Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Kenangan Masa kecil jadi kenangan untuk anak-anak kita nanti


__ADS_3

Mendengar Toni akan melamar Kikan , Bu Atin  dan Hara sangat bahagia, mereka berdua sangat mendukung.


Setelah Bu Atin masuk ke dalam rumah, kini Toni dan Hara yang duduk  di sana, mereka terlihat seperti biasa seperti seorang kakak dan adik, mengobrol dan tertawa. Apalagi saat Toni cerita tentang masa kecil mereka yang sangat bahagia. Sementara Leon masih di dalam kamar masih istirahat.


Saat ia keluar mencari Hara, ia melihat Hara dan Toni saling tertawa, lagi-lagi Leon menahan rasa panas di dada.


“Tenanglah Leon …. Toni tidak ada maksud apa-apa, dia akan menikah dengan orang lain,” ujar Leon meyakinkan diri sendiri. Penyakit yang susah ia lupakan hanya penyakit cemburu, ia datang dan duduk diantara mereka. Tetapi ia sadar jika marah karena cemburu lagi, maka masalah baru akan muncul, pilihan yang terbaik diam dan menahan diri.


“Ini tidak benar, kenapa Hara setiap kali mengobrol dengan pria lain hati ini selalu merasa tidak tenang,” gumam Leon pelan.


Untuk bisa memenangkan hati Hara sepenuhnya, Leon harus mampu menahan diri agar tidak mudah marah, itulah yang dipikirkan Leon.


Tidak mudah bagi Leon untuk tidak merasa cemburu, walau Toni sudah memberi tahu,  kalau ia akan menikahi Kikan, tetapi perasaan aneh itu tidak akan mudah ia hilangkan, itu sudah penyakit yang mendarah daging untuk Leon.


Sementara Toni dan Hara seolah-olah tidak tahu penderitaan yang dirasakan Leon, mereka masih terlihat saling berbagi cerita masa lalu.


Toni  menceritakan semua apa yang di sukai Hara,  apa yang  tidak di sukai dan mereka memilik hobi dan  banyak kesamaan.


‘ Sial …. Apa kalian sengaja  ingin membuatku  cemburu? Aku cemburu, bahkan sangat cemburu, tetapi aku tidak akan menunjukkan perasaanku di depanmu, tidak lagi’ ucap Leon dalam hatinya. Saat ia tidak tahan melihat keakraban Toni dan Hara, ia memilih menyibukkan dirinya memainkan ponselnya.  Tetapi anehnya walau Leon di hiraukan ia tidak ada niat untuk meninggalkan mereka berdua.


Ia duduk di samping Hara sebagai pengusir nyamuk.


Untungnya Hara cepat tersadar kalau Leon mulai tidak nyaman dengan keakraban mereka berdua.


“Tetapi semua itu biarlah kenangan masa lalu yang tidak mungkin kita lalui lagi yang kita jalani hanyalah masa depan,” ucap Hara menggenggam telapak tangan Leon.


"Aku senang karena memiliki masa kecil yang indah, tetapi aku juga lebih bahagia lagi saat ini,” ucap Hara di balas anggukan kepala dari Toni.


“Kamu benar, aku juga akan memulai hidup dengan Kikan, bertemu keluarga Kikan tadi malam, membuatku yakin akan menjalani hidup yang bahagia.”


Leon tersenyum.


“Hara apa kamu masih menyukai kuda? Aku sudah pernah bilang,  kalau aku ingin memiliki peternakan kuda seperti yang kita cita-citakan saat kecil, bukan kamu saat kecil ingin memiliki satu kuda putih?”tanya Toni


“Masih sih, tetapi sudah lama tidak pernah naik kuda,”balas Hara.


“Kita akan naik kuda nanti jika kamu sudah melahirkan,” pungkas Leon.


“Iya kamu benar sayang, kita akan melakukan itu nanti sama si kembar,”ucap Hara.


Mendengar nama si kembar Leon, langsung bersemangat.


“Tetapi di Jakarta sudah jarang  ada kuda Kak, mungkin itu keinginanku saat kecil, untuk memiliki karena di Kalimantan ada banyak hamparan rumput,   tetapi di sini memiliki satu kuda kasihan,  karena tidak ada hamparan rumput, aku lebih baik memelihara kelinci, Leon membeli enam ekor untukku lebih mudah mengurus.”

