
Menjadi pahlawan.
Jovita melajukan kendaraan ke tempat yang dikatakan Beni, ia tiba ke sebuah gedung di daerah Jakarta Utara Mangga Dua.
Ia berjalan dengan kaki pincang menuju lantai atas, sesuai seperti yang dianjurkan Beni, tetapi saat di sana, ada beberapa orang yang tiba-tiba membekapnya.
Jovita berontak, ia ingin berteriak, tetapi tangan salah satu dari mereka memukul tengkuk belakangnya, hingga ia tidak sadarkan diri semuanya terjadi begitu cepat.
Sorot lampu dan suara itu membangunkannya, matanya melotot tajam, karena ia berada di atas ranjang dalam keadaan polos di sorot lampu besar, dan ada dua kamera merekamnya.
“Apa ini? mau apa ini,” kata Jovita panik ia berontak, ingin berdiri tapi ia di tahan dua lelaki yang tadi.
“Kamu sudah bangun cantik, baguslah itu lebih baik dari pada pingsan, kalau ia bangun akan dapat aura kecantikannya,” kata lelaki bertopi itu yang ia yakini seperti sutradaranya
Seorang lelaki berbadan besar menghampirinya, dan hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Kini sorot lampu besar itu mengarah kearah mereka berdua, Jovita masih seperti orang kebingungan, kenapa? siapa orang-orang itu?
Hingga tubuh lelaki besar itu menindihnya, tubuhnya dari atas dan memaksanya, lalu memburu bibir Jovita, ia berontak dan melawan,
“Bagus, terus lebih agresif lagi remas bagian dadanya lebih kuat, agar ia berontak semakin berontak itu akan terlihat bagus," ujar pria bertopi.
“Haa,, lepaskan, siapa kalian? Jovita dengan suara teriakan, tapi semakin ia berteriak, semakin lelaki yang asing itu memaksanya,
Seseorang tolong aku, aku tidak ingin berakhir seperti ini kata Jovita, ia merasa kehabisan tenaga, karena dari pagi, perutnya juga belum di isi apa-apa,
Lagi-lagi tubuhku di jamah lelaki asing, aku benci…aku benci semua ini.
'Beny sialan.. kamu menjual ku?
Ia membatin, air matanya mengalir deras, tangannya terus saja berusaha menolak lelaki itu, agar tidak menyentuh bibirnya, ia merasa jijik dan muak melihat lelaki yang menindihnya, dengan usaha yang keras dan kuat, ia menendang bagian sensitif lelaki itu ,lelaki itu meringkuk dan memegangi bagian loncengnya, ia menjauh, tapi seorang lelaki bertato mendekatinya dan menamparnya dengan keras, meninggalkan bekas lima jari di pipinya.
“Kamu sudah bagian dari tempat ini maka bekerjalah dengan maksimal,” katanya dengan suara meninggi
“Aku tidak mau, aku bukan pelacur
“Ganti aktornya..!”
Pintanya kesal, kini lelaki berbadan lebih besar lagi datang mendekat, ada ikat pinggang di tangannya, ia mengibaskan ikat pinggang di tangan ke lantai, suara cambukan terdengar mengerikan.
__ADS_1
Lelaki itu punya gaya ranjang yang aneh, cara yang tak lazim yang menyakiti wanitanya sebelum ia pakai, ia tidak akan merasa terpuaskan sebelum melihat lawan jenisnya terluka.
Matanya buas, badannya besar terlihat menyeramkan dari pada dibilang macho.
Ia mendekati Jovita, ia semakin ketakutan, mundur dan meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan badan bergetar Ia menutup matanya hingga.
“Aaaaaah auuuu, sakit” satu cambukan mendarat di badannya..itu benar-benar sakit.
Hingga lampu di ruangan itu mendadak mati, sebuah lampu sorot besar hidup di pojok ruangan, dan di arahkan ke gerombolan para lelaki busuk yang memaksa Jovita,
pandangan mereka semua silau dan ter-alihkan. Tiba-tiba jovita merasa ada yang menyumpal mulutnya, dengan tangan besar mengangkat tubuhnya, Jovita hanya di balut selimut putih, ia merasa tubuhnya di gendong dan di bawa menjauh dari gedung itu.
