Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Menjelang Persalinan


__ADS_3

Hingga hari yang menegangkan itu tiba,


Besok pagi Hara akan operasi persalinan, dr Shena dan dr Billy, sudah menentukan waktu besok pagi Hara akan masuk keruang operasi.


Malam ini, Hara sudah puasa, tetapi di rumah Bu Ina, wanita itu juga sudah melakukan doa puasa, Bu Atin melakukan doa ritual, Piter dan Vikky ikut melakukan doa, wajah mereka semua tegang. Setelah melakukan doa, mereka datang ke rumah sakit.


Tetapi dari semua orang yang khawatir, Leon terlihat pucat sejak kemarin,  ia gugup takut Hara tidak kuat. Namun di sisi lain, ia juga tidak sabar ingin melihat wajah anak kembarnya, perasaan yang bercampur aduk.


“Jangan khawatir sayang, kami akan baik-baik saja,” ucap Hara menyentuh tangan Leon yang dingin, melebihi dinginnya batu es.


“Iya,” angguk Leon pelan, ia tidak banyak bicara, tetapi, tidak meninggalkan Hara walau hanya sedetikpun, bahkan untuk mandi, Bu Atin sudah memintanya untuk mandi dan berganti pakaian setelah ia melakukan ritualnya. Namun Leon seperti seseorang yang ketakutan, ia tidak kemana-mana, hanya duduk mendampingi Hara.


“Tidak usah Bu, biarkan aku bersamanya malam ini, sebelum ia masuk ke ruang operasi besok,” ujar Leon menghela napas berat.


“Nak, ibu hanya meminta bergantian sebentar dengan ibu, dan keluarga Hara juga ingin melihatnya sebelum operasi,” ucap ibunya menatap Leon.


“Baiklah Bu, aku  mandi di kamar sini saja,” ucap Leon menunjuk kamar mandi di ruangan Hara.


Kini kesempatan keluarga Hara yang masuk memberinya semangat.


“Jangan khawatir sayang, kamu harus berani, jangan gugup, besok anggota baru kita akan datang ke dunia ini,” ucap Bu Ina mengelus kepala Hara.


“Iya Bu, aku tidak gugup kok, aku semangat karena ada ibu dan Om di sini, jangan pulang kita di sini saja malam ini,” ucap Hara, kini ia tertawa bercanda  dengan keluarganya.


Saat melihat Hara semangat dan tidak terlihat gugup  rasa khawatir dari mereka semua berangsur hilang.


Saat malam  sudah larut mereka semua masih setia menunggu di ruangan Hara. Atas permintaan ibu hamil tersebut, mereka akhirnya menjaga Hara rame-rame malam itu. Untungnya ruangan yang di pakai Hara VIIP jadi tidak ada masalah saat mereka ramai-ramai di sana, bahkan Leon meminta  dua ranjang tambahan lagi, untuk kedua orang tua tersebut.


Leon juga menikmati kebersamaan itu, jadi ia, tidak merasa gugup Viky mengeluarkan kartu dari tas  pinggangnya,  untuk menghabiskan waktu malam itu, ia menantang Leon, Ken, Toni untuk bermain kartu, sementara Zidan tidak ikut ia mengurus istrinya.


‘Jika beban dipikul bersama akan terasa ringan’

__ADS_1


Begitu juga keluarga Hara dan keluarga Leon, mereka sama-sama saling mendukung dan saling menguatkan hingga rasa khawatir itu tidak terasa lagi.


Tetapi disaat mereka dalam suasana sedang ramai dan saling tertawa. Tiba-tiba  ada drama kecil yang terjadi.


Kaila datang saat Vikky ada bersama mereka, wanita itu saat ini sudah resmi berhijab dan  terlihat sangat cantik, dengan kerudung yang di padukan dengan setelan kantor, celana panjang dan kemeja berlengan panjang, ia terlihat sangat cantik.


Bimo anak buah Leon mengantarnya masuk, mata mereka semua tertuju pada Kaila, wanita cantik itu berdiri diam, melihat mereka semua.


“Kai, ayo sini masuk,” ujar Hara ramah.


Awalnya ia gugup, sebab ada Viky yang menatapnya tanpa berkedip,  karena sudah beberapa bulan saat bertemu di Prancis mereka tidak bertemu lagi.  Tetapi saat ini, dipertemukan kembali dengan kondisi yang sangat berbeda.


