Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dia Semakin Menjauh


__ADS_3

Cinta itu punya kekuatan, bahkan bisa menghancurkan satu gunung sekalipun, ungkapkan itu mungkin itu ada benarnya juga.


Karena mencintai Jovita Hara, Leon dulu bisa berubah  menjadi pribadi yang  hangat, Tetapi, saat cinta itu pergi, ia kembali membeku bagai gunung es, bahkan sikap Leon lebih dingin dari biasanya.


Apa lagi saat beberapa minggu ini sejak Hara menghilang tanpa kabar, Leon semakin parah. Ia kadang marah hanya karena masalah  kecil, bahkan  tidak memperdulikan kesehatannya, ia menenggelamkan dirinya untuk pekerjaan saja.


Bram masuk ke ruangan Leon untuk memberi laporan tentang  hasil pencariannya tentang Hara. Dalam ruangan Leon memijit keningnya yang terasa berdenyut,  ia siap mendengar laporan dari Bram.


”Apa ada perkembangan?” Tanya Leon langsung pada intinya.


“Maaf Pak, saya belum mendapat kabar baik, tapi saat saya kembali ke rumah lama Nona Hara di Depok, terlihat ada aktifitas di sana,  lelaki paru baya itu menyiram tanaman di halaman depan rumahnya.”


“Bukankah kamu bilang rumah itu akan di jual?”


“Iya Pak, tetapi katanya rumah  itu belum laku, karena itu ayah non Hara masih ada di sana”


“Maksudmu suami Bi Ina?”


“Iya Pak.”


“Antarkan saya sekarang juga kesana, biar saya yang bicara langsung pada orang tua itu,” kata Leon, ia berdiri. “Mungkin dari sana kita akan mendapatkan titik terangnya,”ujarnya lagi bergegas.


Tetapi Bram masih berdiri dengan diam, ia ingin mengutarakan sesuatu tetapi ia ragu. Leon berhenti dan menoleh ke arahnya, ia mendekat.


“Kenapa?apa ada hal yang lain?”


“Itu Bos, mbak Bianca ada di bawah, dia tadi bicara dengan saya”


“Ia belum pergi?”Wajah Leon terlihat datar.


' Seandainya saat itu aku tahu Hara masih hidup, aku tidak akan berjanji pada wanita itu untuk menikahinya'Leon memijit kening.


“Masih menunggu di bawah Bos” jawab Bram.


Leon berdiri menggaruk-garuk dagunya, matanya menoleh rantang yang di berikan Bianca padanya.


 “Kamu belum makan siang’kan?” Leon mengangkat rantang bersusun itu dan memberikannya pada Bram.


“Ini, bantu saya …. kamu makan buburnya dan baru kita menemuinya” ucap Leon dengan sikap buru-buru.


Mendapat perintah dari Bos, tanpa membantah, Bram menerima rantang tersebut, walau sebenarnya ia tidak suka makan  bubur, tetapi ia memaksanya.


Baru suapan kedua, ia ingin muntah, matanya memerah, karena lambungnya menolak makan bubur.

__ADS_1


“Makannya pelan-pelan saja,  saya menunggu,” ucap Leon dengan gayanya yang santai, ia tidak tahu Bram tersiksa karena dipaksa makan bubur, Leon  malah membaca koran  dengan kaki diangkat dan digoyang-goyang santai.


 “Bagaimana rasanya? Bicara jujur agar aku memberi nilai." Leon menoleh ke arah Bram, wajah lelaki itu memerah merasa mual.


“Maaf Pak, mungkin karena saya tidak suka makan bubur maka itu, saya merasa, rasa buburnya hambar dan daun bawangnya membuatku ingin muntah” kata Bram berkata jujur.


“Ok baiklah kamu boleh membereskannya, kita akan mengembalikan rantangnya, mungkin dia menunggu itu dari tadi, apa merek rantangnya? sepertinya dia sangat menyukai rantang itu sampai di bela-belain menunggu dari tadi” ucap Leon datar.


‘Bukan karena rantangnya kali Bos,  karena menunggu boslah, masa iya wanita kaya seperti dia, rela menunggu  berjam-jam hanya gara-gara rantang’ ujar Bram  dalam hati ia tersenyum kecil.


“Kenapa malah bengong. Buruan” Leon  berdecak.


“Baik Bos” Bram langsung bergegas mencuci rantangnya di wastafel yang ada dalam ruangan itu, terpaksa ia membuang isi rantangnya.


Mendengar Leon berkata seperti itu, ia tahu kalau  sang bos kesal pada pemilik rantang itu.


“Aduh mudah-mudahan wanita itu sudah pergi,”  gumam Bram pelan dengan sikap  buru- buru,  ia menarik beberapa lembar tissue dan mengusap rantangnya sampai kering.