__ADS_1


“Oh, ternyata kamu sudah  berganti selera.” Toni tertawa.


“Bukan berganti selera Kak, kalau misalkan aku diberi kuda  aku  juga masih mau dan senang, tetapi kasihan kudanya kalau di tinggal di kota padat seperti ini yang ada kudanya stres karena hanya melihat kendaraan."


“Apa kamu tidak ingin pulang bersamaku melihat, kuda penyelamat kita di panti?” tanya Toni.


Leon melirik Toni, ia menggosok ujung hidungnya saat Toni mengajak Hara pergi bersamanya , tetapi jawaban Hara membuatnya tenang.


“Tidak kak, mungkin nanti sekalian Ziarah,  aku akan menjalani hidupku bersama suami dan anak-anak dengan baik


"


“Tetapi bagaimana kalau kita pulang rame-ramu. Zidan, dan istrinya aku dan Kikan dan Bos, ibu dan si kembar,” ujar Toni.


"Iya aku juga sudah mengingat semua,"ujar Hara.


“Apa kamu sudah mengingat?” tanya Leon dan Toni terkejut. ”Bukankah kamu bilang tidak mengingatnya sama sekali?” tanya Leon melirik Toni.


Hara menarik napas panjang, menjelaskan pada Toni dan Leon.


“Sedikit saja. Mungkin kalian, tidak percaya, ibu memberikan kuncinya padaku."


“Maksudnya?”


“Kamu masih ingat kunci ibu yang  berbentuk seruling yang selalu di gantung di tasnya, ibu kak Toni punya satu, kita sering mencurinya dan memainkannya diam-diam, lalu ibu akan memarahi kita.”


“Aku juga baru mengingatnya saat aku melihat foto itu.”


“Iya kenapa dengan kunci itu.”


“Aku menemukanya.”


“Kunci brankas ibu  di sana ada foto masa kecil kita.”


“Lalu?"Toni dan Leon sama-sama memasang muka panik, karena mereka berdua bekerja sama menyembunyikan kebenaran dari masa lalu.


“Aku menemukan semuanya di sana kak, aku masih menyimpan, foto-foto kita. Aku ingin suatu saat nanti jika sudah punya anak mereka melihat semua kenangan kita.”


“Apa  saja yang kamu temukan?” Tanya Toni menekan kepalan tangan ke kursi untuk menahan rasa gugup.


“Semuanya kak, dari kita sering main di taman yang kak Toni ceritakan itu. Taman Bunga, bahkan aku mengingat kudaku yang  bernama poni."


“Kamu sudah mengingat semuanya ?” Leon takut, Hara mengingat sesuatu tentang liontin.

__ADS_1


“Hanya mengingat kenangan foto-foto itu saja."


“ Foto apa?” Leon melirik Hara.


“Kalian berdua pencuri  pita merah ku,” tuduh Hara pada Leon dan Toni. Ia tertawa.


Leon dan Toni menghela napas lega.


'Syukur dia tidak tahu tentang Liontin itu' Toni dan Leon merasa lega.


“Aku memang tidak mencuri saat itu kamu menginap di rumah kami, lalu ketinggalan jepitan merah milikmu, tidak tahu kalau Bos ….?”


“Iya aku mengakui memang aku mencuri dan aku sudah bilang kan. Saat kamu kecil aku sudah jadi penguntit mu.” Leon mengaku.


“Baiklah, sekarang katakan pada Leon kalau  Toni sudah seperti kakakmu  sendiri,”ucap Bu Atin mengedipkan mata pada Hara, wanita itu ingin Leon tidak lagi salah paham pada istrinya


Ia paham kode mata dari ibu mertuanya, Hara juga  berpikir ini cara yang paling tepat, menjelaskan kesalahpahaman, menolak tanpa menyakiti hati seseorang dan menjelaskan tanpa berargumen.


Hara menggunakan cara yang cantik untuk menjelaskan pada kedua lelaki itu, ia ingin menegaskan untuk siapa hatinya saat ini dan milik siapa dirinya saat ini. Ia ingin Toni dan Leon   tidak ada salah paham lagi.


Jovita Hara  ingin Leon menganggap Toni sebagai adik seperti keinginan Ibu Atin.


"Baiklah nanti setelah Leon sembuh kita akan mengurus pernikahanmu dan Kikan,"ujar Bu Atin.


"Baik Bu," balas Toni.


Bersambung ....


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2