
Ken membawa para pemilik kumis, itu ke rumah Leon.
Hara memberi mereka amplop dan bu Atin juga memberi sembako.
Setelah keenam orang itu pergi Hara datang dengan wajah marah, mendatangi Leon yang sedang berdiri di teras bersama Bimo, Zidan, Ken, Toni dan bu Atin.
“Apa bos yakin para wanita hamil ini, mengidam? mereka bertiga model mengidam samaan ” ujar Ken. Lelaki yang satu ini terlalu pintar untuk dibohongin.
“Apa Clara juga meminta seperti itu?” Tanya Ken.
“Iya.”
“Oh, aku ingat cerita bang Piter saat Hilda mengidam,” sahut Toni, ia melirik Leon.
“Iya, aku ingat sekarang, baiklah bumil, kamu mau mengerjai aku sampai sejauh mana .... Carikan lelaki berkepala botak aku yakin dia akan meminta itu, karena Hilda guru mereka , "ujar Leon pada Bimo.
" Baik Bos."
"Baiklah Hara aku akan mengikuti permainanmu," ujar Leon dengan yakin.
“Eh, dia datang , aku tidak mau ikut, kena marah lebih baik aku masuk,” ujar Bu Atin, ia masuk saat Hara datang.
“A lagi sekarang yang inginkan?” ucap Leon menggosok hidungnya, memutar badannya pura-pura tidak lihat Hara yang mendatanginya.
Sedangkan Zidan dan Toni memilih pergi, anak buah Leon yang lainnya menjadi kikuk, tidak tahu harus melalukan apa mereka semua hanya diam .
“Batal!” ujar Hara marah.
“Eh … batal apa?” tanya Leon berpura-pura tidak tahu.
“Keinginanku kali ini tidak berhasil, aku mengenal mereka, orang-orang itu tukang ojek yang mangkal di depan, "pungkas Hara.
“Benarkah aku tidak tahu,” ucap Leon pura-pura tidak tahu, ia ingin melihat sejauh mana Hara akan mengejainya.
“Aku mau lagi.”
“Lagi? Baiklah jangan marah,” Leon tersenyum kecil, ia tahu kalau istrinya hanya ingin mengerjai.
" Kamu ingin lelaki botak?" Tanya Leon.
'Oh .... kamu sudah tahu .... ternyata. Jangan memancing ratu kadal marah' ujar Hara tersenyum licik.
“Iya, ya ampun suamiku baik sekali. Tapi .... Aku ingin kalian bertiga yang botak sekarang.”
“HAAA!?” Mata Leon tiba-tiba menatap panik. Ia tidak tahu kalau Hara meminta dirinya seperti itu.
Bukan hanya Leon yang panik, bahkan semua orang ada di sana terlihat menahan tawa melihat permintaan Hara . ini bukan seperti permintaan, tetapi seperti hukuman.
__ADS_1
Bagaimana jadinya? Jika seorang lelaki yang selalu terlihat menawan dan berkelas dalam Setiap penampilannya tiba-tiba berkepala plontos.
Kalau Bimo tidak apa-apa, karena ia sudah biasa membotaki rambutnya dan ia terlihat lebih gagah saat botak, tetapi berbeda dengan Leon dan Ken, terlihat kedua orang itu menyeka keringat di dahinya saat Hara mengungkapkan keinginannya.
Ken tidak pernah berkepala botak, rambut kriting halus sudah jadi ciri khasnya, tetapi apalah daya, kalau istri bosnya meminta hal yang sangat berat padanya, Ada dua hal ia keluar dan jadi pengecut dan melupakan permintaan Hara dan yang kedua ia tidak mau dan resikonya di hajar oleh Leon.
“Sayang, kenapa harus seperti ini dan aku juga ikut?” Leon menatap dengan tatapan memelas.
“Apa kamu ingin aku sakit, aduh! perutku mereka menendang” ujar Hara, memegang perutnya.
“Ah, Baiklah.” Leon kalah dan ia harus rela berkepala botak.
Leon merelakan rambutnya dipotong dan ia saat ini berkepala plontos ia sangat berbeda, setengah dari ketampanannya menghilang, semua orang yang mengenalnya terkejut melihat Leon saat datang ke kantor besok harinya, bukan hanya dia yang mengundang perhatian, Bimo yang selalu mengawal ikut mengundang perhatian semua orang yang mereka temui. Mereka berdua jadi terlihat mirip sama-sama botak.
