
Kehamilan Hara sudah memasuki enam bulan, ada banyak perubahan padanya, selain perutnya yang semakin membesar dan tubuhnya yang semakin gemuk dan pipinya yang bertambah bulat. Jika di semester pertama Leonlah yang melakukan hal-hal yang tidak biasa, tetapi kali ini Hara yang bersikap berbeda.
Hari itu Clara dan Hilda bertamu ke rumah Hara, ketiga bumil cantik ini saling berbagi cerita, karena ini kehamilan pertama untuk mereka.
"Pernah gak sih kalian merasa jengkel bangat sama sikap dingin suami kalian? " Clara memulai pembahasan.
"Pernah .... sering malah, Leon terkadang masih kaku sekali bercanda bikin aku menangis," ujar Hara.
"Kalau begitu kasih mereka pelajaran, mereka pikir, hamil itu enak ...." Balas Hilda, ia menceritakan semuanya selama hamil, lalu memberi ide, Hara dan Clara saling melihat. dan menahan tawa memikirkan sesuatu dalam benak mereka.
Permintaan Hara kali tidak biasa dan terkesan tidak masuk akal dan.
'Apa dia membalasku malam itu ?' Leon bertanya dalam hati.
Leon berpikir Hara sengaja mengerjainya, tetapi, Tetapi Hara terlihat serius.
"Ini mungkin ngidam di pertengahan kehamilannya, porsi makannya juga meningkat drastis, mungkin karena ia membawa dua janin dalam rahimnya maka porsi banyak, tidak jadi masalah,"gumam Leon, lalu ia meletakkan buku panduan kehamilan di tangannya.
Tetapi keinginan kali ini di luar logika Leon, Hara ingin sekali mencium bau badan Leon, ia suka kalau Leon berkeringat. Sehabis olah raga ia akan menempel kayak prangko ke tubuh Leon pagi itu.
Siang harinya Hara membuat Leon kerepotan , ia meminta ingin memegang seragam pilot, kalau itu Leon masih bisa minta tolong pada Billy, karena ia punya teman, jadi ia bisa mengabulkan permintaan Hara.
Lalu Hara besoknya meminta durian padahal bau durian biasanya ia tidak terlalu menyukainya, tetapi kali ini ia memintanya, Leon beberapa kali menahan mual karena Hara meletakkan kulit durian itu di balkon tidak boleh dibuang sampai berhari-hari, kata Hara, ia suka menghirup baunya saat pagi.
Leon mengalah, bahkan ia memakai masker saat di kamar karena tidak tahan dengan bau kulit durian itu saat pintu menuju balkon dibuka.
Kali ini ada permintaan yang gila lagi.
Hara ingin memegang kumis seseorang,
"Hara sepertinya balas dendam padaku,"ujar Leon.
Kalau itu Leon pusing di buatnya, karena Hara tidak ingin orang yang ia kenal, harus orang lain, saat Bimo memperlihatkan kumis tipisnya untuk Hara, ia menolak ingin orang lain yang tidak kenal wajahnya.
“Aduh, bu aku pusing dari mana aku mendapat orang berkumis untuk dia, kenapa permintaanya yang aneh,”ucap Leon.
__ADS_1
“Ih, itu saja kamu susah melakukanya, kamu tinggal bayar orang untuk mencari orang yang memiliki kumis, lalu bawa kesini, kalau di beri uang siapa yang tidak mau apalagi diberi imbalan ibu juga pasti mau.”
“Oh iya, ibu benar.” Leon memanggil Ken dan memintanya melakukannya dan memberikan sejumlah uang .
Dengan senang hati Ken menerimanya, karena di komplek depan rumah Leon ada sebuah pangkalan ojek yang sering mangkal. Saat Ken menawarkan uang mereka setuju. Ken kasihan karena mereka rebutan karena ada beberapa yang memiliki kumis, tidak enak pilih satu orang, jadi memilih enam orang karena ia berpikir pasti mereka semua belum dapat penumpang dari pagi sampai siang, jadi Ken mengikutkan enam orang, jadi uang yang di berikan Leon di bagi enam untuk abang-abang tukang ojeknya lalu mereka di bawa ke depan rumah Leon.
Melihat rumah megah dan di jaga banyak pengaman mereka sempat takut berpikir akan melakukan hal yang berbahaya.
"Mas, kami bukan jadi kurir narkoba kan?" tanya salah seorang.
