
Dalam kamar mandi
“Sudah,” ujar Jovita setelah ia merapikan pakaiannya. Tetapi Leon tiba-tiba ingin muntah dan wajahnya memerah padahal mereka sudah keluar dari kamar mandi, ia menarik tangan Jovita kearah wastafel di kamarnya.
“Ueeek!”
‘Oh aku tau lagi rahasianya, dia orangnya jijik- an' Hara membatin.
Jovita hanya mengikuti kemana Leon melangkah.
“Ayo kita cari sekali lagi, ujar Leon ia terlihat putus asa.” Jovita pura-pura ikut sibuk mencari kunci.
‘Sampai bangkotan kamu tidak akan menemukanya, karena aku menyembunyikannya di tempat paling aman’ Jovita membatin, sesekali ia tersenyum puas melihat wajah frustasi Leon
“Huaaah! kemana sih kunci sialan itu, aku mau mandi,” ucap Leon kesal, tiba-tiba menatap Jovita.
“Ada apa? aku sudah mandi,” ujar Jovita membuang muka, ia paling takut hal urusan mandi berdua.
“Kamu harus mandi lagi!”
“Kagak ...? Mandi sekali saja, tadi, aku sudah malas, apalagi disuruh mandi lagi, kamu saja yang mandi.” Ia membantah.
“Jovita Hara! masalahnya .... Kamu dan aku ter-ikat, ayo jangan membantah.” Ia menyeret tangan Jovita, ia membuka pakaiannya dan Jovita berdiri di sampingnya
“Kamu lihat apa?”Tanya Leon saat Jovita tiba-tiba maju ke depan dan menatap dedek juniornya.
“Apa dia .... 'Hanya' sebesar itu?”
“APAAA?” Leon menyingkirkan busa sabun dari matanya, menatap kearah Jovita dengan wajah terasa terbakar, wanita itu menatap serius ke aset pribadinya.
“Tadinya, aku pikir lebih dari situ,” ujar Jovita mengomentari senjata pamungkas milik Leon.
“Singkirkan matamu ....! Dia sebesar itu saja kamu sudah kesakitan,” kata Leon wajahnya terasa terbakar saat Jovita meledek barang miliknya.
Ia mendorong badan Jovita agar membelakanginya, Ia melihat kearah senjatanya sendiri, menimang perkataan Jovita.
“Kecill apaan? sebesar ini di bilang kecil, Dasar anak kecil,"ujar Leon kesal.
Jovita tertawa licik, ia mengeluarkan balasan balik dari mulutnya.
“Itu karena kamu melakukannya dengan kasar makanya sakit, bukan karena…”
“Apa kamu ingin mencobanya lagi? Ha ...! Leon murka saat juniornya jadi bahan olok-olok kan Hara, Ia tidak tahu kalau para lelaki paling tidak suka dihina dan direndahkan, bagian keperkasaan mereka.
"Ayo, kamu mau coba lagi" Leon menatap tajam padanya.
“Tidak ... aku penasaran saja melihatnya secara langsung, tapi ternyata… “ ia sengaja menggantung ucapannya agar Leon penasaran.
“Berhenti menghina milikku, sekarang kamu mandi agar otakmu jangan menghina terus.” Leon menariknya menyiram, sampai ia kelagapan, tapi ia tertawa puas, saat Leon kesal saat ia meledek senjatanya.
‘Bagaimana rasanya kalau di katai dan di hina, tidak enak, kan? Begitu rasanya saat kamu menghinaku’ ucap Jovita dalam hati.
“Ini … Ini buka pakaianmu, otaknya, sudah jernih, kan, jangan ulangi lagi,”ujar Leon, mendengus kesal, memberikan gunting untuk melepaskan pakaiannya.
__ADS_1
Tetapi lagi-lagi saat ia pakai handuk Jovita tidak seperti biasanya, ia menatap Leon dari atas sampai kebawah, matanya lagi-lagi menyelidiki.
”Apa lagi?
Apa lagi yang ingin kamu hina? Luka guratan panjang ini? Ini saat ada orang
gila yang mau mengambil ginjal saya.” Kata Leon terlihat saat jengkel, saat Jovita menatapnya dengan tatapan aneh.
“Ada apa dengan wanita ini, kenapa dia melihatku seperti itu, bikin aku kehilangan kepercayaan diri saja” gumam Leon, buru-buru membalut tubuhnya dan membelakangi Hara.
Jovita membuka pakainya di depan Leon “Kamu juga dadanya Rata, bokong mu kecil kamu juga jelek,” ujar Leon, tiba-tiba membalas Jovita terlihat seperti anak kecil yang tidak terima di hina temannya.
Jovita sebenarnya ingin ngakak , tetapi ia menggigit bibir bawahnya menahan tawa, ia tidak ingin Leon sadar kalau ia ingin balas dendam, Untungnya kunci yang ia sembunyikan dalam Branya tidak terjatuh saat ia membuka pakaiannya.
“Tidak apa-apa milikku memang alami, aku suka yang alami dari pada punya yang gede tapi semua palsu, dan berbahan plastik kan lebih ngeri, apa lagi saat kamu sedot, air susunya sudah racun masuk mulut, bagaimana,” ujar Hara menatap Leon dengan senyum miring.
