
Mendengar suara tembakan dari kamar Iwan.
Leon tidak mau terlarut banyak orang yang bergantung padanya, keyakinan untuk tetap selamat semakin kuat saat ia memikirkan tentang Hara.
Leon masih bersembunyi di kamar yang gelap itu, ponselnya buru-buru ia silent, baru ia silent panggilan masuk dari nomor tidak ia kenal.
Ia merasa ada yang tidak beres, ia harus keluar dari rumah ini, sebelum nyawanya melayang. Leon menduga kalau ada penghianat di rumahnya, memberikan mereka akses masuk ke kamarnya dan menjebak mereka semua, ia baru menyadari kalau di kamarnya tadi, ia mencium bau campuran belerang, itu artinya seseorang sengaja membuat ingin cepat tidur.
‘Siapa yang menjebak kami. Bagaimana dengan Rikko?’
Setelah berusaha keras, Leon akhirnya bisa masuk ke suatu ruangan rahasia, yang tidak di ketahui orang, hanya Hara pernah ia bawa kesana.
Lalu Leon melihat layar monitor di ruangannya , wajahnya tampak sangat serius melihat cctv dari kamar rahasianya. Pertama yang ia lihat bangunan pos depan. Terlihat juga Iwan, Rikko, kaki dan tangan di ikat, lalu digantung
“Tuhan apa yang harus aku lakukan,'? jumlah mereka sangat banyak, Leon membuka laci dan mengeluarkan pistol.
Lalu dia mengawasi layar monitor itu lagi.
Tapi Rudi tidak ada diantara semua anak buahnya, jantung Leon makin berdetak dengan cepat, menyadari salah satu orang jadi penghianat.
“Dasar manusia keparat!”
Leon hanya ingin berubah lebih baik, maka saat Rudi memohon ingin bekerja lagi, ia memperkerjakan lagi setelah sebelumnya pernah ia pecat. Ia mau karena Hara yang meminta, sebab saat itu Rudi dipecat karena mengizinkan Hara keluar dari rumah.
“Apa ini ulah Rudi, tidak seharusnya aku memperkerjakan saat itu.” Leon memaki dirinya sendiri. Ia menyadari kalau dia sudah di jebak saat ini.
“Aku akan memotong-motong tubuhmu nanti Rudi,” ujar Leon meninju kepalan tangannya ke udara.
Ini pertama kalinya Leon memaafkan seseorang karena lalai dalam pekerjaan. Biasanya Leon selalu tegas, tidak pernah memaafkan seorang yang sudah ia pecat dan memaafkan penghianatan. Tetapi Rudi licik, ia memohon pada Hara. Ia tahu Hara orang yang baik dan berhati lembut, tidak akan tega melihat orang yang memohon-mohon. Namun, niat baik itu juga berubah jadi sebuah petaka, orang yang ia pekerjakan itu, menghancurkan semuanya saat ini.
Leon masih mengawasi cctv, tiba-tiba rumah Leon didatangi banyak orang, sekitar dua puluh orang, menyusuri sudut dari setiap rumah, mencari Leon.
Tapi bagaimanapun mereka mencari Leon tidak akan di temukan, karena kamar rahasia bikinan Leon sangat tersembunyi dan tidak mudah menemukannya.
Leon ingin keluar untuk menghabisi mereka, ia sudah menenteng dua pistol, tiba-tiba ponselnya berdering.
Iwan Calling …
“Iwan …. Ka-”
“Bos jangan keluar,” bisik Iwan saat ia tembak ia menyembunyikan ponselnya.
“Wan aku membawa kalian ke dokter bertahanlah”
“Bos, apapun yang terjadi jangan keluar, mereka menggunakan kami untuk memancing kamu keluar. Bos harus bertahan demi Non Hara … apapun yang dilakukan pada kami, jangan keluar, lebih baik jangan lihat,” ujar Iwan dengan napas tersengal-sengal.
Leon dalam posisi yang sangat sulit, jika, ia keluar ia akan mati karena mereka sudah menunggu Leon keluar, semua penjahat itu sudah mengawasi setiap pintu.
Iwan dan Rikko disiksa kakinya ikat dan digantung kepala ke bawah.
__ADS_1
“Katakan di mana persembunyian Bosmu,” ujar penjahat yang berbadan tinggi berambut gondrong.
“Cari saja sendiri,”ujar Iwan tidak merasa takut.
“Katakan apa password membuka brankas bosmu”
“Tidak tahu, kalau tahu aku juga tidak akan memberitahukan, keparat," ujar Iwan lagi,
Puaaak ….!
Gagang pistol di pukul ke kening Iwan, darah segar mengucur deras dari pelipisnya.
Mereka berdua mengalami penyiksaan yang sangat parah, tetapi mereka berdua tidak mau memberitahukan sedikitpun tentang Leon.
Leon tidak tahan lagi melihat penyiksaan itu, ia ingin keluar tetapi ia berpikir lagi, kalau ia keluar perjuangan Iwan dan Rikko akan sia-sia, biar bagaimanapun ia akan mati, ia bisa melihat puluhan penjahat bersembunyi siap menghabisinya jika ia keluar.
