
“Jadi saya tidak suka dengan bapak lagi, saya mau yang seumuran saya saja”
“Oh, baguslah kalau begitu, berarti kamu tidak akan nangis-nangis lagi mengemis cinta pada saya?”
“Iya tidak lagi”
“Baiklah Jovita Hara … saya pegang kata-katamu,” ujar Leon, raut wajahnya bukannya senang, malah kembali suram.
“Ini orang bagaimana sih, aku membatalkan perasaanku padanya harusnya dia senang, ini kenapa wajahnya kembali lusuh, seperti kanebo kering?”gumam jovita pelan.
“Jadi saya, minta pekerjaan saja sama Bapak, seperti orang-orang bapak yang lain, saya janji tidak akan kabur, saya hanya ingin memiliki uang dari hasil pekerjaan saya sendiri”
Leon kembali memijit-mijit keningnya yang terasa semakin berdenyut dan ia merasa sangat pening.
“Jovita , saya sudah bilang saya akan memberikan apapun untukmu. Kamu hanya perlu jadi jimatku”
“Saya tidak ingin yang gratis Pak Leon. Saya akan sangat senang jika saya memilki uang dari hasil kerjaku sendiri”
“Teman tidur juga satu pekerjaan Nona Hara,” ujar Leon mulai kembali memasang wajah sinis.
“Baiklah saya akan menjadi jimat Bapak, tetapi saya harus mendapat gaji tiap bulan, saya tidak mau gratisan. Jika ketiga wanitamu mendapat upah sebagai pemuas mu, maka saya juga dapat upah sebagai teman tidurmu”
“Baiklah,” ucap Leon tidak bersemangat.
“Tetapi saya ingin mempertegas dan membuat perjanjian”
“Apa … Apa, apa lagi sekarang permintaanmu … Kamu pikir kita sedang kawin kontrak?” Leon semakin mencengkeram keningnya kuat.
“Tidak, kita lebih rumit dari kawin kontrak,” balas Jovita, ia tersenyum manis
“Lalu mau apa lagi?” Leon menarik napas panjang.
“Saya akan bertugas jadi teman ranjang Bapak , tetapi kita ada batasannya , kita tidak ada kontak fisik, tidak mengurusi masalah pribadi satu sama lain”
“Baiklah, baiklah Jovita lakukan apa yang kamu mau. Kepalaku pusing,” ujar Leon menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
“Saya juga mau ponsel dan ada libur seperti pegawai yang lain. Bagaimana?”
Leon tidak fokus, ia sibuk memijit keningnya yang terasa semakin pusing, ia bahkan tidak menyimak permintaan Jovita.
“Baiklah, apa lagi permintaanmu?”
“Itu saja sih Pak"
“ Baiklah, akan saya pikirkan”
“Mana kertas perjanjiannya?” Tanya Jovita lagi.
“Kertas apa?”
“Kertas perjanjiannya.” Jovita tidak ingin selamanya jadi mainan Leon.
‘ Jika kamu menindas ku, aku juga akan membalasmu dengan caraku, ular Naga …. Jangan kamu pikir saya akan diam saja saat kamu menyakiti perasaan ini, kita bukan lagi adegan sinetron , seperti yang di televisi ikan terbang itu. Bisanya hanya menangis jika ditindas, aku berjanji akan membalas rasa sakit ini padamu, tetapi dengan cara yang elegan’ Jovita membatin.
KELAK AKAN ....
__ADS_1
“Mana Pak?”
“Jovita saya tidak punya waktu untuk mempersiapkan apa yang kamu minta. Tanda tangan saja di sini,” ujar Leon memberikan lengannya.
“Ini? Saya harus tanda tangan di sini?”
“Iya,” ujar Leon tidak bersemangat.
“Pak Leon di mana-mana surat perjanjian itu di tulis di kertas, lalu diberi materai, tidak ada yang menulis surat perjanjian di lengan,” ucap Jovita protes.
“Ini , ini rumahku …. Kerajaan ku dan saya rajanya yang menentukan peraturan di sini adalah saya,” ucapnya lagi.
“Tapi nanti di tanda tangan di sini, pasti ke hapus,” ujar Jovita.
“Tidak … kalau saya simpan di sini,” Leon memfoto lengannya yang sudah dicoretkan tanda tangan Jovita dan tanda tangan Leon.
“Sini lenganmu.” Jovita menyodorkan lengannya. Leon memberi tanda tangan di lengan jovita juga. Lalu memfoto.
“Di tanganmu untukku dan di tanganku untukmu. Sudah kan,” Leon kembali duduk dan menutup Mata memijit keningnya yang serasa sakit.
Gimana yang bertambah sakit kepala? Damian tiba-tiba mengirim pesan dicantumkan foto Jovita.
[Siapa gadis cantik ini, Pak Naga?] Isi pesan Damian pada Leon.
Membuatnya semakin sakit kepala. Ia menutup mata lagi.
