
Satu hari setelah persidangan. Hara kembali ke rumah, suasana rumah kembali ceria setelah satu tahun hening tanpa diisi suara kedua anak kembar itu.
Bertambah umur si kembar satu tahun, bertambah juga keinginan dan selera mereka berdua.
Mainan yang dulu menghiasi kamar keduanya kini sudah diganti dengan mainan yang bersifat milik pribadi, tidak bisa berbagi lagi atau bermain sama-sama. Okan dengan segala jenis mobil balap dan segala jenis kendaraan dan motor, bahkan tidak memperbolehkan Chelia meminjamnya lagi.
Sementara si cantik Chelia sibuk dengan mainan Barbie lengkap dengan rumah besarnya yang isinya penuh dengan banyak wanita-wanita cantik. Boneka Barbie dengan banyak karakter dan banyak macam model, ia sibuk dengan dunia sendiri dan Okan sibuk dengan mainannya sendiri.
Mereka berdua diam dalam kamar, saat Hara masuk saja tidak dipedulikan.
‘Mereka berdua seperti punya dua dunia masing-masing, apa harus begini’ Hara membatin tidak suka melihat situasi itu.
“Hai, kalian berdua, ayo keluar temenin nenek main, kalian kan baru sampai tidak ada rasa kangen sama nenek sama ayah?”
“Tapi Bu, aku mau mainan baruku dulu,” ucap Chelia.
“Aku juga Bu,” ujar Okan .
“Dengar …. Sebentar lagi berdua akan masuk bangku Sekolah Dasar, itu artinya akan sedikit waktu bermain untuk ayah. Ibu tidak mau antar keluarga saling melupakan satu sama lain karena mainan. Apa Ibu tidak perlu pergi lagi, agar kalian punya waktu untuk ayah dan nenek.”
Keduanya langsung bergegas lalu membereskan mainannya masing-masing. Satu hal yang paling ditakutkan kedua bocah itu, takut ditinggalkan ibu mereka.
“Baiklah Bu, mungkin besok lagi mainnya, aku bereskan dulu,” ujar Chelia.
Setali dua uang, Okan juga melakukan hal yang sama, ia membereskan mainannya dan ikut keluar dari kamar.
Leon berubah sejak selesai masalah persidangan, tidak banyak bicara, ia merasa malu pada istrinya, apa lagi saat tahu, Hara sudah menonton video panasnya dengan Kaila . Ia terus bertanya dalam hati,
'Apakah Hara masih menghukum ku?’
Leon berdiri di balkon kamar, dengan kedua tangan dimasukkan ke kantong celana, matanya, menatap kosong kearah taman.
Banyak hal yang ingin ia katakan pada Hara tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana.
“Ayah! ayo kita main bola,” teriak Okan membuyarkan lamunannya . Kedua bocah itu datang ke kamar atas perintah Hara.
“Ayo, siapa takut.”
Satu hari mereka dihabiskan bermain bersama si kembar. Hara sengaja memberi waktu untuk ke dua anak itu, untuk menghibur Leon dan menjalin kedekatan antara bapak anak.
Pergi selama satu tahun
dari Jakarta, tidak banyak waktu untuk Leon bermain bersama anak-anaknya, ia sibuk mengurus masalah yang silih berganti.
__ADS_1
Tidak bisa di pungkiri kenyamanan dan suasana yang indah, selama di Jerman membuat kedua bocah itu melupakan Jakarta, Oka sempat berkata aya mereka lebih mementingkan pekerjaan karena selalu sibuk.
Tetapi kali ini, Hara ingin membayar semua itu . Ia berpikir semua itu tidaklah salah Leon, itu semua salah Kaila.
Leon hanya ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Karena tidak ada yang tahu kapan hal buruk akan datang , begitu juga Leon, ia tidak tahu orang tadinya ia anggap penolong untuknya dalam pekerjaan, ternyata bisa berubah jadi iblis penghancur untuk keluarganya.
Walau semua kejadian itu sudah berakhir dan Hara sudah membersihkan nama baik Leon, tetapi tetap saja perasaan sungkan dan perasaan malu ada di wajah Leon, ia semakin tidak berani menatap wajah cantik istrinya.
Saat Hara meminta semua pihak yang selama ini menjelekkan nama Leon minta maaf secara langsung, Leon semakin kagum padanya.
Bahkan ketiga artis yang merendahkan dan memojokkan Leon, beberapa hari lalu sudah meminta maaf.
Belajar dari kasus Kaila pelapor jadi tersangka, mereka juga tidak mau seperti itu. Hara punya Toni membantunya makanya bisa melakukan semua itu dengan baik.
Kalau saja Toni tidak andil dalam kasus itu, kekasih Kaila tidak akan mau bersaksi, Lelaki berkulit putih itu yang memburu kekasih Kaila. Ternyata Kaila sudah meminta pergi jauh saat ia membawa kasus Leon ke meja hijau, walau tidak bertemu secara langsung . Namun Kaila mengancam Lelaki yang sempat menjadi kekasihnya itu untuk menghilang agar tidak ada yang tahu kalau anak yang di lahirkannya bukan anak Leon.
Tetapi Toni bisa menemukannya kemanapun lelaki itu pergi. Melalanglang buana di dunia mafia dan mempunyai banyak teman bertebaran di banyak kota. Mudah baginya menemukan saksi kunci itu untuk kasus Hara. Hingga akhirnya Hara menang di pertandingan terakhir.
**
Malam tiba, baru kali ini Hara duduk berdua dengan. Leon terlihat sangat canggung ia mencuri-curi waktu menatap Hara.
“Tidak .… Hara apa boleh aku bertanya?” Leon menatapnya dengan ragu.
“Apa?”
“Apa benar kamu tidak marah padaku karena kasus ini?” Tanya Leon.
“Tidak.”
“Lalu apa benar kamu tidak hamil satu tahun lalu?”
“Sayang, aku sudah bilang saat itu kalau aku tidak Hamil, aku baru hamil dua kali, Ichiro dan si kembar.”
“Tapi Shena bilang saat itu kamu mual-mual, terkadang aku berpikir jangan-jangan karena kamu marah karena Kaila, jadi, kamu meminumnya?”
“Oh itu salah paham, aku terpaksa berbohong padanya, obat penggugur itu aku berikan pada Kaila,” ucap Hara.
Menyingung tentang wanita itu lagi, membuat Leon kembali diam, tidak mudah memang hati menerima semua yang telah terjadi, walau bibir berucap sudah memaafkan dan sudah menerima, tetapi kenyataannya rasa itu masih membekas dalam sukma Hara, semua istri juga tidak akan akan ikhlas, jika itu terjadi. Namun, Hara memilih melupakan kejadian itu.
Mereka berdua kembali diam. Leon menyalahkan televisi mata menatap layar televisi, tetapi pikiran berkelana kemana-mana. Hara sibuk dengan ponselnya matanya sibuk melihat-lihat tempat yang indah yang ingin ia kunjungi nanti saat ke Jepang.
__ADS_1
“Aku ingin bicara sebentar.” Hara mendekat.
Tiba-tiba jantung Leon berdetak lebih cepat, ia merasa hal yang ingin bicarakan Hara padanya akan membuatnya shock , melihat wajah serius Hara. Leon semakin yakin yang akan ingin dibicarakan hal yang menakutkan.
“Iya katakanlah.” Leon menekan tombol merah di remote dan layar itu mati. Lalu ia menarik napas panjang, merasa semakin menipis pasokan udara yang masuk ke rongga dadanya.
“Sepertinya kita akan berpisah lagi ….”
"HA?" Lutut kaki Leon langsung bergetar hebat, wajahnya terasa panas, ia mencoba tenang.
“Maksudnya apa?” Leon menatap serius.
"Aku ingin ke Jerman lagi untuk mengambil barang-barang ku yang ketinggalan,"ujar Hara.
Leon menghela napas lega.
"Hara .... kamu hampir membuatku serangan jantung,"ucap Leon.
Hara tertawa melihat wajah Leon yang panik, terlihat jelas kalau Leon ketakutan jika Hara pergi.
Bersambung ..
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tipsnya semoga rezekinya semakin bertambah untuk kakak semua.
ILove All.
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1