
Leon sebenarnya tidak ingin membawa Hara ke hotel, hatinya sangat keberatan, ada hal yang membuatnya takut, tetapi ia juga tidak bisa menolak permintaan Hara kali ini, ia terlalu sering menolak ia ikut kerja, Leon selalu janji nanti lain kali membawa Hara. Tetapi untuk kondisi Hara saat ini, Leon yakin kalau Hara akan marah besar kalau ia sampai menolaknya.
“Bagaimana ini ... kenapa harus sekarang dia minta ikut?” Leon menggaruk kepala.
Leon, memerintahkan anak buahnya melakukan penjagaan yang sangat ketat di hotel, ia bahkan meminta Bimo menambahkan anggotanya untuk berjaga di hotel, tanpa di ketahui Hara
Di hotel ada kesibukan yang tidak biasa, Bimo berangkat duluan ke hotel, menempatkan orang-orangnya di setiap sudut, bahkan ia juga menempatkan penembak jitu dari gedung mall di sebelahnya.
Leon tidak ingin hal buruk terjadi pada Hara lagi di hotelnya kali ini, penempatan para penjaga itu di setiap sudut hotel menarik perhatian para pegawai, tetapi Leon sudah kordinasi pada Hilda untuk ikut membantu agar orang-orang Bimo tidak menganggu tamu di hotelnya, mungkin para tamu tidak mengetahui adannya pengamanan yang berlebihan di hotel, karena di hotel Leon hampir tiap hari ada acara pernikahan di aula, jadi walau penyisiran di area gedung sudah hal biasa untuk para tamu.
Namun, untuk penjagaan kali tidak biasa, karena ada penembak juga dilibatkan, bukan hanya itu beberapa anjing pelacak diikutsertakan kali ini untuk menyusuri setiap taman pagi itu.
“Ada apa Bu?” tanya seorang dari meja resepsionis pada Hilda.
“Jangan khawatir, tidak ada yang menghawatirkan,” ucap Hilda menenangkan wajah cantik kedua wanita yang bertugas di meja resepsionis itu.
Ketakutan mereka bukan tanpa alasan, karena beberapa hari lalu terjadi insiden yang menenangkan di hotel Leon, dua orang Bandar Narkoba di brondol polisi di hotel karena sempat melawan polisi, gilanya lagi baku tembak terjadi di luar kamar.
Seorang tewas di tembak karena melawan dan seorang Bandar lainnya, berhasil melarikan diri dari kamar menenteng senjata, setelah mengetahui kedatangan polisi, baku tembak akhirnya terjadi di dalam hotel membuat semua pengunjung hotel ketakutan dan orang yang sedang makan di restaurant hotel berhamburan, itulah sebabnya sebagai pegawai yang mengetahui penjagaan kali ini terlihat cemas.
Mereka takut ada pengerebekan lagi di hotel di tempat mereka bekerja.
“Terus ada apa Bu? Apa ada pejabat negara yang akan menginap di hotel kita?”
“Mungkin lebih dari pejabat negara kali, bagi seseorang dia adalah segalanya baginya?” ujar Hilda tersenyum kecil.
Hilda, memikirkan Leon bagi Leon Jovita Hara adalah segalanya, setelah menikah dengan Piter, Hilda mendengar cerita Leon dengan Hara yang sudah mengenal sejak dari kecil, bahkan Leon sudah mencintai Hara sejak ia masih usia sepuluh tahun.
‘Mereka berdua pasangan yang sudah ditakdirkan yang melalui banyak penderitaan’ ucap Hilda dalam hatinya.
Ia masih berdiri di sisi meja resepsionis, melihat beberapa penjaga yang memasang penambahan cctv di lobby hotel dan beberapa anjing pelacak terlihat menyusuri dan mengendus-endus moncongnya di taman halaman hotel.
Bimo dan Ken juga meminta beberapa anak buahnya memakai seragam hotel dan menyamar jadi pekerja hotel hari ini agar penyamaran mereka tidak terlalu mencolok.
‘Kenapa Leon sampai ketakutan seperti ini, apa ada masalah? Jangan-jangan…?’ Hilda memikirkan hal buruk
Hilda menelepon suaminya, karena ia berpikir Piter mengetahui sesuatu karena tadi malam mereka berdua bertemu.
“Iya, Mi,” suara Piter menyahut di ujung telepon.
__ADS_1
“Apa, apa terjadi sesuatu? Kenapa pak Leon melakukan penjagaan besar-besaran di hotel?” tanya Hilda.
“Aku tidak tahu, tapi bagaimana kepadamu. Mi dokter memintamu untuk cuti, kamu tidak ingin brojol di tempat kerjamu Kan?”
