Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Tubuh Seksi bikin panas dingin


__ADS_3

Jovita  mencoba membenarkan posisi tubuhnya dan mulai mengumpulkan kembali konsentrasinya, mulai melakukan senam yoga, ia menutup kembali kelopak matanya, menghiraukan Leon yang sedang  berenang di depannya, dirinya  tidak bisa konsentrasi.


‘ Bagaimana  mau konsentrasi kalau si Ular Naga ini sengaja mencpratkan air  kearah aku’


Melihat  jovita tidak terpengaruh atas kehadirannya, Leon juga mencoba menutup matanya mengalihkan pikirannya, ia tahu  tahu kalau Jovita  sedang berusaha  bersikap acuh padanya.


“Baiklah Bos Leon,  mari kita berdua uji kemampuan, aku akan berusaha dengan keras seperti yang kamu inginkan.


Aku tahu kamu dalam keadaan sulit, akan tamba sulit bagi kita berdua,  kalau kamu menahan ku dan tidak membiarkanku pergi dari istanamu ini,” gumam Jovita  membuka mata.



Kini Leon kembali membuat tubuhnya panas dingin. Ia berdiri si sisi kolam renang hanya melilitkan handuk di pinggang, memamerkan  tubuhnya yang atletis. Mata Jovita tidak bisa diajak kompromi, antara mata dan hati seakan-akan tidak sejalan, mata   bulat bermanik coklat itu terus saja melirik Leon yang seakan-akan sengaja menggodanya dengan tubuhnya yang ber-otot.


‘Aiiis … kenapa sih , si Ular Naga ini,  harus pemer perut sixpacknya di depanku … otakku, kan,  jadi traveling kemana-mana. Ah, jadi bertambah panas jadinya’ Jovita membatin kesal.


Karena tidak tahan dengan godaan di depan mata, matanya ternodai dengan tubuh roti sobek Leon, ia akhirnya mengganti senam paginya.


Ia berdiri, melepaskan jaket yang ia pakai memperlihatkan  lekuk tubuhnya, pinggang ramping  perut rata dan kulit putih  dan pakaian yang ia pakai .  pakaian mini set yang hanya menutup bagian dadanya dan memperlihatkan  lekuk tubuhnya, ia mulai melakukan gerakan, di depan mata Leon, seolah-olah ia ingin membalas Leon



Di atas matras Jovita mulai melakukan gerakan dadanya,  ia busung kan ke depan dan kakinya ia takuk dari belakang , beberapa  menit kemudian ia  menidurkan tubuhnya telungkup di atas matras dan mendongkakkan  lehernya keatas,  dan melengkungkan kakinya kearah atas juga  dan bahkan kaki itu bisa menyentuh kepalanya.


 Awalnya Leon acuh tidak menghiraukannya, tapi gerakan sulit yang dilakukan Jovita mengalihkan perhatiannya,  gerakan yang di sebut gerakan Pilates. Salah satu  gerakan yang paling sulit dilakukan,  sebagian kaum hawa, hanya yang bertubuh lentur yang bisa melakukan gerakan sulit itu.



Karena senam Pilates salah satu senam dan gerakan yang sulit.


Bukannya hanya Leon yang dibuat terpolonggo menonton gerakannya  Jovita .


Bahkan Rikko dan Zidan yang tadinya sibuk dengan aktivitas masing-masing, kini ikut melihat karena  gerakkan itu kini, diikuti alunan musik keras.


 Matahari sudah mulai naik memancarkan sinarnya. Jovita membelakangi Leon, tubuhnya mulai meliu-liuk melakukan  gerakan demi gerakan ternyata, Zidan yang menonton berita pagi dalam kamar ikut keluar.


Semua anak buah Leon yang saat itu melakukan olah raga rutin ikut,  terpana dengan  gerakkan sulit yang  dibuat Jovita.



“Gila … Apa gak patah tulang-tulangnya?” Zidan mengedikkan  pundaknya.


“Ibuku dulu menyebutnya gerakan tubuh tanpa Jiwa,” timpal Toni, lelaki tampan itu ikut keluar dari rumah menonton Jovita.


“Apa ibumu  seorang  guru senam juga Ton?” Ken ikut keluar, ia penasaran dengan suara iringan musik senam dari Jovita


“Ibuku seorang instruktur senam sama seperti ibu non Hara”


“HAAA!?” Suara mereka serempak terkejut.


“Non Hara teman masa kecilmu?” Mata Ken melotot.

__ADS_1


“Iya almarhum Ibuku dan almarhum ibu Jovita sahabat”


“Ja-Jadi  karena itu Bos, tidak pernah memperbolehkan mu mendekati Jovita?”


“Ada rahasia apa antara kamu dan Bos?” Rikko bukan tipe orang yang mau mengurusi urusan orang lain, kali ini, ia penasaran antara Toni dan Leon.



Toni  hanya menggeleng, tidak ingin membahas  tentang masa lalunya.


Kini mata mereka semua tertuju pada Jovita, wanita cantik itu, kini, melakukan gerakan  kepala di bawah kaki lurus di atas, beberapa lama perlahan  kedua kaki itu  direntangkan lagi terlihat sangat seimbang.


“Waooo dia  mampu melakukan itu?”


Ken penasaran ia mengikuti gerakannya Jovita. Melihat Ken mencoba anak-anak ikut penasaran dan mencoba , jadi pagi itu olah raga mereka semua, mengikuti gerakan Jovita


 Leon menyadari anak buahnya menonton Jovita, ia tidak tahan lagi ia meninggalkan kolam renang, ia memilih  masuk ke kamarnya.


