Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Tidak boleh dilirik apa lagi dipegang


__ADS_3

“Aku hanya mengobrol dan pegang tangan, itu karena Mbak Hara cantik,” Kenzo membela diri merasa tidak melakukan kesalahan.


“Non Hara itu, setangkai bunga yang indah milik bos, tidak boleh dipandang apa lagi di sentuh,” timpal Iwan.


Ken hanya bisa pasrah saat ia dihukum karena mengagumi kecantikan wanita milik sang Bos.


Sementara Jovita tidak tahu apa yang telah terjadi pada Ken yang malang.


Kenzo benar-benar mengalami nasib yang sial, karen  lancang  mengagumi  kecantikan  Jovita, ia dapat hukuman. Tumpukan batu kali yang menggunung harus ia pindahkan sendiri.


Pekerjaan yang seharusnya di lakukan tukang , tetapi, karena satu kesalahan kecil itu, ia harus mengerjakannya. Di saat rekan-rekannya makan siang santai Ken masih bekerja memindahkan batu-batu tersebut keringat membahasi pakainya .


Setelah memindahkan batu-batu itu  selesai, Kenzo duduk.


Semua rekanya hanya diam melihat Kenzo  yang  kelelahan, tidak cukup sampai di situ, Leon memberinya hukuman lagi.


“Sudah Ken?” Leon datang lagi.


“Sudah Bos”


“Apa kamu merasa capek?”


“Iya Bos”


“Baiklah  kamu makan dulu setelah selesai makan siang saya punya tugas lagi untuk kamu”


“Baik Bos.” Wajah Kenzo benar-benar menghitam karena panas


“Pekerjaan seperti itu ....  Cocok untuk kamu karena kamu terlalu pecicilan


Mata Kenzo langsung melongo saat Leon menyebutnya pecicilan.


'Memangnya aku anak kecil apa?' Len membatin.


Leon meniggalkan Ken yang langsung mati gaya saat Leon memberinya banyak pekerjaan berat dan menyebutnya pecicilan.


“Baru dikagumi  begitu saja Mbak Hara. Bos  sudah panas minta ampun apalagi diajak selingkuh bisa-bisa di cincang dah gue,’ ujar Kenzo menyesal  mengajak mengobrol si cantik Jovita.


Rikko hanya tertawa kecil,  soalnya ia sudah mengingatkannya  namun Ken tidak menghiraukannya.


Setelah mendapat hukuman dari Leon Ken  benar-benar menjaga sikap  pada Jovita ia  tidak mau mendapat hukuman dari Leon.


Melihat semua anak buahnya sangat akrap dengan Jovita Leon  mencoba melakukan sesuatu.


Saat menjelang sore setelah berpikir panjang, a BB memutuskan mengajak Jovita makan di restauran tidak jauh dari rumah  sebelumnya ia  sudah melakukan penjagaan ketat dan menempatkan Ken sebagai mata elang mengantikan Zidan.



Saat Hara   sedang mencari-cari buku bacaan di rak buku di ruang baca. Leon datang, Jovita  bersikap tenang, ia berpikir kalau Leon ingin mengambil buku untuk ia baca juga. Namun ia malah berjalan mondar- mandir, seperti gangsing.


‘Ada apa sih dengannya kalau bicara, tinggal ngomong saja, kenapa mondar-mandir kayak setrikaan’ Jovita membatin.

__ADS_1


“Kita makan malam”


Jovita masih diam menatapnya dengan mata menyepit.


“Bicara dengan saya?”


“Ya bicara ke- kamu emang  ke siapa lagi,” ucapnya datar.


“Kemana?”


“Ikut saja”


“Kalau saya bilang tidak mau kamu pasti marah,” ujar Jovita.


Leon hanya diam, satu kalimat sepertinya begitu berharga ia ucapkan.


“Baiklah, saya bertanya kita mau makan di mana Bapak juga tidak akan memberitahukannya, kan?”


“Ikut Saja Nona Hara”


“Baik, baiklah percuma melawan,” gumam Jovita.


Leon berpikir, akan   berusaha memperbaiki sikap pada Jovita , tetapi, saat ia bertindak, sikapnya masih saja kaku seperti kanebo kering, jarang bicara dan bicara hanya  hal penting saja.


Lebih parah saat bersama Jovita, lelaki itu seolah-olah kehabisan bahan obrolan jika bersama Jovita .


