
Pagi itu setelah Leon bangun dari kamar Jovita, ia sengaja buru-buru bangun agar Jovita tidak sadar kalau ia juga tidur bersamanya malam itu.
Pagi itu duduk di taman di lantai satu, mataya menyelidiki bagaimana Salsa melakukan aksinya dengan nekat, padahal ia tahu ada kamera di mana-mana yang mengawasi semuanya.
Leon duduk santai, meminta serapan di bawa ke sana, tidak lama kemudian Jovita bangun, ia berjalan buru-buru menuju lapangan di belakang rumah.
“Mau ngapain dia?”
Saat Jovita berjalan buru-buru, ia mengikutinya, ternyata Jovita memungut anak kucing yang ingin di gigit anjing pemburu milik Leon.
“Oh, apa kamu juga tidak punya keluarga?” Jovita mengendong anak kucing di dadanya dan mengomeli Iwan yang membiarkan Pitbull yang ingin mengigit anak kucing tersebut.
“Kak Iwan kenapa diam aja saat, anjing itu, ingin mengigit anak kucing ini”
“Iya …. itu anak kucing doang Non, biarkan saja, biar tidak ada lagi yang berkeliaran di sini”
“Kasihan Kak Iwan tidak ada keluarga sama seperti aku”
“Hanya anak kucing Non. Kucing liar di jalanan sana banyak berkeliaran.”
“Beda Kak, kalau di jalanan sana aku gak gak papa, tapi si kecil ini … datang ke sini”
“Lalu apa yang Non lakukan? Bos tidak suka dengan kucing, dia sukanya anjing”
“Dia tidak akan menganggu Bos kok, aku akan membuat rumahnya di sini”
“Tapi Non …”
“Tidak akan ada masalah kak, aku yang akan membuat kandang di sini jauh dari rumah. Pinjamkan aku gergaji dan alat-alat tukang dan papan”
“Ahhh … Maksudnya Non mau buat sendiri?”
“Kak Iwan tidak tahu ya. Saya ini sarjana bagian tukang,” ucap Jovita tertawa.
Iwan memberinya beberapa lembar papan dan seng. Wanita cantik lulusan arsitek itu melipat lengan lengan bajunya dan ia mengerjai beberapa lembar papan dan tripel aksinya mengundang perhatian anak-aak buah Leon yang saat itu sedang olah raga di lapangan.
“Non Hara bisa pegang gergaji?” Iwan tertawa takjub saat wanita cantik itu tiba-tiba menjadi tukang.
“Dia Lulusan arsitek” Zidan yang memakai penyangga lengan ikut mendekat.
“Dari pada kalian menonton aku, mendingan bantuin cat dan bantuin paku ini.”
“Tapi masalahnya bos takut marah Non”
“Tidak akan menganggu Kak Iwan, aku yang akan tanggung jawab kalau bos marah”
Bu Atin penasaran melihat mereka pagi-pagi sudah di buat sibuk sama Jovita. Leon hanya melihat dari atas tidak mengatakan apa-apa.
“Aku butuh jaringan kecil ada gak?”
Rikko melirik Leon yang duduk santai di lantai di taman memegang semua buku untuk ia baca, tetapi walau ia memegang buku, matanya selalu melirik apa yang di kerjakan Jovita di lapangan belakang . Leon hanya mengangguk kecil tanpa setuju saat Rikko menatapnya.
“Baiklah Wan tolong beli apa yang dibutuhkan Non Hara”
__ADS_1
“Ah … boleh?”
Rikko mengangguk mengarahkan kepalanya ke arah Leon.
Jovita tidak hanya memiliki cinta dan kehangatan pada manusia, ia dan ibunya dulu di kenal pencinta binatang dan ibunya juga punya rumah penampungan kucing dan ajing liar. Tidak heran Jovita meneruskan kebaikan sang mama.
Berkat bantuan anak buah Leon satu rumah kucing berwarna putih sudah selesai. Jovita meletakkannya di bagian paling belakang rumah.
“Wah, rumah buatan arsitek memang beda iya lebih keren,” puji Iwan
Akhirnya sebuah rumah kucing buatan Jovita Hara selesai juga.
**
Melihat kondisi Zidan yang belum bisa mengerakkan tangannya terpaksa Leon membawa anak buahnya yang di Kalimantan untuk ke Jakarta, termasuk Kenzo lelaki bertubuh besar yang uangnya di curi Jovita saat melarikan diri dari Kalimantan datang ke Jakarta.
Baru juga lelaki bertubuh tinggi itu tiba tetapi sudah mendapat hukuman dari Leon penyebabnya sangat sepele.
Rikko, Toni, Iwan, Zidan, Kenzo Kelima lelaki ini sudah sangat lama bekerja dengan Leon . Kenzo dan Zidan kepercayaannya di Kalimantan dan Toni, Iwan , Rikko yang memegang kendali di Jakarta dan Santo di Jogja .
