
Hara hanya satu malam di rumah sakit, besok harinya ia sudah pulang kembali ke rumah.
Apa yang dipikirkan Hara benar, Leon sudah mulai bekerja kembali hari itu juga.
“Jangan sedih, nanti kita liburan lagi, istirahat saja di rumah, jangan pikirkan apa-apa, iya,” ujar Leon saat Hara menatapnya dengan tatapan sedih.
“Baiklah, aku hanya khawatir kamu tidak capek? baru pulang langsung kerja.”
“Tidak, nanti aku akan makan malam di rumah, aku usahakan cepat pulang ke rumah,” ujar Leon berusaha menghibur Hara.
“Baiklah.” Hara memaksakan senyum.
Leon berangkat ke kantor.
Tinggallah Hara di dalam kamar sendirian, entah kenapa ia sangat merindukan liburan mereka, ia merasa sangat bahagia saat liburan, Ia bisa bersama suaminya duapuluh empat jam, menjelajahi tempat yang pernah didatangi sang ibu. Selama di liburan, ia merasa ibunya ada bersamanya mereka . Tetapi saat kembali ke Jakarta rasa ingin memiliki anak datang lagi dalam hati.
Ia meraih ponselnya menelepon Bi Ina.
“Hara, bagaimana kabarmu Non, pamanmu bilang kamu sakit. Apa Bibi boleh datang ke rumahmu?”Tanya Bu Ina di ujung telepon.
“Bibi mau?”
“Tentu saja Non, Bibi juga kangen sama kamu.”
“Baik BI datanglah."
“Kamu mau makan apa? Biar bibi masak”
“Tidak usah Bi, tidak enak sama Ibu mertuaku, Bibi datang ke sini saja aku sudah senang.”
“Baiklah Bibi datang, iya?”
Hara sangat bersemangat saat Bi Ina datang.
*
Satu jam kemudian wanita yang sudah beruban itu datang. Hara duduk di teras sama Bu Atin.
“Nak kamu sehat?” Bu Ina memeluk erat tubuh Hara.
“Sehat, Bi.”
“Bagaimana apa perjalanannya menyenangkan ?”
“Sangat memuaskan Bi, aku mengajak Bibi sih tidak mau,” ujar Hara.
“Bibi sudah tua, kita yang tua ini tidak kuat perjalanan jauh, benarkan Bu? "Bi Ina melirik Bu Atin.
“Benar kita mah di rumah- rumah saja,” balas Bu Atin.
“Bagaimana Tante Hilda?”
“Ah …. jangan tanya, ngidamnya parah pamanmu Piter dibuat repot tiap hari, minta ini , minta itu, manjanya minta ampun,’ ujarnya tertawa.
Hara langsung terdiam, hanya tersenyum dengan terpaksa.
“Tante Hilda sangat beruntung,” ujar Hara pelan.
Kedua wanita itu saling melihat, mereka tidak membahas tentang Hilda lagi karena takut Hara semakin sedih, mereka re membahas topik yang lain.
Ketakutan terbesar seorang istri, takut tidak bisa memberi keturunan untuk suaminya, hal yang wajar jika Hara merasa khawatir.
Demi menyenangkan Hara .... Bu Ina dan Bu Atin membawa Hara jalan-jalan, tetapi saat mereka di mall bertemu dengan istri rekan bisnis Leon.
__ADS_1
“Halo, apa kabar Bu? ”Seorang wanita menyapa mereka, ia datang bersama menantunya.
“Ibunya Pak Leon Wardana, bukan?”
“Iya halo.” Bu Atin selalu tampak tenang dan sederhana.
“Ini menantunya iya, Bu”
"Iya."
“Sudah berapa anaknya?” Lagi-lagi itu yang di bahas.
“Belum Bu, nikah juga masih baru,” ujar Bu Atin.
“Nikahnya sudah satu tahun, Kan?”
“Belum, baru beberapa bulan,” jawab. Bun Ina terbawa emosi.
“Menantu saya baru menikah dua bulan saja , kini sudah hamil,” ujarnya lagi, Ingin rasanya Hara berteriak memaki wanita tersebut.
“Anak pemberian Tuhan Bu, kalau belum di kasih kita tinggal menunggu dengan sabar, "Balas Bu Atin.
“Menantunya kurang sehat kali Bu, coba ke dokter kandungan menantu saya saja untuk konsultasi.” Dengan pedenya menantunya yang bertubuh gemuk itu, memberikan kartu nama dokter.
“Makasih iya,” ujar Hara ramah, walau dalam hatinya ia merasa terbakar. Tetapi ia tidak ingin menangis ataupun sedih di depan kedua wanita hebat yang mencintainya.
“Menantunya hamil duluan kali, itu perutnya sudah gede bangat coba periksa lagi ulang ke dokter, mana tahu sebentar lagi lahiran,” balas Bu Ina.