Tujuan omongannya untuk kedua wanita dayang-dayang Leon, Salsa dan Sabrina yang cantiknya kebangatan, tetapi, semua hasil permak, hasil dari oplas.
“Sudah, kamu cerewet sok tahu.” Leon menarik tangannya lagi ke depan lemarinya, saat Leon memakai baju juga ia terus saja melakukan keusilannya masih menatap kearah aset milik Leon, Leon sampai kesal dibuatnya.
“Ckkk ... jangan menatapnya seperti itu." Mendorong tubuh Hara ke depan lemari dan memepet tubuhnya dengan geram, saat Leon mengincar bibirnya. Hara memegangi perutnya lagi.
“Oh … perutku sakit lagi, aku hanya ingin melihat pakaian buat aku mana?” Tanya Hara, Leon melepaskannya.
'Piuuh, hampir aku jadi santapannya lagi' ucapnya dalam hati.
“Ini pakai”
“Pakaian bagian dalamnya?”
“Terus aku harus pakai ini saja, terus bagaimana kalau anak buah mu melihatnya," ujar Jovita memegang dadanya, gayanya di buat sok lebay.
" Merepotkan. Tunggu sebentar"
Ia mengambil ponselnya menekan nomor anak buahnya.
“Bawakan totebag yang di bagasi mobil yang dari Hotel,”
“Baik Bos,” tidak berapa lama bag besar di berikan padanya,
Jovita dengan sikap ceria, mencoba semuanya pakaian yang dibawa anak buah Leon. Ia sengaja bolak balik mencoba pakaian yang ada dalam totebag itu, kearah kaca otomatis tangan Leon ikut keseret-seret dan mengikuti langkah Jovita
“Kamu bisa berhenti gak, kamu membuat kakiku pegal, karena kamu bolak balik,” ujar Leon mulai merasa sangat jengkel.
Dalam hati Jovita ‘ngakak’
“Aku hanya ingin mencoba kira-kira mana yang bagus,”ujar Jovita lagi-lagi ia menarik dress warna hijau. “Lagian kenapa kamu selalu beli pakaian yang begini-begini saja sih?”
“Kamu Berhenti. Diam ....Itu sudah bagus yang kamu coba, jangan diganti lagi,” ujar Leon memegang batang lehernya, Hara benar -benar membuat hampir terkena stroke.
“Kamu tutup mata, aku mau buka handuk,”ucap Jovita.
“Aku sudah melihat setiap jengkal dari tubuhmu, tidak ada yang menarik, sudah .... Pakai bajunya”
__ADS_1
‘Dasar kurang ajar, tidak ada yang menarik tapi kenapa kamu memelukku setiap kali mau tidur, kata jovita dalam benaknya, ‘Awas saja kamu hari ini’ ‘katanya bertekad lagi.
“Jika kamu melihatku, aku sumpahin matanya bintittan dan mulutnya ngences setiap hari,” ujar Jovita
Leon mendengus kecil, saat mendengar sumpah konyol dari mulut Jovita.
“Ckkk ...ndasar anak kecil.” Ucap Leon. Ia tidak menutup matanya tapi mengalihkannya kearah lain.
“Aku sudah pakai bajunya, sekarang aku lapar.”
“Akan aku suruh dibawah kemari." Tangan Leon meraih ponsel miliknya.
“Aku tidak mau makan di sini, aku mau makan di dapur,”ujar Jovita bertingkah.
“Tidak usah banyak permintaan, turutin saja perintahku!”
“Bosan menuruti permintaanmu terus-terusan, disuruh tidur padahal baru bangun, dipaksa mandi padahal sudah mandi, dipaksa pakai baju ini padahal tidak suka, dipakain borgol seperti ini tetap harus diturutin , otoriter bangat sih kamu,” ujar jovita.
Leon menghiraukan omongannya. “Aku pengen makan mie instan, ingin masak sendiri,” kata Jovita memutar otak licik.
“Jovita Hara…! Saya tidak mau.” Leon mengertakkan giginya.
Mulai mewek bibir maju ke depan tiga centi, dan mulai mengeluarkan suara tangisan .
“Huaaa … huaa kamu tega bangat , kamu jahat bangat, aku hanya minta makan kenapa itu saja tidak boleh, Bibi apa hanya makan mie instan tidak boleh di rumah ini?” tentu saja ia berakting seperti itu, saat ia melihat Bi Atin dan anak buahnya datang mendorong menu makan untuk mereka.
“Apa …? Tentu boleh, Non. Bibi yang masakin?"
“Aku ingin masak sendiri, karena ini hari ulang tahunku”
“Baiklah, ayo kita lakukan,” ujar wanita itu matanya menatap Leon.
“Masalahnya, dia merantai tanganku Bi, mungkin dia akan merantai kakiku juga Bi.” Jovita pura-pura menangis seperti anak kecil lagi.
Bi Atin menatap Leon dengan mulut menganga.
“BAIKLAH … BAIK,” ujar Leon, mengertakkan gigi, menahan kesal.
‘Bagus kamu harus mendapat balasan dariku, agar bisa merasakan bagaimana kalau kamu di kerjain dan dipaksa, ucap Jovita dalam benaknya, ia menarik tangan Leon ke dapur.
Bersambung ....
Bantu Vote like dan kasih hadiah juga, iya kakak,
Agara authornya semangat up tiap hari.
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)