
Karena cemburu Leon yang berlebihan makan malam romantis yang di rencanakan dengan suaminya gagal. Hara lebih baik mengajak Leon pulang, dari pada ia marah di depan orang-orang.
‘Aku pikir setelah bertahun-tahun menikah sikap cemburu itu akan berkurang, ini bukanya berkurang malah bertambah parah’ Hara membatin.
Dalam mobil Hara terlihat sangat kesal, ia melepaskan jas yang dipakaikan Leon, meletakkannya di samping tubuhnya, menatap kerah jendela mobil.
Sementara Leon berusaha menenangkan diri, ia menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil dan memijit-mijit kening.
‘Apa yang aku lakukan barusan? Kenapa aku menghancurkan semuanya?’ Aaaaaaah … bodoh! Aku payah!’ ia berteriak dalam hati.
Dalam perjalanan pulang menjadi hening.
‘Aduh, apa yang terjadi kenapa, malah suasana hening seperti ini’ Pak Maman sang supir menghela napas, jangankan bertanya melirik kearah kaca saja, ia tidak berani melakukannya.
“Aku bingung, sebenarnya tujuan kamu membawaku makan malam untuk apa?” tanya Hara membuka suara.
“Aku memang mengajak kamu makan malam, tapi bukan seperti ini, Hara?”
“Bukan seperti, apa?”
“Pakaian kamu terbuka seperti itu semua orang melirik kamu, Hara.”
“Lah! Bukannya kamu yang meminta pak supir mengantarnya ke rumah?”
“Iya, tapi … aku tidak tahu akan vulgar seperti ini.”
“Vulgar bagaimana? Aku memakainya untuk diner Leon wajar, ini gaun malam, lain hal kalau aku memakainya ke acara pertemuan orang tua anak-anak di sekolah.”
“Tetap saja Hara, aku tidak suka kalau para lelaki itu melihat kamu seperti itu.”
“Sudahlah, sakit kepalaku, harusnya aku tidak datang yang kamu lakukan tadi sangat memalukan dan kampungan. Tidak bisa kamu membuang sifat cemburu itu, kita sudah bertahun -tahun menikah Leon dan kita sudah memiliki dua orang anak mereka akan masuk SD. Kita bukan pengantin kemarin sore,” ujar Hara.
“Tidak bisa,” ujar Leon mengarahkan tatapan matanya kearah jendela mobil.
“Baiklah terserah kamu, cemburu lah terus seperti itu yang ada nanti kamu terkena, stroke”
Hara diam, Leon juga diam.
Pak supir yang memegang kemudi tersenyum kecil, hancur acara yang sudah di susun matang karena sebuah kecemburuan.
*
Saat mobil berhenti di depan rumah. Hara langsung turun, langkahnya buru-buru ia bahkan tidak memperdulikan tatapan bingung para penjaga.
“Ibu!” panggil Chelia berlari dari dalam rumah, memegang tangan ibunya. “Ibu kok pulangnya cepat, kata Nenek makan malam dengan Ayah.”
“Iya, Sayang sebentar iya, Ibu lapar,” ujar Hara bergegas ke dapur, ia seperti orang kesurupan mengeluarkan semua makanan dari kulkas dan menyajikannya dalam meja makan. Hara duduk dan menyantap semua makanan dengan lahap.
Bu Atin, Leon dan yang lainnya menatap dengan bingung apa yang dilakukan Hara.
__ADS_1
Mereka berdiri tidak jauh dari meja makan. “Apa yang terjadi?” tanya Bu Atin menatap Leon.
“Makan malamnya berantakan, Bu.”
“Hara, makanannya dingin Nak, panaskan dulu,” ujar Bu Atin ikut mendekat.
Melihat ada yang tidak beres antara Leon dan Hara Bu Atin meminta pengasuh membawa Okan dan Celia ke kamar mereka, tidak bagus mental anak-anak saat melihat orang tua bertengkar.
Sepasang anak kembar itu seolah-olah mengerti kalau orang tua mereka lagi terlibat gencatan senjata,
Hara memasukkan makanan ke mulutnya dengan lahap seakan-akan sudah tidak makan selama seminggu.
“Hara, kamu bisa memakannya dengan santai,” ucap Leon, Leon menarik satu kursi di depan Hara dan duduk dengan santai, bersikap tenang kembali.
Mendengar ucapan Leon, Hara memegang satu garpu menatap Leon dengan marah, mata melotot dan mulut dipenuhi makanan.
Tetapi bukannya takut Leon malah tersenyum kecil.” Kamu membuatku kelaparan dasar pemarah,” ucap Hara jengkel.
“Bukanya marah tapi aku tidak suka dengan sikap kamu yang tebar pesona sama lelaki itu.”
“Apaaa? Tebar pesona ….!” Hara menusuk daging di depan dengan sendok garpu menekan-nekan dengan kuat menganggap itu badan Leon.
