
Apa yang di lakukan Hara pada putranya bukan tanpa alasan, ia hanya ingin putranya berbagi masalah dan menjadiknnya sebagai teman curhat, karena beberapa hari yang lalu wali kelas Okan menelepon Hara, ia melihat Okan bertemu lelaki asing di luar sekolah dan memberikan buku.
Tetapi saat wali kelasnya bertanya tentang siapa pria asing tersebut dan buku apa yang diberikan Okan tidak mau menceritakannya.
“Ya Tuhan … kenapa dia jadi berubah jadi lebih parah belakangan ini, aku dan Leon selalu ada untuk mereka berdua, tapi kenapa dia selalu tertutup,” ujar Hara memikit keningnya di kamar.
Di kamar Okan, Leon duduk dan mengajak Okan bicara.
“Ada apa, ada masalah di sekolah?” tanya Leon dengan sabar, ia luluh saat melihat putra sulungnya berderai air mata.
“Aku tidak suka ayah bermain dengan mereka, aku lebih baik bermain sendiri, mereka anak-anak yang nakal dan anak-anak yang bodoh, aku tidak suka, nanti aku ketularan bodoh,” ucap Okan. Leon terkejut Okan memiliki sikap sombong dan angkuh melebihi dirinya.
“Abang sejak kapan berteman dengan orang bodoh jadi ketukaran bodoh, siapa yang mengajarkanya?’ tanya Leon menatap putranya dengan tatapan bigung. “Itu artinya kamu menilai semua di dalam kelasmu semuanya bodoh dan tidak pantas ditemanin?” tanya Leon menatap putranya dengan kedua alis menyengit.
“Iya,” jawabnya dengan santai.
“Kamu salah Nak, tidak semua yang lihat mata itu sebuah kebenaran, kamu melihat tema-temanmu buruk, padahal kamu belum coba berteman,” ujar Leon.
“Aku hanya bertememan dengan orang yang aku kenal dan teman yang aku anggap pintar”
“Okan, tidak baik memponis teman-temanmu dengan menyebut mereka semua orang nakal, ayah tahu keluarga mereka orang-orang berpendidikan, ada dokter, polisi, jaksa, guru, teman-temanmu dari keluarga yang latar belakang keluarga yang baik, jangan buat ibumu sedih lagi Nak, dia hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”
“Ibu selalu memaksaku melakukan apa yang dipikirkan tanpa bertanya apa aku suka, apa tidak.”
“Itu karena kamu terlalu tertutup pada orang.”
“Ibu tidak mengerti apa yang di mau anak remaja sepertiku,” ujar Okan.
“Ayah tidak mau berdebat, denganmu Nak, dengarkan apa kata Ibu atau Ibu akan mengantarmu ke asrama nantinya.”
Okan diam, raut wajah terlihat marah seolah-olah ingin brontak dan melakukan perlawanan, pada kedua orang tuanya.
“Ayah, aku mengantuk aku mau ke kamarku.” Chelia meninggalkan kedua lelaki tersebut.
“Ok,tidurlah,” ujar Leon menepuk pundaj jagoan tampannya.
Okan mematikan vidio game miliknya dan bergegas untuk tidur, Leon menghela napas dan keluar dari kamar Okan.
*
__ADS_1
Dalam kamar Hara belum tidur ia menunggu Leon datang ke kamar.
“Ibu belum tidur?” tanya Leon menghela napas panjang.
“Belum, bagaimana apa mereka sudah tidur?”
“Hmmm,” jawab Leon tidak bersemangat.
“Apa Ayah menuduhku bersikap berlebihan lagi?” Hara menatap wajah suaminya dengan tatapan serius.
“Ya, aku rasa.”
“Salah ….?” Hara duduk menatap wajah suaminya.
“Aku pikir sikap pendiam sebuah karakter Hara, kebiasaan, sikap, tidak ada yang salah dengan sikap seorang pendiam”
“Bukan hanya masalah pendiam yang jadi masalahnya sekarang Ayah, kemarin di sekolah, kata wali kelasnya dia melihat Okan bertemu seorang pria asing di luar gerbang sekola dan memberinya buku dan tidak ada yang tahu buku apa yang diberikan orang tersebut dan satu lagi … katanya ada teman satu kelasnya dipukul seseorang di belakang sekolah, dia hanya melihat tanpa mau menolong, jelas-jelas kalau temanya itu butuh bantuan, dia tidak perduli, dia acuh, di mana rasa kemanusiannya.
