Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Susahnya mengucapkan kata maaf


__ADS_3

Setelah  serapan pagi selesai, Jovita merasa otak-otaknya  sangat panas semakin ia pikirkan  semakin ia pusing.


“Saya ingin mandi”


Leon tidak menjawab.


‘Oh baiklah’


Wanita berwajah cantik itu   berjalan menuju bak mandi, merendam di dalam bak mandi hal yang sangat tepat untuk meredakan panas di hati.


Melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub. Leon kembali  masuk ke kamar berniat mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.


“Selesai mandi temui saya di ruang kerjaku!”


Tidak ada tanggapan.


“Jovita Hara apa kamu mendengar ku?”


Leon membuka kamar mandi karena tidak  ada suara air  dan tidak ada aktivitas di sana. Ia berjalan dengan setengah berlari saat melihat bathtub .


 Gubraak ….


Leon  terjatuh cukup keras.


“Auuu sial sakit” Panggulnya terbentur lantai.


“Apa yang kamu lakukan!?” Leon berusaha keras untuk berdiri dan menghampiri bathtub  itu lagi. Ia berpikir kalau jovita menenggelamkan dirinya sendiri.


“Kenapa kamu melakuk”-


“Uaaahhh 5 menit,” pekik Jovita mengeluarkan kepalanya dari air dan mengibaskan kepalanya kanan-kiri mengakibatkan cipratan air dari rambutnya ke segala arah, termasuk mengenai wajah Leon yang terduduk  melongo di lantai, di samping bak bathtub.


Mata melotot dan mulut menganga dada naik turun, serasa habis lari maraton, ia terlihat seperti orang  yang baru melihat hantu mulutnya tidak bisa berkata-kata.


Dengan posisi kaki mengangkang dan kedua tangan menapak di lantai seperti posisi orang yang ingin melahirkan.


“Apa yang Bapak  lakukan?” Jovita menatap heran .


Leon sudah hampir meledak,  berpikir Jovita melakukan hal nekat lagi  berpikir ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menenggelamkan kepala dalam bak, karena ia memangil lama,  tetapi tidak menyahut dan air  membanjiri kamar mandi.


“Justru saya yang ingin bertanya apa yang kamu lakukan Jovita Hara!?”


“Mandi,” jawab Jovita tanpa merasa bersalah.


“Dasar ...! Kamu tau gak? Saya hampir terkena serangan jantung gara-gara kelakuanmu,”  bentak Leon kesal.


“Lah, sekarang di mana kesalahannya? Saya hanya ingin merendam  di dalam air”


“Berenang dan menyelam itu di kolam renang bukan di bak mandi.” Leon mencoba bangkit lagi. Namun lantainya licin, dipenuhi genangan air.


Bruaaak ....


“Auhhhh pinggangku.”  Merintih kesakitan memegang pinggangnya untuk kedua kalinya.


"Aku kan takut berenang,"gumam Jovita pelan.


Ia tersenyum kecil, melihat lelaki itu kesusahan  berjalan, ia berpikir Leon langsung keluar dari kamar mandi.


Ia kembali memasukkan kepalanya kedalam air.


Leon berbalik arah melihat kearah bathtub, tapi kepala itu tidak ada lagi.


“Dasar bodoh,”  Leon mendekati bathtub dan mematikan kran air.


Leon berdiri diam  menunggu kepala Jovita lagi muncul ke permukaan, lima menit  menunggu belum muncul juga. Genangan  air di lantai kamar mandinya sudah mengering,

__ADS_1


"Apa lagi sekarang  yang dia lakukan?" Matanya menatap  kedalam  air.


“Lama bangat, apa dia mati? Hei, Jovita!”


Tangannya menjambak rambutnya dari bak mandi, itu ia lakukan karena ia takut Jovita bunuh diri.


“Apa yang Bapak lakukan?"Mata Jovita melotot protes dan tangannya memegang kepalanya yang sakit bukan hanya kepala pundaknya ikut terbentur sisi bak.


“Saya pikir kamu mati,” ucap Leon  menggosok-gosok ujungnya , merasa tidak enak, berjalan meninggalkan kamar mandi.  Jovita  cemberut karena Leon menarik rambutnya dari air.


“Kamu kasar ….!” Matanya menatap tajam pada Leon.


“Itu bukan kasar, itu naluri penyelamatan.” Leon berucap sambil berjalan keluar dari kamar mandi,  tangannya memegang pinggangnya yang sakit.


Jovita keluar dari bak mandi dengan bibir semakin cemberut, cara Leon yang menarik rambutnya sepertinya melukai hatinya juga.


“Selain pelit bicara dia juga tidak tahu  bagaimana memperlakukan wanita dengan baik,” ujarnya mendumal kesal.


 Niatnya hanya ingin mendinginkan otaknya yang panas, tetapi bukan  dingin, malah tambah semakin panas. padahal ia hanya ingin bersenang-senang, seperti yang biasa ia lakukan di kamar mandinya dulu.


Jovita tidak bisa melakukannya  di kolam renang, maupun berenang bersama teman-temannya, ia  tidak pernah berenang di kolam renang, ia takut dan ia juga tidak tahu cara berenang, ia selalu melakukannya di bak mandi.



Jovita, memakai pakaiannya dengan diam, Leon sudah duduk di kursi, Leon juga kesal karena  Jovita, ia basah dan pinggangnya sakit.


