
Mendengar penjelasan Bram Leon merasa Sangat Bodoh karena bisa dikerjain Piter.
"Apa Bos ingin kita ke sana?" Bram mengajak Leon ke Jepang.
"Lupakan saja, kita fokus mencari tempat untuk restoran dan atur pertemuan dengan Mr. Cheng"
"Baik Bos"
Bram mengerjakan tugas dengan baik. Namun disaat semua sudah beres.
Baru juga Leon duduk, tiba-tiba sebuah notip masuk ke ponselnya. Lelaki yang tidak banyak bicara tersebut, mengusap layar ponselnya dengan malas.
Matanya melotot tajam, saat ia melihat Hara, berdiri tidak jauh dari Ken, Zidan mengambil gambar Hara diam -diam, lalu mengirimnya ke Leon.
“Hara?”
Leon buru-buru menekan nomor Zidan
“Apa maksudnya?” Tanya Leon dengan panik.
“Bos, kami bersama Non Hara saat ini di acara-”
'Sial ... harusnya aku yang ke Jepang saat itu' Leon memaki diri sendiri.
“Baik aku akan datang ke sana,” potong Leon dengan cepat.
“Ta-tapi-”
Tit … Tut …
Belum juga Zidan menyelesaikan kalimatnya Leon sudah memutuskan sambungan telepon .
"Aduh .... Bos belum juga aku menjelaskan keadaan sebenarnya sudah diputus"
"Apa kamu yakin ini Sudah tindakan yang tepat?" Tanya Ken kurang setuju.
"Ken, ayolah memang apa lagi yang bisa kita lakukan selain memberitahukan Bos apa ingin kita pura-pura tidak tahu?" tanya Zidan dengan raut wajah marah.
Kini sahabat itu seolah-olah terbagi menjadi dua kelompok. Zidan dipihak Leon dan Ken dipihak Hara dan Maxell.
" Secara kemanusiaan iya ... lebih baik Hara dengan lelaki pilihannya "
" Berhenti bicara soal kemanusiaan Ken, ini, soal hati, aku ingin Hara dan Bos bersatu kembali," ujar Zidan.
"Kamu ingin Bos bahagia apa kamu pikir Non Hara bahagia ...? Lihat dokter tampan itu, bukan kah kamu lihatlah dia sangat mencintai Non Hara. Ha, satu lagi apa kamu pikir Piter akan membiarkannya?"
"Kamu sebenarnya kerja apa siapa sih," ujar Zidan kesal melihat rekannya yang selalu membela Hara
Disisi Lain.
Leon langsung bergegas .
“Bram minta Pak Banu bersiap kita akan terbang ke Jepang sekarang juga”
“Tapi Pak ... bukan hari ini ingin bertemu Mr.Chen?”
“Batalkan saja, minta Kaila atur ulang skedul untuk pertemuan Mr. Chen,” ujar Leon bersikap nuru- buru.
__ADS_1
“Lalu kita mau kemana, Pak?”
“ Kita akan ke Jepang”
Leon bergegas meninggalkan Hotel, Bram sampai-sampai kerepotan di buatnya.
Saat itu juga Leon meninggalkan kota Beijing dan terbang menuju Jepang . Setelah beberapa jam akhirnya tiba di negeri sakura. Leon sudah terbiasa dengan kota tersebut, karena Leon juga pernah lama tinggal di sana.
Sebuah mobil sudah menunggu mereka dan siap mengantar Leon ke acara pertemuan yang kebetulan masih ada satu hari lagi tersisa.
“Selamat datang Bos,” sambut Ken menghampiri Leon yang baru turun dari mobil.
“Apa yang dia masih ada?”
“Bos, Non Hara baru selesai membawakan satu lagu.” Wajah Ken dan Zidan sangat gugup karena mereka tahu, Hara, sudah jadi milik orang lain saat ini.
“Ada apa?” Tanya Leon, menatap wajah Ken yang terlihat sangat gugup.
Saat Leon ingin masuk tiba-tiba dari jauh dr. Jakson dan istrinya Alice melihat Leon datang. dan menghampiri.
“Halo Pak Wardana, apa kabar. Tadi kata orang-orangmu kamu tidak bisa datang”
“Baru selesai urusan bisnis,” ujar Leon meyambut uluran tangan dr. Jakson dan istrinya.