“Tidak apa-apa masih ada beberapa minggu lagi parkiran lahiran, jadi nanti pas lagi lahiran biar keluarnya gampang,” ujar Hilda. Ia memilih untuk melahirkan normal, walau Piter menyarankannya untuk caesar tetapi Hilda pilih ingin melahirkan secara normal.
“ Apa yang terjadi?” tanya Hilda bertambah panik.
“Memang tadi dia bilang apa?” tanya Piter, ikut khawatir,
“Bimo bilang Hara ingin ikut hari ini ke hotel.”
"Hal itu Tidak boleh,” ucap Piter masih terdengar ke panikan di suaranya. “Mami ... aku matikan dulu iya, aku telepon Leon dulu,"ujar Piter.
“Tapi Pi, apa yang terjadi? Hilda ikut-ikutan merasa takut kerena mendengar suaminya panik, ibu hamil yang satu ini juga gampang panik, marah dan ia juga sangat manja dan keras kepala. Tetapi bukan baby blues , seperti yang dialami Hara.
“Mi, nanti saja, ini darurat,” ucap Piter mematikan ponselnya.
“Darurat? Apa yang terjadi?” Tanya Hilda dengan menatap sekeliling dengan bingung.
Untungnya wanita yang berdiri di meja resepsionis itu tidak mendengar suara panik dari Hilda, kalau saja mereka mendengar kata darurat bisa di pastikan keduanya akan bersembunyi di bawah meja itu lagi.
Sama seperti beberapa hari lalu, saat itu mereka berdua merunduk di bawah mejanya, tapi yang bikin tambah panik lelaki penjahat itu berlari ke balik meja resepsionis dan berlindung di sana, kedua wanita yang menjaga meja resepsionis ketakutan dengan tubuh tetap meringkuk di bawah. Kalau saja saat itu salah satu dari mereka berdiri atau bersuara mungkin penjahat itu akan menjadikannya tameng atau tawanan untuk melindungi dirinya sendiri, seperti di film-film yang sering mereka berdua tonton.
‘Lah’ bukanya tadi penembak itu hanya Zidan kok ada Toni juga kata Bimo ada satu. laporannya ke aku, sekarang, kenapa jadi ada dua?’ tanya Hilda dalam benaknya, ia melihat di atap mall satu dan di gedung depan hotel, bank swasta, di sana ada satu lagi.
“Banyak amat!,” ujar Hilda mengeluarkan ponselnya dan merekam Zidan dan Toni
Di sisi lain, tepatnya di rumah Leon.
Ibu Atin terkejut dengan permintaan Hara yang tiba-tiba ingin ikut bekerja dengan Leon.
“Nak, kamu berjalan saja sudah terlihat lelah, bagaimana akan bekerja?”
“Aku kuat kok Bu, kata siapa aku lemah, ibu nih … suka menuduh.”
“Nak, bukan menuduh ibu hanya khawatir”
“Bukan khawatir, tetapi ibu tidak suka melihatku,” ujar Hara menuduh ibu mertuanya.
Bu Atin terkejut dengan tuduhan menantunya, mata menatap panik melihat sikap Hara yang semakin hari semakin tidak mudah di tebak. “Ibu tidak pernah perduli denganku selama ini, ibu selalu memarahiku, makan ini makan itu tidak boleh.”
__ADS_1
“Haaa? Nak Hara, ibu sangat sayang denganmu dan bayimu,” ucapnya menahan air mata.
Untung Leon datang dan mendamaikan hati ibunya.
“Ada apa Bu?” tanya Leon menatap ibunya yang ingin menangis.
“Hara menuduhku tidak sayang padanya Nak.”
“Sudah Bu sini, buatkan aku teh madu,” mengajak Bu Atin ke kabinet dapur.
Lalu ia melirik meja makan Hara masih asik makan nasi goreng sebagai serapan.
“Bu, jangan di ambil hati, tadi malam aku menelepon dokter Billy ia menjelaskan kondisi yang dia alami Hara dia mengalami babybules di masa kehamilan.
“Oh … pantas saja sikapnya berubah belakangan ini, bu tidak tahu Nak, apa yang kita lakukan itu sangat menghawatirkan, itu salah satu penyakit berat untuk ibu hamil,” ucap Bu Atin setelah Leon menceritakan semuanya pada ibunya.
“Itulah Bu sebenarnya aku sangat khawatir membawa dia ke hotel, ada satu hal yang tidak bisa aku ceritakan pada ibu tetapi aku juga tidak bisa menolak Hara kali ini.”
Leon kembali kesabarannya di uji kali ini, satu hari sebelumnya ada satu kejadian di hotel, dua orang bandar narkoba menjadikan hotelnya transaksi narkoba dan polisi menggerebek, Maka terjadilah baku tembak dan bandar narkoba berhasil melarikan diri. Maka di hotel semua pegawai masih terlihat shock dengan kejadian tersebut.
Tetapi kali ini Jovita Hara meminta ikut ke hotel.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1