“Ada apa Kai?” tanya Leon berbatuk kecil. Memperingatkan paman istrinya, yang menatap Kaila dengan sorot mata yang tidak percaya.


“Ini Pak, maaf saya datang malam-malam  bangat.”


“Tidak apa-apa Kai, sini, berikan padaku,” ucap Leon meminta Kaila mendekat, wanita cantik itu  duduk di samping Leon, tidak jauh dari Viky. Membuat lelaki itu salah tingkah.


Berkat dukungan Hara dan Bu Atin dan dukungan Bos Leon, karena itulah, Kaila berubah.


Tetapi Kaila tidak bertingkah konyol seperti yang di pikirkan Viky, ia menyapa. Namun, dengan kalimat yang santun dan sopan.


Membuat Lelaki itu terkejut dengan perubahan sikap Kaila, wanita mudah itu bukan lagi wanita nakal seperti yang dicap Vikky padanya.


'Aku berharap kamu benar-benar berubah Kaila. Tidak ada udang di balik bakwan' ucap Ken dalam hati.


“Tapi apa kamu baru pulang dari kantor, Kai?” tanya Leon menatap wanita berkerudung  abu-abu itu dengan tatapan penasaran.


“Iya pak.”


“Kok malam bangat?” Kedua alis Leon menyengit.

__ADS_1


“Sejak ibu Hilda cuti, kerjaan saya dua kali lipat pak,” ujar Kaila menghembuskan napas panjang.


“Lah, kenapa dengan orang baru?” tanya Toni yang ikut duduk saat mendengar tentang pekerjaan.


“Bukannya dia sudah berpengalaman ? Dia pindahan dari hotel kita yang di Bandung , Kai,” ucap Ken.


“Iya, dia tidak bisa membuat konsep  sama seperti yang di buat Bu Hilda, tadi saja masih banyak yang salah, makanya aku merevisi ulang semuanya, sampai malam. Ini Filenya yang saya bawa.”


Leon hanya mendengar pembicaraan sekretarisnya, ia tidak mau menyelak hanya menyimak saja.


“ Ganti sajalah!  Suruh kembali saja ke Bandung lagi, mana ini managernya, "ujar Toni. Saat Hilda dihubungi yang terjadi....


Hilda terdengar emosi,  saat ia tidak masuk kantor, ternyata ada masalah pekerjaaan yang harus dikerjakan Kaila sendiri.


Leon hanya mengedikkan pundaknya mendengar Hilda dengan galaknya memaki dan memarahi manager dari hotel Bandung yang mengirim orang untuk  bekerja, tetapi tidak mampu  bekerja dengan baik.


“Besok suruh dia kembali ke Bandung.” Bentak Hilda terdengar di ujung telepon . Ia bahkan tidak perduli saat ada Leon sebagai atasannya dan ada ibu mertuanya di sana. Kalau itu tentang pekerjaan,  ia memang tegas tidak kenal kompromi, bukan karena di depan bos seperti saat ini, tetapi memang ia orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaan.


Leon sudah beberapa kali ia memergoki Hilda memarahi anak buahnya yang tidak tepat bekerja. Ia juga menghukum pegawai yang tidak tepat waktu, tetapi ia juga memberi contoh yang baik, bukan hanya omong besar,  tetapi ia juga membuktikan dengan pekerjaannya yang bagus, ia juga panutan bagi karyawan lainnya, karena ia selalu datang tepat waktu, rapi dan pintar.


“Tidak apa-apa Bu, tamu dari luar negeri itu, besok jadi menginap di hotel kita. Saya juga, sudah membereskan semuanya, bahkan mereka meminta penjemputan dari hotel kita, itu juga sudah saya persiapkan,” ujar Kaila menjelaskan Lewat telepon.


“Ibu istirahat saja dengan baik, untuk saat ini, semua urusan hotel masih bisa saya handle.”


“Baiklah Kai, saya percaya padamu.”


“Baiklah, Bu, Pak, saya izin pulang mudah-mudahan persalinan Ibu Hara, lancar  besok,” ucap Kaila menutup telepon dan pamit pulang.


“Baik Kai, jangan pulang terlalu larut,” pinta Leon. Perhatian kecil seperti itu saja, sudah membuat Kaila bersemangat.


“Baik Pak,” jawab Kaila, tersipu malu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2