
Saat pagi datang menyapa Leon masih terlelap dalam tidur, pantulan sinar mentari pagi yang menyelinap masuk dari sela gorden kamar, ia terbangun karena terganggu dengan pantulan mentari pagi, ia mengangkat lengannya menghalangi cahaya yang menyilaukan pandangan mata , perlahan ia mengumpulkan kesadarannya. Sudah pagi, ia memilih bangun dan duduk, matanya terarah pada jam dinding berwarna putih yang ada di atas nakas.
“Ah sudah jam tuju pagi?”
Leon melirik kanan kiri, Hara tidak ada di sampingnya lagi
“Kenapa Hara tidak membangunkan? padahal ini sudah pagi, apa dia masih marah,” ucap Leon ia mencoba berdiri melangkah ke balkon kamar, menatap jauh kearah jalanan.
Saat ia menoleh ke arah taman, Leon melihat Hara memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu-lagu sedih.
“Ada apa dengannya? Apa dia sedih karena aku tidak memperbolehkannya jadi artis lagi?” Leon menarik napas panjang.
Ia mengambil ponsel dari atas nakas, lalu menelepon Zidan.
“Zidan, tolong kamu periksa studio foto yang ingin mengambil gambar Hara.”
“Baik Bos.”
“Oh, satu hal lagi tanyakan pemotretan konsep apa?”
“Baik Bos.”
Lalu ia menelepon Haris lagi.
“Bagaimana Ris ada perkembangan?”
“Iya Bos, menurut mbak Nana dia masih di Kalimantan, dia melihat Bunox mabuk- mabukan di cafe”
“Baik, awasi dengan baik, kalau perlu tambah lagi orang-orangmu di bandara atau di cafe”
“Baik Bos”jawab Haris di ujung telepon.
Haris anak buah Leon dulunya, tetapi dua tahun Lalu ia ikut Nana mengurus bisnis hiburan malam, tetapi kali ini, ia kembali ikut Leon karena Leon butuh banyak orang untuk mengawal keluarganya, karena musuh-musuhnya dari masa lalu bermunculan ke permukaan . Apa lagi sejak pernikahan Leon dan Hara beredar, semakin banyak orang mantan anak buah Bokoy yang iri pada Leon mulai bangkit satu persatu.
Leon berdiri lagi dari balkon. Menoleh ke bawah, kini Hara bercengkrama dengan Bu Atin, tangannya memetik kuntum bunga –bunga yang bermekaran, memasukkannya dalam Vas lalu ia masuk ke dalam rumah.
Leon mandi dan turun untuk serapan bersama Hara dan ibunya, dalam meja makan Hara tiba-tiba jadi pendiam, saat Leon melarangnya bekerja.
Bu Ati batuk kecil melihat keduanya terlihat sibuk dalam pikiran masing-masing.
“Apa semuanya baik?” tanya wanita itu menatap mereka bergantian.
“Iya Bu, semuanya baik, ada apa?” Hara balik bertanya.
“Kenapa kalian berdua hanya diam?”
“Tidak Bu aku hanya menikmati masakan ibu yang enak ini,” ucap Leon menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Itu bukan masakan Ibu, itu masakan istrimu, masa kamu tidak tahu yang mana masakan ibumu? Tanya wanita semakin menyelidiki mereka berdua, ia tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali, kejadian di mana masalah kecil, bisa jadi besar karena tidak adanya keterbukaan.
“Oh, benarkah.” Leon menatap Hara yang menatapnya juga.
__ADS_1
“Dengar… kalau ada masalah atau ada sesuatu dalam pikiran masing-masing baiknya di ungkapkan dan di bicarakan, kalau kalian gitu lagi seperti yang lalu-lalu yakinlah kalian berdua tidak akan pernah dewasa dalam menanggapi masalah, Ibu yakin tembok yang kalian berdua bangun belum kokoh,” ucap wanita itu mendudukkan tubuhnya.
“Aku minta maaf Bu,” ucap Hara menyendok nasi goreng ke dalam piringnya. Mata Hara hanya menatap kosong kearah Vas bunga yang ia letakkan di meja makan, bau harum dari kelopak bunga warni-warni menambah kesejukan di meja makan.
Namun, tidak demikian sepertinya untuk Leon, ia terlalu menjaga perasaan Hara membuatnya memilih diam.
“Ada apa sebenarnya?”
“Tidak apa-apa Bu, aku hanya ingin makan dengan tenang apa itu jadi masalah?” ucap Leon
Tidak ingin menganggu suasana hati Leon, wanita itu memilih diam dan menikmati serapan pagi juga dengan diam tanpa ada pembicaraan.
‘Kenapa aku jadi marah pada ibu, jadi canggung jadinya, bodoh aku’ rutuk Leon menyesali kemarahannya yang tidak beralasan pada ibunya.
Hara sibuk dengan pikirannya melihat Leon marah, ia juga memilih diam dan menyuapi sendok-demi sendok ke mulutnya.
Melihat kecanggungan dalam meja makan, Leon merasa bersalah pada kedua wanita yang dicintainya.
“Aku minta maaf Bu, aku hanya tidak ingin Hara menjadi model.”
Leon akhirnya menceritakan kejadian tentang mimpi yang ia alami tadi malam juga, ia melihat seorang anak laki-laki memeluk Hara.
