
Hara masih berdiri, ia merasakan hal yang tidak enak akan terjadi.
“Hara cepatlah” Pinta Lelaki itu lagi.
“Tapi kenapa Om? Apa ada masalah? Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja, itu artinya aku Tidak bertanggung jawab” Hara memelas.
“Baiklah, Om saja yang izinkan kamu pada wanita galak itu, menemui ia lagi pasti ujung-ujungnya bertengkar.” Piter mendumal saat ingin menemui Hilda yang ia sebut wanita galak.
“Tunggu, tunggu ada masalah apa sih Om? aku jadi tidak tenang.” Memegang tangan Piter
“Nanti kita bicarakan Hara, ini tentang masa depanmu” mendengar itu ia langsung diam, melepaskan tangan Piter.
Matanya mengikuti tubuh Piter yang buru-buru masuk ingin ke ruangan Hilda.
Leon ternyata masih melihatnya, kali ini ia berdiri di koridor dari lantai satu, melihat Hara yang masih mematung di halaman.
“Ada masalah apa dengannya? Apa Piter memarahinya?” Leon masih menatap Hara.
“Apa Ayah Ibu yang di atas sana, walau aku lupa wajah kalian. Tolong bantu aku Yah, buatlah pak Bos itu, amnesia selamanya, agar dia melupakan kejadian tadi malam, aku tidak ingin om Piter dan Om Vikky kecewa,” ucap Hara masih menatap langit seakan _akan ada sesuatu di langit.
“Mbak Hara lagi ngapain?” Tiara ikut melihat ke atas.
“Memanggil petir dan angin ****** beliung , untuk menghanguskan sekarang juga,” ujar Hara asal bicara.
“Ha … ha … Mbak Hara salah , harusnya memanggil petirnya tadi malam pas lagi turun hujan deras,” ucap Tiara terkekeh.
“Aaa … Aaaa” Hara makin bertingkah konyol, ia menangis seperti anak kecil dengan mulut di buka lebar.
“Ada apa mbak Hara? cerita sama aku, nanti aku bantu cari solusinya,” ujar Tiara.
“Gara-gara hujan kurang ajar, kenapa harus turun hujan tadi malam,” tiba-tiba ia bersin- bersin.
“Oh, Mbak Hara flu gara-gara kena hujan tadi malam? kirain apa.” Rara tertawa.
“Sudah Mbak Hara minum obat saja tidak perlu memanggil petir” Rara meninggalkannya.
*
Di sisi lain, Piter mengetuk pintu ruangan Hilda,
“Masuk” sahutnya dari dalam, matanya masih berfokus ke layar komputernya, mengalihkan pandangannya kearah pintu, dan menghentikan jari-jarinya .
“Ada apa lagi? belakangan ini sepertinya bapak itu sudah sering sekali menemui saya, apa memarahi saya tadi malam tidak cukup untuk bapak juga,” ujar Hilda ketus.
“Dengar iya Bu Hilda, saya juga tidak akan menemui Anda, kalau tidak ada masalah penting dengan keponakan saya, Hara”
“Modus saja, bilang saja mau menemui saya,” balas Hilda.
“Terserah, saya marah-marah tadi malam punya alasan kenapa marah. Kan? Saya bertanya. Hara menggantikan shift anak yang mana? Alasannya apa? tapi anda bilang saya terlalu mengekang Hara. Dengar... ! Saya yang tahu keselamatan keponakan saya,” ucap Piter.
__ADS_1
Piter tahu kalau anak buah Leon dan Hilda bekerja sama.
Sepertinya Hilda tidak mengingat pesan Leon kalau ia harus hati-hati pada Piter, harus memberi alasan yang masuk akal dan logis kalau tidak ia akan menyelidikinya dan itu benar. Hilda hanya meminta Izin pada Piter tadi malam, kalau Hara menggantikan temannya.
Saat ditanya siapa nama temanya, ia tidak bisa jawab karena ia memang belum mempersiapkan diri dan tidak ada anak yang di gantikan, karena Hara makan malam dengan Leon.
Tadi malam saat Hilda tidak bisa memberikan alasan yang tepat, Piter pagi-pagi sekali, tiba di Jakarta, ia datang ke kantor, di sinilah perdebatan di mulai.
Piter dengan gaya ala tentara, sedangkan Hilda gaya ibu-ibu kalau sudah kepepet marah-marah dan pada akhirnya menangis.
“Mungkin anda punya penyakit, makanya memperlakukan Hara seperti bayi, padahal ia wanita dewasa.”
“Malas berdebat dengan kamu, tapi ujung-ujungnya nanti kamu marah-marah dan memanggil keamanan mengusirku, aku hanya mau bilang, hari ini aku ingin membawa Hara pulang, itu saja.”
“Hotel ini tidak akan mau mempekerjakan orang yang tidak kompeten, kalau ingin bekerja harus serius, jangan manja.”
Piter menarik napas panjang, selalu berdebat dengan wanita itu membuat tenaganya terkuras.
“Aku capek berdebat dengan kamu,” ucap piter ingin keluar.
“Aku tidak memberi izin”
Hilda berdiri dan mendekati Piter , lelaki itu terlihat lelah, ia menutup mata dan menarik napas dalam- dalam mengeluarkannya dari mulut dengan berat.
“Kenapa mempersulit kalau harus bisa di buat mudah? Dia seorang artis aku akan mengganti uang ganti kontrak kerja yang dia batalkan”
“Kenapa?”
“Suka-suka saya, saya yang ngatur”
Ternyata Leon sudah berdiri di belakang pintu, tadinya ia ingin tahu kenapa Piter ingin menemui Hilda.
Leon awalnya sangat marah, karena Hilda bersikap melebihi batas , apa lagi itu untuk Hara. Ia ingin masuk, tapi tiba-tiba Hara datang dari arah depan, Leon bersembunyi di balik tembok di sebelah ruangan Hilda, Leon juga masih bisa mendengar perdebatan keduanya, terdengar perdebatan seperti suami istri.
“ Aku capek Hilda, aku tidak paham, ada masalah apa dengan kamu, aku bingung,” ucap Piter terdengar suaranya mengalah.
“Kamu egois, tidak pernah peka, kenapa setiap kali aku ajak jalan selalu bilangnya tidak bisa, tidak bisa, terus kapan kamu ada waktu untukku?”
Hara masih berdiri ingin mengetuk pintu, tapi suara Hilda membuatnya berhenti dan membulatkan matanya tanda tidak percaya.
“Haa …?” Hara dan Leon sama-sama melongo.
Hara dengan langkah pelan-pelan bersembunyi di balik tembok , ternyata ada Leon juga disana.
“Pak …?”
“Sttt …” Leon menarik tangan Hara dan memegang pundaknya, sekarang ia berdiri di depan Leon.
“Sejak kapan mereka punya hubungan?” tanya Leon.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu, Pak”
“Hilda dengar! Ini kantor kamu, jaga wibawa kamu, bagaimana kalau ada orang yang mendengar kamu menangis, sudah…”
“Kamu selalu bilang begitu, aku tidak boleh memegang tangan kamu jika kamu datang ke tempat kerjaku, padahal kamu ada waktu hanya saat menjemput Hara, selalu Hara, Hara, Hara! tidak ada waktu untuk aku, aku sudah bersikap profesional tidak menggabung hal pribadi dan pekerjaan. Tapi kalau kamu terus begini .... bagaimana? "
“Aku minta maaf, aku akan menghubungi mu nanti, aku hanya ingin Hara baik-baik saja"
“Tidak, aku tidak mau, nanti sore kamu tidak datang menjemput jangan pernah datang menemui ku. lagi,"ancam Hilda.
Tiba-tiba suasananya hening tidak ada suara lagi, Leon dan Hara saling menatap, ia tidak sadar kalau tangannya merangkul pundak Hara di depannya yang ikut bersembunyi dengannya.
“Kenapa jadi Hening dan diam?” tanya Hara polos. Leon ingin tersenyum melihat tingkah polos Hara.
“Mereka saling memberi vitamin” ucap Leon.
“Ha …. Vitamin apa?” kening Hara mengkerut belum paham apa yang di maksud Leon.
Ingin rasa Leon mengigit bibir mungil Hara, ingin memberitahukan, kalau Hilda dan Piter sedang kissing.
Piter akhirnya keluar, tangannya mengusap dagunya dan bibirnya dan merapikan rambutnya.
“Aku harus pergi ….. Om Piter sudah keluar dari ruangan bu Hilda” ucap Hara berlari , ia turun dari arah lain.
Leon hanya berdiri melihatnya, bahkan ia lupa, banyak yang ia ingin tanyakan pada Hara, padahal ia ingin bertanya kenapa tadi pagi ia melarikan diri?
Semua karena hubungan Hilda dan Piter membuatnya melupakan hal penting.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1