“Eh, ibu jangan bicara seperti itu! Menantu saya dari keluarga baik-baik,” ujarnya wanita itu terlihat emosi.
Lalu meninggalkan mereka bertiga.
“Makanya jangan suka urusin hidup orang lain kalau tidak mau hidupmu di sentil juga,” Balas Bu Ina lagi.
“Maka itu ibu tidak mau ikut dengan arisan mereka, sudah beberapa kali wanita itu selalu mengajak ibu untuk arisan sosialita berkedok yayasan sosial, tetapi saat berkumpul mereka hanya bergosip dan pamer berlian dan harta gono -gini”
“Ibu pernah ikut?” Tanya Hara penasaran.
“Saat kamu masih di Jepang dulu, suaminya minta tolong pada Leon , lalu dia meminta ibu mencoba, hanya satu kali ibu ikut saat masuk ke sana ibu merasa di dunia yang berbeda dari mereka," ujar Bu Atin.
“Kenapa begitu berbeda Bu?” Tanya Bu Ina penasaran.
“Mereka berkalung berlian segede rantai kapal dan semua beling-beling di tubuh mereka.”
“Ibu kan tinggal minta ama Leon Bu,” ujar Bu Ina.
“Saat aku cerita sama Leon seperti itu, dia membelikan ibu berlian yang sangat besar, tetapi bukan itu yang aku inginkan , aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang Bu. Di usia senja ini, apa lagi memang yang kita inginkan, selain hidup damai dan tentram, lebih baik. mengisi masa tua kita dengan ibadah, "ujar Bu Atin.
‘Aku ingin mengendong cucu dari Leon juga’ ucap Bu Atin dalam hati, tetapi ia tidak mau mengutarakannya, ia takut Hara semakin sedih.
Hara mendadak jadi pendiam dan minta pulang ke rumah.
*
Saat sore tiba, Leon memberi kabar kalau ia pulang larut malam, pikiran-pikiran buruk itu kembali menghantui Hara, ia duduk di sudut kamar menatap tumpukan bungkus obat yang ia habiskan agar bisa hamil.
‘Ibu bagaimana kalau aku tidak bisa hamil? akan ada orang yang aku kecewakan, Leon, Bu Atin mereka berdua sangat menginginkan anak Bu’ Hara duduk meletakkan kepala di kedua lututnya.
Saat ia duduk menyendiri.
Ketukan pintu membangun Hara dari lamunan, ia buru-buru memasukan peralatan medis itu, ke dalam box dan menyimpannya di bawa ranjang.
“Iya.”
__ADS_1
“Nak , ini Ibu, apa boleh masuk?”
“Iya Bu silahkan,” ujar Hara.
Wanita masuk ia meneliti sekeliling kamar, takut Hara melakukan yang tidak-tidak.
“Ada pamanmu di bawah Nak, sana turun.”
“Om yang mana?”
“Piter.”
Wajah Hara langung bersemangat.
“Iya Bu, aku ganti baju dulu.”
Hara turun menemui Piter,
“Selamat malam Tuan Putri.”
“Om, kapan datang kata bibi Om keluar kota.” Hara memeluk tubuh lelaki bertubuh tegap tersebut.
“Om ingin mengajak kamu jalan-jalan ke pasar malam.”
“Boleh …?” Bu Atin tersenyum sembari mengangguk tanda setuju. Ia sangat bersyukur karena Hara di keliling banyak cinta, saat bu Ina pulang ke rumah. Ia cerita mereka membawa Hara jalan-jalan tetapi ia sedih, mendengar Hara sangat sedih Piter langsung datang.
“Tante Hilda bagaimana?”
“Dia bekerja, tidak apa-apa ini kencan kita berdua, "ujar Piter tersenyum.
Hara langsung berlari mengambil jaket , Piter membawanya naik motor ke sebuah pasar malam, membeli permen kapas untuk mereka berdua, Hara berjalan memegang lengan Piter berjalan -jalan mengelilingi pasar malam layaknya pasangan kekasih.
Ayahnya Hara dulu sering melakukan itu padanya, karena itulah Piter juga melakukan untuk mengobati rasa sedih Hara. Dulu, jika Hara sedang bosan di rumah, ayahnya akan mengajak putrinya jalan-jalan ke pasar malam atau ke mall berdua, walau pulang ke rumah dapat omelan dari ibunya, karena ibunya tidak diajak, Kali ini, Piter melakukannya
“Ayo makan siomay,” ujar Piter.
“Boleh .” Hara tersenyum lebar, tukang siomay langganan ayahnya masih jualan.
“Hara, jangan biarkan ketakutan menyelimuti hatimu, Om tahu yang kamu pikirkan. Dengar. Kamu masih mudah gak usah takut , kamu pasti akan mendapatkannya.”
“Bagaimana kalau tidak Om, bagaimana kalau aku tidak bisa punya anak?"
“Saat ini dunia semakin canggih ada bayi tabung untuk pilihan terakhir," ujarnya menghibur Hara.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)