Bahkan kasus itu disidang dalam ruang guru, siswa temannya menunjuk Okan sebagai saksi yang melihat kalau dia tidak bersalah, Ayah tahu apa yang dikatakan Okan? ‘Aku tidak perduli sekalipun kamu mati di situ, itu bukan urusanku’ murid yang malang itu dikeluarkan dari sekolah karena dia dituduh melakukan hal yang dia tidak lakukan, coba ayah bayangkan di mana hati nuraninya saat anak perempuan itu butuh bantuanya, ibunyamenangis padaku menceritakanya, coba kalau Okan bicara apa yang dilihat bukan hanya anak malang itu yang selamat, tetapi yang nakal dapat hukuman, tetapi yang di lakukan Okan hanya diam dan sikap acuh dan membaca buku, bukan itu aneh?” tanya Hara dengan mata menatap serius pada suaminya, ia menjelaskan panjang lebar pada Leon.
“Apa separah itu sampai perempuan yang lemah seperti itu juga tidak dia hiraukan?” Leon balik bertanya.
“Ibu benar, kalau dia sampai bicara dan punya sikap seperti itu ayo kita pindahkan dia Bu dari sekolah itu, sebelum keadaan tambah buruk, aku pikir tadinya hanya sikap pendiam tetapi kalau sampai tega membiarkan orang lain tersakiti, bahkan tidak mau menolong, padahal itu seorang perempuan, semarah-marahnya pada teman lelaki tidak akan tegah sampai dikeluarkan dari sekolah, tetapi itu pada perempuan, itu sudah keterlaluan,” ujar Leon.
“Iya itulah yang aku takutkan.”
“Kita masukkan, dia ke sekolah yang banyak kegiatan,” ucap Leon setengah hati terlihat ragu, biar bagaimanapun berpisah dari Okan akan sulit baginya.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, besok kita mampir kesekolahnya dengan diam-diam dan kita awasi selama dia belajar.”
*
Besok harinya ntuk membuktikan apa yang dikatakan apa yang dikatakan istrinya, Leon setuju, setelah meminta izin pada kepala sekolah dan wali kelas , Leon melihat Okan selama proses belajar. Kini Leon jelas bagaimana ia bersikap bahkan ia tidak punya teman satu bangku,
Saat istirahat, ia duduk sendiri lagi dengan pegang buku di tanganya.
“Lihat, bagaimana sikap anakmu, apa sikap sombong seperti itu dibenarkan?” tanya Hara menatap suaminya.
“Tidak kamu benar, tetapi apa penyebabnya, tidak mungkin ia bersikap seperti kalau tidak alasan,” ujar Leon.
__ADS_1
“Alasannya, dia menganggap semua teman-temanya di bawah levelnya, kamu tahu dia juara kelas, jadi dia selalu berpikir dial ah yang paling hebat dari semua teman-temannya, sikap sombong dan angkuh yang dia pakai itu sangat berbahaya,” ujar Hara.
“Tidak mungkin pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah, di mana Danis bukankah mereka satu kelas?” tanya Leon.
“Dia sudah di keluarkan dari sekolah karena melanggar aturan sekolah”
“Lalu Jordan?”
“Om Piter memindahkannya Ke malang, nanti dia akan sekolah militer kata om Piter,” ujar Hara, ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
“Aku takut Okan terkena imbas dari kehancuran keluarga sahabatnya”
Leon diam, akhirnya ia paham dengan sikap keras Hara dalam mendidik Okan.
Leon berpikir, kalau sikap buruk yang dimiliki Okan menurun darinya, bahkan lebih buruk.
'Bagaimana kami mengubah sikapnya? haruskah kami memindahkan ke sekolah lain?' tanya Leon dalam hatinya.
Bersambung ….
Bersambung …
Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook kalian iya kakak agar makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.
Terimakasi untuk semuanya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat
__ADS_1