
Pemandangan yang berbeda terlihat di halaman rumah Leon malam itu.
Sebuah meja ber-alaskan kain warna putih, tampak berdiri dengan indah. Sebuah lilin besar menghias meja, dengan taburan kelopak bunga mawar merah bergambar hati, di
sepanjang kolam di hiasi lilin menambah betapa romantisnya suasana malam itu.
Bola lampu berwarna-warna menghiasi taman, di atas meja sebotol wine merah rendah alkohol bisa untuk orang hamil dan dua gelas kaca berdiri anggun.
Leon dalam kamar terlihat gugup, ia memakai setelan kemeja berlengan panjang, biar juga dinner di depan rumah, ternyata ia juga memperdulikan penampilan sepertinya ia sungguh-sungguh dengan rencananya untuk melamar Jovita.
Ia beberapa kali melakukan ritual kecil, menarik napas panjang, lalu menghembuskan lewat mulut, bahkan ia belajar melakukan bagaimana tersenyum. Di depan pantulan cermin di kamar mandi, ia menarik ujung bibirnya menggunakan jari, memaksanya untuk tersenyum.
Ia turun dengan langkah yakin dan percaya diri, dalam benaknya, ia membayangkan malam ini, akan jadi malam yang tidak terlupakan untuk Jovita.
Leon meminta Bu Atin membantu membawa Jovita keluar, saat wanita cantik itu tiba.
“Wah, Ada apa ini? bagus bangat.” Hara tersenyum lebar, saat melihat dekorasi yang cantik tersebut.
Leon berdiri di depan Hara, ia tampak sangat gagah malam itu, Hara tersenyum manis pada Leon.
“Ada apa?” Tanya Hara, menatap Leon dengan senyum.
“Bangus, gak?”
“Bangus bangat Pak Leon,” ujar Hara ia sangat cantik saat tertawa.
“Aku ingin mengajakmu makan malam, sekarang, kamu harus mau.”
Mendengar kalimat itu, wajah Hara langsung berubah.
“Itu ajakan, apa perintah sih? Suasana sudah mendukung, dekorasinya sangat bagus, tapi masa ajakannya begitu,”ujar Hara.
“Terus harus bagaimana?” Leon menyengitkan alisnya, tertanda bingung, ia belum pernah melakukan hal romantis dalam hidupnya.
‘Dasar lelaki kanebo kering, masa itu saja tidak bisa? Bisa mati muda aku, jika jadi istrimu'Jovita membatin.
“Jovita Hara, malam ini aku mengajak kamu dinner, silahkan duduk Begitu juga boleh,”ucap Hara mengajari.
Lagi-lagi Leon menarik napas panjang.
“Duduklah. Kalau aku sudah membawa kamu kesini berarti sudah mengajak kamu makan malam, kan? Jadi harus bagaimana lagi … tidak usah di besar-besarkan Nona Hara,” ucap Leon memelas.
“Hedeh… dasar lelaki kaku.”
__ADS_1
“Kamu kenapa pilih baju terbuka seperti itu?” Leon menatap tidak suka, dengan model gaun malam yang di pakai Hara kali ini.
“Bagus’kan? Kak Toni juga bilang cantik,” ucap Jovita keceplosan, seketika wajah Leon terasa terbakar di bawah meja, ia mengepal kuat jari-jari tangannya.
‘Aduh, aku keceplosan, harusnya aku tidak bilang begitu' Hara membatin.
“Nona Hara, tolong … Jangan menyebut lelaki itu di depanku, jangan memuji lelaki lain di hadapanku saat aku bersamamu,”ujar Leon dengan suara pelan, tetapi urat leher mengeras.
“Aduh berjuanglah Pak Leon, jangan emosi,” ucap Bu Atin wanita paru baya itu tahu Leon ingin meledak. Ia sangat khawatir, ia berpikir Hara berada di persimpangan jalan saat ini, jalan satu Leon dan satu lagi Toni. 'Harusnya Leon bersikap lembut' Wanita itu menghela napas.
“Maaf, bukan merusak makan malam kita, baik, tidak lagi,” ucap Jovita dengan senyum yang sangat dipaksakan terlihat sangat kaku. Melihat senyuman Hara kali ini,Leon menelan savilanya dengan susah payah. Ia sadar wanita yang dihadapannya tidak lagi menginginkan dirinya. Ia bisa melihat senyuman Hara kali ini sudah berubah, tidak ada lagi bunga-bunga cinta yang pernah Hara tawarkan untuk Leon.
Apakah ucapan Jovita Hara yang dulu terbukti?
Hara pernah bicara ini sama Leon;
Leon tahu siang itu, Jovita Hara menelepon Toni dan mereka mengobrol banyak. Itulah yang memancing emosi Leon saat ini.
