
Suasana pagi di rumah Leon, masih terdengar suara marah bernada tinggi dari Leon.
“Saya sudah bilang …! Saya akan memberikan apapun , untukmu. APAPUN .... Jovita! mobil, rumah, semuanya. Tapi jangan meminta cinta dariku. Karena aku tidak ingin terikat dengan hubungan”.
“Aku tidak butuh kemewahan Leon … aku hanya butuh dicintai. Aku tidak punya siapa- siapa di dunia ini aku yatim-piatu. Aku ingin bersamamu selamanya. Bergantung hidup untukmu”
“Jovita Hara. Dengar ….! Jangan biarkan aku mengeluarkan kata-kata yang membuatku menyesalinya nanti”
“Kenapa? Apa aku tidak pantas untukmu?”
“Kamu hanya anak kecil yang manja yang melihat dunia ini dari sudut pandang yang sempit itu. Aku tidak ingin menyulitkan hidupku dengan pikiran polosmu"
“Berhenti memanggilku anak kecil, badanku memang kecil, tapi aku bukan anak SMA yang mengalami masa puber yang tiba-tiba mengajak orang dewasa menikah. Kamu memang jauh lebih dewasa, tetapi aku juga sudah dewasa Leon … Aku sudah sarjana, aku sudah bekerja, bahkan aku sudah sempat bertunangan. Lalu alasan apa …?” Suara Jovita lembut dan memelas.
“Umur kita jauh beda Jovita, pemikiran kita berbeda, saya tidak ingin masuk ke dunia anak-anak lagi yang memiliki pemikiran dangkal yang merasa sok suci”
Wajah Jovita langsung mengeras.
“ Kalau kamu sadar ... aku anak kecil dan umur kita beda jauh. Lalu kenapa kamu merenggut kehormatan ku?”
“Apa sekarang kita akan membahas itu!? Apa ayahmu juga saat itu bertanya umur kakak perempuanku … saat ia menyuruh orang melakukanya!
Kamu terlalu naif Jovita! Karena hal itu …. kamu menuntut ku menikahi mu? Ada banyak lelaki di luar sana yang tidur dengan banyak wanita. Apa mereka menuntut lelaki yang meniduri mereka untuk menikah? Apa Salsa dan Sabrina memintaku menikahi mereka? Jawabannya. Tidak !”
“ Itu beda Leon … aku bukan seperti mereka, aku bukan naif. A-a-aku …. Kalau begitu lepaskan aku,” ucap Jovita dengan tangisan, suaranya semakin parau dan terbata-bata, ia sesenggukan meluapkan semuanya dalam tangisan.
“Saya sudah berjanji akan menjagamu, tidak akan pernah melepaskan mu, Diam dan nikmati hidupmu. SATU HAL LAGI! SAYA TIDAK AKAN MENIKAH DENGAN ANAK PEMBUNUH KELUARGAKU”
ujar Leon dengan tatapan mata tajam seperti mata iblis.
Saat itu juga Jovita terdiam, ucapan leon seakan-akan menyadarkan siapa dirinya.
Leon meninggalkannya dan membanting pintu dan pergi ke kamarnya,
Kini ia sendirian dalam kamar, menangis duduk si pojokan kamar.
*
“Ibuuu …. Apa yan sudah aku lakukan. Apa aku wanita murahan ibu … Dulu ibu selalu mendidik untuk bisa menjaga kehormatannya dan menjaga martabat di hadapan lelaki. Aku tidak memilikinya lagi Ibu. Aku menyesal mengungkapkan perasaanku padanya, aku murahan ibu, aku meminta maaf. Ibu pasti malu melihatku dari surga,” ujar Jovita menangis si sudut kamar memeluk lututnya sesekali ia memukul dadanya yang terasa sakit.
Ia menyesali dirinya, karena duluan mengucapkan perasaan cinta pada lelaki yang sudah menghancurkan masa depannya.
__ADS_1
“Aku memang bodoh Ibu …. aku mudah jatuh cinta pada orang lain yang berbuat baik padaku, itu karena aku selalu di keliling cinta dari kalian Ibuuu.
Cinta itu pergi, kalian semua pergi ibu. Meninggalkanku sendirian . Aku harus bagaimana. Aku tidak punya tempat untuk mengadu tidak punya rumah untuk merebahkan tubuhku. Aku takut ibu. Bagaimana aku menjalani hidupku ke depannya …. Ayah aku tidak punya pedoman hidup lagi.
Aku mengungkapkan cinta pada lelaki jahat yang sudah menghancurkan hidupku Bu ….
