Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Aku berhak untuk bebas


__ADS_3

Leon, tidak percaya orang yang ia cari selama ini ada di dekatnya.


‘Apa ini masuk akal, apa itu benar?’ Leon seperti orang linglung, orang yang selama ini, aku percaya dan aku anggap dewa penolong dalam hidupku, ternyata seorang penjahat sebenarnya.


Leon sangat terpukul, otaknya tiba- tiba buntu, tapi tidak tahu harus berbuat apa, semua meleset dari pikirannya, bagaimana mungkin sekelas Leon bisa kalah dari seorang perempuan yang polos.


Padahal ia sudah menghabiskan hampir seumur hidupnya menaruh dendam pada keluarga Jovita, ternyata ia salah menuduh, wanita ini hanya butuh hitungan bulan untuk mencari orang yang menghabisi keluarganya dan butuh satu malam untuknya untuk membuktikan kalau Ayahnya tidak bersalah. Lalu siapa sekarang mafia sebenarnya?


“Kamu pasti tidak percaya dan kamu pasti kaget, karena orang yang selama ini penyelamat hidupmu justru, dia adalah yang menghancurkan  keluargamu di masa lalu, tapi, ia juga memberimu hidup, tidak bisa di pungkiri, maka itu saya ingin mengirimnya ke penjara.


Tidak ingin melenyapkannya, saya hanya ingin mengirimnya ke penjara, saya  ingin ia menghabiskan sisa hidupnya di dalam  hotel Prodeo,” ujar Jovita.


“Saya ingin menghabisinya,” ujar Leon dengan  wajah pucat.


 “Saya berpikir jangan biarkan lelaki tua itu mendapatkan kematiannya dulu.” Jovita tidak ingin Leon membunuhnya.


“Ada banyak orang suruhannya berserak di mana-mana, saya tidak ingin kamu dapat masalah”


“Saya tidak  apa- apa Pak Leon kehidupan pahit yang saya alami selama ini membuatku kuat. Jadi jangan pikirkan saya”


“Saya akan menyeret lelaki tua itu ke penjara dan  akan membuktikan padamu, kalau apa yang kamu katakan selama ini padaku, tidak benar, itu artinya kamu tidak punya alasan apapun untuk Menahan ku di rumah ini, aku bisa bebas kemanapun aku pergi dan kamu tidak berhak melarang ku mulai sekarang, ingat aku dan kamu tidak punya hubungan apa-apa, aku berhak melakukan apapun dalam hidupku,” ucap Jovita ia terlihat sangat marah


Jovita akhirnya bisa membungkam mulut kasar Leon, ia bisa membuktikan kalau ayahnya bukanlah pelakunya.


Leon terdiam, ia mengepal tangannya dengan kuat.


“Saya  akan menjagamu, Hara"


“Saya tidak butuh dijaga, saya bisa menjaga diriku sendiri,”ujar Jovita meninggalkan kamar, Leon ingin menarik tangannya ia ngin merangkulnya, tapi seakan  ia tidak punya tenaga untuk melakukannya kenyataan itu membuatnya membatu, bagaimana mungkin  ia salah selama ini.


" Aku salah menuduh keluarga Jovita yang melakukan hal kejam itu pada keluargaku, saat ini, aku kehabisan cara dan kehabisan kata-kata untuk meminta Jovita, meminta wanita  agar tetap bersamaku, aku tidak punya hak lagi, jangan pergi …. tetaplah disini,” ucap Leon, suara kecil hampir tidak kedengaran.


Tubuh Leon langsung lunglai ia terduduk lemas saat mengetahui kenyataan orang yang ia cari selama ini ternyata Bokoy,   ia baru sadar sikap pria itu yang selama ini selalu mengawasi setiap gerak –geriknya, Bokoy juga ingin Leon memimpin bisnisnya.


Leon bukan orang yang suka di atur-atur, saat banyak orang menginginkan posisi Bokoy, bahkan ada beberapa orang-orangnya yang jadi menjilat dan melakukan apapun yang penting bisa mendapat posisi pemimpin utama.


Tapi sayang lelaki tua itu, hanya ingin Leon yang memimpin, tapi lelaki bertampang dingin Leon Wardana atau yang di panggil Bokoy dengan sebutan Naga.

__ADS_1


Leon sama sekali tidak menginginkan jabatan ketua baik harta sang ketua, ia membangun bisnisnya, di mulai dari bawah dari tempat hiburan malam, bahkan killer bayaran.


Hingga akhirnya ia memiliki perusaan besar Wardana Kontruksi dan beberapa  tempat hiburan malam di berbagai kota di Jakarta dan di Kalimantan.


Semua yang ia miliki hasil usaha dan kerja keras  Leon sendiri, walau di akui pak ketua Bokoy ikut andil mengamankan bisnisnya Leon dari mata pesaingnya.