“Saya juga sakit pinggang,” ucapnya melihat Jovita marah, karena ia menarik rambutnya dari dalam air.


Kalau ia disuruh meminta maaf untuk apa yang ia lakukan,  itu tidak akan terjadi, karena Leon menganggap  dirinya seorang bos besar


“Saya ke bawah saja,” kata Jovita masih marah.


“Apa kamu marah l? Harusnya  saya juga marah,  pinggangku sakit.”


“Bapak  lelaki yang kaku seperti kanebo dijemur, berendam dan menenggelamkan kepalanya dalam bak mandi, hal yang biasa, saya dulu selalu  melakukannya di rumahku,  hanya ingin bersenang-senang saja, saya tidak bisa berenang jadi saya lakukan di bak mandi, apa  harus se kasar itu menarik rambutku.”


“Ahh, sudahlah , sekali kasar memang selalu kasar, bapak tidak pernah bersikap lembut pada wanita.” Jovita  berdiri.


Leon diam ia tidak ingin berdebat lagi, ia lebih memilih meninggalkan  Jovita yang masih terlihat sangat marah.


"Dasar Ular Naga"


Jovita memegang kepala dan pundak,  ia merasa semua badannya terasa sakit.


“Jika terus bersama Leon aku bisa mati muda karena menahan kesal,  batang leherku sakit.” Jovita memegang batang lehernya dan turun ke Bu Atin.


“Bi, punya obat gosok, tidak?"


Bi Atin yang sedang jongkok di taman depan melihat-lihat tunas tanaman obat yang ia tanam, ia mendonggakkan kepalanya melihat Jovita.


“Kenapa, Non?”


“Pundak Ku cidera, Bi"


“Kenapa?” Toni datang dari arah depan memegang kresek hitam di tangannya.


“Aku mau obat gosok, pundak ku sakit."Jovita memegang leher.


“OH kebetulan ...  kok bisa kebetulan iya, aku juga salah tidur leherku kaku rasanya, aku  membeli obat gosok mau, coba?” Toni menyodorkan obat gosok.



“Boleh Kak, tolong oleskan"


“Jangan aku. Bibi saja”  Toni menolak tidak ingin nasibnya seperti Ken yang mendapat hukuman  dari Bos karena memegang tangan Jovita.

__ADS_1


“Bibi tangannya  kotor berlumpur, olesin saja sebentar kasihan Non Jovita kesakitan,” pinta Bi Atin.


“Ah tidak Bi, nanti saja Bibi setelah pekerjaannya selesai." Toni menolak.


 Saat Jovita meminta Toni untuk mengoleskan minyak ke pundaknya yang sakit, tiba-tiba Leon juga datang membawa penyakitnya. Melihat Leon datang, Toni buru- buru pergi.


“Bi, panggilkan tukang urut buat saya.”


“Ha, Kok pada sakit semua kalian.” Bi Atin menatap keduanya saling bergantian,  menghentikan pekerjaannya saat Leon datang.


“Tidak Bi, pinggangku patah gara-gara seseorang,” kata Leon matanya menatap Jovita.


Jovita memincingkan bibirnya, ia juga kesal.


“Tukang urutnya yang lelaki apa yang wanita?”


“Orang yang biasa Bibi pakai jasanya"


“Tapi Non, Jovita juga sakit pundaknya, ia juga ingin di urut"


“Tidak usah, nanti saya yang urut sendiri”


“Baiklah, panggil terapis perempuan saja, dan kamu ikut saya." Leon menarik tangan Jovita lagi ke kamarnya.


“Hmmm ...  berdua habis ngapain sih ampe badan sakit-sakit seperti itu,” ucapnya Bi Atin  melapnya tangannya yang habis di cuci tadi.


Tapi Toni hanya bisa melihat dari jauh, saat Leon yang menyeret tangan Jovita ke kamar.


*


“Apa karena hal kecil itu, kamu marah?” giliran Leon yang protes.


“ Kamu itu seperti anak ABG Saya sudah bilang,  tadi,  saya tidak sengaja Jovita, saya pikir kamu tengelam  itu saja" Leon berdiri di depan.


"Orang yang tengelam biasa untuk menyelamatkan yang di tarik duluan rambutnya masa kakinya,” Leon selalu merasa benar.


“Tetapi masalahnya saya tidak tenggelam Pak Leon, saya hanya memasukkannya ke dalam bak mandi. Kalau salah. Apa salahnya meminta maaf.”Jovita menatapnya tegas.


Laki-laki itu langsung diam.


“Tidak,” Leon membelakanginya  sibuk menatap layar ponsel.


“Baiklah Bos selalu benar ... Hal konyol itu sudah lama saya dengar. Baiklah Pak Leon, saya meminta maaf karena menyebabkan pinggang Bapak sakit.” Jovita  meninggalkan Leon dan ia kembali ke kamarnya.


Menyadarkan kepalanya di dinding.


” Kenapa susah sekali menaklukkan hati lelaki ini. Kenapa hatinya  begitu sangat keras, aku pikir setelah banyak masalah yang sudah kami lalui  dia akan berubah. Tapi apa ini  ….? Dia semakin  kaku dan keras kepala. Aku lelah aku capek Ibu” Jovita duduk si kamar


Jovita duduk selonjoran di lantai kamarnya.


Bersambung ...


jANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2