Aku tidak bisa membenci dia Karena ibu tidak pernah mengajariku bagaimana membenci orang lain …
Ibu selalu mengajariku bagaimana mencintai . Tetapi ibu lupa mengajariku bagaimana membenci . Aku harus bagaimana Ibu.
Ayah. Bawalah aku bersama kalian … Jangan tinggalkan aku sendirian di dunia ini … “ Ujar Jovita menangis di kamar, suara tangisan kesedihan darinya seakan-akan menusuk sampai ke tulang-tulang.
Leon diam di belakang pintu kamar Jovita.
Ia ke kamar itu lagi, ingin mengambil ponselnya yang ketinggalan. Tetapi dia berhenti dan diam sebentar, mendengar tangisan pilu dari Jovita tangisan sedih yang memangil ke dua orang tuanya, membuatnya mengerjap- erjapkan mata, hatinya terasa berkecamuk.
Leon ikut merasa terguncang juga, Ia balik badan dan masuk ke kamarnya dengan wajah mengeras dan berjalan buru-buru.
Ia berpakaian rapi dan turun ke bawah.
“Ayo berburu minta. Bawa pitbull … Siapkan helikopter,” pintanya pada Iwan.
“Bukankah hari ini Bos ingin menemui klien,” ucap Iwan mengingatkan.
“Batalkan …!” Teriak Leon sangat marah. Suara bernada tinggi itu mengangetkan semua anak buahnya.
Rikko yang saat itu sedang menikmati serapan pagi, harus meninggalkan piringnya yang baru ia makan beberapa suap. Ia bergegas menuju gedung atap siap menerbangkan helikopter dan membawa Leon berburu.
Semua anak buahnya kocar-kacir mengerjakan tugas masing-masing.
"Suruh Sabrina menemani saya"
"Baik Bos!"
Salah seorang anak buah Leon berlari ke bagian barat rumah, Wanita seksi bak model itu, menempati kamar di bagian barat bersama dua rekannya.
Sementara Jovita dan Leon di bagian Timur kamar mereka menghadap tepi pantai.
Ketiga dayang- dayang Leon masih tidur saat seorang memangil Sabrina untuk ikut.
Leon memiliki dua helikopter yang biasa ia pakai sebagai jasa pengantar paket antar pulau. Karena Leon juga punya usaha jasa pengiriman barang.
Maka saat ia ingin Jakarta -Kalimantan ia hanya butuh beberapa jam.
Karena Leon mengajak Sabrina menemaninya, wanita yang selalu berpenampilan seksi itu, sangat kegirangan , karena Leon memilihnya menemaninya ketimbang dua rekannya, ia tidak tahu kalau Leon akan membawanya ke tengah hutan untuk berburu.
“Ambilkan ponselku di kamar Jovita Ko,” pinta Leon, saat mereka ingin terbang.
__ADS_1
“Baik Bos”
Rikko berlari ke kamar Jovita.
Tok …Tok …
“Non Hara! Ini saya Rikko. Pak Leon memintaku mengambil ponsel miliknya”
Jovita membuka kamar dengan mata sembab.
“Ini Kak”
“Kamu tidak apa-apa, Non Hara?" Tanya Rikko.
“Aku tidak apa-apa, Kak”
“Baiklah, Kami dan bos ingin berburu ke hutan”
“Iya”
Jovita hanya mengangguk. Rikko berlari lagi ke gedung atap, ia akhirnya paham kenapa Bosnya tiba-tiba mengamuk seperti orang gila. Leon akan berburu jika ia ada masalah yang sangat besar yang menyesak di dalam dadanya. Kali ini mereka akan berburu di hutan Kalimantan, ia menggunakan senapan angin itu, sebagai pelampiasan kemarahannya.
Di Kalimantan Leon punya rumah panggung pohon di tengah hutan yang ia jadikan sebagai penginapan, jika ia sedang melakukan hobbynya berburu , walau hanya akan mendapat caleg alias babi hutan. Ia bisa menghabiskan waktu berhari-hari berburu.
Dalam helikopter Leon hanya diam, bayangan Jovita saat menangis karena terluka dengan perkataannya membuat dadanya terasa sakit.
Wajahnya semakin dingin bahkan tidak membuka mulutnya sedikit pun untuk Sabrina, ia hanya diam sepanjang jalan dengan tatapan kosong, membiarkan mengacungkan Sabrina yang duduk di sampingnya.
‘Bos. Apa begitu sulit mencintai seseorang …? Apa sesulit itu membuka hati pada cinta? Kamu takut terluka karena cinta …. Bukankah, hatimu lebih terluka melihat gadis malang itu menangis?’ Ucap Rikko dalam hatinya, ia melirik wajah sang Bos, Wajah itu berubah seperti balok es lagi.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)