
Pagi itu saat mereka sedang duduk di meja makan,
Tiba tiba Bu Atin mengelu sakit di bagin dada, dengan cepat Leon melarikan ibunya ke rumah sakit, kesehatan ibunya semakin menurun beberapa hari belakangan ini, semenjah ia membantu pembuka adat untuk membantu Okan.
Bu Atin dirawat di rumah sakit
Tidak bisa dipungkiri saat Ibunya sakit Leon merasa sangat sedih, ia selalu bolak- balik ke rumah sakit menjenguk ibunya. Wanita tua itu sangat berjasa untuk hidupnya, ia menjaganya dari ia masih remaja , sampai ia menikah dan punya anak, Leon selalu berpikir apa jadinya hidupnya tanpa bimbingan ibu angkatnya dari dulu.
“Ibu harus kuat,” ujar Leon memegang punggung tangan ibunya.
“Tidak lagi Nak, ibu sudah lelah, ingin istirahat, kapan rumah barumu selesai ibu ingin melihatnya,” ujar wanita dengan tatapan mata melemah.
Besok rencananya, team dokter menjadwalkan untuk menganti ring dalam jantung Bu Atin tetapi ia menolak, ia bilang itu perlukan lagi karena ia sudah ingin tidur panjang.
“Ibu jangan menyerah dulu, kami masih sangat membutuhkan Ibu bersama kami, apa jadinya nanti kalau tidak ada sosok Ibu bersama kami,” ucap Hara memeluk tangan kriput Bu Atin dengan haru, baginya wanita itu bukan sekedar ibu mertua, ia ibu teman untuknya, setelah Bu Ina meninggal Bu Atin yang menggantikan sosok seorang ibu baginya.
“Hara, sayang, anakku! Kamu harus menjadi wanita kuat, jaga Leon dan kedua anakmu, kamu harus sekuat baja untuk bisa bertahan di bersama Leon”
“Aku masih membutuhkan Ibu untuk tetap mengarahkanku,” ujar Hara matanya terasa panas. Pada akhirnya tumbah membanjiri pipi mulusnya.
Kehilangan wanita-wanita hebat dalam hidupnya membuat hatinya terluka, tetapi siapa yang bisa melawan guratan takdir, karena setiap makluk hidup ciptaan Tuhan akan hilang pada akhirya, kalau waktunya sudah tiba, walau rasa kehilangan itu selalu meninggalkan luka dan kesedihan.
“Anakku, bukan jika ada kelahiran maka ada kematian,” ucap Bu Atin mengusap pipi Hara, ia tidak tahu makna dari ucapan ibu mertuanya ia hanya sedih memikirkan kalau saja ibu mertuanya meninggalkan mereka semua.
Bu Atin yang berperan penting dalam rumah tangganya dengan Leon yang selalu menasehati mereka berdua mengarahkan ke jalan yang benar, mengingatkan mereka jika salah jalan dan yang tidak terlupakan kasih sayangnya pada kedua cucunya.
Ia rela melakukan apapun untuk kebahagian Leon dan kedua cucunya, termasuk melawan dukun jahat yang ingin menyakiti Okan, ia tahu resikonya kalau ia ikut membantu orang tua itu malam itu tetapi ia tidak perduli. Ia hanya tidak ingin ada orang yang ingin menyakiti Okan.
__ADS_1
“Tapi aku masih membutuhkan Ibu tetap di sisiku, tanpa Ibu aku tidak akan setegar ini, aku tidak punya keluarga lagi, hanya ibu keluarga yang kami miliki dengan Leon,” ujar Hara dengan suara parau, ia tidak melepaskan tangan Bu Atin.
“Ibu sudah menyelesaikan tugas ibu Nak, menjaga suami, hingga dia mendapatkanmu, kini tugas itu aku berikan padamu lagi”
Hara mengeleng.
“Ibu, tidak ingin melihat cucumu sampai besar?” tanya Hara seakan-akan ia memberikan penawaran pada ibu mertuanya, ia membujuknya untuk menerima perawatan yakni pengantian ring jantung.
Tetapisekeras apapun Hara membujuknya ia menolak, ia selalu bilang sudah lelah ia ingin menenuhi orang –orang yang ia cintai. Bu atin bilang ia sangat merindukan putranya dan suaminya.
“Ibu ingin melihat rumah barumu selesai, ingin melihat desain rumah yang kamu bangun untuk keluargamu baru aku akan pergi dengan tenang,” ucapnya mengusap punggung tanga Hara dengan Lemah.
“Baiklah Bu, aku akan mengerjakannya dengan cepat bertahanlah,” ujar Hara akhirnya menyerah membujuk.
Leon memeluk pundak Hara, apa yang dirasakan Hara ia jauh lebih sedih tetapi sebagai seorang lelaki Leon menyembunyikan kesedihanya, karena ia belum siap kehilangan wanita berhati malaikat itu.
“Sudah sayang biarkan Ibu istirahat,” ujar Leon ia mendaratkan bibirnya ke pipi wanita itu untuk pertama kalinya,
*
Mendengar permintaan ibu mertuanya Hara mengebut pembangunan rumahnya, sebenarnya sudah selesai hanya tinggal merapikan agar siap di huni.
Sebuah rumah berlantai dua bergaya klasik perpaduan antara batu keras dari kali yang dipadukan dengan kayu mahoni, rumah yang dibangun Hara kali tampak nyaman dan sejuk, dari luarnya terlihar berkelas, tetapi tidak galamor halaman yang luas. Hara membangun tempat bermain olah raga untuk Okan dan ia juga tidak pernah melupakan taman bunga dan di sebelahnya kolam renang, walau ia tidak menyukai kolam renang, ia tetap membangunya.
Hara juga menghormati keyakinan suaminya, ia membangun ruangan sembayang untuk Leon, tetapi kali ini, ia menggantinya dari kesan mistis dan kesan menyeramkan seperti di rumah lama mereka. Hara tetap menggunakan cat hitam untuk ruang ibadah sang suami, karena itu wajip kata Leon, tetapi Hara membangunya dengan gaya simpel, berharap Leon suka dengan bangunan ruang ibadah yang Hara bangun, kalau misalkan Leon tidak menyukai desainnya ia siap mengganti sesuai keinginan suaminya nantinya.
Sekeliling rumahnya, ia memindahkan beberapa pohon dari rumah lamanya dan ditanam disesekeliling rumah, jadi setiap pagi ia bisa mendengar suara kicauan burung.
Hara membangunnya dengan sepenuh hati, karena ia berpikir ini untuk kenyamanan keluarganya, hingga beberapa hari kemudian rumah itu sudah layak ditempati.
__ADS_1
Leon baru tiba di rumah setelah beberapa hari berada di Manado untuk mengadakan pertemuan para pegawai di sana, karena hotel milik Leon di kota itu akan diperluas.
“Aku, punya kejutan untuk, ayah,” ujar Hara saat Leon pulang dari luar kota.
“Apa? Punya anak?” tanya Leon bergurau, ia mengedip-edipkan mata dengan kedua tangan melipat di dada.
“Isss … anak mulu yang diomongin, belum nyerah untuk hal itu?”
“Belumlah , ini jujur dari hatiku, aku ingin punya anak banyak”
“Sudahlah kalau belum dikasih terus bagaimana? Aku, kan, sudah bilang sudah melepaskan spiral itu dan aku juga tidak munum pil KB”
“Benaran tidak pakai lagi?”
“Iya benar. Ok … baiklah lalu apa kejutannya sekarang?”
Leon menatapnya degan tatapan penasaran.
“Rumah kita sudah selesai, kita bisa membawa ibu ke rumah kita, seperti yang diminta,” ujar Hara.
Raut wajah Leon sedih saat memikirkan ibunya yang sakit.
“Bagaimana kedaan ibu?”
“Masih seperti yang kemarin, tetapi selalu minta untuk membawanya keluar dari rumah sakit selama Ayah diluar kota, aku mengebut mengerjakannya dan hari ini sudah selesai, besok kita sudah mulai pindah”
Leon masih diam, ia belum siap kehilangan sosok ibunya, tetapi ia sudah melakukan cara untuk membujuk ibunya agar menerima pengobatan. Bu Atin selalu menolak, bahkan Leon sudah membujuk ibunya membawa ke laur negeri tetap saja ditolak.
Bersambung …
__ADS_1
Jangan kupa bantu Vote dan like ya kakak.