
Orang bilang wanita itu mahluk paling cantik, anggun dan lembut, tetapi seorang wanita juga bisa berubah jadi monster jika ia sudah merasa tidak mendapat keadilan, bahkan terkadang nekat dan bisa tiba-tiba kuat melebihi kemampuannya.
Jovita Hara tadinya hanya seorang gadis polos yang ceria di kelilingi banyak cinta dan kasih sayang. Tetapi kehilangan orang tua dan mengalami penderitaan karena diperkosa, lalu mendapatkan penghianatan dari orang-orang terdekatnya, mengubah hidupnya,
Ia merasa sendiri, ia tidak percaya pada orang lain lagi.
Jovita sangat marah pada Leon, saat ayahnya yang sudah meninggal dinyatakan bersalah di pengadilan sebagai seorang penipu.
Seorang Pejabat melayangkan gugatan, minta ganti rugi atas tertundanya pembangunan sebuah bandara, ia yang mengaku sudah membayarkan setengah dari kesepakatan kontrak, karena bangunan tak kunjung di bangun ia menuntut PT.Santoso Kontruksi perusahaan milik ayah Jovita yang saat ini, dipegang Leon.
Direktur yang baru' iya itu Leon' tidak mau membela sang ayah atau membantah tuntutan tersebut. Sebagai gantinya Leon rela menganti semua kerugian yang dituntut di pengadilan, dan kesalahan dilimpahkan pada almarhum ayahnya.
Membaca berita dalam koran pagi itu, hati Jovita benar-benar hancur, apalagi mantan pegawai ayahnya yang bernama Siska membuat kesaksian palsu di pengadilan, kalau ayahnya menggelapkan dana proyek tersebut.
Hatinya sangat hancur dan sangat sakit, jelas-jelas ia tahu kalau tuntutan itu benar-benar bohong, ia ingin membela ayahnya. Tetapi dirinya sudah dianggap mati dan semua data tentang Jovita Hara dan keluarganya sudah dibekukan, karena sudah meninggal.
Saat ia meminta tolong pada Piter lelaki itu kembali menghilang karena ia seorang buronan.
Hancur, terpuruk, ingin gila itulah yang dirasakan Jovita saat itu.
Pada akhirnya jiwanya di kuasai kekuatan gelap.
'Jika dunia tidak bisa memberi keadilan untuk ayahku, biarkan aku yang memberikan keadilan untuk mereka, walau harus menukarnya dengan jiwaku' Jovita membatin.
Beberapa Minggu kemudian, hubungan Leon dan Jovita memanas, saat ayahnya dinyatakan bersalah.
Jovita membakar rumah keluarganya dan membakar kantor ayahnya, karena malam sebelumnya orang suruhannya gagal membakarnya. Malam itu ia sendiri yang melakukannya dan menyebabkan kaki cantiknya mengalami luka bakar.
Ia berpikir Leon tidak pantas memiliki apa yang di miliki keluarganya, saat lelaki itu menuduh ayahnya seorang pembunuh dan mengakuinya seorang penipu.
Ia bisa keluar dari pengawasan ketat anak buah Leon, ia sudah lama mempelajari luas bangunan rumah Leon, bahkan ia mendapatkan cetak biru dari bangunan rumah tersebut, jadi ia mempelajari letak bangunannya.
Sebagai seorang arsitek hanya melihat cetak biru bangunan tersebut, ia bisa mengerti kalau dibawah bangunan rumah Leon ada sebuah pipa besar, dari kamar Jovita karena kamarnya saat ini sudah dilantai satu.
Ia keluar dari sebuah pipa besar tepat dibawah kamarnya, sebuah jalur yang digali tukang kebun baru, yang bekerja pada Leon, pekerja kebun baru itu suruhan Piter. Orang yang dulu bekerja di rumah Jovita, yang ikut bertaruh nyawa untuknya, Piter menepati janjinya mengirim orang-orang yang akan membantu Jovita.
"Jangan bersedih ... kamu tidak sendirian, ada kami untukmu," ucap Piter saat melihat Jovita terpuruk.
*
Jovita mengobati luka kakinya. Baru saja ia keluar kamar mandi, Leon sudah berdiri di kamarnya.
__ADS_1
“Aaaais … Kenapa sih kalau masuk ke kamar orang tidak pakai ketuk dulu, jadi orang harus pakai etika,” ujar Jovita marah, karena ia kaget.
“Etika kamu bilang!? Ini rumah saya dan sudah mengetuknya berkali-kali seperti biasa, kamu selalu misterius belakangan ini, saya sudah mengetuknya tapi kamu tidak menyahut karena itulah saya masuk”
“Saya di kamar mandi,”
“Terus, apa itu salahku juga?”
“Tidak,” jawab Jovita menyembunyikan kakinya yang terluka
“Apa yang membuatmu sibuk belakangan ini Nona Hara . Saya melihat wajahmu sangat lelah”
Leon mencurigai Jovita akhirnya.
‘Aku lelah memikirkan cara untuk membuktikan kalau ayahku tidak bersalah. Aku lelah mencari pembunuh keluargaku’ Jovita bermonolog.
“Apa kamu mendengar ku?”
