Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Hara Henghilang


__ADS_3

Hara tahu dia diikuti, ia hanya ingin waktu sendiri saat pulang dari pemakaman, ia membelokkan mobilnya ke arah perempatan jalan, Bram kehilangan jejak Hara.


"Maaf Mas Bram , aku butuh waktu sendiri, aku mengoreksi diriku sendiri," ujar Hara.


Mendengar Hara hilang, Leon panik.


“Kita pulang.”


“Ada apa Bos?” Ken ikut panik.


“Hara  hilang dari pengawasan, Bram.”


Setelah perjalanan beberapa lama Mobil tiba di rumah.


“Baik aku akan langsung ke  bogor, Bos,” Zidan mengeluarkan motor miliknya  dan bergegas menuju Bogor.


 Leon   mencari Hara di kamar dan mencari di taman tidak ada.


“Ada apa? "Bu Atin  ikut bingung melihat Leon mondar- mandir.


“Apa Hara belum pulang, Bu?”


“Belum Nak, tadi setelah minta izin mengantar tanaman itu ke makam orang tuanya, dia belum pulang”


“Dia sama siapa, Bu?”


“Sendiri Nak, ibu lagi ke dokter tadi.”


“Oh Hara, kamu kemana?”Leon panik.


“Apa  dia tidak di makam keluarganya?”


“Bram bilang dia sudah pulang , tadi, saat di belokan dia kehilangan jejak.”


‘Apa terjadi hal buruk? Tadi  dia pusing’ Bu Atin ikut panik.


“Ada apa Bu?”


“Coba  cari juga ke rumah sakit.”


“Kok ke rumah sakit, Bu?” tanya Leon  menatap wajah  Bu Atin


“Mungkin dia memeriksa tangannya,” ujar Bu Atin.


“Baiklah, nanti saja kita bicara lagi, Bu.”



Leon   pergi lagi, melajukan mobilnya tujuannya ke kantor Piter, Leon menyetir sendiri, ia berpikir ke kantor Piter.


“Bagaimana kalau Hara menceritakan semuanya pada Piter, akan ada masalah lagi nanti,  aku sudah berjanji pada Piter tidak akan membuat Hara menangis.” Leon beberapa kali menekan klakson mobilnya.


Ada ketakutan di hati Leon,   ia takut  kalau Hara marah dan meninggalkannya,  ia takut kalau Hara menceritakan semuanya pada Piter, jika hal itu terjadi, maka bisa di pastikan lelaki bertubuh kekar itu, akan menjauhkannya dari Hara.


Leon melajukan kendaraannya  dengan kecepatan tinggi, untungnya hari itu tidak terlalu macet dan tiba di kantor Piter setelah beberapa tiga puluh menit,  ia tempuh.


Leon langsung datang tanpa mengabari terlebih dulu, tentu saja membuat lelaki itu kaget.


“Leon, ada apa?” tanya Piter.

__ADS_1


Leon  datang dengan wajah menegang,  berdiri dengan napas terjedah,  menatap Piter.


Melihat sikap Leon yang  panik,  alis Piter berkedut bingung.


“ Apa Hara, ada sini?” tanya Leon  dengan tatapan mata  serius.


“Ha … !Hara?  Dia tidak datang ke sini, apa ada masalah?” Tanya Piter, raut wajahnya langsung berubah menatapnya dengan serius, Leon sudah tahu akan hal itu,  setiap kali ada masalah dengan Hara, Piter tidak akan tinggal diam,  bahkan tidak akan membiarkannya hidup tenang.


“Benarkah  dia tidak di sini?” Wajah Leon  bertambah panik “ Lalu kemana dia pergi."


“Apa  kalian bertengkar?”


Piter merogoh sakunya meraih ponselnya mencoba menghubungi tidak aktif.


“Tidak ada masalah pak Piter,  hanya ponsel mati mungkin, jadi tidak bisa dihubungi, tadi dia aku pikir mau bicara tentang gambar desainnya, makanya aku kesini, baiklah aku pergi dulu.”


Leon meninggalkan Piter yang masih berdiri melihat punggung Leon.


“Ada masalah apa lagi kamu dengan, Hara?”


“Ada apa dengan Leon? Mau ngapain dia kesini?” Viky datang dari belakang.


“Dia mencari Hara, pasti terjadi sesuatu lagi dengan Hara, awas saja kalau Leon sampai membuatnya terluka lagi, aku akan hajar dia sampai babak belur,” ucap Piter masih menatap kearah halaman kantornya,  di mana mobil Leon meninggalkan kantor.


Leon datang ke rumah Hara, ia berpikir istrinya akan menemui Bu  Ina dan mengadu ke sana duluan.


 Berkendara dari kantor Piter kerumahnya dan akhirnya Leon tiba juga.


Tok … Tok ….


“Iya,” sahut bu Ina dari dalam rumah


“Bu ....! "


“Eh, Nak Leon sini masuk Nak,”  tetapi matanya menatap kebelakang Leon,  tidak ada Hara bersamanya.


“Bu, apa Hara kesini?”


“Hara, ada apa?”


“Ibu jangan panik dulu, aku hanya ingin tahu apa dia tidak ke sini?”


“Tidak.  ada apa  dengan Hara?” seperti dengannya, Bu Ina  panik duluan .


“Tidak ada apa-apa Bu, ponselnya mati  tadi dia  bilang  mau ketemu Piter aku pikir dia kesini dulu.”


“Tidak Nak,  dia tidak ke sini."


“Dia baik,  jangan khawatir, aku pamit dulu, Bu” Leon  semakin panik, meninggalkan rumah Hara, walau ia bilang baik-baik saja, tetapi siapapun yang melihat kepanikan Leon, pasti berpikir mereka keduanya bertengkar hebat.


Melihat hal itu, Bu Ina  menelepon Piter, maka kepanikan akhirnya terjadi,  saat Bu Ina menelepon kedua lelaki itu.


“Bibi tenang jangan panik dulu, tadi juga Leon bilang ponsel Hara rusak,  makanya tidak bisa dihubungi,” ucap  Piter mencoba menenangkan Bu Ina.


“Tolong lakukan sesuatu, ibu yakin  Hara dan Leon itu ada masalah, tidak mungkin Hara  pergi dari rumah kalau tidak ada masalah.”


“Baik Bibi jangan   menangis lagi,  baik,  kami akan datang ke rumah Leon,” Piter menutup telepon.


Ia mengusap layar ponselnya,  menelepon Hilda istrinya, ia tahu semua orang akan panik kalau berhubungan dengan Hara.

__ADS_1


“Ya Bang.” Wanita  berwajah tirus itu, baru keluar dari ruang rapat.


“Apa  terjadi sesuatu degan Hara dan Leon?”


“Aku tidak tahu Bang, , ada apa?"


" Leon datang kekantor nyariin Hara dan ke rumah juga.”


“Tapi,  tadi pak Leon keluar dari ruang rapat dengan buru-buru, ia juga mengendarai mobil sendiri,” ujar Hilda.


“Baiklah aku akan ke rumah Leon sekarang.”


“Jemput aku ke Hotel, kita pergi sama-sama.” Hilda ikut  mencari.


"Kamu tidak usah ikut, kamu lagi hamil," ujar Piter.


Semua orang panik mencari Hara.  Leon juga mengabari Bu Atin kalau Hara tidak bertemu.


Tidak ingin menebak-nebak,  Piter menelepon Leon, memaksanya bicara jujur dengan keadaan yang sebenarnya.


“Katakan sebenarnya Leon .... Apa kalian bertengkar?”


“Iya sebenarnya,  kami tadi malam ada sedikit masalah.”


“Oh, iya ampun, kenapa baru mengaku sekarang!”


Piter panik.


Mereka memutuskan bertemu di hotel menyusun rencana untuk melakukan pencarian Hara. Piter membagi tugas, Bram melihat Hara ke makam orang tuanya lagi, Ken dan Zidan ke Villa di Bogor, Leon  mencari  ke bangunan yang akan renovasi, Viky mencari ke rumah orang tuanya yang lama. Piter mencari ke tempat Hara biasa duduk menghabiskan waktu bersama keluarganya.


“Ini salahku, harusnya aku menemaninya tadi” ucap Bu Atin.


“Gini saja, Ibu dan Bu Ina tunggu di rumah saja, ibu sudah lemas”Ujar Leon ia meminta Vincent membawa kedua wanita pulang.


“Leon cari Hara, kamu harus membawanya pulang” ucap B Ina.


“Baik Bu, aku tau, pulanglah biar supir membawa kalian berdua pulang.”


 Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2