Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Arti Sebuah Mimpi


__ADS_3

Leon masih di Ancol   bersama Hara, Hara sudah merasa sedikit membaik, Leon bekerja keras dan bersikap sangat hati-hati  bicara agar bisa  mengembalikan kepercayaan Hara. Ia mengikuti apa yang dikatakan Piter dan Bu Ina.


Leon tidak tahu kalau ayah Hara  suka membawa Hara  jalan-jalan santai di tepi pantai,  permintaannya  tidak  terlalu berlebihan sebenarnya, hanya jalan santai  di pasir di tepi pantai.


Tetapi untuk Leon ,  hal seperti itu belum pernah di lakukan, dan ini pertama kalinya ia melakukannya dan itu, ia lakukan demi Hara istrinya.


“Apa yang kamu suka dari pantai, perasaan tidak ada yang menarik  di lihat dari sini hanya air laut dan pasir?,” ujar Leon. Ia  menempatkan tangan istrinya di lengannya, karena begitulah ayahnya Hara memperlakukan putri kesayangannya, Piter mengajarinya, lalu Leon menunduk dan memungut kulit kerang. Benar saja, sebuah senyuman kecil  muncul di bibirnya.


‘Awal yang manis’ ujar Leon dalam hati.


“Ketenangan, aku dan ayah  kalau lagi pusing  di rumah banyak pekerjaan. Lalu adek kembarku berulah … kami  akan kabur  berdua ke sini. Lalu kami melakukan yoga relaksasi tempatnya di hotel yang aku tempati tadi,” ujar Hara bibirnya mulai tersenyum.


“Apa adik kembarmu nakal?” Tanya Leon.


“Nakal sih tidak …. hanya iseng  bangat, suka jahil aku sama ibu,” ujar Hara tertawa .


Leon mendengar cerita Hara ternyata mudah memulihkan suasana hati istrinya,  hanya di dengar semua keluh kesahnya suasana  hatinya langsung baik, semua kemarahannya pulih.


‘Istriku permintaannya sebenarnya tidak neko-neko, hanya keluh kesahnya di dengar ia sudah tidak marah lagi, aku yang kurang peka’ Leon membatin. Lalu apa yang membuat suasana hatinya  mudah berubah-ubah kayak bunglon, apa ada lelaki lain yang meneleponnya’ Rasa cemburu.


‘”Hara ….”


“Iya.”


“Coba berikan ponselmu.”


“Untuk apa?”


“Aku mau cek apa ada yang  kirim pesan padamu.”


“Dasar tukang cemburu.” Hara memberikan ponsel miliknya. Leon tersenyum tidak ada yang mengirim pesan dan menelepon selain dirinya karena dalam kontak panggilan Hara hanya  keluarga dan  nomornya.


“Di bibirmu ada kotoran,” ujar Leon.


“Hara mengusap dengan jari-jari. “Sini biar aku bersihkan.” Leon mendaratkan bibirnya di bibir mungil istrinya.


“Leon ….! Di sini banyak orang.” Jovita Hara protes.


“Aku hanya mencium istriku, apa salahnya?”


“Benar kamu tidak malu?” Tanya Hara balik menantang.


“Iya.” Leon  mengulum senyum.


“Benar iya?” Hara mengalungkan   lengannya di leher suaminya dan menarik lehernya kebawah,  lalu mendaratkan  bibir di bibir sang  suami , di pinggir pantai.


“Hara ada wartawan,” ujar Leon bercanda Hara melepaskan buru-buru lalu bersembunyi di belakang Leon.


Tidak diduga karena lelucuan kecil itu Leon tertawa lepas.


“Hara, sepertinya kita harus sering-sering liburan,” ujar Leon masih tersenyum.

__ADS_1


“Bodoh! Kamu pasti meledekku,” ujar Hara.


“Tidak sayang, setelah aku pikir-pikir ternyata liburan itu menyenangkan.”


“Memangnya dari dulu kamu tidak pernah  liburan apa?” Hara melirik Leon.


“Tidak pernah, aku liburan  hanya bersama kamu saja Hara.”


“Benarkah selama ini kemana?” Tanya Hara lagi.


“Di Hutan jadi Tarzan .” Kini Hara  yang tertawa terbahak-bahak.


Kemarahan Hara akhirnya hilang, apa dikatakan Bu Ina benar kalau Hara mudah memaafkan dan melupakan kesalahan seseorang.


“Kita makan lagi, berjalan terus membuatku cepat lapar, aku pesan sayur asam kayaknya enak,” ujar Leon.


“Memang kamu suka sayur asam?’ Tanya Hara menatap serius ke wajah suaminya.


“Pingin saja hari ini, ingin makan yang segar-segar,” ujar Leon  duduk di sebuah restoran di pinggir pantai.


Leon menatap wajah istrinya yang  kembali pulih, tidak ada lagi tatapan canggung.


Saat mereka mau balik ke hotel, asisten rumah tangga menelepon Hara kalau Bu Atin di bawa ke rumah sakit.


“Ada apa?” Tanya Leon saat Hara panik.


“Ibu  masuk rumah sakit,  jatuh di kamar mandi’


“Tidak ada alasan Hara untuk menolak lagi.”


