Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Dingin di luar hangat di dalam


__ADS_3

Kehidupan setiap  manusia bagai  sebuah roda, kadang diatas dan terkadang dibawah;



Salsa mulai menyombongkan dirinya, saat Leon menghadiahinya sebuah rumah dan sebuah cafe di pinggir pantai di Kutai Bali. Leon memberi hadiah karena sering menemaninya dalam urusan bisnis.


Tetapi, malah sombong, menganggap dirinya paling istimewa, ia sering mengatur -atur dan merendahkan anak buah Leon, maka itu, banyak anak buah Leon yang sakit hati padanya.


Malam itu juga  nasib Salsa  berada di fase yang paling buruk bukan hanya buruk, bahkan sangat hina.Ia tidak akan menikmati kemewahan itu lagi ia bagai seorang ratu yang turun tahta lalu diasingkan ke pulau yang dipenuhi banyak buaya.


Rikko dan Iwan  dua orang lainnya mengantar Salsa ke kalimantan menggunakan helikopter, ia akan hidup di bawah pengawasan seorang wanita killer, bernama Nana , seorang Gerbo. Wanita berambut blonde itu di kenal sangat sadis.


Setiap wanita yang berstatus buangan akan bekerja di sebuah bar sebagai penari stripping, bar milik Nana dikunjungi para kelas bawah dan tingkat kriminalitas tinggi. Di sanalah Salsa akan di buang.


“Uiiih … sayang sekali bening begini,  di buang Bos,” ujar salah seorang anak buah Leon, lelaki ini, yang pernah diludahi wajahnya sama Salsa. Kali ini Salsa akan mendapat balasan yang setimpal.


“Rikko, Ton. Kalian tidak mau ni, lumayan ganti oli,” ujar duanya, kedua orang itu baru saja mencuci barang bekas, milik bos mereka.


“Tidak”


 “Ogah” ujar Rikko dan Toni. 


Mereka membiarkan rekanya menikmati tubuh Salsa sepuasnya


Salsa akhirnya malam itu diantar ditempat Nana.


                               **


Leon masih diam di dalam ruang kerjanya ada banyak hal yang ia pikirkan, salah satunya ia tidak pernah menduga kalau Salsa akan berani melakukan itu di rumahnya.



Saat jam sudah bertengger diangka sepuluh Leon datang ke kamar Jovita , ia berpikir kalau wanita cantik itu sudah tidur.


Ia membuka pintu pelan-pelan takut menggangu, saat ia melihat tempat tidur tidak ada Jovita di sana. Tanpa pikir panjang Leon berlari keluar.


“Periksa rekaman cctv di setiap sudut, Hara menghilang lagi. Toni periksa  di kamar Bibi," Pintah tegas.


Semua sibuk mencari di setiap ruangan bahkan Bu Atin ikut mencari kemana-mana.


“Cari sampai ketemu atau leher kalian saya patahkan,” ujar Leon pada orang-orangnya yang berjaga saat itu

__ADS_1


Leon naik lagi ke kamar  berpikir Jovita melarikan diri menggunakan kain seprai, ia berlari ke balkon, Leon merasakan jantungnya berdetak sangat cepat, saat memikirkan Ia turun menggunakan kain melarikan diri dari Balkon.


Wajah Leon menegang dengan mata menyusuri setiap sisi balkon.


“Jangan bilang kamu kabur lagi Bodoh ...! jika kamu melakukannya sama saja kamu cari mati,” ujar Leon panik.


Ia memegang batang lehernya, ia masuk lagi ke kamar Jovita, melihat seprai di ranjang masih utuh. Namun, saat dia berdiri di sisi ranjang, ia mendengar ada suara dari kamar mandi.


"Bibi,aku di kamar mandi," ujar Jovita dengan suara lemah


Jovita yang sedang duduk di kamarmandi mengetuk- getuk pintu  kamar mandi dengan satu tangan dan satu tangan lagi ia gunakan untuk memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.


