
Dibantu seorang suster Leon mengganti pakaiannya, menggantinya dengan seragam rumah sakit, wajah Leon sangat pucat, karena ia juga kehilangan banyak darah juga.
Khawatir dengan kondisinya Leon, terpaksa dr, Bily menyuntik bius di infusnya hanya dengan itulah Leon bisa istirahat.
Kalau dokter tidak melakukan itu, ia yakin Leon akan memikirkan tentang pekerjaan lagi dan memikirkan yang lainnya, ia tidak pernah perduli dengan kondisi tubuhnya.
“Awasin Bos mu, Bro …! dia pikir tubuhnya lempengan besi kali, masa sudah terluka parah seperti itu, tidak mau istirahat juga,” ucap dokter pada Rikko.
“Baik Dok”
“Saya memberinya obat tidur mungkin dia akan bagun satu jam atau lebih, kalau lama dari situ ia tidak bangun panggilkan dokter”
“Baik Dok”
Ia meninggalkan kamar Leon, Lelaki bertampang tegas itu akhirnya tidur dibawah pengaruh obat tidur, dr Billy terpaksa melakukan itu agar luka Leon cepat pulih.
Rikko duduk di pojok ruangan tangannya sibuk mengatur anak buahnya lewat ponsel miliknya. Walau bos mereka sedang di rawat tetapi pekerjaan tetap berlanjut. Ia tidak mau ia terkena masalah saat bos mereka bangun nantinya, maka itu, ia tetap memantau anak buahnya yang mengawal barang masuk dari jalur laut.
Sementara Iwan ia memilih pulang ke rumah untuk memakai celana, tidak enak rasanya ia berkeliaran di rumah sakit itu hanya menggunakan kolor berlambang sepak bola MU. Maka ia pulang membawa mobil untuk berganti pakaian
*
Beberapa jam kemudian, sebuah ranjang di dorong ke ruangan Leon, Jovita masuk ke ruangan yang sama bersama Leon, ruangan yang sama sesuai permintaan Leon. Wanita cantik itu belum siuman, alat bantu pernapasan masih menempel di wajahnya.
Saat ranjang didorong Toni ikut mengawalnya, maka dalam ruangan itu Leon dan Jovita sama-sama tertidur panjang.
“Kamu tidak apa-apa Bro?” Tanya Rikko menatap wajah Toni yang pucat karena mendonorkan daranya untuk Jovita.
“Aku merasa pusing,"ujar lelaki berkulit putih itu, tetapi matanya menatap sedih ke arah Jovita.
“Kamu harus cepat pulih Hara … Kamu gadis yang kuat, aku tahu itu. Kamu juga pernah jatuh dari kuda waktu kecil. Apa kamu ingat itu,” bisik Toni, ia berdiri di sisi ranjang Jovita, ia tidak berani menyentuhnya atau hanya sekedar memegang tangannya, ia tahu, gadis cantik itu milik Bos Naga.
Ia keluar dari ruangan itu, sebelum Leon bangun dan menelannya hidup-hidup jika melihatnya lagi bersama Jovita.
“Aku pulang ke markas saja iya, biar Iwan dan anak-anak yang lain mengawal Bos di sini”
“Baiklah. Ini …!” Rikko memberikan deretan tugas yang akan ia tangani hari itu.
Wajah Rikko sangat cemas.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Pengiriman barang kita mendapat masalah, pihak Beacukai menahannya di pelabuhan. Kalau bos bangun dan mengetahui masalah ini. Habis kita,” ujar Rikko terlihat sangat panik.
“Serahkan padaku, akan aku tangani malam ini”
“Ok ... Pelabuhan Tanjung Priuk.’ Rikko memberikan beberapa lembar foto.
“Baiklah akan aku atasi malam ini,” ujar Toni.
“Ingat. Jangan meninggalkan jejak apapun, bos tidak ingin ada masalah”
“Baiklah,” ujar Toni menyelipkan pistol miliknya di kaos kaki.
“Tapi … Tunggu! Apa kamu yakin dalam kondisimu?” Rikko menatap wajah pucat rekannya.
“Jangan khawatir Bro, aku baik-baik saja, hanya butuh istirahat sebentar nanti akan pulih kembali.”
"Aku datang, bagaimana keadaan Bos?"Iwan melirik Bos mereka yang sedang tertidur.
"Dokter terpaksa membius untuk menjinakkannya," ucap Toni dengan suara pelan.
Toni meninggalkan rumah sakit, setelah Iwan dan dua bawahannya datang untuk mengawal Leon di rumah sakit.
Beberapa anak buah Leon juga sudah berada di sana beberapa hari lalu untuk menunggu pengiriman barang.
Barang itu tidak boleh sampai ketahuan oleh pihak bea cukai, apa lagi ke tangan polisi.
Maka Toni akan bekerja keras malam ini, untuk mendapatkan paket kiriman itu, bagaimanapun caranya.
*
Di rumah sakit.
Apa yang dikatakan dokter Billy benar, tidak sampai satu jam Leon sudah bangun, matanya memerah, tangannya memegang pinggangnya yang terluka, setelah efek bius itu hilang, ia merasakan lukanya berkedut sakit.
“Aiiis ….” Leon merintih pelan memegang lukanya. “ Sial kenapa ini jadi bertambah sa-”
Kalimatnya menggantung, matanya menoleh Jovita yang masih tidur panjang di sebelah ranjangnya.
“Bos, apa perlu saya panggilkan dokter?” Rikko mendekat.
__ADS_1
“Tidak usah. Kamu bisa keluar”
“Baik Bos!”
Rikko dan Toni keluar tanpa membantah, ia memilih duduk di luar ruangan Leon.
Tidak lama kemudian seorang dokter datang dan menghampiri ranjang Jovita.
“Selamat siang Pak Wardana, bagaimana keadaan anda Pak” tanya sang dokter.
“Sudah lebih baik Dok …Tapi kenapa dia belum bangun-bangun Dok”
“Inilah yang ingin saya periksa Pak Wardana, bersabarlah, istri anda akan baik-baik saja,” ujar dokter itu padanya, ia dokter senior di rumah sakit.
Leon mengangguk kecil saat dokter menyebut Jovita Hara sebagai istri, tidak ada sikap bantahan atau penolakan darinya.
Tidak lama kemudian dokter Billy juga datang.
“Kenapa tidak memanggilku saat kamu sudah bangun Pak Leon?” dr Billy memeriksa luka Leon.
“Aku tidak ingin mengganggu makan siang mu, dokter,” ucap Leon dengan suara datar, tetapi matanya tidak berpaling dari dokter yang memeriksa Jovita, mimik wajahnya sedikit berubah saat dokter lelaki itu membuka kancing pakaian Jovita, lalu meletakkan alat itu di dada dan mendengarkannya, dokter memeriksa detak jantungnya.
“Tenanglah kawan … dokter itu hanya memeriksa detak jantungnya,” ucap dokter tersenyum kecil. Ia tahu gambaran dari wajah Leon, saat dokter menyentuh bagian dada Jovita.
Leon menahan napas saat dokter lelaki itu menyisihkan pakaian Jovita lebih lebar, bahkan memperlihatkan sebagian belahan dada Jovita. Tetapi sang dokter bukan ingin berbuat cabul, ia hanya memeriksa aliran darah dari saraf yang terkena sayatan itu, memastikan jaringan saraf dari leher mengalir ke bagian dada Jovita.
“Dokter hanya ingin memastikan sambungan saraf-saraf itu berfungsi dengan baik, percayalah tidak ada niat lain,” ujar dr Billy mendengar penjelasan dr. Billy Berangsur tubuhnya mengendur dan bernapas normal.
Kalau saja dr Billy tidak datang saat dokter memeriksa Jovita, mungkin Leon sudah salah paham dan mungkin sudah meneriaki sang dokter.
“Baiklah,” jawab Leon, setelah ia melihat dokter itu menyudahi pemeriksaannya pada Jovita.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)