Jovita hanya menutup matanya, saat orang yang menggendong tubuhnya membawanya berlari, ia tau siapa yang empunya tubuh itu, bau tubuh dari lelaki itu, ia sangat mengenalnya.
Ia di bawa masuk ke dalam mobil
“Jalan..!”
Tubuhnya masih di pangku, saat ia membuka matanya, mata Leon menatap lurus kearah jalanan, Jovita menatap rahang keras itu, tapi saat leon membawanya keluar dari bandit-bandit gila itu, ia sangat bersyukur.
Leon memang kejam, tapi setidaknya ia masih punya sedikit hati.
Dan yang pasti, ia tidak punya gaya ranjang yang aneh-aneh, hanya sikapnya yang dingin, Leon masih diam, tanpa sadar tangan Jovita keluar dari balik selimut memeluk punggung Leon, dan ia menutup matanya kembali dan memilih untuk tidur, mata lelaki itu ter alihkan, kini mata itu menatap wajah Jovita
Leon merasa dirinya yang dihukum, ia merasa tersiksa karena tidak bisa tidur kalau tidak ada Jovita di sisinya, bukan hanya di sisinya, ia tidak akan bisa tidur kalau tidak menyentuh tangan wanita itu.
“Apa ini lelucon,” kata Leon malam itu, saat ia tidak bisa tertidur karena tidak ada jovita di sisinya
Saat melihat Jovita tertidur matanya tidak tau diri, bagaimanapun ia menolak ajakan matanya , ia tidak berhasil, setelah menguap bolak balik hingga ia akhirnya menyerah, ia menyandarkan kepalanya di jok mobil, ia masih memangku tubuh Jovita memeluknya dengan erat lagi, hingga keduanya tertidur.
Kedua anak buahnya hanya saling menatap, melihat Bos besar itu tertidur tenang, seakan tidak ada masalah, padahal Jovita baru saja mereka selamatkan dari mafia-mafia pembuatan film biru.
Hingga mobil itu berhenti di depan salah satu hotel di daerah Jakarta utara Ancol.
Hotel yang memamerkan keindahan dan menawarkan suasana romantis, karena menghadap ke laut ancol, dan bisa melihat lampu-lampu indah di sekitarnya dan kearah Tanjung Priuk.
Leon tidak perlu di bangunkan, mobil berhenti ia juga akan langsung bangun, ia menggendong Jovita ke kamar nya
“Istirahatlah tetap waspada.”
__ADS_1
“Baik bos,” jawab keduanya serentak
Jovita masih tidur dengan tubuh di balut selimut, Leon meletakkan tubuhnya di atas ranjang, kini jempol tangannya lagi-lagi masuk ke mulut.
“Apa beneran kamu bisa tidur?
Setelah kejadian tadi?
dasar bayi besar,” ia terlihat kesal pada Jovita, tapi ia akan berusaha menahan diri.
Leon melihat luka bekas cambukan dari lelaki tadi. Luka merah di bagian punggungnya.
“Hai bangun..! aku tau kamu pura-pura tidur, bangunlah…!,”
Mata jovita terbuka menarik jari jempol dari mulutnya dengan cepat.
Mata itu masih merah, ia menatap Leon dengan mata berkaca-kaca dan mengalihkan pandangan matanya.
Leon menelepon seseorang, tidak berapa lama pesanannya datang.
Pakaian yang baru untuk ia pakai, dan makan malam.
Jovita merasa sangat kesal, ingatannya masih pada Beny, ia berpikir kenapa Beny ingin menjualnya, kenapa ia terlihat ketakutan saat melihatnya.
Kenapa tadi ia ingin menjual ku?
Dasar penghianat, aku percaya selama ini padamu, kenapa setelah keluargaku tiada kamu juga membuang ku, kata Jovita dalam benaknya, air mata kini tidak terbendung lagi.
Melihat Jovita menangisi pria brengsek yang menjualnya, Leon marah.
“Apa kamu sekarang menangisi pria brengsek itu? Bangunlah pakai pakaianmu agar kamu bisa pergi lagi padanya, jangan menangisi pria lain di hadapanku,” kata Leon dengan nada marah, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya keempatku, tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)