
Kemarahan Leon
Hai.. hai ada yang kangen gak sama babang ganteng ini ... mereka sudah hadir kembali loh
ayo ikuti cerita seru mereka
spoiler bab 7 Tawanan Bos Mafia2
Dunia para gangster dan mafia penghianatan dikhianati dan dijadikan kambing hitam sudah hal biasa, Kesetiaan dan kejujuran satu hal yang mahal. Tapi sangat berbeda dengan Bos Leon, saat anak buahnya sudah menikah dan punya kehidupan masing-masing walau rumah tangga anak buahnya tidak ada yang bisa bertahan seperti dirinya. Namun mereka sangat setia karena Leon menganggap mereka seperti keluarga.
Anak buah Dave yang diperintahkan untuk membawa Chelia pulang ternyata ingin membawa mereka berdua ke seorang bos penjahat yang kekuasaanya jauh lebih besar dari Dave. Luna membawa Chelia melarikan diri dari anak buah Dave, terus berlari keatas bukit, tepat saat di perkebunan teh itu satu tembakan mengenai pundak Chelia ia terjatuh di tanah.
“Pergilah, katakan pada ayahku,” ujar Chelia.
“Tidak, kita berdua harus selamat bertahanlah sedikit.” Luna menggendong Chelia dipundaknya dan merangkak di antara rimbunan teh, ia melepaskan seragam perawat miliknya agar warna putih it tidak mengundang perhatian keempat penjahat itu.
Karena hari sudah gelap para penjahat itu tidak bisa leluasa melihat mereka kemana mereka pergi, Luna membawa Chelia ke belakang sebuah batu keluar dari rimbunan teh yang luas itu.
“Sial kita kehilangan mereka, kita berdua akan mati jika wanita itu masih hidup,” ujar berkepala botak.
“Sisir semua tempat,” pintahya ke ketiga rekannya lagi.
“Kita kekurangan penerangan, tidak bisa melihat dengan jelas.”
“Kita kembali lagi membawa peralatan dan bantuan.”
Tubuh Chelia sudah lemah karena kehilangan banyak darah, saat mereka turun, Luna menggendong ke jalan beruntung seorang pengendara motor lewat dan mau menolong keduanya.
“Kita harus menyelamatkan dia Pak sebelum kehabisan darah,” ujar Luna, ia tidak sadar kalau ia melepaskan pakaian nya hanya mengenakan pengaman dada dan kain segitiga.
“Ya, baiklah tapi … mbaknya pakai ini saja,” ujar si bapak dengan iba ia menyodorkan jaket di tubuhnya untuk menutup tubuh Luna yang yang setengah naked itu, lelaki itu berpikir kalau mereka habis dirampok.
“Baik Pak.” terpaksa mereka bonceng tiga.
Tapi Luna takut kalau penjahat itu menunggu mereka di bawah, kalau mereka dibawa sekali dua.
__ADS_1
“Pak saya takut para penjahat itu melihat kami di bawah kalau kita bonceng tiga, jadi begini saja , Aku akan menunggu di sini, bapak antar dia dulu baru jemput saya.”
“Bapak tidak tega meninggalkan kamu sendirian di sini malam-malam Neng, begi saja, bapak tidak akan membawa dari jalan raya, saya akan membawa dari jalanan setapak, tapi jalan nya agak rusak tapi kita akan lebih cepat sampai.”
“Baik Pak begitu saja, kasihan teman saya.” Luna memapah tubuh Cheli di melapak si bapak lalu ia duduk di belakang menahan luka di belakang Chelia.
Bapak yang baik hati itu melajukan kendaraan roda dua itu menyusuri jalanan setapak dengan resiko jalanan gelap, tetapi jalanan itu lebih cepat. Kira-kira lima menit mereka tiba di sebuah klinik. Luna menggendong Chelia ke ruangan dokter, tapi sayang dokter tidak ada. Tidak ingin Chelia mati kehabisan darah terpaksa ia mengaku seorang dokter menunjukkan kartu dokter milik Chelia, dengan begitu perawat yang berjaga memperbolehkannya memasuki ruangan khusus operasi. Beruntung Luna perawat yang biasa membantu dokter bedah jadi ia sudah tahu bagaimana melakukan tindakan yang tepat untuk menangani Chelia.
Saat sedang melepaskan celana jeans Chelia ia menemukan satu ponsel kecil model lipat yang bentuknya seperti bedak di saku celana Chelia.
“Oh, syukurlah dia punya ponsel cadangan.”