"Kalau bukan karena Hara aku akan keluar tidak perduli dengan nyawa ini,' desis Leon menahan rasa sakit di dada melihat Iwan dan Rikko disiksa,
Leon bukannya tidak mau menelepon polisi, jika ia meminta bantuan polisi urusannya akan semakin panjang, ia akan diselidiki dan akan banyak orang tidak suka dengannya akan mengambil keuntungan, berlomba menjatuhkannya, ia pasti akan dipenjara kalau polisi sampai menemukan gudang senjata miliknya dan menemukan gudang minuman keras itu.
Maka saat ini ia hanya menutup mata dan mengepal tangannya, mendengar penyiksaan yang mereka berikan pada Iwan dan Rikko.
Hampir satu jam mencari dan melumpuhkan anak buah Leon, akhirnya mereka keluar karena sudah mulai pagi, , mereka tidak mendapatkan apa yang mereka cari salah satunya bukti kejahatan Bokoy.
Saat aman, Leon baru keluar, ia turun masuk ke kamar Rikko, Leon menahan napas dan wajahnya bergetar melihat, Seseorang terkapar di atas ranjang Susan istri Rikko tewas ditembak di bagian kepala.
“Maafkan saya Mbak,” ujar Leon menutup mata Susan dan menutup tubuhnya dengan selimut, lalu ia berlari kearah pos kemanan. Iwan terlihat terluka parah, ternyata satu peluruh menembus dadanya wajahnya bersimbah darah juga.
Lelaki itu dengan berat membuka matanya, wajahnya terlihat luka parah, Iwan orang setia, ia tidak membuka mulutnya walau dihajar sampai parah, ia tidak mau memberitahukan password laptop Leon, walau sebenarnya ia tahu dan Rikko tahu juga.
“Rikko di mana?”
Tangan Iwan menunjuk seseorang yang di gantung dengan kaki ke atas dan luka parah satau pisau menghujam bagian perutnya.
Rikko memilih menerima semua itu, dari pada membuka mulut, ia tidak mau memberitahukan password laptop Leon.
“Rikko, bertahan kawan”
Leon menurunkan tubuh keduanya.
“Pergilah Bos, mereka masih ada beberapa orang di sini …. memancingmu datang kesini.” Ucap Rikko dengan suara pelan, tangannya menunjuk kearah belakang, anak buah Bokoy telah mengacuhkan moncong benda kecil ke kepala Leon.
“Akhirnya kamu keluar dari persembunyian mu, Bos Naga, mau ucapkan sepatah dua kata?” tanya salah seorang, dari suaranya Leon tahu siapa itu, ia Darma anak buah Bokoy, ia dalam setiap tindakan tidak mengenal rasa takut atau rasa kasihan, ia kejam dan sadis. Leon tetap dalam posisinya , ia tidak menoleh ataupun merasa gentar walau benda kecil berbahaya itu sudah di kepalanya.
Tiba-tiba
Dorrr ….!
Ia tersungkur, kepalanya di tembus satu timah panas.
__ADS_1
Mata Leon melotot tajam menoleh kebelakang Iwan yang membuat lelaki itu tersungkur jatuh.
Dengan sisa tenaganya, ia menewaskan kedua orang kepercayaan Bokoy, ia tidak ingin bosnya terluka.
Setelah menyelamatkan nyawa Leon, ia tersungkur tidak sadarkan diri
“Tidak, kalian tidak boleh meninggalkanku seperti ini kawan, apa jadinya aku tanpa kalian,” ujar Leon dengan wajah bergetar ia menangis mendudukkan tubuh Iwan di samping Rikko.
Ia mengamuk dan melenyapkan semua anak buah Bokoy yang masih ada beberapa di rumahnya, ia menewaskan mereka menggunakan pisau dan samurai, Leon memang gila kalau sudah marah.
Dalam waktu sebentar hingga semuanya tewas. Lalu ia berlari kearah Iwan dan Rikko.
“Pergilah Bos, jangan hiraukan kami,” ujar Rikko dengan suara pelan, ia sangat sekarat, ia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah.
“Bertahanlah, kita akan ke rumah sakit,” ujar Leon mencoba mengangkat tubuh Rikko . Namun, ia menolak.
“Aku tidak ingin meninggalkannya Bos …. Aku ingin menyusulnya. Bos terimakasih," ucap Rikko melihat ke arah kamar, melihat istrinya yang tak bernyawa lagi dan ia menyusulnya.
“Maafkan aku saudaraku,” ujar Leon memeluk Rikko. Leon tidak ingin terpuruk, ia bangun ingin membawa Iwan ke rumah sakit.
Tapi saat ia ingin mengangkatnya Lelaki yang selalu bersikap ceria itu, ia juga sudah pergi menyusul sahabatnya Rikko.
Leon memeluk keduanya. “Maafkan … maafkan aku saudaraku," ucap Leon memeluk tubuh keduanya.
“AAA …. AAA!” Leon menangis
Tiba- tiba muncul dalam ingatan Leon …. Saat Rikko menikah beberapa minggu lalu. Iwan berkata seperti ini;
“Kok, aku sedih karena kamu akan menikah, kamu akan meninggalkanku,” ujar Iwan saat mereka memilih jas.
“Aku tidak akan meninggalkanmu kawan, kita akan tetap bersama,” ucap Rikko.
“Baiklah, aku akan ikut kemana pun kamu pergi,” balas Iwan lagi dan mereka ber empat sama-sama tertawa.
Terkadang ucapan itu adalah doa. Saat ini, kedua sahabat itu, telah bersama selamanya.
Bersambung…
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing