Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Leon yakin Badai Pasti Berlalu


__ADS_3

Vikky dan Piter masih di  bekas rumah Hara, Vikky   ingin tahu kebenaran dari wasiat kedua orang tua Hara.


Walau rumah itu pernah di bakar Hara, tetapi tidak semuanya terbakar, hanya bagian dapur yang dulu hangus.


Leon memperbaiki lalu memberikannya pada Vikky om Hara, tetapi  paman Hara tersebut menjualnya pada sepasang suami istri yang sudah tua. Kini pengakuan wanita tua  tersebut  bisa melihat roh orang mati.


“Iya, dulu mereka sering melakukan itu dengan kakak perempuannya” balas Viky masih menundukkan kepala menekan jari-jari tangannya.


“Pulanglah yang kalian cari bukan di sini katanya,” ucap orang tua itu dengan santai seakan-akan dia bicara dengan hantu orang tua Hara.


“Apa mereka ada disini? Apa ibu baru saja bicara pada  kakak saya?” tanya Viky dengan  mata berkaca-kaca.


“Tolong katakan pada kakak, aku meminta maaf karena dulu tidak mendengarkan omongannya, aku menyesal, aku berjanji aku akan menjalani hidup baik, aku juga akan melindungi Hara,” ucap Viky panjang lebar.


Tetapi  kebiasaanya melakukan petualangan cinta dengan sesama jenis, tidak di setujui ayah Hara, ayah Hara ingin adek bungsunya menikah lagi dan mempunyai rumah tangga baru, tetapi Viky saat itu tidak memperdulikan ucapan abangnya, ia malah pergi melarikan diri ke Amerika.


Viky sangat menyesal, bahkan karena putus asa,  ia ingin ikut mengakhiri hidupnya karena hanya keluarga abang lah satu-satunya yang ia punya di dunia ini.


Mendengar Viki bicara seperti itu,  wanita yang sudah beruban itu hanya tersenyum kecil.


“Tidak apa-apa, semu orang punya kesalahan,” ucap wanita tua itu, tetapi jawabannya terdengar seperti jawaban  dari abangnya.


Mereka berdua saling melihat.


“Aku juga Bu, bilang sama Nyonya sama Bapak, saya meminta maaf karena saat kejadian saya tidak sana,  harus tugasku melindungi mereka, tetapi malah tidak ada saat dibutuhkan,” ucap Piter menunduk penuh penyesalan.


Karena saat kejadian hari naas itu Piter tidak di rumah, ia pulang ke kampungnya, karena saat itu bapak Piter meninggal dunia jadi ia pulang. Tetapi baru dua hari di kampung saat itu, ia mendapat kabar kalau keluarga majikannya meninggal dengan cara yang tragis.


“Tidak apa-apa, sudah takdir yang tidak ada yang bisa menolaknya” ucap wanita tua itu dengan wajah datar.


jawaban itu seperti datang dari ayah  Hara juga, Viky dan piter kembali saling menatap. Perasaan mereka berdiam antara percaya dan tidak. Namun, Piter mencoba lagi. “Tapi percayalah Hara akan kami jaga dengan baik,” ucap piter  melirik Vikky .


Wanita tua itu hanya mengangguk, sebuah senyuman  terlintas di bibirnya.


Suasana saat itu mulai malam, tetapi Piter seakan merasa bulu-bulu seluruh tubuhnya berdiri, ia beberapa kali mengusap bagian leher belakangnya. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan hawa sekitarnya.


“Bu, terimakasih karena sudah mengizinkan kami masuk ke rumah Ibu, sebelumnya saya minta maaf karena barang-barang itu masih di rumah Ibu, saya janji nanti kalau ada waktu  kami akan memindahkannya dari sini Bu” ucap Viky.

__ADS_1


“Bu jika barang-barang keluarga saya sangat menganggu ketenangan ibu, saya bisa memindahkannya malam ini.


“Tidak apa-apa tidak menganggu, mereka juga tidak mau dipindahkan barang-barangnya,” ucap wanita itu.


“Apa sebelumnya Ibu sudah tahu kalau rumah ini di jual murah karena kejadian itu?” tanya Piter penasaran  melihat sikap tenang dari wanita tua tersebut tidak merasa takut.


“Ho…Ho” Ia tertawa kecil. “Tentu sudah, membeli rumah sebagus ini dengan harga murah sudah tentu sudah ada apa-apanya,  anak saya sudah beberapa kali mengajak kami pindah, kami tidak mau sama bapak, kami tenang dan aman di sini, apa lagi yang diharapkan orang tua seperti kami kalau bukan ketenangan? di sini tidak ada suara  bising-bising, di sini tenang dan hening.”


“Apa ibu tidak merasa takut?” tanya Vikky.


“Tidak semua keluarga di rumahku semua baik-baik,”ucap wanita itu lagi.


‘Apa artinya semua hantu di rumahnya sudah dianggap keluarga?” tanya Piter dalam hatinya.


Takut pembahasan semakin melebar, Piter mintai izin, ia pamit pulang, sebelum meninggalkan rumah itu Piter berdiri melihat kelantai dua dimana kamar ayah dan ibu Hara. Dulu.


“Ayo,” panggil Vikky dari dalam mobil yang duluan masuk.


Mereka berdua meninggalkan komplek perubahan elite tersebut.


“Apa kamu pikir mereka melihat kita?” tanya Piter melirik Vikky sekilas lalu ia berfokus pada kemudi setir mobil yang ia pegang.


“Iya apa? kamu bisa melihat mereka?”tanya Piter memperjelas.


“Aku bisa merasakan mereka tadi melihat kita berdua.”


“Iya dari tadi aku merasakan bulu kudukku merinding disko, tetapi wanita tua itu kok tidak takut iya, padahal kita yang sudah mengenal mereka merasakan ketakutan, tetapi dia kok tidak.”


“Mungkin karena ia sudah tua jadi sudah pasrah, ibu tua itu berpikir mungkin sebentar lagi  mereka berdua juga akan seperti itu” ujar Viky seadanya.


“Oh, ini apa kamu tahu ini apa?” tanya Piter  ia baru ingat kalau ia mengantongi kunci.


“Ini kunci” jawab Vikky.


“Aku tahu itu kunci. Bodoh! Tapi kunci apa itu yang aku tanyakan.” Ujar Piter.


Viky menggeleng.  “Aku baru lihat, ini seperti kunci sebuah loker, tetapi apa abang ku,  punya loker?”

__ADS_1


“Ini tugas kita selanjutnya, aku yakin mereka tadi ingin memberitahukan sesuatu, mungkin mereka ini kita mencari tahu kunci ini,” ujar Vikky.


“Tadi kenapa kamu  tidak tanya sama wanita tua itu saat kita masih di sana,”ujar Viky.


“Aku lupa,” pungkas Piter, berbohong, padahal ia tidak ingin membuka brankas Mamanya Hara, ia tidak ingin  Vikky mengetahui tentang Liontin yang di sembunyikan Leon.


Di sisi Lain.



Clara terpaksa diantar ke rumah keluarganya di Bandung, Zidan takut orang yang mengincar Leon ikut mengincar keselamatannya.


“Aku berharap kamu mengerti Clara,” ujar Zidan mengelus perut buncit sang istri.


“Aku tahu, aku berharap masalah  Pak Leon dan Mbak Hara cepat selesai. Kasihan Mbak Hara , saat hamil seperti ini lagi, ada saja masalah.”


“Karena itulah, kami semua bekerja sama membantu bos untuk menyelesaikan semuanya.”


“Apa Pamannya Hara Pak Vikky  mendukung mereka berpisah? Kenapa harus mencari tahu tentang kebenaran tentang wasiat tunangan Toni dan Hara?”


“Tidak, mereka hanya memperjelas, kalau semuanya benar, mereka akan sama-sama ziarah dan mengembalikan Liontin yang di pegang Toni dan yang di pegang Bos Leon.”


“Ah Kasihan Kikan, dia pasti sedih,”ujar Clara.


“Kita akan menyelesaikan semuanya, Hara juga tidak mungkin akan kembali pada Toni. Dia hanya  menyesalkan  mereka menyembunyikan wasiat itu darinya. Itu hal wajar kalau itu aku, pasti marah juga.”


“Yang salah Pak Leon, kan?” ujar Clara.


“Dia melakukan itu karena ibu Hara  pernah menampar Leon dan menolak dia jadi menantu.”


“ Pak Leon melawan takdir,  ia seolah-olah menuliskan takdirnya sendiri,” ujar Clara .


“Karena dia terlalu cinta pada Non  Hara,” balas Zidan.


Mobil mereka akhirnya tiba di rumah orang tua Clara setelah mampir sebentar lalu ia kembali ke Jakarta.


Setelah tiba di Jakarta, Zidan langsung bekerja, Leon  membayar semua pengacara mantan Bokoy, ia tidak ingin ada musuh, ia ingin Hara tenang selama Hamil.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2