
Hingga pagi ia bangun, ia bersikap biasa saja, padahal malamnya, ia sudah melakukan pekerjaan besar, membalas orang yang sudah melenyapkan kedua orang tuanya. Mata dibalas mata. Saat kamu menghilangkan nyawa orang lain maka harus bersiap kehilangan nyawa sendiri .
Saat pagi tiba Ia bersikap seolah - olah tidak terjadi apa-apa, padahal malamnya ia dan Piter sudah melenyapkan orang yang sudah membuatnya menjadi yatim piatu.
Ada rasa kepuasaan dalam hati saat melihat sendiri, bagaimana orang yang membunuh orang tuanya mati, walau ia harus terluka tetapi mengapa baginya.
Ia tahu, ayahnya seorang lelaki baik, walau ada seseorang yang mengatakan kalau ayahnya orang jahat, itu juga yang ingin ia buktikan, Hanya, kebaikan ayahnya sering disalahkan gunakan sebagian orang-orang yang mengenalnya.
Ia juga melihat sendiri bagaimana Piter menghabisi Beny, Piter juga menghabisi Firman orang yang menuduh ayahnya melakukan kecurangan dalam proyek kerja sama, pembagunan Jalan tahun lalu dan mengambil job proyek ayahnya.
Melimpahkan semua kesalahan pada orang yang sudah meninggal sangat kejam, apalagi bukti-buktinya sampai dipalsukan dan di bantu mantan karyawannya, bendahara juga ingin menjual cetak biru gambar proyek milik ayahnya mereka semua mati
Kemarahan Jovita memuncak, saat Leon menyebut Iwan orang jahat dan penipu, lelaki yang tidak punya perasaan, Leon bilang ayahnya pantas mendapat kematian yang tragis itu. Jovita ingin membuktikan pada Leon, kalau Ayahnya bukanlah seperti yang dituduhkan.
Jovita duduk di kamarnya menyeruput susu hangat, dan matanya menatap jauh kearah laut.
Luka ditangannya ia tutupi dengan baju lengan panjang, di pikirannya saat ini, bagaimana caranya ia memburu Bokoy otak yang menyuruh untuk menghabisi kedua orang tuanya.
Satu hari, semua baik-baik saja, hilangnya anak buahnya Bokoy belum terdengar ke telinga Leon, Jovita juga enggan bertemu dengannya, setiap kali ia ingin bicara dengan Jovita, ia menolak, alasannya kurang enak badan.
Di sisi lain,
Piter akhirnya mendapatkan Dokumen milik Boykoy, ia tidak ingin Jovita menunggu memberi kabar pada Bi Ina kalau dokumennya sudah di tangan.
Kini tinggal rencana selanjutnya, ia tidak ingin lelaki bangkotan itu mati dengan cepat, ia ingin memasukkannya ke penjara. Menurut Leon ia punya banyak teman pejabat Negara, tidak mudah menangkapnya, tapi dengan adannya dokumen itu, Jovita ingin menyeretnya ke Penjara.
Ia hanya perlu memantau piter yang melakukanya. Piter orang yang berpengalaman dan Piter orang satu - satunya yang ia percaya, bahkan sejak dari remaja.
**
Satu hari terlalu berlalu masih aman . Namun besok harinya, saat Leon lagi makan siang saat itu, ia membaca sebuh koran berita terbaru, kalau bos besar otak pembunuhan dari seorang kontraktor yang bernama Iwan Santosa atau pemilik PT. Santosa Kontruksi adalah Bokoy, ia sangat kaget, takut dengan keselamatan Jovita.
"Jovita apa yang sudah kamu lakukan, itu sama saja menggali kuburan mu, padahal aku sudah memperingatkan mu," ujar Leon. Ia masih berpikir kalau Jovita hanya asal menuduh.
Leon saat itu lagi ada rapat di luar kantor, rapat dengan owner pemilik proyek, ia ingin berubah ia lebih banyak menerima proyek membangun pabrik di daerah Cikarang.
Maka itu, ia jauh dari rumah, saat ia melihat berita yang menggemparkan itu, pikirannya pada Jovita, ia tahu kalau wanita itu sudah melakukan hal yang menakutkan.
__ADS_1
“Kita pulang saja Iwan." Ia bergegas pulang.
“Baik Bos, tapi apa pertemuan dengan pak Darma dibatalkan saja?”
Tanya Iwan dengan ragu, ia tahu ada sesuatu yang mengusik pikiran Bos sesuatu yang besar, sampai-sampai ia menolak tawaran yang besar juga.
Kalau biasanya kalau tidak ada masalah yang besar,m Bosnya tidak pernah menolak proyek besar seperti saat ini.