Tapi saat Leon meninggalkan kolam renang, anak-anak itu dengan senang  hati mendekat di samping kolam renang mengikuti gerakan Jovita dari jarak dekat.


Wanita itu tidak tahu,  kalau semua bawahan Leon mengikuti gerakkannya,  karena ia menutup matanya membayangkan kalau ia melakukan gerakan demi gerakan bersama sang ibu, karena itulah Toni menyebut gerakan irama yang di lakukan Jovita  tarian tanpa Jiwa.


Ibu Jovita seorang instruktur senam, ibunya juga seorang guru Yoga, bahkan banyak artis yang  jadi anggotanya clup Ibunya saat masih hidup, saat ia memasuki apartemen Beny malam itu, ia membawa  barang-barang milik ibunya sebagian, salah satunya  musik  senam yang ia lakukan pagi itu. Karena ibu Jovita seorang instruktur senam karena itu Jovita  bisa melakukannya.


Ia membayangkan ibunya mengajarinya kalau, ia kesulitan melakukannya waktu itu, ibunya akan menggelitikinya sampai kelelahan, dan mengajari gerakan-gerakan sulit sampai bisa,  bibir mungilnya tiba-tiba tersenyum  manis, karena akhirnya ia bisa melakukan gerakan sulit yang diajari ibunya dulu.


 Seakan ada ibunya  bersamanya saat itu. Karena itu juga gerakannya saat ini mengalir begitu saja.


Saat gerakan Jovita membungkuk bagian dadanya terlihat jelas,


“Tutup matamu, jangan menatapnya itu milik Bos,” Ujar Ken


menghardik  seorang  rekannya yang melongo melihat tubuh Jovita meliuk-liuk.


“Gila itu badan atau karet iya,” timpal Ken terplonggo. Dari  kelima   anak buah kepercayaan  Leon, hanya Kenzolah yang terlalu banyak  bacot.


Rikko, Toni, Iwan, Zidan mereka  hanya melihat  gerakan tarian senam Jovita dengan tenang dan diam. Tetapi  Kenzo  mengoceh seperti burung Beo.


Leon  kepanasan di kamarnya, padahal sudah bertekad akan melupakan Jovita, tetapi sepertinya, saat ini … gerakan tarian senam dan pakaian seksi Jovita membuatnya tersiksa. Ia tidak bisa mengabaikannya, saat anak buahnya menonton Jovita, dengan tubuh meliuk-liuk memperlihatkan  lekukkan tubuh indahnya, ia marah dan ter-usik juga. Dalam kamar ia bolak –balik ia mengintip dari jendela.


“ Lama amat senam.  Apa belum cukup segitu.” Leon seperti cacing kepanasan. Melihat anak buahnya ikut senam, ia mendengus kesal, tidak rela …


Ia mengambil ponselnya  menelepon Iwan.


“Kumpulkan anak-anak di halaman belakang sebentar lagi saya datang .” Leon  ingin menghentikan kelakuan anak buahnya yang  mengikuti  gerakan senam Jovita.


“Baik Bos”


“Kita kumpul di halaman belakang,”ujar Iwan.


“Tapi kenapa tiba-tiba di belakang biasanya juga disini,” protes salah seorang  yang masih sesekali melirik Jovita.

__ADS_1


Gerakan senam selesai, kini gerakan terakhir atau pelenturan.


Jovita menidurkan tubuhnya di atas matras di bawah sinar matahari pagi, kali ini,  membuka celana olah raga panjang menyisakan celana olah raga model pendek  memperlihatkan keindahan tubuh seorang Jovita Hara kulitnya yang putih mulus dijemur di bawah sinar  mentari pagi.


“Waaah indahnya,” ujar seorang bawahan Leon,  kembali mencuri-curi pandang kearahnya.


Kali ini. Leon benar-benar tidak tahan lagi, ia tidak bisa menyalahkan anak buahnya karena mata lelaki memang selalu tertarik melihat hal yang indah-indah.


 Saat Jovita berbaring  menutup wajahnya dengan  kain, suara itu mengagetkannya.


“Apa yang kamu lakukan?”


Ia menyingkirkan kain yang menutup wajahnya, melihat sosok tinggi, badan berotot menghalangi pandangannya.


“Berjemur.”


“Berjemur di pantai bodoh! Bukan mempertontonkan tubuhmu di depan para lelaki itu,” ujar  leon melemparkan kain untuk menutupi tubuhnya, “Bangun, ini bukan pantai, kalau kamu ingin berjemur di sana di pinggir laut,” ucap Leon marah.


'Lah, ini orang kenapa jadi marah' Jovita mendengus kesal.


Matanya menatap tubuh Jovita yang terpampang  indah di depan matanya.


“Apa masalahnya hanya olah raga?” Jovita ikut merasa kesal.


“Karena ini rumahku”



“Makannya jangan menahan ku di sini, sekarang siapa yang sok-sok jual mahal,” ujar  Jovita merasa jengkel, lalu  berjalan meninggalkan Leon yang  masih terbakar.


“Kamu akan tetap di sini, maka itu,  persiakan dirimu!"


“Bodoh,” jawab Jovita ia masuk ke kamar.


Jadi pemenangnya adalah Jovita .... Leon, hanya ego saja yang dipelihara.


Bersambung ….


jANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2