Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dia Pembohong


__ADS_3

Walau Hara terkejut dengan kedua wanita yang menemui Leon hari itu tetapi Hara bersikap profesional.


“Silahkan tunggu di kursi  tamu Bu, mari,” ujar  Hara tenang.


Leon menatapnya dengan tatapan serba salah, ia baru saja tertangkap basah, di depan Hara.


“Terimakasih mbak Ha-Hara,” Bianca membaca nametag yang tergantung di dada Hara.


“Apa yang akan terjadi? Kenapa dedemit ini datang kemari, merusak suasana aja." Ken seperti cacing kepanasan melihat Bianca datang, ia tidak pernah suka melihat Bianca.


“Tenangkan dirimu,” bisik Zidan, mengingatkan Ken.


" Kerja keras Bos akan sia-sia Bro .... Wanita ini gigih sekali, aku berharap Nona Hara tidak berurusan dengan dia, "ucap Ken lagi.


"Kalau dia memaksa begitu terus, aku takut bos gila lagi dan meminta dedemit ini dilenyapkan, apa lagi ini menyangkut Nona Hara, Dia tidak tahu siapa yang dihadapi," bisik Ken lagi dari tadi dia terus yang bicara.


Zidan hanya diam.


Sementara Bram membaca gelagat kesal dari sang Bos.


“Iya silahkan” Hara menganggukkan kepalanya dengan sopan, tidak menunjukkan rasa kecewa pada Leon karena ia membohonginya.


Tapi Bu Atin tidak berhenti menatapnya, sesekali ia menatap Leon, Leon meninggalkan mereka bertiga duduk, kini raut wajahnya terlihat muram saat melihat Bianca datang tanpa mengabari terlebih dahulu, baik Bu Atin hanya diam melihat arah punggung Hara melangkah meninggalkan mereka. Ia terlihat bingung, melihat situasi yang terjadi saat ini, saat Leon terlihat bersama, tapi bersikap seperti orang asing.


“Ada perlu apa Ibu sama Bianca datang ke sini?”


“Aku yang memaksa  Ibu ikut menemaniku,” ucap Bianca dengan sikap manja.


‘Sejak kapan Ibu dengan Bianca akrab, apa saat aku pergi mereka jadi akrap?’ Leon membatin.


Karena sebelumnya ia tahu wanita itu bukanlah wanita pilihan ibunya.


“Saat kamu pergi kerja Ke China aku yang sering mengunjungi ibu di rumah , aku yang menemaninya selama ini” ucap Bianca merasa Bangga karena bisa meluluhkan hati wanita paru baya itu. Ia tidak tahu Bu Atin masih terkejut melihat Hara.


‘Nona Hara, ini Ibu Nak’ Ucap Bu Atin mengusap air matanya diam-diam, tetapi Leon melihatnya, ia tahu apa yang dirasakan Bu Atin.


Leon tidak ingin berdebat, ia juga tidak mau Bianca mempermalukannya seperti yang di lakukan mereka bertemu saat restauran.


“Aku masih ada rapat penting di luar kantor nanti aku pulang iya Bu”


“Iya baiklah” jawab  Bi Atin dari kursinya, tapi tidak begitu bagi Bianca, ia masih merengek untuk tinggal lebih lama dengan Leon.


“Bagaimana kalau aku menemani Mas Leon sampai selesai rapat hari ini? Ucap Bianca.

__ADS_1


Ia telah berjanji pada dirinya kalau ia akan mengejar Leon hingga jadi miliknya.  Bianca orang yang pekerja keras dan orang yang gigih, ia tahu bu Atin tidak menyukainya, tapi ia berusaha mendekatkan dirinya dengan ibu Leon saat leon berada di China, Bianca datang  mengajak sang ibu untuk  mendapatkan restu Bu Atin.


Bi Atin terpaksa menerima Bianca di rumahnya, tetapi bagaimana jadinya saat ini? Saat Hara datang lagi dalam kehidupan Leon,  apakah Bu Atin masih mendukung Bianca atau memilih Hara?


“Tidak, kamu pulanglah aku tidak mau diganggu dalam hal bekerja,” ucap Leon wajahnya dingin.


Leon benar- benar  merasa sangat jengkel saat melihat wanita itu muncul lagi di depannya, tatapan matanya  menatap sinis ke arah lain.


Ken tahu bosnya tidak suka lagi dengan Bianca.


‘Apa yang aku lakukan menjauhkan wanita ini dari Bos?’ Ken  berpikir.


“Tapi aku janji anak yang penurut saat menunggu kamu,  aku akan duduk manis,” bujuk Bianca, sikapnya sedikit memaksa, karena ia pikir dengan usaha yang keras,  ia bisa mendapatkan Leon kembali, padahal ia tidak sadar,  itu akan membuat Leon semakin membencinya.