“Nona Hara, aku membenci Toni, aku tahu dia membantumu, maka itu dia kembali ke Kalimantan, kan? Tetapi, Nona Hara .... Aku membiarkannya dan memilih memaafkan karena aku menghargaimu,” ucap Leon dengan suara terdengar bergetar.
“Baiklah Pak Leon, aku minta maaf karena membuat Bapak tersinggung. Baiklah bukankah kita ingin makan malam,” ucap Jovita Hara tersenyum, tetapi senyuman itu terlihat hanya terpaksa demi meredakan amarah Leon.
Karena lelaki itu sudah terlihat sangat kesal.
‘Kamu mengandung anakku, lalu, kenapa harus pria itu, kenapa tidak aku?’ Leon membatin, ia menarik napas panjang.
Leon menepuk tangannya, Iwan dan Rikko datang membawa dua masakan spesial yang mereka masak mulai sore dan berakhir sampai malam.
Kedua lelaki berwajah tampan itu berperan sebagai waiters profesional seperti di restoran dengan setelan baju yang di pakai terlihat serasi, meletakkan piring menu steak sebagai menu pembuka.
Saat Jovita menoleh ke samping, seorang pemain musik biola sedang memainkan musik, Hara tersenyum lagi.
“Terimakasih Pak Leon”
Hara tersenyum manis saat melihat tampilan steak dalam piring, semua tampak menggoda bumil cantik itu langsung ngiler.
“Silahkan,” ucap Leon dengan yakin.
“Makasi”
Hara mengambil pisau steak dan mulai memotongnya dengan perlahan, tetapi saat di potong dagingnya seakan bebal bagai daging badak, Jovita sudah mulai senyum kecil, merasakan hawa tidak enak, saat memotong daging steak, akhirnya berhasil dipotong dan dimasukkan ke mulut.
‘Oh, iya ampun, rasa apa ini?’ Teriak Jovita Hara dalam hatinya, rasanya tidak karuan, kuah steaknya terasa sangat asin dan pedasnya membakar mulut.
Tapi ia menahannya demi menghargai Leon yang sudah bersusah payah memasak, Hara mengunyah dan menelan.
“Bagaimana?” tanya Leon, ia belum mencoba masakannya yang rasanya hancur itu.
__ADS_1
Hara lagi-lagi tersenyum kecil, terlihat jelas ia sangat menghargai usaha Leon.
“Aku mencicipinya rasa sedikit asin, Apa lidahku yang salah. Coba Pak Leon ,” ucap Hara mempersilahkan Leon mencoba, Leon juga memotong dengan susah payah, matanya mulai menatap Hara dengan ragu, ia akhirnya berhasil memotong satu bagian.
Semua anak buahnya terlihat menonton dari jauh Bi Atin terlihat menegang saat melihat Leon kesusahan memotong daging hasil kerja kerasnya.
Wanita paru baya itu sudah menduga bagaimana rasanya, tadi saat ia masuk ke dapur menawarkan bantuan, tetapi Leon yakin bisa, keyakinan dan rasa percaya diri itu akhirnya gagal total.
“Uaaak … asin, rasa apaan ini?” katanya meneguk air putih dalam gelas sampai ludes. Leon sangat membenci kegagalan, itu satu kelemahan Leon.
“Tidak apa-apa Pak Leon, masih layak makan, aku menghargai kerja kerasmu sama mereka,” ujar Hara niatnya baik.
“Jangan makan!”
“Tidak apa-apa Pak Leon, hanya asin sedikit saja,” ucap Jovita ia hanya tidak ingin Leon marah.
Tetapi lelaki yang sudah dilanda api cemburu dan ditambah kegagalan, akhirnya, tidak bisa menahan diri lagi.
“Hentikan Nona Hara! Ini bukan makanan, ini sampah!” Ujar Leon membentak Hara. “ Berhenti mengasihani ku seperti itu, aku tahu kamu hanya berpura-pura. Itu kamu lakukan karena kamu kasihan padaku,” ujar Leon.
“Pak Leon, tenanglah, kasihan mereka yang sudah membantumu tadi," ucap Hara lembut.
“Aku memang brengsek Nona Hara, aku memang penjahat. Aku tidak bisa melakukan apa-apa hanya memasak begini saja aku gagal,” ucap Leon lagi
“Pak Leon tenanglah. Tolong,” ujar Hara memelas, ia hampi menangis melihat kemarahan Leon.
Zidan dan Rikko terlihat ikut menegang, saat melihat kemarahan sang bos.
“Kamu merusak usaha kerasmu sendiri Leon, sudahlah ….” Bu Atin masuk ke dalam rumah”
Leon meninggalkan Hara yang masih duduk diam, ia merasa kasihan dengan semua anak buah Leon yang bersusah payah menyiapkan semuanya.
Akhirnya acara ingin melamar Hara gagal total, karena Leon tidak bisa menahan emosi, pemicu semua kegagalan itu karena ia cemburu di tamba masakannya gagal.
Bersambung ..
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI., SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.
LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)