
Setelah Leon memberinya stempel kebebasan bahkan, membantunya untuk terbang ke Amerika.
Jovita akhirnya meyakinkan dirinya akan pergi jauh dan meninggalkan Indonesia.
Semua tiket dan pakaian sudah ia rapikan, tetapi sebelumnya, ia akan ziarah ke makam keluarganya terlebih dulu. Jovita keluar menarik sebuah koper kecil dan tas ransel di punggungnya, semua anak buah Leon berdiri melihat Jovita pergi.
Rikko dan tiga orang bawahan Leon akan mengawalnya sampai ke bandara.
“Mari Non.” Rikko membuka pintu mobil.
Leon menatapnya dari jendela kamarnya, ia hanya bisa melihat Jovita membawa koper miliknya.
‘Selamat jalan, temukan kebahagiaanmu di tempat yang aman, mungkin kita tidak akan bertemu lagi’ ujar Leon dalam hatinya.
Jovita menatap keatas, berharap Leon menemuinya dan bicara padanya untuk terakhir kali. Tetapi Leon tidak mau melakukannya, ia takut tidak bisa menahan diri di hadapan Jovita ia takut jadi lemah.
Leon meninggalkan jendela, ia tidak mau melihat Jovita pergi . Tidak lama kemudian Bu Atin datang.
“Pak Leon jangan biarkan Non Hara pergi,” ujarnya memohon.
“Bi, sudahlah, biarkan dia pergi agar dia bahagia”
“Pak Leon, kamu akan menyesalinya nanti .…”
“Bibi sudahlah, Bibi boleh keluar?”
“Pak Leon Di-”
“Bibi kepalaku juga hampir meledak,” potong Leon marah.
Wanita paru baya itu turun dari kamar Leon, ia berlari kecil kearah mobil Jovita, beberapa hari ini ia memang tidak mau menemuinya, ia kecewa ia tidak ingin Jovita pergi.
“Non Hara!”
“Bibi ….?”
“Non maafkan Bibi.” Wanita itu memeluknya dengan tangisan, aku kirain bibi marah padaku makanya tidak mau menemui ku beberapa hari ini”
“Jangan pergi Non tetaplah tinggal di sini”
“Bibi maafkan aku, tetapi Pak Leon tidak ingin aku tinggal”
__ADS_1
“Non dia han-”
“Bibi mungkin suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi,” potongnya cepat dan bergegas pergi, sebelum wanita itu terus menangis.
Sebelum jovita masuk mobil Leon kembali menatap ke bawah.
Tetapi tidak lagi untuk Jovita, ia tidak melihat keatas lagi, ia hanya tersenyum kecil menghela napas panjang, lalu, masuk ke dalam mobil. Mobil berwarna hitam itu berjalan pelan lalu meninggalkan rumah Leon. Jovita di jaga Rikko dan dua orang bawahan Leon.
Tidak lama kemudian Leon keluar, ia menyetir sendirian.
“Bos mau kemana?”
“Saya ingin keluar biar saya setir sendiri tidak usah ikut”
Iwan Zidan dan Ken yang baru tiba dari Kalimantan, mereka bertiga langsung bergegas, masuk ke dalam mobil dan mengikuti Leon dengan diam-diam.
“Bos mau kemana?” Iwan mengarahkan matanya ke arah mobil Leon yang melaju cepat di jalan tol.
“Kenapa cinta mereka sangat rumit, semut juga tahu, kalau mereka berdua saling mencintai. Lalu apa susahnya ‘Jovita Hara aku mencintaimu tetaplah tinggal bersamaku’ . Apa susahnya, coba, bilang begitu doang. Bos payah,” ujar Ken yang ikut greget melihat sikap keras Leon.
“Tidak semudah itu Bro. Bos Naga orang yang punya komitmen dia sangat mencintai Non Hara, kita tahu itu, bahkan sangat besar, terlihat dari cara dia cemburu, cara dia memperlakukan Non Hara. Namun, dia punya beban atas kesalahan yang dia lakukan, bos juga tahu tidak tahu bagaimana mengucapkan perasaanya, dia lemah pada wanita yang dia cintai” Bela Zidan.
“Apa bos ingin mencari ketenangan ke Villa di Bogor? Mungkin dia ingin suasana sepi untuk menenangkan pikiran .” Iwan mengarahkan matanya ke arah depan mengikuti laju mobil Leon.