Bianca belum mengenal sikap Leon yang sebenarnya, ia tidak tahu kalau Leon di datang dari dunia yang gelap, dunianya begitu keras dan dingin,  ia tidak tahu kalau Leon sudah melenyapkan banyak nyawa orang  di masa lalunya, karena memang itulah pekerjaan dan dunianya.


Leon bukan orang yang mudah ditekan apalagi dipaksa, tidak akan ada yang bisa mengubahnya selain cinta dan kasih sayang, dalam hidupnya, ia sudah memiliki segala yang di butuhkan semua orang,  tetapi saat ini Leon hanya menginginkan Hara dalam hidupnya.


Otaknya semakin sakit saat memikirkan Hara menelepon Maxell tadi, di tambah Bianca datang maka hubungan mereka akan semakin renggang.


“Bianca, saya tidak suka di ganggu, pulanglah, Bu aku kerja dulu, ibu pulanglah dan bawa  Bianca pulang, nanti aku pulang ke rumah, " ujar Leon.


Leon meninggalkannya dan  pergi, Bianca hanya bisa diam melihatnya menjauh.


“Sabar,  Leon orangnya memang begitu” ucap Bu Atin, tetapi matanya masih mencari Hara, serasa belum percaya saat melihat wanita itu sudah bisa melihat tapi tidak mengenalnya.


“Ibu pulang sajalah duluan, aku masih ingin di sini memanjakan diri” Bianca  lagi- lagi kecewa karena diacuhkan Leon.


“Baiklah Ibu pulang duluan” ucap wanita itu meninggalkan Bianca yang masih asyik  berfoto selfi di Hotel Leon. Bu Atin memilih pulang  sendiri karena wanita yang datang bersamanya, sepertinya  punya acara lain


Sementara Hara menyibukkan pikirannya  dengan mengerjakan ini  untuk mengalihkan perasaanya


“Kenapa aku merasa sakit di dada saat melihat wanita itu mesra dengan Pak Leon, hatiku seolah-olah tidak rela. Ada apa denganku. Harusnya aku tidak apa-apa karena aku tunangan Maxell” ujar Hara memegang dadanya yang sakit.


Hara sibuk melakukan pekerjaannya,  karena Leon berbohong padanya,  ia akhirnya membenarkan omongan omnya yang menyebut Leon penjahat wanita.


“Om Vikky berarti benar, kalau Pak Leon itu  sering mempermainkan perempuan.” Hara menghela napas panjang.


“Tunangan Bos cantik iya?” ucap Tiara menariknya  ke sudut ruangan.


“Tunangan siapa?” Tanya Hara.


“Tunangan Bos, kamu tidak tahu? wanita itu tunangan Bos”

__ADS_1


“Tidak tahu, Bos tidak pernah bilang,” ujar Hara santai walau perasaan berkata lain.


“Aku dengar mereka tahun ini akan menikah dan yang tadi orang tua itu,  itu adalah  Ibu dari pak Leon” ucap Rara lagi.


"Mbak Hara tidak apa-apa?"


"Aku tidak tahu dadaku terasa sangat sakit"


"Karena Pak Leon mau nikah?" Tanya Tiara bingung.


"Tidak tahu, tiba-tiba aja sakit"


"Mbak Hara mencintai Pak Leon diam-diam iya ....?"


"Tidak sih ..... aku punya tunangan Hanya .... sudah lah, jangan kita bahas lagi."


Hara diam, raut wajahnya berubah, akhirnya paham.  Ia baru ingat nasehat Bi Ina dan Piter padanya yang menjauhi Leon jika ia bertemu dengannya.


*


Seperti  sepanjang hari itu, walau ada rasa  kecewa dalam hatinya, tapi ia tidak memengaruhi pekerjaan hari itu. Ia  menganggap Leon  Bos semata, tetapi yang perlu ia lakukan akan menjauhi lelaki itu.


Hara beberapa kali pergi ke kamar mandi, memegang dadanya ia merasa sangat aneh, tiba - tiba ia merasa sangat sedih karena kehilangan hal yang sangat besar. Tetapi ia tidak tahu kehilangan apa, saat dia memegang dadanya, tiba - tiba-tiba air matanya mengalir begitu deras, Hara merasa antara hati dan otaknya tidak konek, saat batinnya menangis otaknya gagal memproses tentang apa yang terjadi.


'Aku akan fokus pada hubunganku dengan Maxell' Hara membatin. Maka itu, ia tidak ingin ada kesalahpahaman dengan kekasih bosnya. Hara akhir memberikan gaun itu untuk Tiara.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2