“Oh terimakasih atas sumbangan dana Pak Wardana, lalu di mana Bianca saya dengar akan ada kabar baik”
“Tidak, hanya sebatas teman saja Dok,” ujar Leon, demi apapun Leon tidak konsen lagi mendengar basa- basi dari dr. Jakson, pikirannya hanya ingin melihat Hara.
Tetapi dr. Jakson sepertinya belum menyadari kegelisahan Leon, ia tetap mengajak Leon mengobrol tentang banyak hal . Tidak lama kemudian datang Maxell , melihat itu wajah Ken dan Zidan bagai cacing kepanasan , mereka berdua tahu kalau lelaki itu yang jadi kekasih Hara.
“Axell sini! Kenalkan ini Pak Wardana dia salah seorang pebisnis sukses di usianya yang masih lajang”
“Bukan itu Reno, adik Axell .... Anak nakal ini tiga tahun terakhir tinggal di Nagoya baru-baru ini dia baru kembali ke rumah,” ujar dr. Jakson.
“Minta kunci mobil Pi kami ingin keluar sebentar.”
Apa yang ditakutkan Zidan dan Ken terjadi juga, Hara datang menghampiri mereka.
“Hara!” Panggil dr. Jakson.
Dug … dug …!
Mata Leon melotot panik saat melihat Hara berjalan dari arah depan, tiba- tiba Leon merasa waktu berjalan lambat seolah-olah ada adegan slow motion... saat melihat Hara datang dari depan.
“Hara, kenalkan ini Pak Wardana, salah satu pengurus yayasan ‘Kasih' dia tinggal di Jakarta juga”
“Halo Pak Wardana senang bertemu dengan Anda," ucap Hara. memamerkan senyuman cantiknya.
“Bos,” ujar Zidan saat Leon mematung.
Ia mengulurkan tangannya dengan ekspresi wajah yang kaget.
‘ Hara sudah melihat tapi dia tidak mengenaliku?’ Tanya Leon dalam hati.
Belum juga rasa terkejut itu hilang, lalu dr. Jokson berkata lagi.
“Dia menantu saya”
Dug ….!
__ADS_1
‘Iya lelaki ini ... dalam foto itu’ Leon menatap Maxell ada perasaan yang tidak rela.
“Pak Wardana apa bapak tidak apa-apa?"tanya dr. Jakson saat Leon tiba-tiba diam seperti patung.
" Tidak apa- apa Dok."Ia memasukkan tangan di dalam kantung celana mengepal dengan kuat.
" Mi, aku sama Hara duluan ke hotel, badanku capek banget, nanti bareng sama Reno mami sama Papi pulangnya ," ujar Maxell.
" Baiklah"
"Ayo sayang."Zidan menggenggam telapak tangan Hara dan pemandangan itu sukses membuat hati Leon bagai ditusuk dengan besi panas.
Hara pamit duluan pada mereka, tatapan dan senyuman pada Leon membuat jantung Leon seakan-akan ingin terlepas.
'Hara ... aku kira aku akan berhenti jika sudah melihatmu tersenyum bahagia, ternyata aku tidak rela'
Melihat wajah Leon yang mulai pucat Zidan bertindak.
"Dok, maaf Pak Wardana baru tiba, dia harus istirahat dulu"
"Oh baik-baik silahkan"
"Mari Bos." Zidan membawa Leon ke penginapan tidak jauh dari lokasi acara.
Leon masih masih dalam diam.
"Bos, tadi saya ingin menjelaskan semuanya tapi Bos keburu menutup telepon"
"Baiklah "
"Apa dia sudah menikah?" Tanya Leon dengan wajah masih datar.
"Belum Bos, tapi saya mendengar Piter lagi mengurus data Non Hara untuk persiapan pernikahan"
"Baiklah semoga dia bahagia," ujar Leon.
'Apa kamu yakin akan baik - baik saja Bos?' Bram melirik Leon yang bersikap sok tegar padahal ia tahu kalau Leon masih mengharapkan Hara. Tidak mungkin ia berlari ke Beijing kalau tidak mendengar kalau Hara ada di China.
" Apa yang bisa kami lakukan Bos?" Zidan siap menerima perintah sementara Ken memilih untuk diam.
"Tidak ada biarkan saja.
Bersambung.
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1