“Boleh saya juga menyimpan surat perjanjian kita Pak Leon”
“Apa ada permintaan dari bapak, untuk pekerjaan saya?”
“Kamu jangan bawel jika bersamaku, itu juga yang membuatku sakit kepala,” ucap leon masih dengan mata tertutup.
“Baiklah akan saya ingat Pak. Sudah Pak Leon?”
“Hmmm ….”
“Pinjamkan saya ponsel Bapak.” Leon memberikannya.
Ia meminjamnya ponsel milik Leon dan mengirim bukti foto tanda tangan itu ke email Jovita, karena sampai saat itu. Jovita tidak diperbolehkan memiliki ponsel, itulah yang ia coba minta saat ini.
“Baiklah Pak Leon, saya tahu Bapak itu lelaki yang memegang teguh sebuah janji dan saya harap bapak mematuhi perjanjian yang kita buat ini.
Tertanggal dan bulan dan tahun , kedua belah pihak menandatangi sebuah perjanjian di atas lengan kedua belah pihak,” ucap jovita ia merekam suaranya di audio ponsel milik Leon, lalu mengirimnya lagi ke emailnya. Jovita menghapus semua riwayat pengiriman itu lagi.
Ia tidak mau Leon mengetahui alamat emailnya, ia sibuk menghapus riwayat pengiriman data juga. Saat melihat Leon menutup mata, ia pura-pura merekam dan mengirim rekaman itu ke nomor ponsel Piter.
Piter, Bodyguard Jovita.
Ia bekerja pada keluarga Jovita, saat ia masih kecil, Piter seorang mantan tentara khusus, ia bekerja sebagai bodyguard merangkap supir untuk Jovita, dua minggu sebelum kejadian tragis itu, ayah Jovita memintanya pulang ke Kupang, karena ia dicari polisi, kasus lama Piter diungkap lagi di pengadilan, karena itulah ayahnya Jovita meminta bersembunyi. Jovita yakin kalau Lelaki asal daerah Indonesia bagian Timur itu, tidak tahu kalau keluarganya sudah meninggal.
Jovita menghapus semuanya, ia berharap Leon tidak memeriksa riwayat penghapusan file di ponselnya.
‘Aku berharap kamu menemukanku Om Piter .... Tolong keluarkan aku dari rumah ini’ bisik jovita dalam hati.
__ADS_1
“Ini Pak ponselnya.” Jovita mengembalikannya pada Leon dan ia duduk juga di sofa.
Leon melirik wajahnya Jovita sekilas, ia melihat kalau Jovita berusaha mengubah sikapnya.
‘Apa kamu yakin, bisa berubah?’ tanya Leon dalam hati.
“Baiklah, saya harap kamu bisa mulai bekerja saat ini juga,” ucap Leon .
“Apa bapak meminta saya tidur bersama sekarang?”
“Iya mulailah bekerja saat ini juga, karena saya sudah tidak tahan lagi, mari berbaring, kepalaku sudah mulai sangat pusing”
Leon menepuk bantal dan meminta Jovita berbaring.
Dulu Jovita berpikir itu hanya akal-akalan Leon agar bisa bersamanya , Namun hari ini, ia akhirnya percaya kalau lelaki itu benar adanya.
Ia berbaring di samping Leon, untuk saat ini, Leon menepati janjinya pada Jovita, hanya memegang tangan Jovita, baru sebentar, lelaki bertampang tegas itu sudah terlelap tidur, menggenggam sebelah telapak tangan Jovita.
“Jadi memang benar kalau aku jimat tidurmu . Menarik juga” Jovita menatap wajah Leon yang sudah tertidur. “Apakah dia dikutuk? Apakah ini hukuman padannya?”
Jovita juga sangat mengantuk karena malam itu, ia juga tidak tidur, melihat Leon tertidur, Jovita juga merasa sangat mengantuk dan ikut tertidur , ia mulai pekerjaannya.
Leon bisa tidur lagi dan anehnya, ia tidak mengalami mimpi buruk lagi. Seakan-akan sebuah pertanda, meminta agar Leon jangan menyakiti Jovita, tetapi harus menjaganya karena itu adalah Jimatnya
Sebelum tertidur saling menatap dulu.
Mereka berdua tidur dari jam sebelas pagi sampai siang jam dua. Leon terbangun duluan karena dering dari ponselnya.
Saat melihat layar ponselnya pemanggil Damian, ia mendesis kesal.
Mematikan ponselnya dan merebahkan tubuhnya lagi. Ia melirik Jovita yang tidur di sampingnya tetapi jimat tidurnya saat ini sedikit berubah, kalau biasanya Jovita selalu meletakkan kepalanya di lengan Leon atau kepalanya di dada.
Tetapi kali ini gadis mudah berwajah cantik itu, seolah-olah memberi jarak ke tubuh Leon, ia hanya memberikan tangannya untuk leon.
“Apa dia ingin berubah? pasti hanya sebentar, besok bawel lagi,” ujar Leon dengan yakin.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1