
Leon terbangun saat alarm pagi milik Hara berdering riang berisik di atas nakas, Leon membuka mata merasa terganggu dengan bunyi berisik itu, biasanya baru berbunyi sebentar saja Hara sudah mematikannya. Tetapi kali ini sudah beberapa menit ia berdering tidak ada yang menyuruhnya untuk diam.
“Cckkk berisik.” Leon melempar bantal ke jam beker bulat tersebut, terjatuh dan pecah di lantai, walau sudah pecah dan berserak di lantai, tidak lantas membuatnya diam.
Leon memungutnya dan menekan tombol of barulah diam.
Leon tidur lagi, ia merasa tubuhnya letih karena aktivitas panas tadi malam dengan Hara, ia juga baru pulang dari luar kota, berniat akan masuk siang ke kantor hari ini, dengan mata tertutup Leon mengulurkan tangannya ke samping meraba –raba tidak ada sosok istrinya tidur di sampingnya.
Leon membuka matanya, Hara tidak ada di sampingnya.
‘Apa Hara sudah bangun sepagi ini? rasanya tidak mungkin, dia akan bangun kalau benda berisik itu membangunkannya’ ucap Leon.
Leon akhirnya bangun memakai sandal rumah, ia masuk ke ruangan yang di sulap Hara menjadi ruang kerjanya, saat Leon membuka mata ia disuguhkan pemandangan indah, ternyata bukan hanya mendesain keahlian Hara, Leon baru menyadari ternyata istrinya bisa melukis juga, matanya melihat pajangan lukisan hasil karya Hara, memajang semua hasil lukisannya dalam bingkai kayu berkaki.
“Istriku bisa melukis juga?” Leon tersenyum takjub melihat lukisan Hara yang di pajang.
Ada satu lukisan yang menarik perhatiannya Leon, membuat hatinya meronta ikut sedih, lukisan keluarga Hara, ada ibu, ayah dan kedua adik kembarnya serta foto Hara, tetapi ada yang berbeda dalam lukisan , saat kedua adiknya dan kedua orang tuanya tersenyum bahagia Hara yang duduk di depan mereka terlihat sedih sendirian, seakan-akan keempat orang dalam fotonya berusaha menghiburnya dengan memegang pundak Hara dari belakang dengan wajah tersenyum.
Leon berdiri lama memandangi arti dari lukisan Hara, ada kesedihan dan kerinduan yang sangat dalam di sorot mata Hara dalam lukisannya.
“Apakah kamu sesedih itu saat ini?” Leon menyentuh wajah Hara dalam lukisan.
Leon merasa Hara menyembunyikan perasaan sedihnya sendirian, ia berpikir kalau Hara tidak jujur padanya tentang perasaanya, Hara tertidur di salah satu meja dalam ruang Kerjanya, ia mengangkat tubuh Hara dari meja kerjanya .
Saat mengangkat tubuh Hara Leon tiba-tiba berdiam.
‘Kenapa tubuh begitu ringan ? apa benar kamu tidak makan beberapa hari ini,apa karena aku menuntut cepat hamil jadi beban untukmu’ Leon membatin.
Meletakkan tubuh Hara di atas ranjang, Leon berdiri menatap Hara dengan tatapan kasihan.
“Baiklah sayang aku tidak akan menyinggung tentang anak lagi kalau itu yang membuat jadi beban pikiranmu,” ucap Leon mengecup punggung tangan Hara.
Melihat Leon menggendong Hara dari kamarnya, Bu Atin ikut khawatir, ia berpikir kalau Hara sakit.
‘Apa Hara sakit karena tidak mau makan beberapa hari ini?’ Bu Atin ikut masuk ke kamar Leon.
“Apa Hara sakit lagi, Nak?”
“Aku merasa bersalah Bu, mungkin aku terlalu menuntutnya agar cepat hamil dia stres.”
“Bisa jadi Nak, pantas dia selalu murung beberapa hari ini,” ucap Bu Atin.