“Bi, aku dikamar mandi!” Teriak  jovita dengan suara lemah lagi, ia berpikir yang datang ke kamarnya Bu Atin.


Leon  berbalik badan dan menghampiri pintu kamar mandi.


Ia terdiam dengan napas terengah-engah “Apa yang kamu lakukan?” Tanya Leon dengan suara bergetar antara panik senang  perasaan campur aduk. Jovita duduk dengan kepala di tenggelamkan di atas lutut.


“Kepalaku sangat pusing, aku tidak bisa berdiri,” ujar Jovita.


“Kemarilah.” Leon akhirnya bernapas lega , karena Jovita tidak melarikan diri melainkan tepar di kamar mandi.


“Saat Leon mengangkatnya Jovita masih menutup mata.


Namun tak diduga, lelaki yang selalu, memberinya tatapan sinis, justru  menemaninya  mengurut-urut leher bagian belakang. Ia tidak mengatakan apa-apa hanya diam dan mengurut  pundak Jovita dengan minyak gosok.


“Sudah?”


Jovita hanya mengangguk, Leon kembali mengangkatnya dan membaringkannya di ranjang.


“Apa kamu butuh sesuatu?”



“Aduh kepalaku …. Kalau aku tidur begini rasanya kepalaku serasa kepala bawah dan kaki di atas.” Ia ingin duduk kembali tetapi dengan spontan Leon  naik ke atas ranjang dan duduk.


“Baiklah letakkan kepalamu disini.” Leon duduk dan membantunya duduk dan meletakkan kepala wanita cantik itu di dadanya.


mereka tidur dengan posisi duduk,  Leon meletakkan tubuhnya di sandaran ranjang dan tangannya memeluk Jovita.


“Tidurlah saya akan menjagamu”

__ADS_1


“Aku merasa mual,” ujar Jovita.


Benturan keras di kepalanya dan obat yang di berikan dr. Billy tidak cocok untuk tubuh, ia merasa sangat pusing dan merasa mual.


Leon menelepon Bu Atin, untuk membawa air hangat, tidak diangkat.


"Baiklah Bibi mungkin sudah tidur." Leon hanya mengusap tubu Jovita dengan obat angin yang diambil dari atas nakas mengoleskan di hidung dan leher  dan di atas perut, memberinya pijit-pijitan ringan di leher diatas kepala dan itu berhasil wanita cantik itu akhirnya tertidur  beberapa  menit kemudian mata Leon ikut tertidur. Ia bisa tidur karena ada jimatnya tidurnya bersamanya.


Saat sudah larut malam Bu Atin datang lagi ingin mengecek keadaan Jovita. Namun ia terdiam sejenak, melihat pemandangan tak biasa bahkan ia mengambil foto Leon yang sedang memeluk tubuh Jovita dengan penuh kasih sayang.


"Kamu itu lelaki yang terlihat dingin di luar, tetapi hangat di dalam. Tetapi seorang wanita butuh pengakuan untuk sebuah status hubungan Nak. Sebanyak apapun kamu lakukan padanya, kalau kamu tidak katakan kamu mencintainya, maka perasaannya padamu akan bimbang Bibi berharap kamu membuang egomu dan katakan cinta padanya."


Bu Atin keluar dari kamar dan membiarkan keduanya menggapai mimpi indah mereka berdua.


Leon terbangun saat sinar mentari  menerpa wajahnya ia bangun .


‘Apa aku bisa tidur tadi malam?’


Leon melirik  ke samping, ternyata Jovita  tertidur pulas di lengannya.


“Oh, karena ada kamu makanya saya bisa tidur ” Ia kabur sebelum Jovita bangun.


Ia menarik tangannya pelan-pelan dan meninggalkan kamar Jovita diam-diam.


“Semoga dia tidak ingat, kalau saya tidur bersamanya, kalau ia ingat, mudah-mudahan ia paham, kenapa saya tidur  memeluknya,” ujar Leon.


Ia bangun lebih cepat dan sengaja duduk di taman menunggu Jovita bangun.


Bersambung ...


JANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN AUTHORNYA000


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2