“Sudah Pak,” ucap Bram menenteng rantang bersusun tersebut.


“Ok Ayo.” Leon berjalan  keluar.


“Kaila, kalau kamu ingin pulang duluan hari ini tidak apa-apa, saya ada kerjaan di luar kantor.”


“Tolong undur waktunya  atur saja untuk pertemuan besok,  ada pekerjaan yang lebih urgent yang akan saya lakukan,” ucap Leon  berdiri tepat di depan Kaila.


“Baiklah pak Leon,” ucap Kaila tidak berdaya dengan tatapan memukau dari bosnya, setiap kali Leon menatapnya sedekat itu membuat wanita berwajah cantik itu, seperti ingin terkena serangan jantung.


“Baik lakukan dengan baik,” ucap Leon meninggalkan Kaila masih berdiri mematung di mejanya.


Benar saja,saat turun ada wanita cantik satu lagi yang ia hadapi, benar kata orang kalau sudah Cinta menunggu  berjam-jam juga bisa dilakukan.


Bahkan  Bianca yang lahir membawa sendok emas di mulutnya, mampu melakukan hal yang tidak biasa untuk Leon. Ia tidak pernah memegang penggorengan dan tidak pernah memasak, tetapi, ia memasak bubur untuk Leon, walau rasanya hancur yang penting baginya niat dan ada kemauan, ia ingin menunjukkan perhatiannya pada calon suami.


Bianca putri tunggal dari  seorang pengusaha restauran   terkenal yang memiliki banyak cabang di berbagai kota besar,   ia hidup mewah dengan kekayaan keluarganya, dan sang ibu seorang dokter bagian psikolog dan ibunya  Bianca juga, guru senior  Billy  dan di klik ibu Biancalah Leon mendapat pemulihan saat ia mengalami trauma mental dua tahun yang lalu.


 Sementara ayah Bianca, teman bisnis Leon, dihormati dan ayahnya juga aktif di bagian acara sosial. Leon menghormati  kedua orang tuanya karena itulah Leon tidak  mau sembarangan memutuskan  hubungan dengan Bianca, karena ada banyak hati yang harus ia jaga dan ia hormati.


Tetapi sayang, saat ia menjaga hati banyak orang.  Kini ia kehilangan satu hati yang amat ia cintai.


Saat Leon turun, Bianca berdiri  dan menghampiri Leon, memamerkan senyuman yang sangat manis pada Leon, berpenampilan elegan terlihat berkelas sepadan dengan Leon.


“Wanita yang gigih” ucap Leon pelan saat ia mendekat.

__ADS_1


“Mas Leon, mau pergi ke mana?”


Alih-alih untuk menjawab pertanyaan Bianca, Leon memberikan rantang itu padanya.


“Terimakasih untuk buburnya, sudah habis, jangan memasak lagi rasanya tidak enak, kamu tidak ahli dalam memasak, jangan memaksa hal yang tidak bisa kamu lalukan, karena itu melelahkan” ucap Leon ucapannya penuh teka-teki.


Wajah  wanita berkulit putih itu langsung memerah, bagai udang rebus, karena Leon mengatakannya tanpa basa-basi sedikitpun.


“Maaf karena rasanya tidak enak, iya?” Tanya Bianca melirik Bram yang tersenyum kikuk.


“Tidak apa-apa yang penting kamu sudah mencobanya dan aku sudah melakukan penilainku , barang kali kamu juga menunggu ini, karena kamu menunggu dari tadi  di sini” ucap Leon memberikan rantang milik Bianca.


“Tapi bagaimana keadaanmu Mas, aku sangat khawatir”


“Saya sudah baikan, kamu boleh pulang”


“Tapi apa kita boleh bicara?” Tanya Bianca berusaha keras


Tiba-tiba ponsel Leon berdering dan Hilda  datang  dari arah depan menghampiri. Leon membalikkan badannya menatap Bianca.


  “Aku akan meneleponmu lagi nanti, saya masih ada urusan penting,  sampai bertemu nanti,” ucap Leon meninggalkan Bianca. Wanita cantik itu, masih mematung melihat Leon semakin menjauh dan masuk ke mobil di depan Lobby.


Leon benar-benar sangat acuh pada Bianca belakangan ini, apa lagi saat Hara menghilang, Bianca seakan-akan tidak ada artinya untuknya.


Kini hubungan Leon dan Bianca digantung tanpa ada kejelasan.


“Angkuh sekali. Kamu yang mengajakku menikah duluan Pak Leon, jangan salahkan kalau akan mengekor terus padamu sampai aku mendapatkan apa yang aku mau," ujar Bianca, tertawa miring.


Bersambung ….


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2