“Kalau sama-sama mau ke Bogor kenapa tidak sama-sama saja tadi,” ujar Ken lagi, ia menggeleng melihat Leon.
Leon mengarahkan mobilnya ke arah Sentul dan berhenti di sebuah bukit yang di penuhi pohon pinus. Mobil Iwan berhenti agak jauh mengarahkan teropong ke arah Leon.
Tiba-tiba wajah Zidan ikut terlihat sedih.
“Ada apa?” Iwan merebut teropong dari tangannya.
“Bos yang menangis aku yang merasa sesak, ini pertama kalinya aku melihatnya dia hancur ini,” ujar Ken.
Leon membawa mobilnya ke tempat sepi, lalu ia menangis di sana.
Ia berdiri di depan mobil, melipat tangan di dada dan menyadarkan tubuhnya di depan mobil, beberapa kali tangannya mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata. Ternyata lelaki berwajah tegas itu, bisa menangis juga. Ia meraih batang berduri menggenggamnya dengan kuat, membiarkan telapak tangannya terluka dan berdarah.
“Apa sesakit itu mencintai seseorang dengan tulus? Jika memang cinta sesakit itu, aku memilih tidak usah jatuh cinta,” ujar Iwan.
“Itu karena loe Playboy cap kampak, belum menemukan wanita yang tepat,” timpal Ken.
__ADS_1
Leon memilih menahan perasaan dan luka dalam hatinya dari pada mengucapkan kata cinta pada Jovita, ia berpikir tidak ada yang tahu kalau ia menangis, ia tidak menyadari kalau anak buahnya selalu menjaganya. Leon selalu berpikir kalau tidak ada orang lain yang perduli padanya, ia semakin tidak percaya pada orang lain. Leon tidak sadar ,kalau kelima anak buahnya dan Bu atin selalu peduli padanya.
Setelah wanita cantik itu, meninggalkannya, ia berpikir kalau ia akan hidup sendirian dan takut membuka hati pada orang lain lagi. Apalagi dengan adanya penghianatan Bokoy, mereka semua sangat khawatir dengan keadaan Leon ke depannya nanti.
“Aku berharap Non Hara batal pergi keluarga negeri,”ujar Kenzo lagi.
Sudah hampir tiga puluh menit mereka bertiga diam dalam mobil, menunggu Leon yang masih berdiri dalam kesendiriannya.
Sementara di tempat lain, Jovita menuju pemakaman keluarganya.
“Non kami tunggu di sini saja iya,” ujar Riko
“Baik Kak.” Ia berjalan menuju empat makam. Hatinya kian bergejolak, tetapi ia diam saat ia tiba di empat gundukan tanah yang ada taburan bunga yang baru di taburkan sepertinya baru beberapa hari.
“Siapa yang datang ziarah ke makam mereka. Aku tidak punya keluarga,” ujar Jovita melihat kuburan itu sangat bersih. Ia menatap Rikko dan kedua orang yang mengawalnya. Ia baru ingat tadi sepanjang jalan mereka bertiga tidak ada yang bertanya alamat pemakaman keluarganya. Mereka bertiga yang berdiri di sisi mobil mengalihkan wajah mereka ke tempat lain, saat Jovita melihat ke arah mereka bertiga.
“Apa si Ular Naga itu sudah ke sini Ziarah? Dia lelaki yang menepati janji,” ujar Jovita.
Saat jovita meminta Leon meminta maaf di kuburan ayahnya, lelaki itu melakukannya, ia datang dengan
Rikko dan tiga anak buahnya beberapa hari lalu, bukan hanya itu Leon bahkan membersihkan rumput-rumput di area pemakaman, makanya saat membawa Jovita tadi anak buahnya yang menyetir, tidak bertanya pada Jovita di mana tempat pemakaman keluarganya, karena Leon dan mereka sudah terlebih dulu datang ziarah dan minta maaf di makam keluarga Jovita seperti yang ia minta, saat ia sedang berjongkok.
Tiba- tiba Rikko dan dua rekannya bersikap waspada melihat kearah pepohonan.
'Apa ada orang yang mengikuti kami?' Jovita melihat kearah Rikko.
Bersambung …
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI UP SELAMA TUJUH HARI. BANTU KOMENTAR, LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA, PADA KAKAK
@ Syalala @Nurtati @Ida cyank dan kakak lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu.
Maaf bila tidak bisa balas komentarnya satu-satu, tetapi saya selalu membaca komenter dari kakak semua.
Jangan lupa baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)