Semua yang bekerja padanya sangat setia karena Leon memberi materi yang melimpah untuk semua anak buah. kepercayaannya tetapi sebagai imbalannya kesetiaan. Jika ada yang mengingkari dan berkhianat akan lenyap dari muka bu,I tanpa jejak.
Kenzo dan anak-anak yang lain duduk di di kursi di dekat pos. Jovita datang karena ia merasa bosan di kamar.
“Non Hara kenal dia gak?” Tanya Iwan menunjuk lelaki yang sedang membelakangi mereka.
“Ken berbalik badan, seketika Hara menutup mulut merasa malu, dia ingat persis lelaki yang tubuhnya berat hampir satu ton saat ia angkat ke mobil malam itu.
“Oh, jadi Non Hara! Dilihat secara langsung sangat cantik,” ucapnya bersemangat meraih tangan Jovita memberinya kecupan.
Leon yang melihatnya hanya mendengus kecil.
”Playboy kadal,” ujarnya menatap sinis.
“Ken, kendalikan dirimu jangan cari masalah.” Iwan mengingatkan karena Leon melihatnya dari dapur.
“Tapi benar Loh … Mbak Hara ini sangat cantik,” ucapnya belum mau melepaskan tangan Hara, ia mencari masalah untuk dirinya sendiri.
“Ini orang, cari masalah .” Rikko greget melihat tingkah playboy Kenzo, ia tidak tahu ada mata yang mengawasinya dengan tatapan ingin menelannya.
Jovita selalu bersikap ramah dan baik sama siapa saja, ia tidak marah saat tangannya di pegang Ken, ia menganggapnya hanya bercanda.
“Bang Ken aku minta maaf karena saat itu mengambil uang milikmu,” ujar Jovita merasa tidak enak. Apa lagi saat Leon menyebutnya pencuri.
“Oh, tidak apa-apa Non, justru aku ingin memberimu hadiah kecil semoga kamu suka, kerena malam itu Mbak Hara menyelamatkanku.” Ia mengeluarkan dari kantongnya sebuah gelang yang sangat cantik dengan karakter nama Hara.
Semua anak-anak yang lain saling menatap dan mulai garuk-garuk kepala dengan sikap gelisah karena kelakuan Ken mereka sudah yakin lelaki yang satu ini akan kena batunya nanti.
“Ini buat aku? Oh ini cantik bangat,” ujar Hara memegang tangan Ken dengan perasaan senang.
“Mbak suka?”
“Suka bangat ,aku dengan gelang unik seperti ini”
__ADS_1
Hara tertawa bahagia saat semua anak buah Leon tidak menaruh dendam padanya.
Ken dan Jovita mengobrol akrap dan saling bercanda, Kenzo lelaki yang humoris sama seperti Damian dan Iwan. Sedangkan Ken dan Rikko memiliki sikap tenang tidak banyak bicara, anak buah Leon memiliki sikap yang beragam-ragam.
Jovita masuk ke dalam rumah menemui Bu Atin sementara anak buah Leon masih duduk santai setelah masalah yang di sebabkan Hara beberapa hari yang lalu Leon memilih lebih banyak bekerja dan mengawasi dari rumah.
Biasanya hari Sabtu, anak buah Leon mendapat jatah libur. Namun kali ini tidak. Mereka semua berjaga di rumah.
Melihat Kenzo sangat akrap dengan Jovita, Leon merasa tertantang seolah-olah tidak mau kalah dengan anak buahnya.
Saat Jovita sudah kembali ke rumah sekarang gantian Leon yang datang, ia terlihat sangat keren dengan setelan kaos street berwarna hitam memperlihatkan otot-otot dada dan dipadukan dengan celana pendek kasual membuatnya terlihat sangat berbeda, gayanya terlihat seperti lebih muda dan keren.
Ini pertama kalinya Leon tampil seperti ini dan tidak tahu apa yang membuatnya mengubah penampilannya seperti anak muda. Biasanya ia selalu terlihat berpenampilan kemeja dan jaket hitam.
“Bos?”
“Ya selamat datang Ken di Jakarta”
“Iya Bos” Ken mengangguk santai.
“Apa kamu capek, Ken?”
“Oh, tidak Bos tidak capek”
“Oh, banguslah Ken saya punya pekerjaan kecil untukmu”
“Apa itu Bos”
“Saya ingin kamu memindahkan batu-batu ini semua ke halaman lapangan belakang lakukan sendiri”
“Haaa?” Ken melirik anak-anak yang lain.
“Lakukan sendiri Ken, anak-anak yang lain sudah capek”
Rikko dan yang lainya menahan tawa saat Ken mendapat hukuman karena berani-beraninya memegang tangan Jovita.
“Aku sudah bilang tadi Bro, lu gak mau dengar sih, syukur,” ujar Iwan saat Leon sudah pergi mereka semua yang sudah paham siapa Non Hara hanya bisa menertawakan Ken yang kena hukum karena berani-berani menyentuh milik bos Naga.
BERSAMBUNG ….
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1