Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Aku Tidak Butuh Wanita lain Melahirkan Anak- anakku


__ADS_3

Mendengar Kaila memberi pengakuan Leon  merasa sangat marah.


“Aku tidak buruh orang lain melahirkan anak untukku, Kaila aku sudah punya  sepasang anak tampan dan cantik,” ujar Leon dengan rahang mengeras.


“Aku tidak akan mengatakan pada Bu Hara,  Pak.”


“Kamu gila’ iya! saya sudah bilang.  Jangan  melakukan hal itu, kamu paham!”


Leon tiba-tiba  mengepal tangan dengan kuat, ia sangat kecewa atas  penghianatan Kaila, Jika disuruh memilih saat itu,  lebih baik baginya dia mati,  tidak  butuh wanita itu menyelamatkannya bila harus begini akhirnya. Leon tidak menduga,  ia selamat dari kematian tetapi kali ini  keluarganya  digoncang.


Leon masih berdiri dengan  dengan wajah  kasar dengan nafas tertahan siap meledak, ia bagai  bom waktu yang siap meledak saat Kaila menolak  melakukan apa yang ia minta.


“Jangan paksa aku melakukanya Pak.”


“Apa yang ingin kamu miliki Kaila, aku atau kehancuran keluargaku?” tanya Leon  dengan nada tegas.


“ Saya berjanji tidak akan mengganggu bapak dan keluarga  bapak, tetapi  biarkan aku memiliki anak dari bapak, bukankah, Ibu bilang bapak menginginkannya?”


Leon berbalik badan dan menatapnya dengan tatapan tajam,  setajam  sinar laser. “Aku memang menginginkan menambah anak, tetapi bukan dari wanita lain, apa lagi dari kamu Kaila, tidak pernah dan tidak akan pernah!” Leon berujar dengan nada tegas dan penuh penekanan berharap Kaila mengerti penolakan nya.


“Dengan kamu berpikir seperti itu, itu artinya kamu sudah  berniat menghancurkan keluargaku dari awal Kaila …. Lagian apa kata orang kalau kamu hamil dan  itu anakku, semua orang tahu kalau kamu adikku.”


“Saya tidak akan mengakuinya Pak,  kalau dia anak kita nantinya, tolonglah biarkan saya memiliki satu keluarga di dunia ini, agar saya punya semangat hidup.”


“Kaila, kenapa kamu memilih hidup yang sulit,  saat ada jalan yang mudah, lelaki itu akan menikahi mu, kan?”


“Aku tidak ingin menikah dengannya.” Ujar Kaila  dengan tegas.


“Kai, jangan  sampai kamu mengusik keluargaku, kamu sudah tahu sendiri  apa akibatnya dan kamu sudah  mengenal saya, kalau  ada yang ingin mengusik dan ingin menyakiti Hara, jangan ubah aku jadi monster pembunuh lagi … ketahuilah, jika kamu berniat menghancurkan keluargaku yang aku bangun dengan susah payah. Jangan salahkan  jika  saya melakukan tindakan tegas, anggap ini sebagai peringatan  untuk kamu.  Kamu juga  boleh menganggapnya  sebagai ancaman, kamu boleh, tapi tunggu …. ” Leon mendekat dengan wajah menegang, ia baru ingat apa tujuannya datang ke tempat Kaila, matanya menatap Kaila dengan tatapan mendominasi   antara takut, marah dan tidak percaya.  “Apa benar Hara menemui mu?”


Tiba-tiba wajah Kaila pucat, ia terlihat gelagapan. Ia tidak berani  menatap mata Leon. “Katakan Kai, apa benar Hara menemui mu?”

__ADS_1


“Iya.”


“Ohhh,  Gilaaa” Leon mengepal tangannya dengan kuat ia, panik.


“Aku tidak mengatakan apa-apa Pak, Dia hanya berterimakasih padaku karena aku katanya kamu selamat, karena usahaku meminta bantuan.”


“Tidak mungkin. Hara wanita yang sangat cerdas,  aku juga tidak percaya padamu,  Apa karena  itu Hara  tiba-tiba meminta liburan? Kenapa kamu tidak bilang padaku? Kenapa?” Bentak Leon dengan suara meninggi, ia  seperti ingin menelan Kaila.


 Leon memegang batang Lehernya ia sudah mulai menghitung mundur untuk meledak.


“Itu karena  saya tidak ingin bapak menghawatirkan,  Bu Hara.”


“Kalau saja kamu memberitahukan  lebih cepat,  saya bisa mengatasinya,  kamu membuatku gila Kaila! aku benar-benar  kehabisan kata-kata untuk kamu, kamu  memang benar- benar wanita sialan,” maki Leon kesal.


