Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Berani menolak ajakan bos besar


__ADS_3

Leon berpikir ia ingin mengajak Jovita makan malam sebagai tambahan kado yang ia berikan tadi, ia sudah memesan restauran mewah yang romantis di daerah Jakarta Selatan.


'Aku harus mulai dari mana untuk bicara padanya'


Ia memikirkan cara untuk mengajaknya dinner. Leon bukan tipe lelaki yang bisa bersikap romantis, saat ingin mengajak Hara makan malam saja ia harus  gelisah yang kesekian kalinya, hari ini.


‘Lebih baik disuruh melenyapkan orang sekalian, dari pada untuk melakukan hal-hal seperti ini’ Leon menggosok-gosok hidung sesekali ekor matanya melirik Jovita.


Wanita cantik itu kembali ke mode diam, menatap  jauh kearah tepi pantai.


Leon, beberapa kali menggoyangkan kaki untuk menghilangkan kegugupan dalam hatinya.


Jovita sudah memakai kalungnya dan tidak menyadari kegelisahan Leon kali ini.


‘Baiklah aku akan bicara,  kalau ia menolak ku ,aku  akan memaksanya gampang’ ucap Leon dalam hati.


Ia baru saja mau membuka mulutnya.


“Bos, aku datang.”


Suara itu menghentikan mulutnya untuk bicara, matanya berpaling kearah  yang empunya suara.


Lelaki pengganggu ketenangan hati dan jiwanya, tiba-tiba muncul di depan matanya di waktu yang tidak tepat.


“Kak, Toni suara Jovita menggema di gendang telinga Leon. “Kapan datang Kak?” Ia ingin berdiri tapi  borgol cinta itu menahannya.


“Baru tiba tadi,” jawab Toni bersikap hormat dan sopan di depan Bos besar.


Tapi mata Jovita tidak berpaling dari Toni, membuat Leon memicingkan matanya, menahan kesal.


“Baiklah, kita ada pekerjaan penting di sini, kamu urus semuanya,” ujar Leon meminta Toni pergi.


“Saya membawa sesuai pesanan Bos,” ucap Toni.


“Bagus, besok kita sudah bisa langsung survei lapangan, pastikan tidak ada masalah , saya tidak mau kejadian terakhir kali terulang lagi, kerja yang sungguh-sungguh”


“Baik bos." Lelaki bermata sipit itu, menatap tangan yang terborgol ia tersenyum geli melihat sang bos.


“Apa Kak Toni juga membawa pesanan ku?” Tanya Jovita dengan mata membesar wajah bersemangat menatapnya dengan serius.


“Iya, saya membawanya”


“Benarkah … wah aku senang, tunggu aku di bawah iya!”

__ADS_1


Tiba-tiba Jovita menyeret tangan Leon masuk ke kamarnya lagi.


“Hei … ! kamu mau ngapain?  apa yang ingin kamu lakukan?” Leon menatap sinis.


“Diam lah, kamu bilang tadi kita tidak boleh terborgol seperti ini, kan, kita, harus mencari kunci borgolnya,” ujar Jovita dengan otak liciknya mulai berkerja lagi, ia berpura-pura mencari kunci dan menjatuhkan kuncinya di bawah bantal.


“Hei! kita dari  kemarin sudah mencari, tidak ada, kan. Sudah hentikan, aku mau mandi kita harus pergi,  aku ada janji saat ini,” ujar Leon, ia malah berharap kunci itu tidak ketemu.


Melihat Toni datang, ia merasa ada pengganggu yang harus ia jaga.


“Tidak, tidak boleh seperti ini, aku juga tidak ingin ikut denganmu malam ini .... Begini tidak bagus dilihat orang, aku mau ke kamar mandi tadi  tapi aku menahannya karena tidak mau kamu ikut-ikutan”  ujar Jovita mencari-cari alasan.


Haaa… ini dia!" Tangannya menunjuk kunci dan memungutnya dari bawah bantal dan dengan cepat membuka  borgol.


  “ Bos mandi dulu saja, aku mau ke bawah,” ujar Jovita meninggalkan Leon yang masih bengong, kayak patung.  Ia berpikir kalau ada permainan Jovita di balik ini semua.


“Hei, hei kenapa kuncinya tiba-tiba muncul saat kamu melihat Toni, tunggu jelaskan padaku, ini maksudnya apa! Tadi aku setengah mati mencarinya bahkan sarung bantalnya juga aku sudah geledah tapi tidak ada, tapi kenapa tiba-tiba bisa muncul,  ini tidak benar!" Teriak Leon.


“Itu karena Bos mencarinya pakai otot bukan pakai otak…!”


Teriak Jovita terkekeh berjalan ke arah pintu “Makanya jangan sedikit-sedikit marah –marah yang ada matanya makin rabun dan cepat tua,” ucap  Jovita membuka pintu kamar Leon


“Terus, kamu mau kemana? Jangan macam-macam!”


“Sudah mandi dulu biar segar, aku mau bertemu kak Toni dulu!”


“Maaf Bos besar, aku turun dulu.” Jovita berlari kecil.


“Ih …  Berantakan, aku sudah pesan Restauran untuk mengajaknya makan malam, akan batal juga? Jovita kembali kesini”


Wanita itu tidak mendengarnya lagi, ia turun dengan langkah kaki yang panjang, mendengar  Toni datang ia terlihat senang , disisi lain ada pihak yang kesal setengah mati.


Leon uring-uringan semua yang ia rencanakan jauh-jauh hari berantakan tidak ada yang terlaksana satupun. Ia meraih ponselnya dan melemparkan borgol itu dengan kesal.


“Batalkan acara makan malamnya,” pintanya pada anak buahnya.


“Tapi Bos, klien kita sudah menunggu malam ini.” Iwan mengingatkan.


“Ok, baik jangan membatalkannya, suruh Salsa menemaniku malam ini,” pintanya lagi.


“Baik bos”


Salsa terlihat sangat senang saat Bos Leon mengajaknya menemaninya makan malam romantis, gaun malam yang ia kenakan terlihat indah di tubuhnya, gaun model backless yang jadi pilihan Salsa, gaun yang memamerkan  bagian punggung indahnya.

__ADS_1


Ia bolak-balik melihat dirinya di pantulan kaca di kamar. Jovita gagal  diajak makan   malam,  kerena ia memilih untuk  menemani Toni merawat kelinci yang dibawa Toni dari Kalimantan,


Sebelum Jovita berangkat ke Jakarta saat itu.  Toni berjanji akan  memberikannya sepasang Kelinci berwarna abu-abu.  Asal Jovita  jadi anak penurut pada Leon, agar ia tidak disakiti, saat ia menelepon Bi Atin, ia menepati, karena Jovita baik-baik saja. Akhirnya ia membawa sepasang kelinci.


Raut wajah kesal terlihat jelas terlukis di wajah Leon, apalagi saat Jovita bercanda dengan Toni, ia mendekati mereka berdua.


“Saya ingin mengajakmu pergi,”ucap  Leon,  memberanikan diri meminta Jovita menemaninya.


“Aku tidak ingin pergi kemana-kemana Bos, aku ingin merawat kelinciku,”ucap  Jovita mengendong seekor kelinci betina.


Toni menunduk takut.


Anak buahnya yang lain saling melihat satu sama lain, Bi Atin hanya bisa menahan napas melihat kelakuan Hara. Karena wanita cantik itu berani- beraninya menolak ajakan Bos Leon.


Karena sejauh ini, beluma ada orang yang berani menolak perintah Bos mereka.


“Baiklah,”ujar Leon tidak ingin mempermalukan dirinya didepan anak buahnya, terlebih di depan Toni. Ia menerima penolakan itu.


Tapi saat didalam kamar, tepatnya di kamar mandi. Tembok kamar mandi yang jadi sasarannya . Ia merasa hatinya panas saat melihat Jovita tertawa lepas bersama Toni. Tetapi menolak ajakannya sebagai seorang  bos, ia merasa terhina.


Tangannya yang kokoh menonjok tembok kamar mandi dengan kuat, hingga tangannya  terluka, tetapi ia merasa hatinya jauh panas.


“Kenapa jika dia bersamaku tidak pernah tertawa lepas seperti itu, tapi di depan Toni dia bisa bahagia seperti itu, dasar wanita bodoh, aku yang memilikimu semuanya.  


Apa yang kamu punya semuanya milikku termasuk tawa itu, tubuhmu semuanya milikku,” ujarnya dengan rahang mengeras.


Ia keluar dari kamar mandi hanya membalut kan  perban ke tangannya dan berpakaian Rapi.


Salsa sudah menunggunya di bawah, anak buahnya terlihat saling menatap satu sama lain. Mereka tahu Bosnya gagal mengajak Jovita, makanya mengajak wanita itu, tapi wajahnya terlihat angkuh dan sombong, apalagi saat melihat orang-orang Leon.


 Berbeda dengan Jovita yang selalu ramah dan tidak pernah sombong pada mereka, malah terkadang Jovita bercanda pada anak buah Leon.


Bersambung …


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2