Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Melenyapkan Musuh Terakhir dari Masa lalu


__ADS_3

“Aku tertembak,” ucap Piter menyadari  bagian perutnya berdarah.



Melihat Piter  terluka, Leon bertindak cepat, tidak ingin nyawa orang lain dalam bahaya.


Leon menarik lengan Ken  yang sedang berjaga di luar, meminta menggendong Piter untuk membawa ke rumah sakit terdekat.


“Tidak perlu digendong, kalau aku digendong akan menghebohkan seluruh tamu hotel , ada Hilda di ruang informasi , kalau dia melihatku terluka dia akan khawatir, bawa aku ke ruanganmu saja” Piter walau tertembak ia  masih kuat berjalan, tertembak , terluka dan melukai orang sudah hal biasa untuknya.


Piter hanya khawatir istrinya Hilda khawatir.  Dibawa masuk ruang kerja Leon di lantai atas, Leon juga menelepon dokter Billy datang. untuk menangani  Piter, wajah Leon sangat marah  saat melihat Piter terluka.


‘Dia pengantin baru tidak seharusnya ikut membantuku tadi’


“Bersihkan mereka semua, kecuali si Brengsek ini,” pintah Leon dari balik masker gas.


“Baik Bos” Ken mengamankan sekitar dan membawa mayat itu kedalam mobil membawanya keluar dari hotel.


Dengan cepat beberapa orang bagian kebersihan  membereskan  ceceran darah dari kamar, sungguh pemandangan yang mengerikan membuat semua bulu-bulu dalam tubuh  berdiri, dalam kamar segala sudut kamar tempat anak buah Bunox menginap  terdapat genangan darah yang masih segar dan sisa-sisa  asap masih ada.


Vincen menatap tegas kedua petugas kebersihan hotel mereka berdua anak buah Leon.


“Jangan sampai ada yang curiga,” ujar Vincen.


“Baik Bang.”


Kamar hotel Leon saat itu menjadi tempat penjagalan  manusia, malam itu karena dalam kamar itu ada banyak  bercak darah yang menimbulkan bau anyer.


Ken dan Zidan tahu kemana mengamankan mereka tanpa jejak, di masa lalu mereka sering melakukannya.


Ken  membawa mereka ke belakang sebuah gudang penyimpanan barang  milik Leon. Lalu memasukkan tubuh mereka ke dalam bak, lalu di tuangkan cairan ke dalamnya dan mereka akan lenyap.


Leon sebenarnya tidak ingin kembali ke dunia kelam itu lagi , tetapi, kalau sudah menyangkut orang tercinta, ia rela melakukan hal yang tidak manusiawi  sekalipun, semua demi Hara, ia tidak ingin wanita itu ketakutan lagi  karena bahaya dari masa lalu Leon datang  terus menerus.



" Vincen gantikan posisi Zidan naik ke atas dan jadi penembak."


"Baik Bos."


“Cari semua  penjahat  yang terus  mengusik hidupku malam ini, aku ingin kamu melakukanya Kinan,” ujar Leon, Ia mengumpulkan semua ank buahnya, Leon ingin mengakhiri semua musuh dari masa lalu agar keluarganya tenang.


Membereskan sepuluh anak buah Bunox, kini tinggal  hanya lelaki berambut gondrong itu yang terkapar dengan luka di kedua kaki dan lengannya. Namun, luka itu tidak akan membunuhnya.

__ADS_1


Ia di bawa kesebuah gudang barang, di rantai dan siksa do siram dengan air dingin darah segar terus menetes dari kedua kaki dan lengannya.


Tetapi walau ia sudah terluka, melihat Leon berdiri di depannya,  ia tertawa menyeringai , meledek Leon, menyebutnya lelaki yang bodoh karena bisa di bohongin selama puluhan tahun sama Bokoy.



“Haa, ha ha, apa kamu menyebut dirimu seorang lelaki? Kamu itu hanya banci yang mudah di peralat,” ucap Bunok menghina Leon.


Leon hanya diam, tersenyum kecil melihat keberanian lelaki itu, walau ia sudah diambang kematian tangan dirantai dan disiram air tetapi ia masih bisa tertawa meledek.


“Tertawalah sepuasmu, karena ini, hari terahirmu tertawa di dunia ini, setelah itu kamu akan memohon padaku untuk kematianmu” Leon  berdiri dengan wajah datar, tetapi terlihat  tenang.


“Aku tidak takut, kamu memang lelaki bodoh sejak dari dulu,” ucap Bunox, ia mencoba memprovokasi emosi Leon dengan cara merendahkan, ia ingin Leon marah.