Maka dalam ruang baca itu mereka berdua hanya diam. Leon  tenang saat duduk membaca buku berjudul strategi berbisnis, sementara Jovita  matanya ke arah buku, tetapi pikirannya kemana- kemana.


*


Jovita memakai dress yang dipadukan dengan cardingan  style Jas kali ini Leon tidak mengatakan apa-apa untuk penampilan Jovita karena ia memang  semua tertutup. Tetapi saat di mobil mode diam dari Leon membuatnya sangat tersiksa.


“Boleh kita stel musik?” ujar Jovita kali ini Leon menyetir sendiri.


Tidak ada jawaban.


‘Hadeh tidak ada jawaban, Jovita dian tidak berani menyetel, tetapi suasana  hening itu membuatnya   merasa sangat pusing.


Ia hanya menatap kearah jalanan ibukota di malam hari sangat indah karena dihiasi lampu-lampu malam.


Saat di restauran yang sudah di reservasi Leon sebelumnya, duduk di kursi di sambut pemandangan yang indah dari pinggir pantai.


“Wow … indahnya.” Jovita tersenyum sangat  manis. DIam-diam Leon mencuri padang padanya tanpa di sadari Jovita.


“Apa Bapak sudah biasa makan di sini?” Tanya Jovita berusaha membuat suasana cair.



“iya.” jawab Leon jawabannya singkat  dan padat.


“Makanan apa yang jadi menu  favorit di sini?” Tanya Jovita lagi.

__ADS_1


Leon tidak menjawab.


“Apa daging steak ini?" Tanya Jovita lagi .... Ia bertanya ia juga yang menjawab.


“Iya.” Leon mengangguk.


Melihat situasi selera makan Jovita langsung hilang, ia berpikir kalau Leon setengah hati mengajaknya makan malam . Walau hatinya terasa panas , ia tetap tenang  tidak ingin mendapat masalah.


Leon merasa marah karena Jovita melepas jasnya dan menggantungkannya di kursi, Jovita melakukannya karena memang model pakaiannya seperti, seorang pelayan pria melirik  Rara terus menerus saat  mengantar makan.  Leon tidak suka tetapi tida mau menegur  karena ia tidak ada perdebatan tetapi  Jovita tidak peka dengan tatapan sinis Leon pada pakaian terbuka yang ia pakai, jas Leon


Jovita merasa tidak selera dengan sikap dingin Leon, tetapi ia tidak tahu kalau Leon cemburu  dan marah tetapi tidak mau mengungkapkannya ia memilih diam, menahan semua sendiri.


‘Ni si ular Naga ngapain ngajak aku dinner kalau untuk di cuekin dasar tuan batu’ Jovita membatin.


Tatapan Leon semaki sinis saat seorang lelaki dari meja di samping, lelaki itu makan dengan istrinya, Namun matanya terus melirik Jovita.


‘Saya mau ke kamar mandi dulu’ Jovita memakai kembali cardingan  berjalan ke kamar mandi.


Tetapi siapa sangka lelaki  yang melihat Jovita sedari tadi, malah izin ke istrinya untuk ke toilet juga. Mata Leon  menatap tajam, ia yakin kalau lelaki itu  punya niat buruk pada Jovita.


“Ckkk .... Bajingan! Jaga pintu kamar mandi”


“Baik Bos.” Rikko dan Ken yang berjaga di  diluar segera masuk dan menjaga pintu kamar mandi. Saat Jovita masuk ke dalam  bilik kamar mandi, itu lelaki itu malah menunggu Jovita keluar,  melihat hal itu, Leon menyeretnya ke toilet  dan menghajarnya, hidungnya sampai mengeluarkan saos.


“Berhenti menatap wanitaku Bodoh, kamu membuat selera makanku  hilang dari ,” ujar Leon memberinya  pukulan di perut dan di wajah.


Lalu ia keluar.


“Kita pulang Lain kali pakai pakaian yang  tidak mengundang perhatian orang,” ujar Leon memberikan tas kecil jovita saat ia keluar dari toilet, Leon melengos menuju mobil.


Jovita masih bingung dengan sikap marah Leon, ia melihat pakaiannya  tidak ada yang salah karena ia pakai jas.


'Ada apa dengannya kok marah?' Jovita.


BERSAMBUNG ….


JANGAN LUPA!!! …  VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA  AGAR AUTOR SEMANGAT


, Makasih, kakak semua”


DAN


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing

__ADS_1


__ADS_2