Demi Hara Leon jadi bahan tertawaan para pegawainya baik di hotel maupun di restaurant , bahkan Hilda terkejut melihatnya, awalnya ia tidak percaya tetapi saat di lihat lebih jelas, ia tertawa terkekeh melihat penampilan baru Leon.
“Pak, apa yang terjadi?” tanya Hilda menahan tawa.
“Berhentilah tertawa ibu Hilda dan ikut ke ruangan saya.”
Leon berjalan di depan, tetapi Hilda bersembunyi sebentar di balik tembok dan tertawa puas, ia tidak mau tertawa di depan Leon. Lalu ia masuk ke ruangan Leon.
“Apa itu tren baru pak?” tanya Hilda lagi, ia tidak tahu, ide konyolnya membawa petaka untuk Leon, Zidan, Ken, Bimo Mereka berempat botak.
“Tren apaan? Hara meminta kami seperti ini, ia ingin memegang kepala botak dan kami dibuat seperti ini, apa ini kerjaan kalian bertiga?” Leon menatap Hilda.
“Apa maksudnya?”
“Hara mengidam ingin memegang kepala botak, itu ulah kalian bertiga. Apa lagi yang kalian rencanakan?”
“Ha?" Hilda menahan tawa.
“Bukannya kamu yang duluan mengidam meminta hal aneh seperti pada suamimu?” ucap Leon melirik Hilda.
“Saya memang mengidam ya seperti itu Pak, mengidam selanjutnya biasanya .... Aku tidak suka melihat Piter, setiap kali melihatnya ingin menamparnya dan memukulnya, mengusirnya dari kamar.”
“Maksudnya Hara dan Clara akan melakukan itu pada kami?”
“Saya tidak tahu Pak, yang aku ceritakan tentang ke kehamilanku, wanita kan berbeda-beda saat hamil,” ujar Hilda. Ingin rasanya Hilda tertawa melihat kepanikan di wajah Leon.
“Tetapi beberapa hari ini, Hara justru kebalikannya, dia menempel padaku seperti permen karet apalagi saat aku bau keringat,” ucap Leon baru mendengar bau keringat saja Hilda sudah merasa mual.
Wanita cantik bertubuh tinggi itu ngidam yang paling sulit, dari awal hamil sampai mau melahirkan selalu merasa mual, tidak bisa ada yang berbau bau nasi ia juga ingin muntah, bau badan, bau parfum jadi di tangan Hilda selalu ada minyak gosok yang selalu ia hirup untuk menetralisir pernapasannya.
“Pak, boleh aku memfoto bapak, boleh ?” tanya Hilda belum juga di jawab, ia sudah memfotonya dan mengirimnya ke Piter.
“Apa kamu ingin menyebar foto di media sosialmu?” tanya Leon.
__ADS_1
“Tidak, aku mengirimnya pada Piter, aku memintanya seperti bapak, aku ingin melihat reaksinya,” ucap Hilda.
"Ah .... kalian bertiga menyiksa kami," ucap Leon.
Di tempat lain, di kantor Piter, ia baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan klien , matanya menyengit tidak percaya, bahkan sampai mengusap mata agar jelas , melihat gambar yang di berikan Hilda.
“Ha … Leon , apa dia juga korban?” Piter tertawa, ia terkejut melihat penampilan Leon yang tiba-tiba berkepala botak, terlihat seperti mafia rusia dengan gayanya yang angkuh menatap dengan tatapan dingin , Piter masih menatap gambar di ponselnya, tiba-tiba ada suara notif ponselnya.
"Ternyata Hara meminta lebih parah daripada Hilda," ujar Piter tertawa. Namun tawa itu...
Melihat Leon dan Bimo terlihat gagah setelah di botak, Hilda tersenyum miring.
“Ganteng juga mereka seperti itu.”
Lalu ia menelepon Piter suaminya.
“Papi aku juga ingin kamu botak seperti Zidan, dan Leon.”
“Haaa?” Piter terkejut, tawa dari bibirnya berubah jadi dengusan kesal.
“Jangan membantah ini permintaan anakmu, "ujar Hilda.
“Lagi-lagi anakku yang jadi kambing hitam,” ujar Piter.
“Ini serius Papi, nanti pulang kantor, saat mau jemput aku, kamu harus sudah botak seperti Leon.”
Piter menghela napas panjang, ia juga korban ikut berkepala botak seperti Leon dan Zidan.
Bersambung .....
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)