'Kenapa wanita itu jadi nekat belakangan ini, apa ia pikir nyawanya sepuluh, apa ia tidak perduli pada nyawa sendiri,harusnya ia diam saja di rumah menikmati hidup'
“Batalkan saja semua skedul hari ini , kita pulang ke rumah saja dulu, ada hal darurat yang kita urus"
“Baik bos,” jawab Iwan singkat.
“Iwan coba kamu pikirkan Jovita bisa keluar dari rumah menurut kamu dari mana?”
“Waktu saya kabur dari penjara kami melubangi lantai dan membuat jalan tikus tembus melewati tembok penjara Bos,” jawab Iwan , ia tidak menuduh kalau Jovita melakukanya, tindakan seperti yang ia lakukan tapi ia menjelaskan pengalaman dan membiarkan Leon berpikir sendiri.
"Kamu benar kenapa saya tidak terpikirkan itu, dia bisa melakukanya dia kan arsitek ...."
Saat Leon tiba, Jovita tidak ada di kamarnya, ia pergi hari itu menemui Piter, rahasianya akhirnya terbongkar, Leon kesulitan mendapatkan bukti jalan keluar. Tetapi mendapatkan awalnya satu orang, Leon bertanya siapa saja penyusup yang masuk kerumahnya, tidak ada yang mengaku.
Dor ....!
Leon menembak bagian kakinya,
“Katakan siapa kamu?”Leon menatap dengan tegas.
Ia tidak mau mengaku, malah ia ingin menghabisi dirinya sendiri dari pada memberitahukan.
“Kamu tidak aku biarkan mati, kalau kamu tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Leon, tapi lelaki itu terlihat seperti pejuang Jepang yang lebih memilih mati dari pada buka mulut, walau ia sudah di perlakukan dengan sangat buruk, ia tetap bertahan tidak mau buka mulut, Hingga akhirnya Jovita tiba.
“Lepaskan dia,ia om saya” Jovita berdiri tepat diantara mereka.
“Apa? om kamu?” wajah Leon menegang.
“Kalau Bos ingin bertanya, tanyakan pada saya”
__ADS_1
“Kamu mengkhianati saya? Kamu membawa orang-orang mu bekerja untuk saya , apa tujuan kamu?"Leon sangat marah.
Tiba-tiba Iwan juga menangkap pak Saiman tukang kebun yang baru, diseret dan dilemparkan ke depan Leon, bukan hanya itu, Bi Ina juga ikut berlutut di depan Leon .
“Apa selama ini mereka penyusup yang kamu bawa kerumahku.Nona Hara? Saya sudah bilang kalau saya paling benci namanya penghianat, Leon menarik pistol dari pinggangnya dan di arahkan ke pak Saiman.
Tapi Jovita menghalanginya, menjadikan badannya jadi tameng.
“Kamu boleh melakukanya padaku, saya yang menyuruh dan memaksa mereka semua” ucap Jovita tetap berdiri di depan semuanya.
“Kamu mau menguji saya ....? Kamu pikir saya tidak mau melakukanya. Ha! Suara Leon meninggi, tapi tiba-tiba Bi Atin menghalanginya dan melarang.
“Jangan lakukan itu Nak, aku juga salah tembak saja Bibi,” ucap wanita tua itu menghalangi
Leon menurunkan Pistolnya saat melihat Bu Atin menghalangi dengan tubuhnya dan ia memasukkan lagi ke pinggangnya,
“Baiklah tangkap mereka semua, kamu sebagai gantinya, ikut saya,” Leon menyeret tangan Jovita membawanya ke kamarnya .
Diseret tangannya yang terluka, ia menahan rasa sakit sampai berkeringat dingin.
Hingga tiba di kamar Leon melepaskan tangannya dengan kasar.
Wanita itu meringkuk menahan rasa sakit.
“Sekarang katakan, apa rencana mu padaku, apa kamu ingin membalas ku?”
Tapi pundak Jovita naik turun membelakanginya, berjongkok memeluk bagian lengannya yang terluka. Kamu tidak apa-apa Jovita Hara” Leon membalikkan tubuhnya, wanita cantik itu sudah pucat bagai mayat hidup
Bersambung
Bantu Vote da like dan kasih banyak hadiah juga biar authornya semangat.
jangan lupa tinggalkan bintang, jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain juga iya kakak: kata kuncinya ketik saja: Sonata.N
Terimakasih semoga kakak semua di kasih kesehatan dan rezeki.
Jangan lupa follow IG @ sonata_nata
__ADS_1
Facebook. Sonatha nauli