
Leon masih berbaring di ranjang rumah sakit, team dokter melakukan tindakan operasi , setelah beberapa lama, Leon dan Bimo akhirnya berhasil di selamatkan. Luka Leon lebih parah karena luka tembak tepat di perut, sementara Bimo tidak terlalu parah karena ia luka di bagian pinggang belakang.
Sementara Zidan meminta semua orang bawahan Leon berjaga lebih keta. Tidak lupa ia juga meminta Ken agar menjaga Hara lebih ketat.
“Ken, aku ingin kamu menambah orang-orang mu,” ujar Zidan.
“Apa yang terjadi?”
“Bos tertembak, dengar, jangan sampai Non Hara sampai tahu, untuk saat ini kamu rahasiakan dulu.”
“Baik,” ujar Ken, ia ikut panik. Ken memperketat pengawasan di rumah Piter.
*
Setelah beberapa lama berbaring di rumah sakit, besok paginya Leon akhirnya sadar juga, wajahnya pucat.
“Bapak, sudah bangun? Syukurlah,” ucap seorang perawat yang terlihat sudah berumur memeriksa selang infus yang menggantung di samping ranjang Leon.
Lalu ia keluar memanggil dokter, Leon masih belum bisa mengingat kenapa ia berada di ruangan bernuansa putih tersebut.
“Pak Leon, akhirnya bangun, baguslah.” dr.Billy duduk di sisi ranjang.
“Apa yang sudah terlewatkan olehku?” Leon menatap Billy.
“Bos terluka dan berakhir di rumah sakit pak Leon, kami melakukan operasi malam ini, kalau tidak, bapak sudah tertolong pak Leon.”
“Bagaimana dengan Hara?”
“Non Hara baik-baik saja, Zidan dan Toni mengatur semuanya dengan baik dan luka Bimo tidak parah,”pungkas dr.Billy.
“Mana Zidan?” tanya Leo dengan mata terlihat sangat layu .
“Iya Bos aku di sini.” Zidan masuk menemuinya wajah, lelaki tampan itu juga terlihat sangat lelah karena tidak tidur satu malam. Bahkan ia meminta Clara untuk menginap di rumah saudaranya karena ia tidak pulang. Untungnya Clara mengerti, ia tidak marah. Zidan duduk di sofa.
“Apa Hara baik-baik saja?”
“Jangan khawatir Bos, saya sudah memperingatkan pada Ken dan Vincen , aku juga menambah penjagaan di sana.
“Siapa pelakunya?” Tanya Leon dengan tatapan serius. Ia tahu kalau Zidan pasti mendapatkan siapa pelakunya.
“Seperti dugaan kita sebelumnya, pasukan sakit hati. Suruhan mantan pengacara Bokoy.”
“Lalu apa kamu mendapatkannya?”
“Aku dan Toni tadi malam mendapatkannya dengan keadaan hidup, dia kami kurung di gudang di villa.”
“Apa yang diinginkan?”
“Ia tidak buka mulut.”
“Serahkan pada musuh Zidan.”
“Apa? Izinkan aku menghabisinya Bos.”
__ADS_1
“Jangan Dan, jangan kotori tanganmu lagi, kita bukan mafia lagi, kita sudah tobat, saat ini kita pebisnis, bukan penjahat. Ingat kamu dan aku sebentar lagi akan punya anak,” ujar Leon.
Zidan kaget, tadinya ia berpikir kalau Leon memintanya untuk menyingkirkan orang yang mencoba melenyapkan dirinya. Zidan terdiam, apa yang dikatakan Leon menyadarkan dirinya, kalau ia juga akan menjadi seorang ayah.
“Lalu apa yang kita lakukan Bos?’
“Berikan apa yang mereka inginkan,” ujar Leon.
Leon benar- benar ingin mengubah semua sikap buruknya selama ini.
“Apa? Maksudnya memberi mereka uang?”
“Iya, jika itu yang mereka inginkan berikan saja, untuk lelaki yang kamu tangkap serahkan saja sama polisi.”
“Baiklah,” ujar Zidan.
Walau sebenarnya hatinya tidak rela, tetapi karena Leon yang meminta ia tidak menolak.
“Tetapi kenapa Bos? kalau Bos tidak mau berurusan dengan polisi biarkan saya,” ujar Zidan lagi.
“Ini bukan tentang berani atau tidak Zidan , tetapi tentang karma. Aku tidak mau anak-anakku nanti menanggung dosa yang aku perbuat,” ujar Leon
“Baiklah.”
“Zidan satu hal lagi, jangan biarkan Hara tau, kalau aku masuk rumah sakit, serahkan semua pengawal ke rumah Bu Ina, biarkan orang menjaga dari kejauhan agar Hara tidak merasa terbebani, Walau ia sakit perhatian pada Hara tetap nomor satu.
“Baik Bos.”
“Leon, kapan hidup mu bebas dari ancaman dan Bahaya Nak? kenapa kamu diincar? Padahal kamu sudah berusaha untuk keluar dari dunia gelap itu?”
*
Di rumah Bi Ina, Hara tertidur pulas dokter terpaksa membuat Hara tidur agar ia bisa istirahat total.
Di ruang tamu Bu Ina ,Piter, Viky, Hilda masih terlibat obrolan serius.
“Aku sudah menduga hal –hal buruk di antara mereka berdua akan terus ada, guncangan, cobaan, bahaya akan mengikuti perjalanan Hara dan Leon, itu sudah ditakdirkan, aku tidak akan menyalahkan Leon, ia pasti dalam posisi yang sulit juga,” ucap Piter.
“Terus dia kenapa tidak datang ke sini menemani Hara?” Bu Ina menatap Piter.
Viky lebih banyak diam, ada rasa sedih terlihat di wajahnya melihat Hara, lelaki itu sangat merindukan keluarganya kakak, ia juga menyalahkan dirinya, belakangan ini, terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri.
“Sekarang apa penyebab pertengkaran mereka kali ini?” ucap Viky terlihat sangat lesu.
Karena sejak Hara datang belum mau menceritakan dengan jelas apa yang terjadi pada keluarganya, Hara ingin bertanya pada Piter tetapi ia mau marah pada lelaki yang sudah menjaga tersebut.
“Coba telepon Bu Atin Hil,” pinta pada Hilda wanita hamil itu menekan nomor di ponselnya.
“Ponselnya sibuk Bu, aku coba telepon pak Leon ponselnya tidak aktif, tapi coba kita telepon Zidan, tetapi tidak diangkat. Hilda menemui Ken yang berjaga di depan dan menceritakan semuanya. Hilda buru - buru masuk kembali ke dalam rumah.
“Toni .... ?” tanya Hilda dengan alis menyengit.
"Apa maksudnya?" Bu Ina memincingkan alis mata.
__ADS_1
"Apa benar Toni sudah tunangan dengan Hara sejak kecil?"
"Apa maksudnya?"
"Vikky menatap dengan serius."
“Dia orang yang menyelamatkan Hara dari kebakaran di Kalimantan saat itu,” jawab Bu Ina.
“Bang, apa benar kamu mengenal Toni saat Hara masih kecil?” tanya Hilda.
“Iya. Dia teman masa kecil Non Hara, anak dari teman Ibunya, saat mereka di Kalimantan.”
“Lalu mereka sudah di jodohkan sama keluarganya? "
" Aku tidak tahu Hilda, kenapa mengungkit itu lagi? Hara kan, sudah jadi istri Leon, kenapa harus diungkit lagi?"ujar Piter, ia merasa tidak enak karena ada Vikky di sana.
“Ha? Jadi Toni sebenarnya tunangan Hara dan direbut Leon? Wah ribet bangat” ucap Hilda menggaruk kepalanya.
Wajah Piter langsung tegang karena ia juga salah tidak terus terang pada Hara dan Vikky tentang wasiat keluarga mereka.
"Toni anak kecil berhati baik berwajah tampan dan berkulit putih, ia adalah teman Hara saat masih kecil yang menghilang, setelah kematian mamanya.
Tidak lama kemudian ayah Hara pindak ke Jakarta, karena terjadi konflik dengan seorang pengusaha yang bernama Boyko yang memintanya membangun gedung perkantoran di daerah pemukiman warga di Kalimantan yang tepatnya di tanah milik warga."
"Tetapi itukan dulu, Pak Leon saat ini sudah berubah apapun yang terjadi Hara sudah jadi istrinya kan," ujar Hilda.
Tetapi Vikky dan BI Ina jadi mendadak diam.
Piter
"Mari kita lupakan masa lalu, biarkan Leon menyelesaikan masalahnya dulu. Dia sudah banyak berubah" ujar Piter, ia tahu saat ini Leon di rumah sakit tetapi tidak menceritakan pada Hara, mereka semua menjaga kesehatan Hara.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1