
☝️☝️☝️☝️☝️Jangan lupa mampir ke Karya baru juga iya kakak. Bantu dukungan untuk karya baru netas Ini.
Tolong kasih like dan Komentar. Terimakasih.
**
Setelah melakukan lamaran, tidak perlu menunggu lama, atas dukungan semua keluarga mendukung Piter untuk mempercepat pernikahan.
“Kalau sudah lamaran seperti ini, aku pikir lebih baik langsung pernikahan saja Om.” ujar Hara.
“Bibi, juga setuju Non,” ujar Bi Ina.
“Bagaimana Om?” Tanya Hara menatap piter.
“Tapi Om belum mempersiapkan ….”
“Jangan khawatir Om …. Leon dan aku akan mengurus semuanya,” ujar Hara.
“Iya saya setuju,” balas Leon.
Hilda yatim piatu, sama halnya dengan Leon dan Hara.
“Jangan buru-buru, bicarakan dulu sama keluarga Hilda, setuju apa tidak,” ujar Bu Atin, wanita paruh baya itu tidak tahu kalau Hilda tidak punya orang tua.
Hilda langsung diam, rasa sedih menyelimutinya wajahnya.
“Ibu, Hilda tidak punya keluarga lagi,” ucap Leon.
“Oh, benarkah, maafkan ibu Nak,” ucap Bu Atin merasa bersalah, ia mendekat dan mengusap tangan Hilda, mendapat sentuhan dan belain seorang ibu akhirnya bendungan yang tertahan di matanya tumpah juga mengalir deras bagai anak sungai yang menyusuri pipi tirusnya.
Ia terisak menumpahkan perasaanya, bu Atin memeluknya dengan hangat. “ Aku siap jadi ibumu Nak.”
“Baiklah, Ibu , Hara dan Bibi tolong bantu Hilda, kita akan mempersiapkan sebuah pernikahan semakin cepat semakin baik,” ucap Leon
Piter tidak bisa berkutik lagi, padahal niatnya hanya ingin melamar Hilda, kalau untuk menikahi dengan waktu singkat belum ada rencana, ia tadinya akan membicarakannya dulu dengan Hilda, Bi Ina dan Viky acara pernikahannya.
Namun, Leon sudah mengikatnya tidak memberinya waktu untuk berpikir.
‘Apa ini? aku belum memikirkan untuk menikahinya secepat ini’ Piter menatap Viky, lelaki itu hanya mengedikkan pundaknya, tanda tidak tahu.
*
Beberapa hari setelah lamaran Leon menempati janjinya, ia mempersiapkan sebuah pernikahan untuk Hilda, ia sudah menganggap wanita itu sebagai adek perempuannya, orang yang selalu ada setiap kali ia butuhkan, baik masalah pekerjaan maupun masalah pribadinya. Terlebih untuk Piter Leon orang yang paling berjas merawat Hara selama ini.
Karena itulah Leon sangat mendukung pernikahan Piter, hari itu ia mengumpulkan semua anak buahnya.
“Akan ada pernikahan untuk Piter tetapi penjagaan jangan sampai lalai, tetap waspada,” ujar Leon.
“Baik Bos,” jawab anak buah Leon serempak.
Saat Zidan dan Ken berjalan ke arah gerbang .
“Piter sudah menikah dengan orang yang ia cintai, kamu kapan sama Clara?”
__ADS_1
“Ngapain ungkit dia lagi sih? sebentar lagi dia akan menikah,” ujar Zidan kesal.
“Kamu belum mencoba, tetapi udah menyerah duluan. Lihat Bos Leon bagaimana dia memperjuangkan Hara,” ujar Ken.
Ken tahu Zidan mencintai Clara, tetapi ia terlalu gengsi mengakui atau ia tidak punya keberanian untuk bicara. Ken hanya ingin sahabatnya bertidak makannya ia selalu meledek Zidan.
“Aku tidak bisa,” ujar Zidan meninggalkan Ken .
“Kamu lelaki yang payah, Bos daja bisa berubah karena cinta, masa kamu tidak?” ujar Ken, ia masih berdiri melihat Ken yang berjalan menjauh.
Ia tahu Hilda tidak memiliki keluarga. Karena itu, ia memposisikan dirinya sebagai seorang kakak laki-laki untuk Hilda.
Ia memilih hotelnya untuk pernikahan untuk Hilda, tentu saja setelah ia membersihkan orang –orang bermulut jahat dari perusahaan atas perintah Leon, Hilda memecat empat orang terkait kejadian kerusuhan yang terjadi di hotelnya.