“Dengar…!! aku harus berterimakasih  untuk semua yang terjadi,  karena  hal itulah aku mendapatkan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Wanita itu sangat berharga untukku,  kamu tidak pernah bisa menyentuhnya kan? karena dia adalah malaikat yang melindungi ku. Istriku …. lebih berharga dari harta Bokoy bosmu, jika kamu memohon dan mencium kaki meminta  harta bosmu akan aku berikan,” ujar Leon.


Leon menatapnya dengan senyuman bangga, Bunox mulai  merasa panas.


“Apa kamu tidak merasa bersalah  dengan apa yang kamu lakukan pada wanita itu? selama ini, sejak dia kecil kamu sudah mengincarnya, ingin melenyapkan, apa kamu masih sanggup hidup bersama setelah apa yang kamu lakukan padanya?” tanya Bunox mencoba  mengungkit masa lalu yang kelam itu untuk memanas-manasi Leon.


“Kami berdua sudah melewati hari-hari yang buruk Pak Bunox…  lebih dari yang kamu bayangkan, hingga kita berdiri pada titik yang sekarang ini” jawab Leon bijak.


“Kamu hanyalah brengsek yang mengambil hal yang bukan milikmu, aku tahu wanita itu kamu ambil paksa dari Toni, aku yakin lelaki itu suatu saat akan mengambil wanita mu.”


“Dasar brengsek...  kamu tidak akan pernah tenang, karena banyak musuh yang akan mengincar mu selamanya kamu tidak pernah tenang ….!” teriak Bunox emosi.


“Aku tahu akan hal itu, percayalah,  aku sudah mempersiapkan diri untuk itu, jangan pikirkan aku, pikirkanlah tentang dirimu.”


“Kamu tidak akan pernah  berani menyakitiku, kamu hanya orang  lemah.” Lelaki  berwajah sangar itu  terus berusaha  memancing emosi Leon lagi.


“Baiklah, aku tidak akan mengotori tanganku  untuk menyingkirkan mu, aku sudah memberimu kesempatan , tapi kamu tidak  memanfaatkannya ucap Leon. “Singkirkan si brengsek ini, jangan biarkan ada jejak.”


“Baik Bos.”


Leon meninggalkan gudang itu setelah membisikkan sesuatu ke kuping Ken.


“Hai brengsek..!! jangan jadi pengecut meninggalkan  aku  dengan anak buahmu, kamu harusnya duel denganku satu lawan satu,” teriak Bunox sebelum Leon menghilang dari balik pintu


Leon  tidak terusik sedikitpun, ia  hanya melambaikan tangannya dari atas kepalanya tanpa  menoleh ke belakang.


Bunox  sadar, kalau ia sudah kalah, apa yang ia rencanakan semuanya sia-sia,  bahkan ia saat ini sudah diambang kematian.


“Harusnya kamu memohon untuk nyawamu pada  bosku’

__ADS_1


“Tertawa lah seperti tadi,” ujar Ken.


Bunox  hanya diam membantu, melihat Leon tidak ada lagi ia seakan-akan habis tenaga dan kehabisan semangat.



Zidan  menutup kepala dengan plastik. “Ucapkan selamat tinggal dan saatnya bergabung  dengan anak buah mu, jangan pernah menganggu  singa yang sedang tidur,” bisik  Zidan ke kuping Bunox.


Membiarkannya  kehabisan oksigen dan mati dengan lemas.


“Sangat di sayangkan,  padahal bos sudah memberinya kesempatan kedua, tetapi, ia malah menghina dan merendahkan Bos,” ujar Ken.


Bunox menyusul anak buahnya, Leon tadinya ingin memberikan  harta Boyko  seperti yang ia inginkan.


Akan tetapi, ia terus berucap,  akan mengincar Hara da dan kelurga, maka  segala bentuk ancaman yang ditujukan pada Hara akan ia musnahkan demi istrinya.


Setelah Bunox dan anak buahnya lenyap, Leon mengatur semuanya  untuk menghilangkan jejak, ia tidak mau berurusan  dengan polisi. Leon kembali ke hotel melihat perkembangan, memerintahkan Bram  untuk mengamankan barang-barang milik Bunox termasuk  senjata-senjata  ilegal yang mereka selundupkan.


Leon memerintahkan Bram dan Vincet membawa  senjata itu dan barang setan itu dari hotel, dimusnahkan agar hotelnya tidak terjadi masalah.


Bersambung ….


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK


Baca juga.


- Pariban Jadi rokkap( Baru)


-Aresya(Baru)


-Turun Ranjang(Baru)


-The Curet king( Baru)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2