Bu Atin hanya bisa melihat mereka berdua bergantian yang sedang, saling mengutarakan pendapat masing-masing. “Tunggu, tunggu Bu Atin merentangkan kedua lengannya untuk menghentikan kedua yang saling berdebat tidak jelas. “Sebenarnya kalian berdua makan malam apa tidak sih?”
“Tidak, Bu.”
“Makan.” Jawab keduanya serentak, tetapi berbeda jawaban.
“Aku sudah pesan semua menu Bu, aku juga sudah makan steak, tetapi Hara sibuk melihat kanan-kiri senyam-senyum.”
“Haaa?” Mata Hara melotot kesal pada suaminya. “Gini Bu, saat aku tiba dia sudah marah-marah tidak jelas, dia ingin memakan pengunjung restaurant itu.”
Bu atin menyengitkan kedua alisnya,” Maksudnya apa?”
“Dia, cemburu tidak jelas.”
“Bukan itu Hara, lagian siapa suruh kamu pakai baju kayak begituan!”
“Bukannya, ini gaun yang kamu suruh pilih? Supir yang membawa ke rumah iya’ kan, Bu?”
“Bukan aku yang pilih,” ujar Leon mengalihkan pandangannya jelas sekali iya terlihat berbohong.
“Bi, panggilkan Bimo sama supir.”
“Eh, kamu mau apa panggil mereka ,” ucap Leon panik, ia merasa malu.
Tidak lama kemudian pak supir dan Bimo berdiri di samping Leon, tetapi tidak diduga secara spontan Bimo menatap kaget dengan penampilan terbuka Hara, karena ini pertama kali baginya melihat istri bosnya memakai pakaian seksi seperti itu. Karena Leon tidak pernah memperbolehkannya.
Dengan cepat lelaki itu mengalihkan matanya kearah lain sebelum ia dibunuh Bosnya, karena kepergok melihat Hara.
__ADS_1
“Bim, katakana siapa yang memilih gaunya?”
Leon menatap Bimo dengan tegas, lelaki itu terlihat bingung apa ia harus berkata jujur apa dia harus berbohong demi membantu bosnya. “Bim! Aku tanya kamu”
“A-a- itu, itu … saya yang pilih” Bimo terpaksa berbohong.
“Haaa?” Hara melotot marah, “Kamu tahu tidak! gara-gara gaun yang kamu pilih bosmu ini mau bunuh semua lelaki yang ada dalam restoran tadi karena melihatku, bosmu cemburu.”
Tidak sengaja Bimo tertawa.
“Tidak usah tertawa Bim, itu tidak lucu!” ucap Leon terdengar marah dan memalukan.
“Maaf Bos.”
“Tapi, tidak bisakah kamu menghilangkan kecemburuan konyol mu itu!” ucap Hara menatap Leon.
“Tidak bisa,” ujar Leon acuh.
“Lagian ini pakaian yang sangat cantik, aku menyukainya,” ucap Hara berdiri dan berpose cantik di depan mereka semua termasuk di depan Bimo dan supir, kedua lelaki itu tidak berani menatap Hara, mereka takut menadapat masalah besar dari Leon.
“Itu terlalu terbuka Hara, semua mata lelaki menatapmu,” ucap Leon.
Bu Atin hanya bisa tertawa geli melihat sikap putranya, karena sikap Leon seperti lelaki yang baru pacaran.
“Kalau para lelaki itu menatapku seperti serigala kelaparan, itu artinya aku cantik, bodoh amat dengan tatapan mereka, kenapa harus perduli, lagian ini sudah jaman moderen dan jaman milenia, kalau ada wanita yang berpakaian terbuka dan seksi di luar sana, itu sudah hal biasa Pak Leon.”
“Tapi untukku tidak biasa. Jovita Haraaaa …! kamu tidak boleh, titik,” ucap Leon tegas.
“Dengar iya Pak Leon Wardana, aku sudah muak dengan sikap cemburu mu ini.
“Terus kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?”
“Karena kamu ibu dari anak-anakku.”
“Sampai kapan kamu cemburu padaku?”
“Selamanya.” Leon menjawabnya dengan cuek.
“Kamu cemburu sama Toni, cemburu dulu sama Om Piter, lalu sekarang kamu cemburu sama siapa lagi?
“Tidak ada.”
“Bohong! Apa kamu pernah cemburu sama Bimo?”
Bimo menatap kedua bergantian karena menyangkutkan diri dalam masalah mereka.
“Tidaklah, kalau dia sampai macam-macam sama kamu aku lenyapkan dia,” ucap Leon tegas, tetapi merasa malu pada Bimo dan supirnya, karena ketahuan lagi bersikap konyol karena kecemburuannya pada istri
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa vote lika iya.
Mohon maaf baru bisa update lagi iya kakak, beberapa hari ini authornya lagi sakit ke depanya kita akan rajin update