Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Terpaksa disuntik bius


__ADS_3

Dibantu seorang suster Leon mengganti pakaiannya, menggantinya dengan seragam rumah sakit,  wajah Leon sangat pucat, karena ia juga kehilangan banyak darah juga.


Khawatir dengan kondisinya Leon, terpaksa dr, Bily menyuntik bius di infusnya hanya dengan itulah Leon bisa istirahat.


Kalau  dokter tidak melakukan itu,  ia yakin  Leon akan memikirkan tentang pekerjaan lagi dan memikirkan yang lainnya, ia tidak pernah perduli dengan kondisi tubuhnya.


“Awasin Bos mu, Bro …!  dia  pikir tubuhnya lempengan besi kali, masa sudah terluka parah seperti itu,  tidak mau istirahat juga,” ucap dokter pada Rikko.



“Baik Dok”


“Saya memberinya  obat tidur mungkin dia akan bagun satu jam atau lebih, kalau lama  dari situ ia tidak bangun panggilkan dokter”


“Baik Dok”


Ia meninggalkan kamar Leon, Lelaki bertampang tegas itu akhirnya tidur dibawah pengaruh  obat tidur, dr Billy terpaksa melakukan itu agar luka  Leon cepat pulih.


Rikko duduk di pojok ruangan  tangannya sibuk mengatur anak buahnya lewat ponsel miliknya. Walau bos mereka sedang di rawat tetapi pekerjaan tetap berlanjut. Ia tidak mau ia terkena  masalah saat bos mereka bangun nantinya,  maka itu,  ia tetap memantau anak buahnya yang  mengawal barang masuk  dari jalur laut.


Sementara Iwan ia memilih  pulang ke rumah  untuk memakai celana, tidak  enak rasanya ia berkeliaran di rumah sakit itu  hanya menggunakan kolor berlambang sepak bola MU.  Maka ia pulang  membawa mobil untuk berganti pakaian


                                   *



Beberapa jam kemudian, sebuah ranjang di dorong ke ruangan Leon,  Jovita masuk ke ruangan yang sama bersama Leon, ruangan yang sama sesuai permintaan Leon. Wanita cantik itu  belum siuman, alat bantu pernapasan masih menempel di wajahnya.


Saat ranjang didorong Toni ikut mengawalnya, maka dalam ruangan itu Leon dan Jovita sama-sama tertidur panjang.


“Kamu tidak apa-apa Bro?” Tanya Rikko menatap wajah Toni yang pucat karena   mendonorkan daranya untuk Jovita.



“Aku merasa pusing,"ujar  lelaki berkulit putih itu, tetapi matanya menatap sedih ke arah Jovita.


“Kamu harus cepat pulih Hara … Kamu gadis yang kuat, aku tahu itu. Kamu juga pernah jatuh dari kuda waktu kecil.  Apa kamu ingat itu,” bisik Toni, ia berdiri di sisi ranjang Jovita, ia tidak berani menyentuhnya atau hanya sekedar memegang tangannya,  ia tahu, gadis cantik itu  milik Bos Naga.


Ia keluar  dari ruangan itu, sebelum Leon bangun dan menelannya hidup-hidup jika melihatnya lagi bersama Jovita.


“Aku pulang ke markas  saja iya, biar Iwan dan anak-anak yang lain  mengawal Bos di sini”


“Baiklah. Ini …!” Rikko memberikan  deretan  tugas yang akan ia tangani hari itu.


Wajah Rikko sangat cemas.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Pengiriman barang kita mendapat masalah, pihak Beacukai menahannya di pelabuhan. Kalau bos bangun dan mengetahui masalah ini. Habis kita,” ujar Rikko terlihat sangat panik.


“Serahkan padaku, akan aku tangani malam ini”


“Ok ... Pelabuhan Tanjung Priuk.’ Rikko memberikan  beberapa lembar foto.


“Baiklah akan aku atasi malam ini,” ujar  Toni.


“Ingat. Jangan meninggalkan jejak apapun, bos tidak ingin ada masalah”


“Baiklah,” ujar Toni  menyelipkan pistol miliknya di kaos kaki.