Leon menggeleng, ia merasakan dadanya  terasa sangat sesak,  membayangkan Hara sudah mengetahui kebenaran membuatnya ingin menghabisi Kaila saat itu juga.


‘Hara pasti sangat kecewa padaku,  karena aku tidak mau berkata jujur padanya’ Leon membatin dan ia menggeleng tidak percaya.


“Tetapi saya tidak memberitahukan Pak,” ucap Kaila takut.


Kaila terkejut,  ia tidak pernah mengira lelaki yang ia idam-idamkan selama ini  berkata seperti itu padanya,  Kaila berpikir, kalau ia  melakukan  semua itu Leon akan berubah pikiran padanya. ‘Tapi apa ini …?’ Kaila membatin,


Leon keluar dari kamar Kaila dengan langkah kaki tegas,  memikirkan Hara sudah mengetahui semuanya Leon merasa lutut kakinya seakan- akan tidak punya tulang. Ia terduduk di bangku rumah sakit. Meminta anak buahnya menjaga Kaila dengan lebih ketat lagi.


Saat Leon keluar, ternyata Kaila melarikan diri, ia tahu  Lelaki yang menjadi bosnya tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.  Kaila  punya firasat kalau hidupnya dalam bahaya saat itu.  Leon keluar, saat lengang Kaila melarikan diri.


Saat Leon duduk  menenangkan diri, anak buahnya yang biasa menjaga kamar Kaila berlari  kearahnya dengan wajah panik.


“Pak, Mbak Kaila tidak ada, seperti saat bapak  keluar ia juga   keluar dari belakang bapak,” ucap lelaki itu menunjukkan layar ponselnya di mana cctv itu memperlihatkan Kaila melarikan diri.


“Apa?  cari cepat ia pasti belum  jauh.” Pinta Leon dengan tegas.

__ADS_1


‘Kurang ajar,  dia ingin menghancurkan keluargaku rupanya, ternyata Kaila sudah memberitahukan semuanya pada Hara dan sekarang ia melarikan diri’ Leon  membatin panik.


Anak buah Leon berpencar mencari Kaila,  dengan ia melarikan  dugaan Leon benar.  Ia berpikir Kaila yang  memberitahukan pada Hara. Padahal nyatanya salah, bukan Kaila yang memberitahukan pada istrinya. Hara mengetahui  karena  mencari tahu sendiri.


Kalau sudah seperti ini maka nyawa Kaila dalam bahaya, anak buah Leon akan mencarinya dan Leon  menganggapnya sebagai  penghianat yang mencoba merusak rumah tangganya.


“Temukan Kaila,  saya ingin  penjelasan darinya, saya ingin ia ditangkap.”


“Bos apa yang dilakukan Kaila?” tanya Bimo biar bagaimanapun  ia dan Kaila sudah bekerja lama dengan Leon dan mereka berdua sudah berteman dengan baik.


Tidak mungkin rasanya menyakiti teman tanpa ada alasan.


Tetapi yang diterima bukanlah jawaban dari pertanyaan nya, melainkan kemarahan  yang menyakiti hati.


“Saya suda bilang  sama Lu,  hanya perlu melakukan  apa yang  saya  perintahkan, Paham!”


Ucapan seperti itu keluar dari bibir Leon jika ia sudah dalam puncak kemarahan yang tak tertahan lagi


‘Baiklah Bos, maafkan saya” Bimo berlari kearah parkiran, tetapi saat ia ke toilet, ia melihat Kaila di sana,  antara hati nurani dan kesetiaan di pertaruhkan, kini  kesetiaan pada bosnya atau rasa kasihan pada wanita cantik yang memohon padanya.


Kaila melihatnya dengan panik dengan kedua telapak tangan terkatup memohon pada Bimo,  saat anak buah Leon datang, Bimo berusaha menyelamatkan Kaila.


” Aku sudah melihatnya di kamar mandi,  tidak ada, cari saja  lagi ke kamarnya,  barang kali ia sudah kembai.”


“ Baik,  Pak.”


Lelaki itu percaya begitu saja karena yang menyuruh  atasannya, ia hanya anak buah.  Bimo menarik  napas lalu ia menemui Kaila.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi,  tetapi aku berharap saat keluar dari sini kamu menjelaskan semuanya padaku,  saat ini aku tidak ingin kamu kehilangan nyawa Kai, pergilah ia memberikan jas dokter padanya agar ia bisa keluar.”


“Terimakasih Bim, aku tidak akan melupakan ini.”

__ADS_1


Akhirnya hari itu Kaila selamat dari kemarahan Leon.


Bersambung.....


__ADS_2