Leon dan Hara  keluar dari hotel   langsung menuju  rumah sakit di mana Bu Atin di rawat , untung saja ada pak Maman yang membawanya ke rumah sakit. Saat Leon meliburkan semua anak buahnya Ibunya tiba-tiba sakit.


                           *


   Mereka berdua tiba di rumah sakit


Bu Atin mendapat mengalami penyakit pengeroposan tulang  di bagian lutut kaki, wanita itu sudah lama mengalami rasa sakit itu,  tetapi baru kali ini  lebih parah.


Hara duduk ia sangat khawatir karena bu Atin masih tertidur setelah di beri minum obat.


“Percayalah ibu tidak apa-apa dia akan cepat pulih, sudah ditangani dokter-dokter hebat di bidangnya, kamu pulang saja istirahat,  biar aku saja yang menjaga” Leon menghawatirkan Hara  melihat wajahnya yang kurang sehat.


“Tidak apa-apa aku kuat, tapi apa ibu masih bisa jalan?” Hara melihat wanita itu dengan tatapan khawatir.


“Team dokter akan mengambil tindakan malam ini, kata Billy mereka akan mengikis  tulangnya yang keropos dan mendempulnya kembali, aku yakin ibu wanita yang kuat percayalah,  jangan khawatir” Leon menyakinkan Hara.


Saat larut malam tiba, karena ia tidak mau pulang jadi mereka berdua  yang berjaga. Namun saat malam Hara mengalami mimpi buruk satu sisi dan mimpi bahagia satu sisi lagi. Dalam mimpinya Hara hanya diam dan melamun, pikirannya melayang jauh memikirkan sebuah kematian. Tiba-tida dalam mimpi  tersebut.


Hara melihat  mahluk yang menyeramkan dengan rambut panjang terurai kelantai menuju kamar bu Atin, ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya  bisa menatapnya. Dengan tatapan mata melotot, tak sanggup mengerakkan anggota  tubuhnya karena takut.


Wanita itu yang menyeramkan itu  mendekati ranjang Bu Atin dan mengendus-endus tubuh bu atin yang sedang tertidur lemah itu.

__ADS_1


Jari-jari wanita itu ia arahkan ke wajahnya,  kuku panjang  berwarna hitam itu menyapu wajah bu Atin, lalu  tangan itu  berakhir di leher,  seakan-akan  ingin mencekik.


Matanya melotot panik menatap kearah pemandangan yang menyeramkan itu. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak.  Tetapi saat wanita itu  ingin mencekiknya, tiba-tiba seorang wanita muda yang tidak asing baginya muncul, wanita bertubuh ramping datang mendekat dan mengusir mahluk jelek yang mengganggu bu Atin,  ia juga mengusir semua mahluk menyeramkan dalam ruangan itu.


“Biarkan wanita itu istirahat,  dia belum mau pergi masih banyak tangung jawab di sini” ucap wanita  berpakaian putih bercahaya itu.


Lalu ia menatap  belakang,  menatap kearah Hara, lalu tersenyum pada Hara,


“Ibu  …  ibu…” Hara menangis sesenggukan dan memanggil nama ibunya, ini pertama kalinya ia  bermimpi pada ibunya setelah kepergian mereka. Rasa rindu Hara terasa terobati.


“Hara! Hara ….  ada apa sayang?” Leon menepuk pipinya dan membangunkan Hara yang tertidur.


Matanya terbuka dengan mata  berlinang air dan sesenggukan,  semakin menangis menatap Leon dengan mata ketakutan,  ia menarik leher dan memeluk Leon dengan erat.


“Ada apa sayang,  apa kamu memimpikan ibumu?” tanya Leon mengusap-usap punggung Hara.


“Iya aku mimpi ibu datang ke sini, tadi mimpiku menakutkan karena ada sosok wanita yang menyeramkan, mendekati Ibu. Lalu ibuku mengusir mereka. Aku melihat Ibuku Leon  …. Ini pertama kalinya setelah mereka pergi, kenapa mereka tiba-tiba datang ke mimpiku Leon apa yang terjadi. Ibuku tersenyum padaku wajahnya terlihat bahagia, Kenapa dia hanya sebentar …. aku merindukannya.” Hara kembali menangis dan kali ini susah didiamkan. Leon sangat sabar menghadapi sikap Hara kali ini.


“Sayang mungkin dia hanya rindu padamu,” ujar Leon memeluknya erat.


“Lalu kenapa dia tidak menyapaku, apa dia ibuku marah padaku?”


“Sayang dalam adat kami, jika didatangi orang yang meninggal dalam mimpi , jika dia tersenyum berarti dia sedang bahagia.”


Leon memangku kepalanya  mengusap kepalanya dengan lembut tetapi kali ini air matanya tidak berhenti mengalir, durasi menangisinya, kali ini lebih panjang.


‘Apa yang terjadi pada Hara, apa dia sakit? Kenapa gampang bangat  menangis. Nanti kalau aku ajak minta periksa ke dokter pasti tersinggung . Apa yang harus aku lakukan?’


Kesabaran Leon di uji menghadapi sikap Hara saat itu.


 Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2