‘Apa yang aku harus lakukan? Apa aku harus menghabisinya sekarang?'


"Tadinya aku ingin melupakan semuanya dan membiarkan alam yang menghukum para pelakunya , tadinya aku ingin memulai hidup yang baru dengan Jovita, tapi apa ini?


Apakah aku membujuknya untuk bersama, apakah aku masih punya kesempatan mengajaknya menikah?"


Disisi lain.


Suara burung di Pantai  pagi itu, terdengar indah, menyapa alam dengan kegembiraan, terbang menari dia atas air.


“Aku iri sama burung itu, ia terlihat sangat gembira, ia bisa bebas terbang kemanapun yang ia mau, ia tidak menghawatirkan  bagaimana hari esok,"gumam Jovita melipat tangannya di dada, menatap jauh kearah pantai. Tetapi ia menarik napas lega, saat seperti sudah lama ia nantikan.


Hanya membuktikan kalau ayahnya tidak bersalah ia sudah sangat bahagia belum menangkap pelakunya.


Menarik napas lengah, ia pernah berjanji pada Leon, lelaki bertampang  dingin itu yang  menuduh Ayah Jovita melakukan kejahatan di masa lalu, tapi  sebagai seorang anak, ia tahu  betul siapa ayahnya, bagaimana sikapnya, ia tahu almarhum Iwan orang baik dan orang yang lemah lembut,  hal yang tidak mungkin baginya melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan Leon pada ayahnya.


Tetapi rencana Tuhan siapa yang bisa tahu.


Hari ini jovita sudah berani mengangkat dagunya dengan yakin,  kenapa? Karena ia bisa membuktikan, kalau Ayahnya tidak bersalah, ia akhirnya bisa membungkam mulut lelaki kasar itu.


Bukan hanya itu, Jovita bahkan membongkar siapa di balik  kematian ibu dan kakak perempuan Leon.


Satu tembakan dua kena sekaligus, ia berhasil membuktikan omongan dan janjinya pada Leon, ia pernah bilang pada leon kalau ia sangat percaya pada ayahnya seratus persen


‘Terimakasih ayah terimakasih ibu’ ucap Jovita.


Jovita masih ingat  saat ia menyinggung sedikitpun tentang keluarganya, Leon akan marah dan murka padanya, ia sering sekali ingin ziarah pada makam keluarganya, ia rindu, tapi Jovita takut untuk meminta izin, jangankan meminta izin, memikirkannya saja tidak boleh sama Leon.


Tetapi hari ini seakan langit tersenyum padanya dan ia merasakan desiran angin lembut menyapu kulitnya.


“Ayah, ibu adek-adekku tenanglah di sana percaya padaku, aku akan menghukum mereka yang sudah menyakiti  kalian, aku sudah menghukum orang-orang yang memisahkan ibu dan Ayah dariku, aku akan memasukkannya lelaki tua itu kedalam penjara, doakan aku Bu,” ujar  Jovita menatap langit pagi itu.

__ADS_1


Sekarang beban berat seakan di angkat dan dibuang dari pundaknya, setelah tadi pagi, ia akhirnya berani mengungkap semuanya pada Leon, ia mengungkapkan kalau ia menempati janjinya, kalau  bukan Ayahnya yang melakukan semua  kejahatan itu.


Disisi lain, Leon bahkan merasa tidak bisa bernapas, merasa seperti ditimpuk kotoran ke wajahnya bagaimana tidak, ia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, ia melakukan kekerasan fisik bahkan merenggut kesucian  Jovita, karena ia pikir ayah Jovita menyuruh orang merusak hidup kakak perempuannya, ternyata ia salah, dadanya terasa sakit. Ia takut Jovita pergi darinya


‘Oh tidak, tidak boleh seperti ini’ ujar Leon ia turun.


Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan lewat mulut ritual kecil sebelum bertemu Jovita, ia gugup ia takut karena ia sadar atas kesalahannya.


TOK …TOK…


“Masuk sahut jovita dari balkon kamarnya, menoleh kedalam kamar, mencoba mencari tahu siapa  yang datang. Saat melihat Leon raut wajahnya langsung datar.


“Ada apa Pak Leon?”


“Saya hanya ingin  minta maaf padamu,” akhirnya kata maaf keluar juga dari bibir Leon Wardana,


“Untuk apa?”


“Untuk semuanya” Ucap Leon dengan tatapan bersalah.


“Kamu punya hutang maaf pada keluargaku terlebih pada Ayahku,  karena kamu menuduhnya sebagai penjahat”


“Baiklah, saya akan melakukannya.”


“Ok baiklah lakukan  saja di kuburan keluargaku”


Bersambung ....


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2