"Bukan Pak, istri si bos mengidam ingin pegang kumis orang lain,"ujar Ken.
“Ayo berbaris-baris."Bimo meminta mereka berdiri.
Leon Bu Atin dan semua penghuni rumah, ikut menonton mereka berenam karena tiba-tiba mendapat enam orang tamu yang semua memilki kumis.
“Lah kenapa jadi banyak, aku cuman minta dua orang kenapa jadi enam orang?” tanya Leon menatap Ken.
“Kasihan pak, mereka tukang ojek yang sering mangkal di depan, tadi saat aku memilih, mereka berebut, iya sudah uangnya jadi di bagi enam orang saja,” ucap Ken.
“Iya, kasihan mereka semua pasti seorang kepala rumah tangga,” ucap Bu Atin.
Ia meminta bu Atin menyiapkan bungkusan untuk keenam orang itu, Leon hanya ingin berbagi, karena ia berpikir kalau ia juga calon ayah.
“Iya kamu benar Nak,” ucap Bu Atin, ia bergegas dan meminta asisten rumah tangga menyiapkan beras untuk mereka bawa pulang.
Setelah sepuluh menit, akhirnya Hara turun.
“Tapi apa kamu yakin Hara tidak mengenal mereka?
“Aku yakin pak, karena mereka tukang ojek pangkalan yang di sana bukan dari aplikasi,” ucap Ken
Semua penghuni rumah itu penasaran apa yang ingin Hara lakukan pada mereka, berdiri melihat pemandangan yang tidak biasa itu.
“Itu Non Hara, semua memberi hormat padanya dan tetap menundukkan kepalanya” perintah Ken pada enam lelaki yang memiliki ragam kumis ada yang melintang ada yang memiliki jambang ada juga yang sengaja di bentuk seperti kumis jojon.
__ADS_1
Keenam orang ada yang sudah terlihat tua, mereka melakukanya semua itu demi uang yang akan dibawa pulang demi keluarga yang menanti mereka di rumah.
Hara berdiri tetapi ia tiba terlihat sedih karena yang ia inginkan bukan orang yang sudah tua yang rela membentuk kumisnya, demi keinginannya yang paling membuatnya bertambah jenguk Hara mengenal salah satu dari mereka, ia adalah tetangganya dulu saat tinggal di Depok.
Lalu Hara menatap Leon dengan tatapan marah, niatnya ingin membalas Leon malah ia yang merasa sedih.
“Aduh apa lagi sekarang?” ucap Leon memegang kepalanya. “Apa dia mengenalnya, Bu?”
“Sepertinya Hara mengenal mereka.” jawab bu Atin yang ikut melihatnya dari teras. “Kenapa Ken memanggil orang-orang yang dekat rumah.” Ucap Bu Atin.
Hara masih berdiri tetapi kali ini ia merasa kasihan pada orang tua yang berkepala botak dan memiliki kumis tersebut.
“Pak Bam!” Lelaki yang sudah terlihat tua itu menoleh Hara.
“Iya benar Non.”
“Bapak tidak mengenal aku, ini aku Jovita Hara anak Pak Darma dan Bu Ina, saat gadis buta saat di Depok.”
“Oh, mbak Jovita,” sahut lelaki itu menyelam Hara. “ Mbak ini rumahnya toh…”
“Bukan pak, ini rumah bapak yang angkuh yang sebelah sana,” ucap Hara menatap Leon.
Ken tertawa saat Hara menyebut suaminya tuan angkuh.
“Oh benarkah, terus kami datang untuk siapa Non?”
“Apa bapak semua tukang ojek yang di pangkalan di depan sana?” tanya Hara ternyata ia kenal dan sering melihat mereka mangkal di sana.
“Iya Non, kami di bayar karena katanya Non ingin melihat orang yang memiliki kumis, kami datang untuk Non,” ucap pak Bam.
“Oh itu saya pak, saya meminta maaf, iya pak.“
“Oh tidak apa-apa Non, pegang saja.”
“Tidak akan aku lakukan pak, aku meminta orang yang tidak aku kenal, tetapi mereka membawa orang yang aku kenal, ini batal, tetapi tenang bapak, tetap dibayar.”
__ADS_1
Tetapi satu orang dari mereka yang belum ia lihat dan kebetulan masih muda, “Aku memegang abang yang satu ini iya, maaf iya bang.”
Bersambung ….