Tidak cukup sampai di situ. Hilda juga membuat peraturan baru barang siapa yang kedapatan menyebarkan provokasi baik secara lisan maupun lewat mulut ke mulut ia akan memenjarakan.
“Ini wadah atau tempat kalian mendapatkan rezeki, jika kalian mengotori tempat kalian mencari uang, aku yakin upah yang kalian peroleh tidak ada berkah,” ucap Hilda ber api-api,
Semua pegawai hotel yang di beri pengarahan, Hilda juga memberi peringatan
“Baik Bu, sahut mereka serentak
Hilda membuat peraturan yang ketat untuk memperbaiki kinerja para karyawan, menjanjikan berbagai bonus dan hadiah untuk mereka yang kinerja bagus.,
Hanya butuh satu minggu untuk Leon untuk mempersiapkan sebuah pernikahan untuk Hilda. Merasa sudah sebuah keluarga Leon Hara dan Bu Atin yang lebih banyak mempersiapkan pernikahan itu, tidak punya sanak keluarga tentu tidak menyenangkan.
Namun, berkat Leon yang mengundang semua rekan bisnis tentunya menjadi pesta yang meriah di hadiri beberapa pejabat dan artis.
Akhirnya sebuah pernikahan mewah seperti yang di impikan Hilda, akhirnya terkabul juga. Leon tidak sembarangan menjadikan orang lain jadi anak buahnya baik jadi keluarganya, ia melihat, selama ini kinerja Hilda sangat bangus, apalagi saat melindungi nama baiknya.
“Sama-sama, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk saya selama ini, jadi saya juga memberikan yang terbaik untuk kamu juga,” balas Leon.
Leon terlihat gagah memakai setelan jas berwarna biru muda, ia mengobrol hangat dengan beberapa tamu penting.
Hara dan Bu Atin terlihat sibuk juga, karena terlalu sibuk menyapa tamu Hara melewatkan acara makan.
“Kamu sudah makan?” tanya Leon menatap Hara dan Ibunya bergantian.
“Aku belum, aku sampai lupa,” ucap Hara memegang perutnya.
“Kamu ingin pingsan di acara ini? Tanya Leon berbisik ke kuping Hara, wajahnya terlihat tegas
“Tidak, aku hanya tidak ingin kurang apapun di acara pernikahan om Piter.”
“Dengar Hara … kamu lupa , hotel ini yang terbaik? Semua sudah di sesuaikan dengan standar undangan jadi tidak ada istilah kurang .” Leon menatap dengan wajah tegas.
“Baiklah, sebentar lagi.”
“Hara, jika kamu sakit lagi, aku juga akan akan merasa sakit, apa kamu paham itu?”
“Baiklah, aku akan makan, melihat wajah Leon yang kesal, Hara makan, Leon menemaninya makan, namun matanya mengawasi sekeliling.
“Jangan melihatku seperti itu Hara. cepat habiskan"
“Baiklah. Kamu masih marah walau aku sudah makan?” Tanya Hara
__ADS_1
“Aku tidak marah, hanya mengingatkan agar tidak sakit,” ujar Leon
“Terimakasih karena mengurus pernikahan om piter, bagiku dia adalah seorang ayah, karena sudah menjagaku selama ini.”
“Salah satu alasanku membiayai semua pernikahannya, iya… karena ia sudah menjagamu selama ini” ucap Leon tetapi matanya tidak berhenti mengawasi ke segala sudut dalam ruangan itu.
Tetapi saat Hara duduk makan, ternyata Clara datang, kali ini juga ia datang sendiri.
Lalu Hara menatap Leon.
"Sayang ...."
"Hmmm"
"Ayo kita jadi comjomlangi .... ayo kita bantu Kak Zidan sama Clara
Leon melirik Clara.
" Aku bukan tipe orang yang suka urusin urusan percintaan orang lain, cintaku saja belum bisa aku urus dengan baik, "ujar Leon tidak berminat untuk jadi jembatan antara Clara dan Zidan.
" Baiklah aku akan membantu Kak Zidan, "ujar Hara.
Zidan beberapa kali terlihat mencuri- curi pandang melihat ke Clara.
" Baik kak Zidan aku akan membantu untuk kalian bersatu kembali. Agar ada pernikahan lagi, "ujar Hara sembari tersenyum.
Leon hanya menggeleng pelan melihat sang istri yang selalu ikut campur dalam urusan percintaan anak buahnya.
Bersambung ….
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing