bergosip ria dengan staf lain kerena Leon sudah terlebih dulu memberinya peringatan.
“Baik Bu”
Hara keluar dari ruangannya dengan perasaan bingung karena tidak biasanya Nina marah-marah seperti itu padanya, biasanya wanita bertubuh gemuk itu selalu bersikap ramah.
“Ada apa dengan Bu Nina, kenapa ia terlihat kesal padaku, memangnya apa yang sudah aku lakukan? Lagian kenapa ada penugasan mendadak seperti ini sih? bikin kesal saja, rencana makan malam dengan Maxell jadi gagal.” Hara mendumal
Hara merasa kesal, baru saja ia merasa senang tadi, karena Maxell mengajaknya makan malam, tapi tiba-tiba rasa senangnya akan hilang begitu saja karena ia saat itu juga di tugaskan mendadak ke Bandung.
Tangannya merogoh kantong baju seragam mengeluarkan ponselnya memberi kabar pada Bi Ina kalau ia akan ke Bandung hari itu,
__ADS_1
Kali ini ia menarik napas dalam-dalam, ia mengusap layar ponsel mencari nama Maxell
“Halo” suara Maxell di ujung telepon. “Kenapa Hara?”
“Ah…begini, untuk makan malam yang kita rencanakan sepertinya kita akan cari hari yang lain, saya ingin tugas Ke Bandung”
Maxell hanya tersenyum kecil, ia tahu pasti ada Leon di balik semua yang terjadi hari ini.
“Baiklah Hara tidak apa-apa, saya masih ada waktu beberapa hari lagi tinggal di Jakarta, nanti kita cari hari yang lain”
“Baiklah,” ucap Hara mematikan ponselnya.
*
Hara hanya membawa barang seadanya, ia turun ke parkiran Mobil yang biasa di bawa pak Doni, supir Hotel itu sudah menunggunya di parkiran.
Hara memilih duduk di depan agar bisa menemani pak Doni untuk mengobrol selama perjalanan.
“Selamat sore pak Doni, wah bapak sudah mempersiapkan diri pakai jaket pakai kaca Mata hitam, komplit iya pak, Karena Bandung dingin” Ia hanya mengangguk
Mobil meninggalkan area Hotel, Hara memilih membaca kertas yan mengecek barang-barang yang akan, ia belanjakan dari Bandung, Karena tadi tidak sempat ia mengecek barang-barang apa saja yang mereka belanjakan, karena Nina melihatnya dengan tatapan bengis.
Alis Hara terlihat menyengit karena barang-barang yang mereka belanjakan hari ini, barang yang baru ia belanjakan juga.
“Kenapa belanja barang-barang ini lagi? Bukan saya baru order barang ini? masa dua kali,” ucap Hara masih berfokus pada kertas, “Ini aneh, bukankah ini pemborosan uang belanjaan”
“Itu saya yang memintanya” Hara menatap ke samping, karena suara pak Doni tiba-tiba mirip suara seseorang.
“Pak Leon?Bapak licik”
“Saya sudah bilang, saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan mu, ini baru hal kecil, ini caraku melindungi mu, "ujar Leon.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)