“Tapi … Tunggu! Apa kamu yakin dalam kondisimu?” Rikko menatap wajah pucat rekannya.


“Jangan khawatir Bro, aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat sebentar nanti akan pulih kembali.”


"Aku datang, bagaimana keadaan Bos?"Iwan melirik Bos mereka yang sedang tertidur.



"Dokter terpaksa membius untuk menjinakkannya," ucap Toni dengan suara pelan.


Toni meninggalkan rumah sakit,  setelah Iwan dan dua bawahannya datang untuk mengawal Leon di rumah sakit.


Beberapa anak buah Leon juga sudah berada di sana beberapa hari lalu untuk menunggu pengiriman barang.


Barang  itu tidak boleh sampai ketahuan oleh pihak bea cukai, apa lagi ke tangan polisi.



Maka Toni akan bekerja keras malam ini, untuk mendapatkan paket  kiriman itu, bagaimanapun caranya.


                             *


Di  rumah sakit.


Apa yang dikatakan dokter Billy benar, tidak sampai satu jam Leon sudah bangun, matanya memerah, tangannya memegang pinggangnya yang terluka, setelah efek bius itu hilang, ia merasakan lukanya berkedut sakit.


“Aiiis ….” Leon merintih pelan memegang lukanya. “ Sial kenapa ini jadi bertambah sa-”


Kalimatnya  menggantung, matanya menoleh Jovita yang masih tidur panjang di sebelah  ranjangnya.


“Bos, apa perlu saya panggilkan dokter?” Rikko mendekat.

__ADS_1


“Tidak usah. Kamu bisa keluar”


“Baik Bos!”


Rikko dan Toni keluar tanpa membantah, ia memilih duduk di luar ruangan  Leon.


Tidak lama kemudian seorang dokter datang dan menghampiri ranjang Jovita.


“Selamat siang Pak Wardana, bagaimana keadaan anda Pak” tanya sang dokter.


“Sudah lebih baik Dok …Tapi kenapa dia belum bangun-bangun Dok”


“Inilah yang ingin saya periksa Pak Wardana, bersabarlah, istri anda akan baik-baik saja,” ujar dokter itu padanya, ia dokter senior di rumah sakit.


Leon mengangguk kecil saat dokter menyebut Jovita Hara sebagai istri, tidak ada sikap bantahan atau penolakan darinya.


Tidak lama kemudian dokter Billy juga  datang.


“Kenapa tidak memanggilku saat kamu sudah bangun Pak Leon?” dr Billy memeriksa luka Leon.


“Aku tidak ingin mengganggu makan siang mu, dokter,” ucap Leon  dengan suara datar, tetapi matanya tidak berpaling dari dokter yang memeriksa Jovita,  mimik wajahnya sedikit berubah saat dokter lelaki itu  membuka kancing pakaian Jovita, lalu meletakkan alat itu di dada dan mendengarkannya, dokter memeriksa  detak jantungnya.


“Tenanglah kawan … dokter itu hanya memeriksa detak jantungnya,” ucap dokter tersenyum kecil. Ia tahu  gambaran dari wajah Leon,  saat dokter menyentuh  bagian dada Jovita.


Leon menahan napas saat dokter lelaki itu menyisihkan pakaian Jovita lebih lebar, bahkan memperlihatkan  sebagian  belahan dada Jovita. Tetapi  sang dokter bukan ingin berbuat cabul, ia hanya memeriksa aliran  darah dari saraf  yang terkena sayatan itu, memastikan  jaringan saraf dari leher mengalir ke bagian dada Jovita.


“Dokter hanya ingin memastikan sambungan  saraf-saraf itu berfungsi dengan baik, percayalah tidak ada niat lain,” ujar dr Billy mendengar penjelasan dr. Billy  Berangsur  tubuhnya mengendur dan bernapas normal.


Kalau saja dr Billy tidak datang saat dokter memeriksa Jovita, mungkin Leon sudah salah paham dan mungkin sudah meneriaki sang dokter.



“Baiklah,” jawab Leon,  setelah ia melihat dokter itu menyudahi pemeriksaannya pada Jovita.


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2