“Aku berpikir kalau anak kecil itu Ichiro seolah-olah dia ingin mengatakan padaku sesuatu tantang Hara atau satu kejadian.”
“Oh, Nak terkadang mimpi yang kita alami bisa jadi petunjuk untuk kita dan bisa jadi kebalikannya, tidak semua mimpi itu jadi kenyataan, Hara yang kamu lihat dalam mimpimu menurut tafsiran Ibu, anak itu semua bilang pada kamu, kamu harus kuat seperti mamanya, dia memeluk perut Hara … bisa jadi artinya dia mau bilang kalau akan ada penggantinya dari rahim Hara, bukan berarti Hara akan celaka,” ucap Bu Atin membela Hara.
“Baiklah, aku yang salah, nanti akan kita pikirkan lagi.”
“Tapi, ada apa dalam mimpimu kenapa kamu sampai menangis sedih seperti itu? Tadi pagi kamu menangis. Makannya aku tidak membangunkan mu.”
“Aku merindukannya Hara, aku kangen putraku. Apa kamu tidak merindukannya?” tanya Leon menatap Hara.
“Tidak,”jawab Hara.
“Apa? Dasar ibu tiri jahat,” ujar Leon.
Mendengar kalimat ibu tiri yang jahat Hara dan Bu Atin sama-sama tertawa.
“Bagaimana jadi ibu tiri yang jahat, orang dari perutnya keluar?” ujar Bu Atin
“Kok. Kamu tega tidak merindukannya,” ujar Leon protes.
Hara mengedipkan mata pada Bu Atin.
“Gak ah anak itu belum tentu mengingatku , ngapain aku mengingatnya,” balas Hara.
Wajah Leon terlihat sinis melihat Hara.
“Kok kamu tega sama putraku,” ujar Leon , wajahnya mulai serius. Tanpa di duga becandaan Hara di tanggapi serius oleh Leon, ia menyudahi makannya.
“Aku sudah kenyang aku naik,” ujar Leon meninggalkan ibu dan istrinya.
__ADS_1
“Bu apa dia menanggapinya serius? aku hanya bercanda, mana ada ibu yang melupakan anaknya?" ujar Hara membela diri.
“Leon sangat mencintai putranya yang sudah meninggal, mengingat putranya pasti akan mengingatkannya saat ia mengalami gangguan mental dua tahu lalu, dimana saat kita dikabarkan meninggal dalam kebakaran itu,” ujar Bu Atin.
“Aku berharap Toni baik-baik saja dan cepat pulih,” ujar Hara
Bu Atin tersenyum, Hara belum tahu kalau Toni sudah pulih.
“Hara, Toni sudah sembuh, Leon belum memberitahumu?”
“Aaa …. benarkah Bu, Leon tidak bilang apa-apa padaku,” ujar Hara menatap bu Atin.
“Leon meminta Billy mendampinginya melakukan operasi di Thailand, Toni sudah tampan lagi seperti semula, bentuk wajahnya tidak berubah di tetap tampan, hanya luka bakar di wajahnya yang di ganti,” ujar Bu Atin.
“Leon yang melakukannya Bu?” Tanya Hara.
“Makasih Bu Hara …. Suamiku!” Panggil Hara berlari menuju kamar.
Leon berdiri di balkon, Hara berlari lalu memeluknya dari belakang.
“Suamiku, aku meminta maaf.”
“Hara ada apa denganmu? Suamiku? "ujar Leon dengan wajah datar. Hara maju ke depan Leon .
“Suamiku aku meminta maaf karena berkata seperti itu,” ujar Hara tertawa lebar.
“Suamiku jangan marah lagi,” ujar Hara lagi menggoda Leon.
“Hara jangan bercanda, aku lagi tidak lagi mood.”
“Lagian, mana ada sih … Pak Bos, seorang ibu yang lupain anak yang dilahirkan? Sundal bolong aja ingat anaknya, apa lagi saya seorang ibu yang normal?”
“Lalu tadi kamu ….”
“Aku hany bercanda sama ibu. Tapi, gin loh sayang …. terkadang kita lebih baik tidak merindukan orang yang sudah tiada terus menerus, karena rindu tidak ada obatnya selain bertemu. Nah, bagaimana kita mengobati rindu kita kalau orang yang sudah rindukan sudah tiada. Jadi lebih baik kita bawa dalam doa saja,” ujar Hara terlihat sisi dewasa saat menghadapi Leon saat ini.
“Kamu benar,” ujar Leon tetapi matanya terlihat berkaca-kaca.
‘Iyaaa … bisa melow juga ni ternyata si tiang beton’ ujar hara dalam hati matanya melihat sang suami.
“Kalau begitu ayo kita bikin anak biar kamu tidak sedih lagi,” ujar Hara bercanda lagi.
“Heiii. Benar iya …. ! Jangan mancing-mancing singa yang sedang tidur bisa-bisa kamu dilahap ini pagi-pagi, loh ….” ujar Leon.
Hara hanya tertawa melihat candaan ditanggapi serius olah Leon lagi. Ternyata Leon mendekat.
“Eh, dasar suami gak bisa diajak bercanda,” ujar Hara.
Leon menangkap tubuh Hara membawanya ke kamar mandi.
Bersambung.
__ADS_1