Leon mendekat dan menjentikkan jarinya di depan Jovita,
“Tidak, aku hanya kurang sehat,” kata Jovita, ia mengalihkan pandangannya kearah lain
“Begini Jovita Hara… saya berharap kamu tidak terlibat dengan semua kekacauan ini. Saya beharap semua yang terjadi tidak ada hubungannya dengan kamu,” kata Leon.
“Baiklah jika itu terjadi kamu menembak ku?" Wajahnya datar tidak bersemangat.
“Jovita Hara berhenti melakukannya"
“Pak Leon Wardana .... berhenti menuduh ayahku sebagai penipu dan pembunuh!”
“Saya tidak pernah menuduhnya menipu, tetapi pengadilan yang memastikannya kalau ayahmu mengelapkan dana proyek”
“Saya bekerja di sana Pak Leon, saya tahu kalau mereka berbohong!” Teriak Jovita dengan wajah memerah.
“Tetapi Siska mantan Bendahara ayahmu mengakuinya, memberikan bukti yang valid. Apakah kamu memintaku mempercayai ayahmu atau pengadilan?” Leon menatap sinis.
“Siska itu berbohong Pak Leon, dia sudah dibayar seseorang. Apa kamu tidak bisa percaya padaku?” Teriak Jovita terlihat putus asa.
“Semoga keyakinan mu benar Nona Hara,” ucap Leon sinis, dengan adanya kasus ini, ia jadi yakin kalau ayah Jovita bukan orang baik. Leon ingin berbalik badan. Tetapi mata Leon tidak sengaja melihat luka bakar di kaki Jovita, keyakinannya semakin kuat kalau Jovita melakukanya sendiri.
Tiba-tiba Leon merasa kasihan, karena ia tidak menduga kalau Jovita melakukanya sendiri, ia berpikir kalau Jovita menyuruh orang lain. Tetapi melihat luka bakar yang lumayan parah di betis kakinya, membuatnya terdiam, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain, ia meninggalkan kamar Jovita.
*
__ADS_1
Dalam kamarnya, Leon mondar-mandir ia tidak tahu harus berbuat apa, kalau Jovita yang melakukanya sendiri.
Ia meraih ponsel di nakas di disamping ranjang, garis wajahnya semakin mengeras.
“Iwan kamu naik ke atas,”
“Baik Bos”
Hitungan menit Iwan sudah di ruang kerja Leon,
“Iya Bos”
“Saya ingin kamu mengawasi Jovita 24 jam, melihatnya apa yang di lakukan, apa yang dia makan, semuanya. Dia terlibat dalam kebakaran itu.”
“Haaa ...! Bagaimana dia bisa keluar?”
“Itu dia yang jadi tugas kamu, saya ingin tahu siapa penyusup yang membantu Jovita keluar dan bawa dia ke sini”
Diam-diam Leon memasang camera pengawas di kamar Jovita lagi, Tetapi Leon tidak tahu kalau wanita cantik itu sudah berubah seperti seorang penjahat.
Jovita juga diam-diam meletakkan camera pengawas di kamar Leon, apa yang dibicarakan leon, Jovita mendengarnya, begitu juga sebaliknya, ini namanya saling memakan.
Hubungan berdua dalam suasana genting, jangankan untuk memikirkan cinta, memikirkan makan saja Leon dan Jovita tidak sempat. Mereka berdua dua orang musuh yang tinggal satu atap.
Sang ketua mendesak Leon membangun hotel, sementara Jovita berusaha menggagalkan nya.
“Apa yang harus aku lakukan padamu, aku berharap, kamu tidak terlibat untuk semua ini, ternyata kamu telah ikut terlibat,” ucap Leon, ia menatap kearah monitor, Jovita merebahkan tubuhnya di ranjang.
Leon tidak tahu kalau apa yang di ucapakan barusan, Jovita juga mendengarnya, di dalam kupingnya ia memasang alat komunikasi untuk ia pakai berkomunikasi dengan orang-orang yang membantunya, ia mendapat kamar sendiri di bawah, jauh dari kamar Leon. Kamar itu bekas kamar Sabrina, dan bisa lepas dari mata Leon, satu hal yang ia tunggu-tunggu selama ini.
Sebagai seorang desain bangunan, Jovita tahu lika-liku rumah Leon hanya dari cetak birunya saja.
Di bawah tempat tidur Jovita ada jalan keluar yang di dibuat seperti lobang tikus, bisa membawanya keluar masuk dari kamarnya.
Leon tidak tahu semua itu, tapi ia sudah mencurigai Jovita,
Ia menghabisi orang-orang yang berkhianat pada Ayahnya, mungkin kalau kematian ayah tidak di usik dan dijadikan tersangka penipuan, ia tidak akan berubah jadi monster seperti leon.
Tapi ayahnya sudah matipun masih di fitnah , bahkan polisi seakan- akan tidak mengusut siapa yang menghabisi keluarganya, sebagai seorang anak wajar ia marah. Siapa yang rela orang tuanya di fitnah?
Ia sangat membenci Leon yang menuduh ayahnya melakukan kejahatan pada keluarganya, dan dituduh penipu, ia ingin membuktikan pada Leon kalau tuduhan itu salah.
__ADS_1
Bersambung