“Sus bisa tolong cas ponsel ini, sepertinya ini kehabisan daya, Saya mau pakai untuk menelepon,” ujar Luna.
“Perawat yang bertugas jaga itu masih menatap Luna dengan curiga, karena pakaian yang digunakan Luna hanya jaket usang milik si bapak yang menolong mereka tadi.
“Jangan khawatir Mbak, kami bukan orang jahat, profesi kita sama, saya minta tolong untuk menyelamatkan teman saya,” ujar Luna memohon.
Saat Luna bekerja keras menyelamatkan dr. Chelia ternyata wanita itu diam-diam ingin menelepon polisi, Luna geram ia mengangkat pisau bedah itu dan mengarahkan ke leher sang perawat.
“Aku minta maaf Aku hanya takut, sekarang kamu diam disini sampai saya menyelesaikan ini.” Wanita berambut ikal itu meminta perawat itu untuk duduk diam di kursi, sementara Luna akhirnya bisa mengeluarkan peluru itu dari pundak Chelia, nyawa wanita cantik itu akhirnya selamat.
Lalu ia menelepon Leon dari ponsel Chelia.
**
Di sisi lain Leon sudah terbang menuju Villa Dave, lelaki itu kaget saat melihat anak buahnya yang sedang berjaga dilumpuhkan.
“Bos, cepat keluar Leon dan anak buahnya menyerang kita.”
“Apa yang terjadi? bukankah kedua wanita itu sudah dikembalikan?” tanya Dave panik, ia baru saja keluar dari kamar mandi berniat mengajak Naira untuk bicara menyelesaikan urusan mereka di masa lalu.
“Bos sepertinya ada masalah, kedua wanita belum pulang, saya menelepon si Botak tapi tidak diangkat, ada laporan mereka menuju ke puncak.”
“Apa?” wajah lelaki itu menegang.
“Mereka mengatakan mendengar suara tembakan.”
__ADS_1
“Sial, dasar keparat, sepertinya mereka ingin menjebakku.”
“Siapkan kapal motor kita akan kabur dari pintu belakang.”
“Baik Bos.”Kedua bodyguard berbadan tinggi besar itu berlari ke ruang rahasia ruang bawah tanah menuju belakang.
“Kamu harus ikut dengan saya.” Ia menyeret tangan Naira yang masih terikat dibelakang dan mulut ditutup dengan lakban.
“Mereka kabur menggunakan kapal dari belakang Bos,” ujar Zidan yang melihat dari teropong senapan.
“Apa kamu bisa melumpuhkannya?”
“Mereka menggunakan seorang gadis jadi sandera, sepertinya gadis itu Naira,” ujar Zidan
Saat sedang mengobrak-obrak dan melumpuhkan semua anak buah Dave, ponsel Leon berdering.
“Chelia …? Halo Ce.” Wajah Leon menegang saat orang lain yang menelepon.
“Pak Chelia dan saya ada di rumah sakit, tolong selamatkan kami … mereka ingin membunuh kami,” ujar Luna dengan suara terbata-bata karena ketakutan ia mendengar suara mobil berhenti di depan klinik.
“Kalian dimana katakan pelan-pelan jangan menangis, katakan dimana Chelia,” ujar Leon dengan suara tegas.
“Chelia terluka, mereka menembaknya.” Tangan Leon mengepal kuat, wajahnya menghitam.
“Keparat siapapun yang berani menyentuh putriku akan mati!” teriak Leon dengan murka suara erangan kemarahannya bagai suara erangan singa jantan yang siap menerkam mangsa. Luna sampai bergelidik mendengar suara kemarahan Leon.
Setelah memberikan alamatnya ia mengintip keluar ternyata penjahat itu sudah menodongkan pistol pada sang perawat memaksa mengaku Luna, tidak ingin mereka berdua tertangkap jadi ia mencabut infus dari tangan Chelia dan membawa ke kursi roda mendorongnya keluar.
“Behenti!” Malang sekali, penjahat itu melihat Luna ingin melarikan diri, ia melajukan mobilnya tanpa perasaan kasihan ia ingin menabrak. Karena panik luna mendorong ke samping dan mereka berdua terjatuh ke tebing, kepala Chelia terbentur batu Luna juga juga terluka parah, saat mereka ingin mengejar ke tebing dua buah helikopter terbang tepat diatas kepala mereka.
“Leon dan anak buahnya.” Mereka kabur.
“Lumpuhkan mereka Zidan.”
Dor! Dor!
Bersambung
__ADS_1