__ADS_1
Leon duduk si kursi di samping ranjang Hara, matanya menatap sedih ke wajah Hara yang terlihat pucat dan bibir kering pecah-pecah.
Saat Leon duduk dalam diam , Hara terbangun, kelopak matanya awalnya terbuka perlahan, hingga akhirnya mata itu terbuka sempurna, ia tersenyum.
“Selamat pagi,” sapa Hara.
“Selamat siang Tuan putri ….”
Hara tertawa.
“Apa kamu mau jalan-jalan denganku naik motor keliling komplek? biar pikiranmu tidak jenuh.”
“Boleh, tapi aku mandi dulu.”
“Tidak usah mandi, kamu tiga hari tidak mandi tetap wangi,” goda Leon. Lalu ia jongkok di depan Hara.
“Eh mau ngapain?” Tanya Hara tertawa lebar.
“Naik ke punggung biar aku gendong,” ujar Leon menyodorkan punggungnya.
“Ok” Hara naik ke gendongan Leon.
“Zidan tolong keluarkan motor iya, aku mau jalan-jalan sama Hara.”
Saat leon turun dari lift rumahnya anak buahnya tersenyum melihat Hara di gendong Leon.
Leon memakai helem ke kepala hara lalu mereka berdua naik motor , Moge tipe TXR15 yang jarang digunakan Leon, ia mau mengendarainya jika santai itupun jarang. Tetapi kali ini, untuk menghibur sang istri Leon membawanya jalan-jalan naik motor. Hara memeluk pinggang Leon dari belakang dengan erat, ia menyadarkan kepalanya di punggung kokoh sang suami.
Lalu berhenti di sebuah cafe di pinggir jalan.
“Kita berhenti di sini iya,” ujar Leon, berhenti di sebuah cafe yang tempatnya bukan mewah. Tempatnya di sebuah bangunan tua di Cikini Jakarta Pusat.
“Kok Kesini, apa yang sepesial di sini?’ Tanya Hara.
Leon mengangguk ia menggenggam tangan istrinya,
“Ko, Bakpao tiga dan kopi susu satu,” pesan Leon.
Hara masih sibuk menatap sekeliling tidak ada yang spesial, beberapa bangunan sudah tua dan ada banyak coretan di tembok.
“Kok kita ke sini?’
__ADS_1
“Kamu jijik?” Tanya Leon menatap sang istri.
“Tidak hanya penasaran saja.”
“Sayang tempat ini banyak kenangan padaku.” Hara menatapnya dengan fokus.
“Saat aku bekerja pada Bokoy aku sudah hampir dua kali mati di tempat ini, Bunox meninggalkanku di sini, lihat bangunan tua itu, aku di lempar di sana saat terluka dulu. Lelaki yang punya cafe ini yang menyelamatkanku, orangnya sudah meninggal yang meneruskan usahanya anaknya. Ia memberiku tiga bakpao saat aku kelaparan.” Hara meneteskan air mata saat Leon menceritakan kisah hidupnya yang sangat menyedihkan. Ini pertama kalinya Leon menceritakan tentang hidupnya pada orang Lain hanya pada istrinya Jovita Hara.
“Apa separah itu?”Tanya Hara menggenggam tangan Leon dengan erat. Kisah hidup sang suami sukses membuat Hara menangis bombai.
“Jadi … sayang, apapun yang ada dalam pikiranmu, ceritakan padaku jangan menyimpannya sendiri,” ujar Leon mengusap buliran air mata Hara.
“Baiklah aku akan melakukannya. Aku hanya takut kamu meninggalkanku Leon,” ujar Hara dengan isak tangis.
“Aku takut kamu mencari wanita lain untuk melahirkan anak untukmu seperti novel-novel yang aku baca. Di mana lelaki kaya raya menyewa rahim wanita lain untuk melahirkan anaknya,” ujar Hara.
“Kamu kebanyakan baca novel, tidak akan seperti itu sayang,” ujar Leon menyakinkan sang istri.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing